Makin Rajin “Kampanye“ Ganjar Dan Anies Makin Rajin Ke Luar Kandang

Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan, dua gubernur yang namanya selalu masuk 3 besar survei capres memanfaatkan betul momentum bulan Ramadan. Keduanya makin rajin “kampanye” ke luar kandang dari daerah kekuasaannya. Namun, mumpung KPU belum menentukan masa kampanye, biarkan Ganjar dan Anies curi start buat tingkatkan elektabilitasnya.

Dimulai dari Ganjar. Dalam sepekan di bulan Ramadan saja, Gubernur Jawa Tengah itu, sudah 3 kali ke luar kandang. Rabu (6/4), Ganjar pergi ke Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Di sana, politisi PDIP itu menjadi penceramah tarawih di Masjid Kampus UGM.

Dua hari berselang, Ganjar terbang ke Medan, Sumatera Utara. Di provinsi yang dipimpin Edy Rahmayadi itu, ada banyak kegiatan yang diikuti Ganjar. Mulai dari menjadi dosen tamu di Universitas Sumatera Utara, mampir ke museum Tjong A Fie, sampai menemui masyarakat keturunan Jawa yang tinggal di Sumatera.

Dalam pertemuan itu, Ganjar dikukuhkan sebagai Dewan Pelindung DPP Pujakesuma. Organisasi ini adalah perkumpulan atau wadah orang Jawa yang lahir dan tinggal di tanah Sumatra yang didirikan pada 1980.

Dari Medan, Ganjar tak langsung pulang ke Semarang. Ia lanjut melakukan perjalanan ke Aceh. Di Tanah Rencong itu, Ganjar menghadiri proses pelantikan Korps Alumni Gajah Mada (Kagama) Lhokseumawe Raya bersama Rektor UGM, Prof Panut Mulyono.

Bukan cuma Ganjar yang getol pergi ke luar provinsi yang dikuasainya. Anies juga sama. Gubernur DKI Jakarta itu, juga terpantau beberapa kali melakukan kunjungan ke luar Jakarta. Teranyar, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan ini, mengisi ceramah salat teraweh di Masjid Kampus UGM.

Di kampus almamaternya itu, Anies mendapat sambutan meriah. Teriakan “Anies Presiden” lantang diteriaki massa yang hadir di Masjid Kampus UGM. Kehadiran Anies itu serasa dirinya sedang melakukan kampanye sebagai calon presiden.

Benarkah Ramadan jadi ajang kampanye bagi 2 gubernur? Relawan pendukung Anies Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Syarief Hidayatullah membantah jagoannya itu, sudah kampanye di bulan Ramadan. Kata dia, Anies hadir ke sana karena diundang, bukan menawarkan diri.

“Dan yang diceramahkan isinya tidak politik praktis. Minta dipilih. Bahwa ada orang yang hadir simpati, tertarik, tentu di luar kendali Anies dan yang mengundang,” kata Syarief, kemarin.

 

Lagi pula, kata dia, kegiatan yang dilakukan Anies di luar jam kerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta. “Jadi, saya kira sah saja,” lanjutnya.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai kunjungan Ganjar dan Anies ke berbagai daerah sebagai hal yang biasa. Namun, safari Ramadan itu, kata dia, tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari nuansa politik. Apalagi, keduaya merupakan kepala daerah yang punya elektabilitas tinggi dan pendukung yang banyak.

“Di dunia politik kan harus pandai memanfaatkan momentum. Bulan Ramadan ini momentum mereka mendekatkan dan meraih simpati pemilih, tebar pesona,” kata Ujang, kemarin.

Karena itu, Ujang mengaku tidak heran apabila ada sejumlah tokoh yang mengisi ceramah atau rajin menyapa warga di luar provinsinya. Anies yang dipersepsikan paling dekat dengan irisan pemilih Islam, pasti memanfaatkan momentum ini.

“Tokoh yang lain juga mulai gencar mengidentifikasikan diri dalam kelompok Islam. Semua berpeluang, tinggal kemasannya dan penyajiannya saja, siapa yang paling menarik,” jelasnya. “Dan saya tidak melihat kegiatan mereka sebagai kampanye terselubung yang melanggar,” sambungnya.

Hal senada juga disampaikan pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio. Di sisa waktu 2 tahun lagi menjelang Pemilu 2024, wajar tokoh yang digadang-gadang bakal maju makin tebar pesona. Bulan Ramadan, kata dia, momentum yang pas untuk keluar kandang dan tebar pesona.

Menurut dia, langkah Ganjar dan Anies berkeliling ini bisa berdampak pada elektabilitasnya. Saat ini, elektabilitas kedua nama itu bersaing ketat.

Hendri mengatakan, setiap tokoh yang berniat jadi capres memang harus memperlihatkan kinerjanya kepada publik. Agar publik bisa punya gambaran seperti apa tokoh yang akan maju di pilpres nanti. “Jadi publik akan punya bayangan seperti apa Indonesia nanti jika Anies atau Ganjar jadi presiden,” pungkasnya. [BCG]

]]> Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan, dua gubernur yang namanya selalu masuk 3 besar survei capres memanfaatkan betul momentum bulan Ramadan. Keduanya makin rajin “kampanye” ke luar kandang dari daerah kekuasaannya. Namun, mumpung KPU belum menentukan masa kampanye, biarkan Ganjar dan Anies curi start buat tingkatkan elektabilitasnya.

Dimulai dari Ganjar. Dalam sepekan di bulan Ramadan saja, Gubernur Jawa Tengah itu, sudah 3 kali ke luar kandang. Rabu (6/4), Ganjar pergi ke Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Di sana, politisi PDIP itu menjadi penceramah tarawih di Masjid Kampus UGM.

Dua hari berselang, Ganjar terbang ke Medan, Sumatera Utara. Di provinsi yang dipimpin Edy Rahmayadi itu, ada banyak kegiatan yang diikuti Ganjar. Mulai dari menjadi dosen tamu di Universitas Sumatera Utara, mampir ke museum Tjong A Fie, sampai menemui masyarakat keturunan Jawa yang tinggal di Sumatera.

Dalam pertemuan itu, Ganjar dikukuhkan sebagai Dewan Pelindung DPP Pujakesuma. Organisasi ini adalah perkumpulan atau wadah orang Jawa yang lahir dan tinggal di tanah Sumatra yang didirikan pada 1980.

Dari Medan, Ganjar tak langsung pulang ke Semarang. Ia lanjut melakukan perjalanan ke Aceh. Di Tanah Rencong itu, Ganjar menghadiri proses pelantikan Korps Alumni Gajah Mada (Kagama) Lhokseumawe Raya bersama Rektor UGM, Prof Panut Mulyono.

Bukan cuma Ganjar yang getol pergi ke luar provinsi yang dikuasainya. Anies juga sama. Gubernur DKI Jakarta itu, juga terpantau beberapa kali melakukan kunjungan ke luar Jakarta. Teranyar, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan ini, mengisi ceramah salat teraweh di Masjid Kampus UGM.

Di kampus almamaternya itu, Anies mendapat sambutan meriah. Teriakan “Anies Presiden” lantang diteriaki massa yang hadir di Masjid Kampus UGM. Kehadiran Anies itu serasa dirinya sedang melakukan kampanye sebagai calon presiden.

Benarkah Ramadan jadi ajang kampanye bagi 2 gubernur? Relawan pendukung Anies Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Syarief Hidayatullah membantah jagoannya itu, sudah kampanye di bulan Ramadan. Kata dia, Anies hadir ke sana karena diundang, bukan menawarkan diri.

“Dan yang diceramahkan isinya tidak politik praktis. Minta dipilih. Bahwa ada orang yang hadir simpati, tertarik, tentu di luar kendali Anies dan yang mengundang,” kata Syarief, kemarin.

 

Lagi pula, kata dia, kegiatan yang dilakukan Anies di luar jam kerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta. “Jadi, saya kira sah saja,” lanjutnya.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai kunjungan Ganjar dan Anies ke berbagai daerah sebagai hal yang biasa. Namun, safari Ramadan itu, kata dia, tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari nuansa politik. Apalagi, keduaya merupakan kepala daerah yang punya elektabilitas tinggi dan pendukung yang banyak.

“Di dunia politik kan harus pandai memanfaatkan momentum. Bulan Ramadan ini momentum mereka mendekatkan dan meraih simpati pemilih, tebar pesona,” kata Ujang, kemarin.

Karena itu, Ujang mengaku tidak heran apabila ada sejumlah tokoh yang mengisi ceramah atau rajin menyapa warga di luar provinsinya. Anies yang dipersepsikan paling dekat dengan irisan pemilih Islam, pasti memanfaatkan momentum ini.

“Tokoh yang lain juga mulai gencar mengidentifikasikan diri dalam kelompok Islam. Semua berpeluang, tinggal kemasannya dan penyajiannya saja, siapa yang paling menarik,” jelasnya. “Dan saya tidak melihat kegiatan mereka sebagai kampanye terselubung yang melanggar,” sambungnya.

Hal senada juga disampaikan pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio. Di sisa waktu 2 tahun lagi menjelang Pemilu 2024, wajar tokoh yang digadang-gadang bakal maju makin tebar pesona. Bulan Ramadan, kata dia, momentum yang pas untuk keluar kandang dan tebar pesona.

Menurut dia, langkah Ganjar dan Anies berkeliling ini bisa berdampak pada elektabilitasnya. Saat ini, elektabilitas kedua nama itu bersaing ketat.

Hendri mengatakan, setiap tokoh yang berniat jadi capres memang harus memperlihatkan kinerjanya kepada publik. Agar publik bisa punya gambaran seperti apa tokoh yang akan maju di pilpres nanti. “Jadi publik akan punya bayangan seperti apa Indonesia nanti jika Anies atau Ganjar jadi presiden,” pungkasnya. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories