Mantan ‘Orang Dalam’ Istana Bocorkan Karakter Jokowi

Pernah menjabat Deputi I Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Bidang Infrastruktur, Energi, dan Investasi membuat Darmawan Prasodjo mengetahui berbagai latar belakang keputusan yang diinginkan Presiden Joko Widodo dan para pembantunya di istana.

Lebih dari itu, ketika menjadi “orang dalam” di istana sejak 2014 hingga 2019, Darmawan mengaku paham bagaimana karakter Jokowi. Karakternya keras.

“Alhamdulillaah saya mendapat kesempatan yang luar biasa 5 tahun jadi deputi di istana. Saya melihat mendengar merasakan proses dalam mengambil keputusan,” ujarnya saat Konferensi Pers peluncuran buku secara offline dan online dari Cemara 19 Institute, Menteng, Jakarta, dikutip Minggu (14/3).

Darmo-sapaan Darmawan, menuturkan, kerasnya karakter Jokowi yang dia ketahui adalah saat akan memutuskan kebijakan untuk rakyat.

Presiden selalu mendesak agar segala keputusan yang dibuat mesti dirasakan rakyat manfaatnya secara adil. Terutama dalam hal pendidikan.

Dia minta agar masyarakat miskin bisa menikmati pendidikan sesuai Pancasila terutama sila ke-lima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

“Kami katakan bahwa Jokowi termasuk tipe orang yang keras. Kerasnya Jokowi terlihat ketika dia ingin memastikan bahwa semua orang yang tidak mampu bisa mengakses pendidikan bisa membeli kaos kaki, beli sepatu, membeli buku,” tuturnya.

“Kami jadi berpikir kenapa Presiden sampai sedetail itu dan sangat menjiwai sekali,” ucap Darmo menambahkan.

Darmo baru memahami apa yang melatarbelakangi Presiden bersikap seperti itu. Setelah dicari tahu, rupanya sikap tersebut tak lepas dari latar belakang keluarganya yang sederhana. Sehingga Presiden memahami betul bagaimana rasanya derita orang miskin yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan.

Padahal pendidikan sendiri menurut Jokowi adalah jalan untuk keluar dari kemiskinan.

“Karena beliau memahami betul itu. Sehingga untuk keluar dari kemiskinan harus melalui jalur pendidikan maka dibuat rumusan agar mereka yang tidak mampu bisa memiliki akses atau fasilitas pendidikan,” ucapnya.

Tidak hanya keras, Darmo juga menyebut bahwa karakter Presiden Jokowi adalah orang yang mengedepankan perasaan. Cenderung bersikap tepo seliro dan welas asih, selain di sektor pendidikan juga dalam sektor lainnya seperti energi.

“Jokowi adalah sosok yang sangat pancasilais dalam mengambil keputusan,” ucap Wakil Direktur Utama PT PLN ini.

Darmo menceritakan bahwa di kalangan orang dapur istana selalu menghitung-hitung biaya energi seperti bensin dan lainnya. Jika mengikuti hitungan bisnis maka akan banyak masyarakat mengeluh karena mahalnya harga energi.

Kenapa? “Karena jika menghitung cost benefit analysis yang sulit tidak masuk. Mahal jadinya. Tapi kalau dari sudut pandang perasaan tepo seliro, welas asih dan empati keadilan maka Presiden mau itu harus ada,” ungkapnya.

Dia kembali menegaskan bahwa Jokowi selalu berusaha agar ideologi Pancasila benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat. Jangan sampai Indonesia yang sudah puluhan tahun merdeka tapi masih hidup dalam keterbelakangan kesulitan mendapatkan akses energi.

“Dari situ saya melihat ada pandangan yang berbeda dari kacamata presiden,” katanya.

Singkat cerita Darmo mengatakan, hampir seluruh program pembangunan yang dicetuskan oleh Presiden memiliki latar belakang cerita atau konteks.

Darmo pun menuangkan pengalaman menjadi orang dapur istana dalam bentuk buku berjudul, Jokowi Mewujudkan Mimpi Indonesia. Buku tersebut baru saja diluncurkan kemarin. [JAR]

]]> Pernah menjabat Deputi I Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Bidang Infrastruktur, Energi, dan Investasi membuat Darmawan Prasodjo mengetahui berbagai latar belakang keputusan yang diinginkan Presiden Joko Widodo dan para pembantunya di istana.

Lebih dari itu, ketika menjadi “orang dalam” di istana sejak 2014 hingga 2019, Darmawan mengaku paham bagaimana karakter Jokowi. Karakternya keras.

“Alhamdulillaah saya mendapat kesempatan yang luar biasa 5 tahun jadi deputi di istana. Saya melihat mendengar merasakan proses dalam mengambil keputusan,” ujarnya saat Konferensi Pers peluncuran buku secara offline dan online dari Cemara 19 Institute, Menteng, Jakarta, dikutip Minggu (14/3).

Darmo-sapaan Darmawan, menuturkan, kerasnya karakter Jokowi yang dia ketahui adalah saat akan memutuskan kebijakan untuk rakyat.

Presiden selalu mendesak agar segala keputusan yang dibuat mesti dirasakan rakyat manfaatnya secara adil. Terutama dalam hal pendidikan.

Dia minta agar masyarakat miskin bisa menikmati pendidikan sesuai Pancasila terutama sila ke-lima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

“Kami katakan bahwa Jokowi termasuk tipe orang yang keras. Kerasnya Jokowi terlihat ketika dia ingin memastikan bahwa semua orang yang tidak mampu bisa mengakses pendidikan bisa membeli kaos kaki, beli sepatu, membeli buku,” tuturnya.

“Kami jadi berpikir kenapa Presiden sampai sedetail itu dan sangat menjiwai sekali,” ucap Darmo menambahkan.

Darmo baru memahami apa yang melatarbelakangi Presiden bersikap seperti itu. Setelah dicari tahu, rupanya sikap tersebut tak lepas dari latar belakang keluarganya yang sederhana. Sehingga Presiden memahami betul bagaimana rasanya derita orang miskin yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan.

Padahal pendidikan sendiri menurut Jokowi adalah jalan untuk keluar dari kemiskinan.

“Karena beliau memahami betul itu. Sehingga untuk keluar dari kemiskinan harus melalui jalur pendidikan maka dibuat rumusan agar mereka yang tidak mampu bisa memiliki akses atau fasilitas pendidikan,” ucapnya.

Tidak hanya keras, Darmo juga menyebut bahwa karakter Presiden Jokowi adalah orang yang mengedepankan perasaan. Cenderung bersikap tepo seliro dan welas asih, selain di sektor pendidikan juga dalam sektor lainnya seperti energi.

“Jokowi adalah sosok yang sangat pancasilais dalam mengambil keputusan,” ucap Wakil Direktur Utama PT PLN ini.

Darmo menceritakan bahwa di kalangan orang dapur istana selalu menghitung-hitung biaya energi seperti bensin dan lainnya. Jika mengikuti hitungan bisnis maka akan banyak masyarakat mengeluh karena mahalnya harga energi.

Kenapa? “Karena jika menghitung cost benefit analysis yang sulit tidak masuk. Mahal jadinya. Tapi kalau dari sudut pandang perasaan tepo seliro, welas asih dan empati keadilan maka Presiden mau itu harus ada,” ungkapnya.

Dia kembali menegaskan bahwa Jokowi selalu berusaha agar ideologi Pancasila benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat. Jangan sampai Indonesia yang sudah puluhan tahun merdeka tapi masih hidup dalam keterbelakangan kesulitan mendapatkan akses energi.

“Dari situ saya melihat ada pandangan yang berbeda dari kacamata presiden,” katanya.

Singkat cerita Darmo mengatakan, hampir seluruh program pembangunan yang dicetuskan oleh Presiden memiliki latar belakang cerita atau konteks.

Darmo pun menuangkan pengalaman menjadi orang dapur istana dalam bentuk buku berjudul, Jokowi Mewujudkan Mimpi Indonesia. Buku tersebut baru saja diluncurkan kemarin. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories