Mantap, Ekspor Perkebunan Capai 564 Juta Ton .

Sektor pertanian, termasuk perkebunan, kembali menunjukkan kinerja yang baik. Dalam kegiatan bertajuk Merdeka Ekspor Pertanian 2021, ekspor perkebunan mencapai 564,6 juta ton.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menerangkan, nilai total ekspor dalam Merdeka Ekspor Pertanian Tahun 2021 tersebut mencapai Rp 7,29 triliun. Ekspor pertanian tersebut dikirimkan ke sejumlah negara tujuan ekspor seperti China, Amerika Serikat, India, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Inggris, Jerman, Rusia, Uni Emirat Arab, dan Pakistan.

“Ekspor yang dilepas sebesar 627,4 juta ton, dan nilainya Rp 7,29 triliun. Ekspor itu meliputi komoditas perkebunan 564,6 juta ton, tanaman pangan 4,3 juta ton, hortikultura 7,2 juta ton, peternakan 4,0 juta ton, dan beberapa komoditas lainnya,” jelas Syahrul, dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin (23/8).

Ekspor tersebut dilepas Presiden Jokowi secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor. Pertanian merupakan salah satu sektor yang mampu bertahan dari hantaman pandemi Covid-19, antara lain ditunjukkan dengan terus meningkatnya nilai ekspor pada dua tahun terakhir. Ekspor pertanian pada 2020 mencapai Rp 451,8 triliun, naik 15,79 persen dibandingkan 2019 yang angkanya mencapai Rp 390,16 triliun.

“Pada semester I-2021 dari Januari sampai dengan Juni 2021, ekspor mencapai Rp 282,86 triliun, naik 14,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020, yaitu sebesar Rp 202,05 triliun,” ucap Jokowi.

Menurut Kepala Negara, peningkatan ekspor pertanian tersebut meningkatkan kesejahteraan petani. Hal tersebut antara lain ditunjukkan dengan nilai tukar petani yang terus membaik.

 

“Pada Juni 2020, nilai tukar petani berada di angka 99,60, secara konsisten meningkat hingga Desember 2020 mencapai 103,25 dan Juni 2021 mencapai 103,59. Menurut saya, ini sebuah kabar yang baik yang bisa memacu semangat petani-petani kita untuk tetap produktif di masa pandemi,” jelas Jokowi.

Terkait dengan ekspor beras yang mulai dilakukan antara lain ke Arab Saudi, Jokowi meminta jajarannya agar melakukan kalkulasi secara cermat sehingga stok beras untuk kebutuhan dalam negeri bisa tetap diamankan.

“Kalau memang dihitung betul beras kita ini berlebih dan mampu kita ekspor, ya ekspor saja. Tetapi, sekali lagi, dikalkulasi, dihitung bahwa benar-benar stok yang ada itu cukup untuk kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Artinya, kebutuhan dalam negeri didahulukan, kalau hitung-hitungan ada sisa, silakan diekspor,” pesan Jokowi.

Jokowi meminta para kepala daerah untuk menggali potensi ekspor di wilayah masing-masing. Komoditas-komoditas pertanian yang potensial untuk dikembangkan. Jokowi juga meminta agar petani diperkuat dengan akses permodalan, inovasi teknologi, dan pendampingan.

“Saya sudah banyak berbicara dengan dirut-dirut perbankan agar pertanian mendapatkan perhatian khusus. Karena ini ada kesempatan, seperti disampaikan Menteri Pertanian mengenai porang. Ada pasar yang besar yang bisa kita masuki. Tetapi juga ekspornya jangan mentahan, apalagi masih dalam bentuk umbi-umbian. Ya paling tidak sudah dalam bentuk tercacah, atau syukur bisa barang jadi atau beras porang yang sudah jadi. Target kita memang hilirisasi,” papar Jokowi. [USU]

]]> .
Sektor pertanian, termasuk perkebunan, kembali menunjukkan kinerja yang baik. Dalam kegiatan bertajuk Merdeka Ekspor Pertanian 2021, ekspor perkebunan mencapai 564,6 juta ton.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menerangkan, nilai total ekspor dalam Merdeka Ekspor Pertanian Tahun 2021 tersebut mencapai Rp 7,29 triliun. Ekspor pertanian tersebut dikirimkan ke sejumlah negara tujuan ekspor seperti China, Amerika Serikat, India, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Inggris, Jerman, Rusia, Uni Emirat Arab, dan Pakistan.
“Ekspor yang dilepas sebesar 627,4 juta ton, dan nilainya Rp 7,29 triliun. Ekspor itu meliputi komoditas perkebunan 564,6 juta ton, tanaman pangan 4,3 juta ton, hortikultura 7,2 juta ton, peternakan 4,0 juta ton, dan beberapa komoditas lainnya,” jelas Syahrul, dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin (23/8).
Ekspor tersebut dilepas Presiden Jokowi secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor. Pertanian merupakan salah satu sektor yang mampu bertahan dari hantaman pandemi Covid-19, antara lain ditunjukkan dengan terus meningkatnya nilai ekspor pada dua tahun terakhir. Ekspor pertanian pada 2020 mencapai Rp 451,8 triliun, naik 15,79 persen dibandingkan 2019 yang angkanya mencapai Rp 390,16 triliun.
“Pada semester I-2021 dari Januari sampai dengan Juni 2021, ekspor mencapai Rp 282,86 triliun, naik 14,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020, yaitu sebesar Rp 202,05 triliun,” ucap Jokowi.
Menurut Kepala Negara, peningkatan ekspor pertanian tersebut meningkatkan kesejahteraan petani. Hal tersebut antara lain ditunjukkan dengan nilai tukar petani yang terus membaik.

 

“Pada Juni 2020, nilai tukar petani berada di angka 99,60, secara konsisten meningkat hingga Desember 2020 mencapai 103,25 dan Juni 2021 mencapai 103,59. Menurut saya, ini sebuah kabar yang baik yang bisa memacu semangat petani-petani kita untuk tetap produktif di masa pandemi,” jelas Jokowi.
Terkait dengan ekspor beras yang mulai dilakukan antara lain ke Arab Saudi, Jokowi meminta jajarannya agar melakukan kalkulasi secara cermat sehingga stok beras untuk kebutuhan dalam negeri bisa tetap diamankan.

“Kalau memang dihitung betul beras kita ini berlebih dan mampu kita ekspor, ya ekspor saja. Tetapi, sekali lagi, dikalkulasi, dihitung bahwa benar-benar stok yang ada itu cukup untuk kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Artinya, kebutuhan dalam negeri didahulukan, kalau hitung-hitungan ada sisa, silakan diekspor,” pesan Jokowi.
Jokowi meminta para kepala daerah untuk menggali potensi ekspor di wilayah masing-masing. Komoditas-komoditas pertanian yang potensial untuk dikembangkan. Jokowi juga meminta agar petani diperkuat dengan akses permodalan, inovasi teknologi, dan pendampingan.
“Saya sudah banyak berbicara dengan dirut-dirut perbankan agar pertanian mendapatkan perhatian khusus. Karena ini ada kesempatan, seperti disampaikan Menteri Pertanian mengenai porang. Ada pasar yang besar yang bisa kita masuki. Tetapi juga ekspornya jangan mentahan, apalagi masih dalam bentuk umbi-umbian. Ya paling tidak sudah dalam bentuk tercacah, atau syukur bisa barang jadi atau beras porang yang sudah jadi. Target kita memang hilirisasi,” papar Jokowi. [USU]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories