Masih Loyo, Belum Ada Tanda-tanda Rupiah Siuman

Nilai tukar rupiah makin terperosok hari ini. Rupiah dibuka Rp 14.415 per dolar AS atau melemah 0,35 persen dibandingkan perdagangan kemarin di level Rp 14.360 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia juga kompak melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,93 persen, dolar Taiwan merosot 0,86 persen, yen Jepang minus 0,21 persen, dan dolar Singapura turun 0,10 persen.

Indeks dolar AS pun naik 0,53 persen pada 92,38 terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya, ini merupakan level tertinggi sejak 24 November.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro tak jauh berbeda melemah sebesar 0,76 persen ke level Rp 17.097, terhadap dolar Australia juga minus 0,84 persen ke level Rp 11.022 dan terhadap yuan China melemah 0,78 persen ke level Rp 2.208.

Analis Riset Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan melihat, rupiah masih akan berpotensi dalam tekanan terhadap dollar AS, karena data Non Farm Payrool (NFP) menunjukkan bahwa ekonomi AS menambah 379 ribu pekerjaan baru di bulan Februari.

Selain itu, tingginya tingkat imbal hasil obligasi AS juga turut menjadi pemicu kenaikan dolar. Ditambah Senat AS pada akhir pekan lalu meloloskan stimulus fiskal jumbo senilai 1,9 triliun dolar AS yang diusulkan oleh pemerintah di bawah komando Presiden Joseph Joe Biden.

“Dengan cairnya stimulus tersebut seharusnya jumlah uang yang beredar di perekonomian AS akan bertambah, dan secara teori dolar AS akan melemah. Tetapi nyatanya, dolar AS malah tambah kuat,” imbuhnya, Selasa (9/3).

Sebabnya, dengan cairnya stimulus tersebut maka laju pemulihan ekonomi AS akan terakselerasi, dan inflasi berisiko melesat. “Range pergerakan rupiah masih bergerak di level Rp 14.290 dan Resisten Rp 14.430,” imbuhnya. [DWI]

]]> Nilai tukar rupiah makin terperosok hari ini. Rupiah dibuka Rp 14.415 per dolar AS atau melemah 0,35 persen dibandingkan perdagangan kemarin di level Rp 14.360 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia juga kompak melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,93 persen, dolar Taiwan merosot 0,86 persen, yen Jepang minus 0,21 persen, dan dolar Singapura turun 0,10 persen.

Indeks dolar AS pun naik 0,53 persen pada 92,38 terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya, ini merupakan level tertinggi sejak 24 November.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro tak jauh berbeda melemah sebesar 0,76 persen ke level Rp 17.097, terhadap dolar Australia juga minus 0,84 persen ke level Rp 11.022 dan terhadap yuan China melemah 0,78 persen ke level Rp 2.208.

Analis Riset Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan melihat, rupiah masih akan berpotensi dalam tekanan terhadap dollar AS, karena data Non Farm Payrool (NFP) menunjukkan bahwa ekonomi AS menambah 379 ribu pekerjaan baru di bulan Februari.

Selain itu, tingginya tingkat imbal hasil obligasi AS juga turut menjadi pemicu kenaikan dolar. Ditambah Senat AS pada akhir pekan lalu meloloskan stimulus fiskal jumbo senilai 1,9 triliun dolar AS yang diusulkan oleh pemerintah di bawah komando Presiden Joseph Joe Biden.

“Dengan cairnya stimulus tersebut seharusnya jumlah uang yang beredar di perekonomian AS akan bertambah, dan secara teori dolar AS akan melemah. Tetapi nyatanya, dolar AS malah tambah kuat,” imbuhnya, Selasa (9/3).

Sebabnya, dengan cairnya stimulus tersebut maka laju pemulihan ekonomi AS akan terakselerasi, dan inflasi berisiko melesat. “Range pergerakan rupiah masih bergerak di level Rp 14.290 dan Resisten Rp 14.430,” imbuhnya. [DWI]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories