M. Nuh Bicara Pers Dan Pandemi Medsos Itu Cepat, Tapi Kesahihannya Rendah

Pandemi Corona telah membuat industri media mainstream megap-megap. Banyak yang terpaksa gulung tikar. Ada juga yang tetap bertahan dengan berdiri tegap. Ada juga yang pincang-pincang. Di sisi lain, media mainstream juga harus berhadapan dengan menjamurnya medsos yang tak karu-karuan juntrungannya.

Media mainstream harus tetap hidup. Harus tahan banting. Apapun caranya. Asalkan tak melanggar etika dan hukum.

Lalu, bagaimana media mainstream bisa tetap bertahan secara bisnis dan tetap menjalankan idealismenya sebagai agen perjuangan, di tengah pandemi dan gempuran medsos? Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh memberikan analisis dan “jamunya”.

Menurut Pak Nuh, media mainstream masih sangat dibutuhkan masyarakat. Sebab, medsos tidak bisa menggantikan media mainstream. “Medsos memang cepat, tapi kesahihannya rendah,” kata mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, juga mantan Menteri Pendidikan Nasional ini, kepada Rakyat Merdeka, kemarin. Berikut penuturan Pak Nuh selengkapnya:

Media mainstream (selanjutnya disebut media) harus tetap bertahan, caranya gimana Pak?

Jawaban mendasar itu, industri media harus auto survive. Yaitu, kita bisa bertahan menghadapi gempuran pandemi ini.

Selain itu?

Berpikirnya tidak cukup hanya bisa auto survive, juga harus berpikir bagaimana untuk recovery. Sebab, selama survive itu, pasti ada lubang-lubang. Ada yang bisa dilaksanakan, tapi ada juga yang tidak bisa dilaksanakan. Mestinya untung, tapi ada sebagian yang rugi. Makanya, kita pikirkan recovery.

Selanjutnya, masih ada Pak?

Auto survive dan recovery belum cukup. Kita juga harus pikirkan yang ketiga, yaitu melompat ke tahapan berikutnya lagi. Jadi, tiga itu yang harus disiapkan oleh kawan-kawan di industri media.

Perlukah transformasi digital?

Pertama, mau tidak mau harus melakukan transformasi digital. Sebab, sekarang memang era digital. Kalau tidak, akan tertinggal. Kedua, inovasi tiada henti. Ini dari sisi industrinya.

Kalau dari sisi kualitas insan pers sendiri, seperti apa?

Wartawan harus selalu tampil aktif, terutama terkait dengan digital kompeten. Dimulai dari literasi. Dia harus paham dan dia juga harus punya potensi digital. Sehingga memahami proses kerja era digital dan kompetensinya juga berbasis digital.

Transformasi digital mengalami momentumnya saat pandemi ini, apa betul Pak?

Oh iya. Pandemi ini menjadi pemaksa. Sebenarnya, sejak kita masuk era digital, harusnya langsung transformasi. Dengan adanya pandemi, kita lebih dipaksa. Kalau tidak, kita akan diserang pandemi dan ekosistem. Kan gitu. Makanya, kalau kita sudah lompat dengan bertransformasi, paling tidak ekosistemnya sudah didapat. Tinggal beresin pandeminya.

Jadi, perubahan itu jangan tergantung karena pandemi ya Pak?

Kita harus berubah. Mau nggak mau. Sebab, sinyal perubahan itu sudah 20 tahun lalu, pada saat ramai-ramainya teknologi digital. Yang semua juga paham teknologi digital itu sebagai purpose of technology (tujuan teknologi). Semua bidang membutuhkannya, namun kita tampaknya agak enggan untuk berubah.

Jadi, apa yang harus dilakukan sekarang Pak?

Membangun kekuatan ke-kita-an. Meskipun Covid-19 adalah sektor kesehatan, tapi yang terkena dampaknya seluruh dimensi. Dari situlah, saya tidak ada artinya. Apa yang saya miliki tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang saya tidak miliki. Apa yang aku ketahui, tidak ada apa-apa dengan yang aku tidak ketahui. Tetapi, kekuatan itu ada di kita.

Ke-kita-an itu harus terus dibangun pada saat-saat seperti ini. Karena menghadapi persoalan besar seperti sekarang, ya empati. Alhamdulillah, kawan-kawan pers telah mampu menggelorakan optimisme itu dan menumbuhkan empati publik luar biasa.

 

Cukup segitu saja Pak sarannya agar media tetap hidup?

Selanjutnya, keutuhan. Media tidak boleh lagi terjebak dengan paradigma, apakah yang penting itu substansi media atau media sebagai kendaraan, tapi kedua-duanya. Karena kesempurnaan itu bukan “di” atau “tetapi”. Substansi media adalah data informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan. Makanya, kita harus kelola dengan baik. 

Kalau media digitalnya sudah menjamur, nasib media non digital gimana Pak?

Ujung-ujungnya konvergensi. Secara fisik, itu bukan kompetensi lagi, melainkan kompetisi. Tapi, harus sinergi dan konvergensi. Kalau kita tidak mau melakukan itu, berarti kita hidup di zaman digital, tapi filosofinya tidak dapat. Makanya, yang biasanya berkompetisi harus bergeser ke sinergi. Lalu, melakukan konvergensi dari berbagai macam platform.

Apakah memanfaatkan medsos bisa membantu?

Ya, mau tidak mau harus ekspansi, cari sumber lain. Cara mainnya lebih besar. Adu kreativitas. Adu inovasi. Siapa yang punya kreativitas tinggi, maka dia akan dapat banyak. Yang tidak punya inovasi, dia bisa kosong.

Media digital juga harus berhadapan dengan citizen journalism. Bagaimana itu Pak?

Yang namanya media itu kendaraan. Kontennya adalah informasi. Kalau target media konvensional, termasuk media mainstream, tidak memikirkan informasi sahih, maka akan tertinggal dari medsos. Medsos itu cepat, tapi kesahihannya rendah.

Idealnya, cepat juga shahih. Gitu ya Pak?

Kalau fungsi kecepatan dan ketepatan diambil dengan fungsi kesahihan tinggi, insya Allah media konvensional yang bertransformasi digital tetap akan dapat pembaca. Karena, dipercaya publik. Kalau tidak, katakanlah kesahihan, kecepatannya dan ketepatannya sama dengan medsos, apa bedanya. Yang jadi taruhan adalah kesahihan yang diikuti, kecepatan dan ketetapan.

Apakah ada pergeseran konten pemberitaan yang diminati publik?

Publik butuh berita yang bisa menjawab kebutuhan mereka. Maka, sifat updating jadi penting. Masyarakat sedang haus informasi sehingga produksi informasi itu harus terus dibentuk. Ini sangat beragam.

Di saat pandemi ini, apakah ada peningkatan pengguna media digital?

Saya kira banyak. Karena orang-orang lagi banyak waktu lapang akhirnya main informasi. Angka itu bisa dicek di traffic perusahaan-perusahaan telekomunikasi. Traffic data jauh lebih dahsyat. Artinya, orang memanfaatkan waktu yang sangat luar biasa. Berbeda jika orang-orang sedang dalam kesibukan  bekerja seperti sebelum pandemi.

Jadi, selama pandemi, tentu orang lebih banyak main handphone. Main data dan informasi sehingga ini sebenarnya peluang buat media digital.

Terakhir Pak, di Hari Pers Nasional ini, apa yang ingin Bapak sampaikan ke insan pers juga industri media yang saat ini sedang berjuang di tengah pandemi?

Rumus dasarnya, setiap persoalan, kalau kita jadikan tantangan dan peluang, ya kita akan dapat. Tapi, kalau setiap persoalan kita jadikan hambatan, ya kita tidak akan dapat. [UMM]

]]> Pandemi Corona telah membuat industri media mainstream megap-megap. Banyak yang terpaksa gulung tikar. Ada juga yang tetap bertahan dengan berdiri tegap. Ada juga yang pincang-pincang. Di sisi lain, media mainstream juga harus berhadapan dengan menjamurnya medsos yang tak karu-karuan juntrungannya.

Media mainstream harus tetap hidup. Harus tahan banting. Apapun caranya. Asalkan tak melanggar etika dan hukum.

Lalu, bagaimana media mainstream bisa tetap bertahan secara bisnis dan tetap menjalankan idealismenya sebagai agen perjuangan, di tengah pandemi dan gempuran medsos? Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh memberikan analisis dan “jamunya”.

Menurut Pak Nuh, media mainstream masih sangat dibutuhkan masyarakat. Sebab, medsos tidak bisa menggantikan media mainstream. “Medsos memang cepat, tapi kesahihannya rendah,” kata mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, juga mantan Menteri Pendidikan Nasional ini, kepada Rakyat Merdeka, kemarin. Berikut penuturan Pak Nuh selengkapnya:

Media mainstream (selanjutnya disebut media) harus tetap bertahan, caranya gimana Pak?

Jawaban mendasar itu, industri media harus auto survive. Yaitu, kita bisa bertahan menghadapi gempuran pandemi ini.

Selain itu?

Berpikirnya tidak cukup hanya bisa auto survive, juga harus berpikir bagaimana untuk recovery. Sebab, selama survive itu, pasti ada lubang-lubang. Ada yang bisa dilaksanakan, tapi ada juga yang tidak bisa dilaksanakan. Mestinya untung, tapi ada sebagian yang rugi. Makanya, kita pikirkan recovery.

Selanjutnya, masih ada Pak?

Auto survive dan recovery belum cukup. Kita juga harus pikirkan yang ketiga, yaitu melompat ke tahapan berikutnya lagi. Jadi, tiga itu yang harus disiapkan oleh kawan-kawan di industri media.

Perlukah transformasi digital?

Pertama, mau tidak mau harus melakukan transformasi digital. Sebab, sekarang memang era digital. Kalau tidak, akan tertinggal. Kedua, inovasi tiada henti. Ini dari sisi industrinya.

Kalau dari sisi kualitas insan pers sendiri, seperti apa?

Wartawan harus selalu tampil aktif, terutama terkait dengan digital kompeten. Dimulai dari literasi. Dia harus paham dan dia juga harus punya potensi digital. Sehingga memahami proses kerja era digital dan kompetensinya juga berbasis digital.

Transformasi digital mengalami momentumnya saat pandemi ini, apa betul Pak?

Oh iya. Pandemi ini menjadi pemaksa. Sebenarnya, sejak kita masuk era digital, harusnya langsung transformasi. Dengan adanya pandemi, kita lebih dipaksa. Kalau tidak, kita akan diserang pandemi dan ekosistem. Kan gitu. Makanya, kalau kita sudah lompat dengan bertransformasi, paling tidak ekosistemnya sudah didapat. Tinggal beresin pandeminya.

Jadi, perubahan itu jangan tergantung karena pandemi ya Pak?

Kita harus berubah. Mau nggak mau. Sebab, sinyal perubahan itu sudah 20 tahun lalu, pada saat ramai-ramainya teknologi digital. Yang semua juga paham teknologi digital itu sebagai purpose of technology (tujuan teknologi). Semua bidang membutuhkannya, namun kita tampaknya agak enggan untuk berubah.

Jadi, apa yang harus dilakukan sekarang Pak?

Membangun kekuatan ke-kita-an. Meskipun Covid-19 adalah sektor kesehatan, tapi yang terkena dampaknya seluruh dimensi. Dari situlah, saya tidak ada artinya. Apa yang saya miliki tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang saya tidak miliki. Apa yang aku ketahui, tidak ada apa-apa dengan yang aku tidak ketahui. Tetapi, kekuatan itu ada di kita.

Ke-kita-an itu harus terus dibangun pada saat-saat seperti ini. Karena menghadapi persoalan besar seperti sekarang, ya empati. Alhamdulillah, kawan-kawan pers telah mampu menggelorakan optimisme itu dan menumbuhkan empati publik luar biasa.

 

Cukup segitu saja Pak sarannya agar media tetap hidup?

Selanjutnya, keutuhan. Media tidak boleh lagi terjebak dengan paradigma, apakah yang penting itu substansi media atau media sebagai kendaraan, tapi kedua-duanya. Karena kesempurnaan itu bukan “di” atau “tetapi”. Substansi media adalah data informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan. Makanya, kita harus kelola dengan baik. 

Kalau media digitalnya sudah menjamur, nasib media non digital gimana Pak?

Ujung-ujungnya konvergensi. Secara fisik, itu bukan kompetensi lagi, melainkan kompetisi. Tapi, harus sinergi dan konvergensi. Kalau kita tidak mau melakukan itu, berarti kita hidup di zaman digital, tapi filosofinya tidak dapat. Makanya, yang biasanya berkompetisi harus bergeser ke sinergi. Lalu, melakukan konvergensi dari berbagai macam platform.

Apakah memanfaatkan medsos bisa membantu?

Ya, mau tidak mau harus ekspansi, cari sumber lain. Cara mainnya lebih besar. Adu kreativitas. Adu inovasi. Siapa yang punya kreativitas tinggi, maka dia akan dapat banyak. Yang tidak punya inovasi, dia bisa kosong.

Media digital juga harus berhadapan dengan citizen journalism. Bagaimana itu Pak?

Yang namanya media itu kendaraan. Kontennya adalah informasi. Kalau target media konvensional, termasuk media mainstream, tidak memikirkan informasi sahih, maka akan tertinggal dari medsos. Medsos itu cepat, tapi kesahihannya rendah.

Idealnya, cepat juga shahih. Gitu ya Pak?

Kalau fungsi kecepatan dan ketepatan diambil dengan fungsi kesahihan tinggi, insya Allah media konvensional yang bertransformasi digital tetap akan dapat pembaca. Karena, dipercaya publik. Kalau tidak, katakanlah kesahihan, kecepatannya dan ketepatannya sama dengan medsos, apa bedanya. Yang jadi taruhan adalah kesahihan yang diikuti, kecepatan dan ketetapan.

Apakah ada pergeseran konten pemberitaan yang diminati publik?

Publik butuh berita yang bisa menjawab kebutuhan mereka. Maka, sifat updating jadi penting. Masyarakat sedang haus informasi sehingga produksi informasi itu harus terus dibentuk. Ini sangat beragam.

Di saat pandemi ini, apakah ada peningkatan pengguna media digital?

Saya kira banyak. Karena orang-orang lagi banyak waktu lapang akhirnya main informasi. Angka itu bisa dicek di traffic perusahaan-perusahaan telekomunikasi. Traffic data jauh lebih dahsyat. Artinya, orang memanfaatkan waktu yang sangat luar biasa. Berbeda jika orang-orang sedang dalam kesibukan  bekerja seperti sebelum pandemi.

Jadi, selama pandemi, tentu orang lebih banyak main handphone. Main data dan informasi sehingga ini sebenarnya peluang buat media digital.

Terakhir Pak, di Hari Pers Nasional ini, apa yang ingin Bapak sampaikan ke insan pers juga industri media yang saat ini sedang berjuang di tengah pandemi?

Rumus dasarnya, setiap persoalan, kalau kita jadikan tantangan dan peluang, ya kita akan dapat. Tapi, kalau setiap persoalan kita jadikan hambatan, ya kita tidak akan dapat. [UMM]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories