Masih Tiarap Pasca KLB Deli Serdang Moeldoko Kapan Bangunnya .

Sejak terpilih jadi Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatera Utara, awal Maret lalu, Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) Moeldoko seperti hilang ditelan bumi. Hingga kemarin, eks Panglima TNI itu, masih diam seribu bahasa. Pak Moeldoko, tiarapnya kelamaan nih.

Sikap Moeldoko yang masih menutup mulut ini tentu saja bikin penasaran publik. Maklum, sebelumnya, Moeldoko selalu sigap menangkis berbagai serangan yang ditujukan kepadanya. Tak jarang, ia melakukan serangan balik terhadap pihak yang dianggap mengganggunya.

Tengok saja saat ia dituduh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan mengkudeta Partai Demokrat awal Februari lalu. Dia langsung menggelar konferensi pers di rumahnya untuk memberikan klarifikasi.

Di akun Instagram miliknya, @dr_moeldoko, ia juga mengunggah foto-foto yang isinya menyindir pihak AHY. Sikap serupa ditunjukkan saat ia disudutkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sehari setelah SBY memberikan pernyataan, Moeldoko langsung muncul memberikan perlawanan.

Namun, setelah KLB digelar dan dirinya diangkat sebagai ketua umum, sikap Moeldoko langsung berubah. Sepekan setelah KLB, Moeldoko tak muncul ke publik.

Rentetan serangan dari Partai Demokrat kubu AHY pun tak membuat Moeldoko muncul. Sikap Moeldoko ini berkebalikan dengan AHY, yang hampir tiap hari ngider ke sana-sini untuk menjalin silaturahmi dengan para tokoh.

Sebelumnya, Moeldoko memang sempat dikabarkan melakukan pertemuan dengan Ketua Umum PDIP, Megawati. Namun, kabar tersebut dibantah Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto.

Lalu kemana Moeldoko? Moeldoko ada. Memang tak terlihat di dunia nyata, namun dia lumayan sering muncul di dunia maya. Terutama di Instagramnya, dr_moeldoko. Di Instagramnya itu, Moeldoko memamerkan kegiatan setelah KLB. Pertama, dia bersama istri belanja di tukang sayur keliling. Saat itu, Moeldoko tampil dengan kaos warna hitam dan topi warna biru. Topi warna biru itu dianggap pengikutnya sebagai kode Moeldoko mengakui dirinya sebagai ketum Demokrar.

Kedua, ia mengunggah foto ucapan selamat Hari Nyepi, Hari Perawat Nasional, dan Hari Air Sedunia. Tiga Unggahan ini terkesan datar-datar saja jika dibandingkan dengan unggahan sebelumnya yang penuh dengan isyarat.

Kemarin, Moeldoko kembali memamerkan aktivitasnya bersantai di akhir pekan. Kali ini, bukan dengan istri, tapi dengan kedua cucu perempuannya yang masih kecil dan imut.

 

Dalam foto itu, Moeldoko tengkurap di atas kasur di lantai berlapis seprai warna biru. Salah satu cucunya yang paling kecil, ikut tengkurap di atas punggungnya. Satu lagi tengkurap di samping kanannya. “Waktu paling berharga adalah saat bercengkrama dengan kedua cucu. Mereka mengisi kegembiraan dan keceriaan setiap waktu di keluarga,” tulis Moeloko, memberikan keterangan.

Unggahan tersebut langsung diserbu warganet. Sampai tadi malam, sebanyak 7 ribu pengguna sudah memberikan tanda suka dan 223 lainnya menuliskan komentar.

Isi komentarnya tak jauh beda degan unggahan sebelumnya. Sebagian menyapa Moeldoko dengan sebutan Ketum dan mendoakan sehat dan panjang umur. Sebagian mengomentari seprai warna biru yang ditempati Moeldoko. Tak sedikit yang menyebut Moeldoko sebagai ketum abal-abal.

Jika Moeldokonya tiarap, berbeda dengan pengurus Partai Demokrat KLB Deli Serdang. Marzuki Alie Cs mencabut gugatan terhadap tiga pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat kubu AHY di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Pencabutan ini dilakukan melalui tim kuasa hukumnya. Alasannya, mereka ingin fokus mengurus pengesahan hasil KLB di Kemenkumham.

Bagaimana penilaian pengamat soal Moeldoko yang tiarap ini?

Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio memprediksi, Moeldoko masih wait and see. Saat sekarang, memang paling enak mantau sambil nunggu hasil keputusan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly soal Partai Demokrat.

“Kalau keputusannya menguntungkan, nanti Moeldoko muncul. Tapi, kalau kurang menguntungkan, ya ada pertimbangan lain,” kata Hendri, saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, tadi malam.

Hanya saja, kata Hendri, sikap Moeldoko yang belum bicara ini memiliki tafsir lain. Misalnya, Moeldoko dianggap sudah menyadari kesalahannya sehingga tak mau bicara.

Menurut Hendri, mestinya Moeldoko tetap muncul dan beraktivitas seperti biasa, supaya citra baik dari rakyat makin di dapat Moeldoko. Bahkan akan sangat menguntungkan bila Moeldoko ikut mendampingi Jokowi blusukan. “Kalau nggak kelihatan begini, nggak salah kalau publik berpikir bahwa Pak Moeldoko ngumpet karena diminta Jokowi,” cetusnya. [BCG]

]]> .
Sejak terpilih jadi Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatera Utara, awal Maret lalu, Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) Moeldoko seperti hilang ditelan bumi. Hingga kemarin, eks Panglima TNI itu, masih diam seribu bahasa. Pak Moeldoko, tiarapnya kelamaan nih.

Sikap Moeldoko yang masih menutup mulut ini tentu saja bikin penasaran publik. Maklum, sebelumnya, Moeldoko selalu sigap menangkis berbagai serangan yang ditujukan kepadanya. Tak jarang, ia melakukan serangan balik terhadap pihak yang dianggap mengganggunya.

Tengok saja saat ia dituduh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan mengkudeta Partai Demokrat awal Februari lalu. Dia langsung menggelar konferensi pers di rumahnya untuk memberikan klarifikasi.

Di akun Instagram miliknya, @dr_moeldoko, ia juga mengunggah foto-foto yang isinya menyindir pihak AHY. Sikap serupa ditunjukkan saat ia disudutkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sehari setelah SBY memberikan pernyataan, Moeldoko langsung muncul memberikan perlawanan.

Namun, setelah KLB digelar dan dirinya diangkat sebagai ketua umum, sikap Moeldoko langsung berubah. Sepekan setelah KLB, Moeldoko tak muncul ke publik.

Rentetan serangan dari Partai Demokrat kubu AHY pun tak membuat Moeldoko muncul. Sikap Moeldoko ini berkebalikan dengan AHY, yang hampir tiap hari ngider ke sana-sini untuk menjalin silaturahmi dengan para tokoh.

Sebelumnya, Moeldoko memang sempat dikabarkan melakukan pertemuan dengan Ketua Umum PDIP, Megawati. Namun, kabar tersebut dibantah Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto.

Lalu kemana Moeldoko? Moeldoko ada. Memang tak terlihat di dunia nyata, namun dia lumayan sering muncul di dunia maya. Terutama di Instagramnya, dr_moeldoko. Di Instagramnya itu, Moeldoko memamerkan kegiatan setelah KLB. Pertama, dia bersama istri belanja di tukang sayur keliling. Saat itu, Moeldoko tampil dengan kaos warna hitam dan topi warna biru. Topi warna biru itu dianggap pengikutnya sebagai kode Moeldoko mengakui dirinya sebagai ketum Demokrar.

Kedua, ia mengunggah foto ucapan selamat Hari Nyepi, Hari Perawat Nasional, dan Hari Air Sedunia. Tiga Unggahan ini terkesan datar-datar saja jika dibandingkan dengan unggahan sebelumnya yang penuh dengan isyarat.

Kemarin, Moeldoko kembali memamerkan aktivitasnya bersantai di akhir pekan. Kali ini, bukan dengan istri, tapi dengan kedua cucu perempuannya yang masih kecil dan imut.

 

Dalam foto itu, Moeldoko tengkurap di atas kasur di lantai berlapis seprai warna biru. Salah satu cucunya yang paling kecil, ikut tengkurap di atas punggungnya. Satu lagi tengkurap di samping kanannya. “Waktu paling berharga adalah saat bercengkrama dengan kedua cucu. Mereka mengisi kegembiraan dan keceriaan setiap waktu di keluarga,” tulis Moeloko, memberikan keterangan.

Unggahan tersebut langsung diserbu warganet. Sampai tadi malam, sebanyak 7 ribu pengguna sudah memberikan tanda suka dan 223 lainnya menuliskan komentar.

Isi komentarnya tak jauh beda degan unggahan sebelumnya. Sebagian menyapa Moeldoko dengan sebutan Ketum dan mendoakan sehat dan panjang umur. Sebagian mengomentari seprai warna biru yang ditempati Moeldoko. Tak sedikit yang menyebut Moeldoko sebagai ketum abal-abal.

Jika Moeldokonya tiarap, berbeda dengan pengurus Partai Demokrat KLB Deli Serdang. Marzuki Alie Cs mencabut gugatan terhadap tiga pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat kubu AHY di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Pencabutan ini dilakukan melalui tim kuasa hukumnya. Alasannya, mereka ingin fokus mengurus pengesahan hasil KLB di Kemenkumham.

Bagaimana penilaian pengamat soal Moeldoko yang tiarap ini?

Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio memprediksi, Moeldoko masih wait and see. Saat sekarang, memang paling enak mantau sambil nunggu hasil keputusan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly soal Partai Demokrat.

“Kalau keputusannya menguntungkan, nanti Moeldoko muncul. Tapi, kalau kurang menguntungkan, ya ada pertimbangan lain,” kata Hendri, saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, tadi malam.

Hanya saja, kata Hendri, sikap Moeldoko yang belum bicara ini memiliki tafsir lain. Misalnya, Moeldoko dianggap sudah menyadari kesalahannya sehingga tak mau bicara.

Menurut Hendri, mestinya Moeldoko tetap muncul dan beraktivitas seperti biasa, supaya citra baik dari rakyat makin di dapat Moeldoko. Bahkan akan sangat menguntungkan bila Moeldoko ikut mendampingi Jokowi blusukan. “Kalau nggak kelihatan begini, nggak salah kalau publik berpikir bahwa Pak Moeldoko ngumpet karena diminta Jokowi,” cetusnya. [BCG]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories