Manfaatkan Peluang Pasca Brexit Kemendag Kerek Ekspor Produk Kopi, Teh, Dan Kakao Ke Inggris

Manfaatkan peluang pasca Brexit, Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya meningkatkan ekspornya ke Inggris. Antara lain ekspor produk kopi, teh, dan kakao.

Untuk memuluskan target tersebut, Kemendag menyelenggarakan pertemuan bisnis virtual dengan tema ‘Post Brexit: Strategi Peningkatan Ekspor Produk Kopi, Teh dan Kakao ke Inggris’, Kamis (18/2).

Hadir dalam acara ini, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kasan dan Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris merangkap Irlandia, International Maritime Organization (IMO) Desra Percaya. Acara ini diikuti sekitar 300 peserta yang merupakan para pelaku usaha, asosiasi, dan dinas terkait.

“Di tengah kondisi pasca-Brexit dan pandemi Covid-19 ini, para pelaku usaha produk kopi, teh, dan kakao Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan peluang ekspor ke Inggris. Mengingat ketiga jenis produk ini tren konsumsinya tetap menunjukkan peningkatan di masa pandemi,” ujar Kasan dalam keterangan tertulisnya, Jumat (19/2).

Di samping peluang yang ada, menurut Kasan, saat ini juga terdapat beberapa tantangan yang dihadapi para pelaku usaha kopi, teh dan kakao Indonesia dalam mengekspor produknya. Selain hambatan tarif, beberapa hambatan nontarif yang juga perlu diperhatikan di antaranya isu berkelanjutan (sustainability), lingkungan, serta story telling atau filosofi dari produk yang dipasarkan.

Sedangkan, untuk produk kopi, adanya permintaan sertifikasi perdagangan yang adil (fair trade), berkelanjutan, sistem ketelusuran (traceability), dan organik kerap menjadi hambatan. Untuk teh, hambatannya adalah kandungan kadar antraquinone daun teh melampaui ambang batas 0,02 mg per kilogram. Lalu, hambatan untuk kakao Indonesia adalah kandungan kadar C admium masih melampaui ambang batas 0,5 ppm.

“Tantangan secara umum untuk ketiga produk tersebut di antaranya belum maksimalnya inovasi serta ketatnya persyaratan keamanan pangan (food safety), kontaminan makanan (food contaminants), serta pelabelan dan pengemasan (labeling and packaging),” beber Kasan.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris, Desra Percaya menyambut baik penyelenggaraan kegiatan kali ini.

“Ini merupakan bentuk kolaboratif, adaptif, kreatif dan positif di tengah tantangan perubahan zaman di masa pandemi,” ungkap Desra.

Menurutnya, Brexit menjadi salah satu tantangan selain pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai. “Tantangan ini harus dipandang sebagai peluang dan setiap transisi serta perubahan harus dikawal secara dekat, dikelola, dan dimanfaatkan bagi kepentingan nasional,” imbuh Desra.

Desra menambahkan, Inggris saat ini berencana menerapkan aturan due diligence untuk tujuh komoditas kunci, yaitu kedelai, minyak kelapa sawit, kayu, pulp dan kertas, daging dan kulit sapi, karet, serta kakao guna memastikan rantai pasokan komoditas tersebut tidak berkontribusi pada deforestasi.

“Untuk itu sinergi pemerintah dan pelaku usaha sangat penting untuk bekerja sama agar ekspor komoditas unggulan Indonesia, seperti kopi dan kakao, tidak terhambat aturan due diligence maupun hambatan nontarif lainnya,” imbuh Desra.

Direktur Pengembangan Produk Ekspor Olvy Andrianita menjelaskan, Kemendag akan terus mendukung para pelaku usaha produk kopi, teh, dan kakao dengan memaksimalkan potensi pasar di Inggris Raya. “Salah satu bentuknya dengan bantuan sertifikasi terkait yang diperlukan para pelaku usaha,” jelas Olvy.

Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Key Expert Trade Facilitation Arise Plus James Lenaghan, Atase Perdagangan London Rizalu Akbar, Ketua Asosiasi Kopi Specialty Indonesia Daryanto Witarsa, Pendiri Sila Tea Iriana Ekasari, dan Pimpinan PT Bumitangerang Mesindotama Yeniwati Tanurahardja.

Pada 2020, total perdagangan Indonesia-Inggris mencapai 2,23 miliar dolar AS. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia ke Inggris tercatat sebesar 1,28 miliar dolar AS sedangkan, impor Indonesia dari Inggris tercatat sebesar 956,39 juta dolar AS. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia terhadap Inggris surplus sebesar 327 juta dolar AS.

Adapun komoditas ekspor utama Indonesia ke Inggris di antaranya produk sepatu, produk kayu, tekstil dan produk tekstil, minyak sawit, kopi, sepeda, serta ban dan kertas. Sedangkan, produk impor dari Inggris antara lain obat, ferrous scrap, bagian-bagian mesin, bagian elektronik untuk telepon, otomotif, dan mesin pengolah data. [DIT]

]]> Manfaatkan peluang pasca Brexit, Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya meningkatkan ekspornya ke Inggris. Antara lain ekspor produk kopi, teh, dan kakao.

Untuk memuluskan target tersebut, Kemendag menyelenggarakan pertemuan bisnis virtual dengan tema ‘Post Brexit: Strategi Peningkatan Ekspor Produk Kopi, Teh dan Kakao ke Inggris’, Kamis (18/2).

Hadir dalam acara ini, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kasan dan Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris merangkap Irlandia, International Maritime Organization (IMO) Desra Percaya. Acara ini diikuti sekitar 300 peserta yang merupakan para pelaku usaha, asosiasi, dan dinas terkait.

“Di tengah kondisi pasca-Brexit dan pandemi Covid-19 ini, para pelaku usaha produk kopi, teh, dan kakao Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan peluang ekspor ke Inggris. Mengingat ketiga jenis produk ini tren konsumsinya tetap menunjukkan peningkatan di masa pandemi,” ujar Kasan dalam keterangan tertulisnya, Jumat (19/2).

Di samping peluang yang ada, menurut Kasan, saat ini juga terdapat beberapa tantangan yang dihadapi para pelaku usaha kopi, teh dan kakao Indonesia dalam mengekspor produknya. Selain hambatan tarif, beberapa hambatan nontarif yang juga perlu diperhatikan di antaranya isu berkelanjutan (sustainability), lingkungan, serta story telling atau filosofi dari produk yang dipasarkan.

Sedangkan, untuk produk kopi, adanya permintaan sertifikasi perdagangan yang adil (fair trade), berkelanjutan, sistem ketelusuran (traceability), dan organik kerap menjadi hambatan. Untuk teh, hambatannya adalah kandungan kadar antraquinone daun teh melampaui ambang batas 0,02 mg per kilogram. Lalu, hambatan untuk kakao Indonesia adalah kandungan kadar C admium masih melampaui ambang batas 0,5 ppm.

“Tantangan secara umum untuk ketiga produk tersebut di antaranya belum maksimalnya inovasi serta ketatnya persyaratan keamanan pangan (food safety), kontaminan makanan (food contaminants), serta pelabelan dan pengemasan (labeling and packaging),” beber Kasan.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris, Desra Percaya menyambut baik penyelenggaraan kegiatan kali ini.

“Ini merupakan bentuk kolaboratif, adaptif, kreatif dan positif di tengah tantangan perubahan zaman di masa pandemi,” ungkap Desra.

Menurutnya, Brexit menjadi salah satu tantangan selain pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai. “Tantangan ini harus dipandang sebagai peluang dan setiap transisi serta perubahan harus dikawal secara dekat, dikelola, dan dimanfaatkan bagi kepentingan nasional,” imbuh Desra.

Desra menambahkan, Inggris saat ini berencana menerapkan aturan due diligence untuk tujuh komoditas kunci, yaitu kedelai, minyak kelapa sawit, kayu, pulp dan kertas, daging dan kulit sapi, karet, serta kakao guna memastikan rantai pasokan komoditas tersebut tidak berkontribusi pada deforestasi.

“Untuk itu sinergi pemerintah dan pelaku usaha sangat penting untuk bekerja sama agar ekspor komoditas unggulan Indonesia, seperti kopi dan kakao, tidak terhambat aturan due diligence maupun hambatan nontarif lainnya,” imbuh Desra.

Direktur Pengembangan Produk Ekspor Olvy Andrianita menjelaskan, Kemendag akan terus mendukung para pelaku usaha produk kopi, teh, dan kakao dengan memaksimalkan potensi pasar di Inggris Raya. “Salah satu bentuknya dengan bantuan sertifikasi terkait yang diperlukan para pelaku usaha,” jelas Olvy.

Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Key Expert Trade Facilitation Arise Plus James Lenaghan, Atase Perdagangan London Rizalu Akbar, Ketua Asosiasi Kopi Specialty Indonesia Daryanto Witarsa, Pendiri Sila Tea Iriana Ekasari, dan Pimpinan PT Bumitangerang Mesindotama Yeniwati Tanurahardja.

Pada 2020, total perdagangan Indonesia-Inggris mencapai 2,23 miliar dolar AS. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia ke Inggris tercatat sebesar 1,28 miliar dolar AS sedangkan, impor Indonesia dari Inggris tercatat sebesar 956,39 juta dolar AS. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia terhadap Inggris surplus sebesar 327 juta dolar AS.

Adapun komoditas ekspor utama Indonesia ke Inggris di antaranya produk sepatu, produk kayu, tekstil dan produk tekstil, minyak sawit, kopi, sepeda, serta ban dan kertas. Sedangkan, produk impor dari Inggris antara lain obat, ferrous scrap, bagian-bagian mesin, bagian elektronik untuk telepon, otomotif, dan mesin pengolah data. [DIT]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories