Mantan Atlet Dayung Jual Medali Emas Untuk Obati Anak, Sukanto Tanoto Beli Rumah 6 Triliun Di Jerman Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin Miskin

Di saat Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan orang miskin di negeri ini nambah jadi 27,5 juta, kemarin, ada kisah orang miskin yang benar-benar miskin, sampai tak tega mendengarnya. Juga ada cerita orang kaya yang benar-benar kaya, yang sulit rasanya bagi kebanyakan orang untuk menirunya.

Orang miskin itu namanya Leni Haini. Mantan atlet dayung yang terpaksa akan menjual medali emas yang pernah diraihnya karena tak mampu lagi biayai pengobatan anaknya.

Sebelum “gantung dayung”, eks atlet usia 44 tahun ini pernah mengharumkan nama bangsa di SEA Games 1997 Indonesia dan SEA Games 1999 di Brunei Darussalam. Di SEA Games 1997, Leni berhasil menyumbang 2 emas dan 1 perak. Sementara, di SEA Games 1999, ia meraih 1 emas dan 1 perak.

Selain di kancah SEA Games, atlet asal Jambi ini juga mengoleksi 3 medali emas pada kejuaraan The World Dragon Boat Racing di Taiwan pada 1997. Beberapa prestasi lain juga yang berhasil dicatatkan di sejumlah kejuaraan, seperti di Hong Kong dan Singapura.

Bendera merah putih berkali-kali berkibar karena jasa Leni. Decak kagum saat itu, tercurah. Jutaan rakyat angkat topi atas prestasinya. Tapi, kini cerita itu tak ada lagi. Yang ada, justru cerita nestapa.

Leni punya anak, namanya Habibatul Fasia, yang kena penyakit epidermolysis bullosa (EB). Kulitnya rapuh dan mudah terluka. Sejak lahir, anak perempuan buah cinta Leni bersama pasangannya Muhammad Ichsan Usman itu, dirawat dengan telaten oleh ibunda Leni. Pernah dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta. Untuk membiayai pengobatan, ia sampai harus menjual rumah. Tapi anaknya itu belum kunjung sembuh.

Duit yang dia punya sudah habis. Deretan angka di tabungannya pun sudah nol. Mau jual ini, itu, sudah tak ada lagi yang bisa dijual. Yang tersisa medali emas itu. Itulah yang rencananya mau dijual Leni.

Akankah medali emas Leni ini sampai dijual? Pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) langsung turun tangan. Sekretaris Kemenpora, Gatot S Dewa Broto mengatakan, Leni tak perlu menjual medali emasnya. Ia berjanji tidak akan lepas tangan.

Gatot mengakui, soal kesejahteraan atlet, memang dilematis. Sebab, Pemerintah hanya bisa menggunakan anggaran sesuai rambu yang ada. “Supaya tidak jadi temuan (penegak hukum). Tapi, bukan berarti kami tidak peduli,” kata Gatot, saat dikonfirmasi Rakyat Merdeka, Senin (15/2) malam.

Menurutnya, Leni, selaku atlet yang pernah mengharumkan nama bangsa di kancah global, berhak dibantu. Gatot akan mengontak Direktur Utama BPJS Kesehatan untuk menolong biaya pengobatan anak Leni.

 

Selain ke BPJS Kesehatan, Gatot juga sudah menelepon Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI) Budiman Setiawan hingga Dinas Pemuda dan Olahraga Jambi untuk membantu Leni. “Tapi, di sisi lain, beban sakit anak ibu Leni ini panjang. Dulu sudah pernah dibantu,” ungkapnya.

Meski begitu, ia memastikan, tidak akan menyerah. Ini bukan kasus pertama yang ditanganinya. Meskipun aturan tidak memungkinkan, Gatot berjanji akan berkoordinasi dengan berbagai pihak. “Masak kami tidak bisa saweran,” tandasnya.

Itulah cerita sedih Leni. Ini lain lagi ceritanya. Di saat Leni sedang keteteran cari duit untuk mengobati anaknya, ada berita lain yang wow, dari seorang konglomerat kebanggan bangsa ini. Konglomerat ini namanya Sukanto Tanoto. Orang ini benar-benar kaya raya. Majalah Forbes dan majalah-majalah yang hobi nyatet kekayaan orang, selalu menempatkan Sukanto ada di deretan orang-orang tajir.

Terakhir, tahun 2020, dia ada di ranking 22 dari 50 orang terkaya di Indonesia. Total kekayaannya 1,4 miliar dolar Amerika atau setara Rp 19,4 triliun. Aje gile…

Kemarin, Sukanto diberitakan media luar negeri, juga dalam negeri, telah membeli rumah di Jerman senilai Rp 6 triliun. Rumah yang dibeli itu bergaya kolonial. Bekas Istana Raja Jerman, yang terletak di sudut Ludwigstrasse, salah satu kompleks paling bergengsi di Munich. Tidak jauh dari Perpustakaan Negara Bagian Bavaria.

Saat ini, kompleks dengan desain neoklasik itu punya luas 27.000 meter persegi. Kini disewakan ke Allianz dan Boston Consulting Group.

Pihak Sukanto Tanoto kasih penjelasan terkait pembelian “Istana” ini. Royal Golden Eagle (RGE) menyatakan, pembelian tersebut merupakan investasi pribadi Sukanto dan anaknya yang dilakukan secara profesional dan memenuhi unsur kepatuhan terhadap hukum dan regulasi di Jerman, serta telah sesuai dengan praktik terbaik internasional.

“Kami mengonfirmasi bahwa perusahaan di bawah RGE Indonesia tidak memiliki hubungan dengan transaksi tersebut,” jelas Head Corporate Communications RGE Pte Ltd, John Morgan, dalam keterangan resminya, Minggu (14/2).

John Morgan menambahkan, grup RGE akan selalu patuh di seluruh wilayah negara operasinya yang tersebar di Indonesia, China, Brasil, dan Kanada.

Itulah kisah Lina dan Sukanto. Semoga Sukanto bisa membantu Leni, sehingga anak Leni bisa sembuh dan medali Leni tetap dipajang di rumahnya. [SAR]

]]> Di saat Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan orang miskin di negeri ini nambah jadi 27,5 juta, kemarin, ada kisah orang miskin yang benar-benar miskin, sampai tak tega mendengarnya. Juga ada cerita orang kaya yang benar-benar kaya, yang sulit rasanya bagi kebanyakan orang untuk menirunya.

Orang miskin itu namanya Leni Haini. Mantan atlet dayung yang terpaksa akan menjual medali emas yang pernah diraihnya karena tak mampu lagi biayai pengobatan anaknya.

Sebelum “gantung dayung”, eks atlet usia 44 tahun ini pernah mengharumkan nama bangsa di SEA Games 1997 Indonesia dan SEA Games 1999 di Brunei Darussalam. Di SEA Games 1997, Leni berhasil menyumbang 2 emas dan 1 perak. Sementara, di SEA Games 1999, ia meraih 1 emas dan 1 perak.

Selain di kancah SEA Games, atlet asal Jambi ini juga mengoleksi 3 medali emas pada kejuaraan The World Dragon Boat Racing di Taiwan pada 1997. Beberapa prestasi lain juga yang berhasil dicatatkan di sejumlah kejuaraan, seperti di Hong Kong dan Singapura.

Bendera merah putih berkali-kali berkibar karena jasa Leni. Decak kagum saat itu, tercurah. Jutaan rakyat angkat topi atas prestasinya. Tapi, kini cerita itu tak ada lagi. Yang ada, justru cerita nestapa.

Leni punya anak, namanya Habibatul Fasia, yang kena penyakit epidermolysis bullosa (EB). Kulitnya rapuh dan mudah terluka. Sejak lahir, anak perempuan buah cinta Leni bersama pasangannya Muhammad Ichsan Usman itu, dirawat dengan telaten oleh ibunda Leni. Pernah dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta. Untuk membiayai pengobatan, ia sampai harus menjual rumah. Tapi anaknya itu belum kunjung sembuh.

Duit yang dia punya sudah habis. Deretan angka di tabungannya pun sudah nol. Mau jual ini, itu, sudah tak ada lagi yang bisa dijual. Yang tersisa medali emas itu. Itulah yang rencananya mau dijual Leni.

Akankah medali emas Leni ini sampai dijual? Pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) langsung turun tangan. Sekretaris Kemenpora, Gatot S Dewa Broto mengatakan, Leni tak perlu menjual medali emasnya. Ia berjanji tidak akan lepas tangan.

Gatot mengakui, soal kesejahteraan atlet, memang dilematis. Sebab, Pemerintah hanya bisa menggunakan anggaran sesuai rambu yang ada. “Supaya tidak jadi temuan (penegak hukum). Tapi, bukan berarti kami tidak peduli,” kata Gatot, saat dikonfirmasi Rakyat Merdeka, Senin (15/2) malam.

Menurutnya, Leni, selaku atlet yang pernah mengharumkan nama bangsa di kancah global, berhak dibantu. Gatot akan mengontak Direktur Utama BPJS Kesehatan untuk menolong biaya pengobatan anak Leni.

 

Selain ke BPJS Kesehatan, Gatot juga sudah menelepon Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI) Budiman Setiawan hingga Dinas Pemuda dan Olahraga Jambi untuk membantu Leni. “Tapi, di sisi lain, beban sakit anak ibu Leni ini panjang. Dulu sudah pernah dibantu,” ungkapnya.

Meski begitu, ia memastikan, tidak akan menyerah. Ini bukan kasus pertama yang ditanganinya. Meskipun aturan tidak memungkinkan, Gatot berjanji akan berkoordinasi dengan berbagai pihak. “Masak kami tidak bisa saweran,” tandasnya.

Itulah cerita sedih Leni. Ini lain lagi ceritanya. Di saat Leni sedang keteteran cari duit untuk mengobati anaknya, ada berita lain yang wow, dari seorang konglomerat kebanggan bangsa ini. Konglomerat ini namanya Sukanto Tanoto. Orang ini benar-benar kaya raya. Majalah Forbes dan majalah-majalah yang hobi nyatet kekayaan orang, selalu menempatkan Sukanto ada di deretan orang-orang tajir.

Terakhir, tahun 2020, dia ada di ranking 22 dari 50 orang terkaya di Indonesia. Total kekayaannya 1,4 miliar dolar Amerika atau setara Rp 19,4 triliun. Aje gile…

Kemarin, Sukanto diberitakan media luar negeri, juga dalam negeri, telah membeli rumah di Jerman senilai Rp 6 triliun. Rumah yang dibeli itu bergaya kolonial. Bekas Istana Raja Jerman, yang terletak di sudut Ludwigstrasse, salah satu kompleks paling bergengsi di Munich. Tidak jauh dari Perpustakaan Negara Bagian Bavaria.

Saat ini, kompleks dengan desain neoklasik itu punya luas 27.000 meter persegi. Kini disewakan ke Allianz dan Boston Consulting Group.

Pihak Sukanto Tanoto kasih penjelasan terkait pembelian “Istana” ini. Royal Golden Eagle (RGE) menyatakan, pembelian tersebut merupakan investasi pribadi Sukanto dan anaknya yang dilakukan secara profesional dan memenuhi unsur kepatuhan terhadap hukum dan regulasi di Jerman, serta telah sesuai dengan praktik terbaik internasional.

“Kami mengonfirmasi bahwa perusahaan di bawah RGE Indonesia tidak memiliki hubungan dengan transaksi tersebut,” jelas Head Corporate Communications RGE Pte Ltd, John Morgan, dalam keterangan resminya, Minggu (14/2).

John Morgan menambahkan, grup RGE akan selalu patuh di seluruh wilayah negara operasinya yang tersebar di Indonesia, China, Brasil, dan Kanada.

Itulah kisah Lina dan Sukanto. Semoga Sukanto bisa membantu Leni, sehingga anak Leni bisa sembuh dan medali Leni tetap dipajang di rumahnya. [SAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories