Makin Cantik Dan Diserbu Pengunjung Sayang, Kota Tua Panas Dan Banyak Pengamen

Kawasan Kota Tua yang kini semakin cantik diserbu wisatawan. Namun, para pengunjung mengeluh kurang nyaman karena panas dan banyak pengamen.

Proyek revitalisasi kawasan Kota Tua di Jakarta Barat, sebenarnya belum rampung 100 persen. Namun begitu, banyak wisatawan mengunjungi wisata cagar budaya itu karena penasaran dengan penampilannya yang makin cantik.

Sepekan terakhir, animo warga berkunjung ke Kota Tua, sangat besar. Tak cuma warga Ibu Kota, warga luar Jakarta healing ke lokasi itu.

Hal ini terjadi tak lepas dari lokasi Kawasan Kota Tua yang strategis. Aksesnya gampang, bisa naik KRL, Transjakarta dan Mikrotrans. Tak hanya itu, jalan-jalan di kawasan bersejarah ini, murah. Masuknya gratis. Hanya beberapa tempat saja yang harus bayar seperti Museum Fatahillah, tapi tetap ramah di kantong.

Meski begitu, banyak pengunjung mengaku tidak nyaman karena banyak pengamen. Keluhan itu disampaikan melalui kolom komentar akun Instagram @dkijakarta milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Tambahin petugas dan Satpol PP, pengamen beberapa ada yang maksa dan itu meresahkan, jadi nggak nyaman. Kalo ditata, dikelola, dibina bisa jadi street music kayak di kota-kota besar,” saran @hadyirfan_26.

“Boleh ada pengamen. Tapi dilarang keliling. Cukup nyanyi di tempat, depannya taro ember buat yang mau kasih donasi,” usul @bangemil87.

“Mohon maaf, pengamennya di sana terlalu banyak. 30 menit bisa disamperin 10 lebih pengamen. Mudah-mudahan bisa ada spot khusus untuk mereka cari rejeki,” keluh @agung._cahya.

“Bagus, tapi sayangnya terlalu banyak pengemis/pengamen, @dinsosdkijakarta @walikotajakbar @aniesbaswedan tolong tertibkan pengemis dan pengamen,” kata @habibiabi690.

Selain pengamen, banyak pengunjung mengeluhkan suasana Kota Tua yang panas karena minimnya pohon. “Pohonnya perlu ditambah ya supaya makin rimbun,” pinta @lius_kc.

“Tapi panas min, penghijauan diperbanyak yak,” tulis @abdurrohman.27. “Kurang penghijauannya, itu kalo siang buset panasnya nggak ada tempat neduh,” kata @adit__raditya.

 

Pengerjaan revitalisasi kawasan Kota Tua awalnya ditargetkan rampung pada akhir Juli 2022. Namun hingga Agustus pekan pertama, pengerjaan belum selesai.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho mengakui proyek tersebut molor. Namun, pengerjaannya sudah hampir rampung sampai 97 persen.

Hari menjelaskan, ada kendala tak terduga di tengah revitalisasi. “Ada semacam longsoran tanah. Sebelumnya pakai pondasi dangkal, makanya sekarang dibuat menjadi pondasi dalam,” ujar Hari.

Kendala lainnya, ada pembuatan saluran air pada bekas Halte Kota Tua untuk lahan yang digunakan PT KAI. Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya masih memproses untuk memasok air ke lokasi itu.

“Memindahkan utilitas dari sana itu butuh waktu, sampai dengan terlayaninya air bersih PAM ke PT KAI. Termasuk kendala di area halte,” jelasnya.

Hari mengatakan, revitalisasi kawasan Kota Tua ditargetkan rampung akhir Agustus ini. Melalui revitalisasi, Kota Tua akan dilengkapi fasilitas street furniture, pohon peneduh, taman hingga air mancur dan guiding block untuk memudahkan kelompok disabilitas. Kawasan bersejarah ini akan menjadi kawasan rendah emisi atau Low Emission Zone (LEZ).

Kendaraan roda empat dan roda dua tidak akan diizinkan lagi beroperasi di sekitar lokasi, kecuali bus Transjakarta. Jalan khusus pedestrian juga diperlebar.

“Sebelumnya trotoar lebarnya hanya 1-2 meter. Setelah ditata luasnya menjadi 7-8 meter. Bahkan nanti ada plaza yang lebarnya puluhan meter,” ungkap Hari.

Hari mengungkapkan, kawasan Kota Tua bakal dikembangkan menjadi pusat wisata yang menunjang perekonomian masyarakat. Hari berharap, kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dengan Pemerintah Pusat dapat menjadikan kawasan Kota Tua sebagai destinasi wisata internasional.

“Prinsipnya kita bangun pedestrian senyaman mungkin dengan atmosfer Kota Tua layaknya tahun 1635,” pungkasnya.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Jakarta Barat Agus Irwanto memastikan, kawasan Kota Tua akan bebas dari Pedagang Kaki Lima (PKL). Per 1 Agustus 2022, telah dilakukan pemindahan PKL ke lokasi binaan (lokbin).

 

Dijelaskan Agus, nantinya para PKL tidak lagi berdagang di atas trotoar ataupun kawasan wisata Kota Tua. Namun, karena infrastruktur lokbin Kota Intan belum siap, pihaknya memberikan kelonggaran bagi para PKL untuk kembali berdagang di kawasan Kota Tua.

Nantinya, 250 personel Satpol PP dikerahkan untuk mengawasi PKL. Kasie PPNS dan Penindakan Satpol PP Jakarta Barat Sumardi Siringoringo mengatakan, ratusan petugas itu dibagi menjadi tiga shift untuk penjagaan.

Shift pertama pukul 09.00-15.00 WIB, shift dua 15.00-22.00 WIB, dan 22.00-07.00 WIB,” ujarnya.

DPRD DKI Jakarta menyambut baik penataan di kawasan Kota Tua. Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Ismail mengatakan, sebagai salah satu ikon sejarah kota Jakarta, kawasan Kota Tua perlu dipelihara dan dijaga kelestarian dengan melakukan penataan.

Selain mengembalikan wajah Kota Tua, lanjut Ismail, penataan ini sebagai proyek dari percontohan Zona Emisi Rendah atau Low Emission Zone (LEZ).

“Ini merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Seperti yang dilakukan di berbagai kota besar lainnya, baik dalam negeri maupun luar negeri,” kata Ismail, Sabtu (6/8).

Ismail berharap, revitalisasi ini akan berdampak positif bagi pelaku usaha UMKM dan ujungnya dapat meningkatkan perekonomian Jakarta.

“Ke depannya kawasan ini bisa lebih dioptimalkan kembali. Mungkin dengan merancang berbagai kegiatan yang menjadi daya tarik wisatawan dan masyarakat,” tutupnya. ■

]]> Kawasan Kota Tua yang kini semakin cantik diserbu wisatawan. Namun, para pengunjung mengeluh kurang nyaman karena panas dan banyak pengamen.

Proyek revitalisasi kawasan Kota Tua di Jakarta Barat, sebenarnya belum rampung 100 persen. Namun begitu, banyak wisatawan mengunjungi wisata cagar budaya itu karena penasaran dengan penampilannya yang makin cantik.

Sepekan terakhir, animo warga berkunjung ke Kota Tua, sangat besar. Tak cuma warga Ibu Kota, warga luar Jakarta healing ke lokasi itu.

Hal ini terjadi tak lepas dari lokasi Kawasan Kota Tua yang strategis. Aksesnya gampang, bisa naik KRL, Transjakarta dan Mikrotrans. Tak hanya itu, jalan-jalan di kawasan bersejarah ini, murah. Masuknya gratis. Hanya beberapa tempat saja yang harus bayar seperti Museum Fatahillah, tapi tetap ramah di kantong.

Meski begitu, banyak pengunjung mengaku tidak nyaman karena banyak pengamen. Keluhan itu disampaikan melalui kolom komentar akun Instagram @dkijakarta milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Tambahin petugas dan Satpol PP, pengamen beberapa ada yang maksa dan itu meresahkan, jadi nggak nyaman. Kalo ditata, dikelola, dibina bisa jadi street music kayak di kota-kota besar,” saran @hadyirfan_26.

“Boleh ada pengamen. Tapi dilarang keliling. Cukup nyanyi di tempat, depannya taro ember buat yang mau kasih donasi,” usul @bangemil87.

“Mohon maaf, pengamennya di sana terlalu banyak. 30 menit bisa disamperin 10 lebih pengamen. Mudah-mudahan bisa ada spot khusus untuk mereka cari rejeki,” keluh @agung._cahya.

“Bagus, tapi sayangnya terlalu banyak pengemis/pengamen, @dinsosdkijakarta @walikotajakbar @aniesbaswedan tolong tertibkan pengemis dan pengamen,” kata @habibiabi690.

Selain pengamen, banyak pengunjung mengeluhkan suasana Kota Tua yang panas karena minimnya pohon. “Pohonnya perlu ditambah ya supaya makin rimbun,” pinta @lius_kc.

“Tapi panas min, penghijauan diperbanyak yak,” tulis @abdurrohman.27. “Kurang penghijauannya, itu kalo siang buset panasnya nggak ada tempat neduh,” kata @adit__raditya.

 

Pengerjaan revitalisasi kawasan Kota Tua awalnya ditargetkan rampung pada akhir Juli 2022. Namun hingga Agustus pekan pertama, pengerjaan belum selesai.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho mengakui proyek tersebut molor. Namun, pengerjaannya sudah hampir rampung sampai 97 persen.

Hari menjelaskan, ada kendala tak terduga di tengah revitalisasi. “Ada semacam longsoran tanah. Sebelumnya pakai pondasi dangkal, makanya sekarang dibuat menjadi pondasi dalam,” ujar Hari.

Kendala lainnya, ada pembuatan saluran air pada bekas Halte Kota Tua untuk lahan yang digunakan PT KAI. Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya masih memproses untuk memasok air ke lokasi itu.

“Memindahkan utilitas dari sana itu butuh waktu, sampai dengan terlayaninya air bersih PAM ke PT KAI. Termasuk kendala di area halte,” jelasnya.

Hari mengatakan, revitalisasi kawasan Kota Tua ditargetkan rampung akhir Agustus ini. Melalui revitalisasi, Kota Tua akan dilengkapi fasilitas street furniture, pohon peneduh, taman hingga air mancur dan guiding block untuk memudahkan kelompok disabilitas. Kawasan bersejarah ini akan menjadi kawasan rendah emisi atau Low Emission Zone (LEZ).

Kendaraan roda empat dan roda dua tidak akan diizinkan lagi beroperasi di sekitar lokasi, kecuali bus Transjakarta. Jalan khusus pedestrian juga diperlebar.

“Sebelumnya trotoar lebarnya hanya 1-2 meter. Setelah ditata luasnya menjadi 7-8 meter. Bahkan nanti ada plaza yang lebarnya puluhan meter,” ungkap Hari.

Hari mengungkapkan, kawasan Kota Tua bakal dikembangkan menjadi pusat wisata yang menunjang perekonomian masyarakat. Hari berharap, kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dengan Pemerintah Pusat dapat menjadikan kawasan Kota Tua sebagai destinasi wisata internasional.

“Prinsipnya kita bangun pedestrian senyaman mungkin dengan atmosfer Kota Tua layaknya tahun 1635,” pungkasnya.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Jakarta Barat Agus Irwanto memastikan, kawasan Kota Tua akan bebas dari Pedagang Kaki Lima (PKL). Per 1 Agustus 2022, telah dilakukan pemindahan PKL ke lokasi binaan (lokbin).

 

Dijelaskan Agus, nantinya para PKL tidak lagi berdagang di atas trotoar ataupun kawasan wisata Kota Tua. Namun, karena infrastruktur lokbin Kota Intan belum siap, pihaknya memberikan kelonggaran bagi para PKL untuk kembali berdagang di kawasan Kota Tua.

Nantinya, 250 personel Satpol PP dikerahkan untuk mengawasi PKL. Kasie PPNS dan Penindakan Satpol PP Jakarta Barat Sumardi Siringoringo mengatakan, ratusan petugas itu dibagi menjadi tiga shift untuk penjagaan.

“Shift pertama pukul 09.00-15.00 WIB, shift dua 15.00-22.00 WIB, dan 22.00-07.00 WIB,” ujarnya.

DPRD DKI Jakarta menyambut baik penataan di kawasan Kota Tua. Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Ismail mengatakan, sebagai salah satu ikon sejarah kota Jakarta, kawasan Kota Tua perlu dipelihara dan dijaga kelestarian dengan melakukan penataan.

Selain mengembalikan wajah Kota Tua, lanjut Ismail, penataan ini sebagai proyek dari percontohan Zona Emisi Rendah atau Low Emission Zone (LEZ).

“Ini merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Seperti yang dilakukan di berbagai kota besar lainnya, baik dalam negeri maupun luar negeri,” kata Ismail, Sabtu (6/8).

Ismail berharap, revitalisasi ini akan berdampak positif bagi pelaku usaha UMKM dan ujungnya dapat meningkatkan perekonomian Jakarta.

“Ke depannya kawasan ini bisa lebih dioptimalkan kembali. Mungkin dengan merancang berbagai kegiatan yang menjadi daya tarik wisatawan dan masyarakat,” tutupnya. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories