Literasi Digital Kominfo Kenali Sosial Media Atasi Self Harm

<p>Media digital saat ini telah menjadi salah satu sarana atau ruang bagi semua kalangan untuk berkomunikasi hingga mengenal dunia lebih luas.</p>

<p>Meski demikian, penggunaan sosial media, juga dapat menjadi sarana munculnya perilaku menyimpang, salah satunya keinginan melukai diri sendiri atau <em>self</em>-<em>harm</em>.</p>

<p>Berdasarkan kajian yang dilakukan Wilkinson, pada tahun 2012 diperkirakan 20 persen remaja di seluruh dunia pernah melukai dirinya sendiri dengan sengaja.</p>

<p>Sedangkan menurut Suyemoto, salah satu alasan perilaku self-harm adalah upaya untuk mengalihkan rasa sakit batin, dengan cara melukai diri sendiri.</p>

<p>Baik dengan menyayat permukaan kulit, membenturkan fisik ke benda keras, hingga meminum obat-obatan secara berlebihan agar merasa lebih baik.</p>

<p>Lalu bagaimana mengenal gejala self-harm di media sosial, dan apa yang bisa kita lakukan?</p>

<p>Kementerian Kominfo bersama GNLD Siberkreasi, menyelenggarakan kegiatan Obral Obrol Literasi Digital (OOTD) yang mengangkat topik &quot;Tren Self Harm di Media Sosial&quot; pada Kamis (11/5).</p>

<p>Menurut Psikolog Anastasia Satrio, jika dalam pikiran muncul keinginan untuk melukai diri sendiri, maka kita harus belajar mengenali emosi dalam diri kita. Sehingga, emosi dapat dikelola dengan lebih sehat.</p>

<p>&quot;Ada beragam cara untuk kita bisa menenangkan emosi. Misalnya, dengan ada namanya <em>magic</em> <em>finger</em>. Jadi kalau kita ngerasa cemas, kita pegang tangan yang misalnya salah satu tangan ini untuk tarik napas 10 menit atau 2 menit gitu,&quot; ungkap Anastasia.</p>

<p>Sedangkan menurut Yosafat Kevin, dari Into The Light Indonesia sebagai komunitas pencegahan bunuh diri, jika perilaku menyakiti diri ini dipamerkan di media sosial, maka dapat mengakibatkan efek domino.</p>

<p>Sebab, ada kecenderungan mengajak orang lain juga mengikuti perilaku self-harm. Saat ini, perilaku self harm atau self injury ini, marak dilakukan oleh anak usia muda yang merasa harus mengikuti tren tertentu, karena takut dianggap ketinggalan zaman atau <em>fear</em> <em>of</em> <em>missing</em> <em>out</em>.</p>

<p>Usia remaja menjadi rentan, karena usia remaja mulai masuk fase memiliki emosi yang lebih kompleks. Bahkan, terkadang emosi yang dirasakan juga cepat sekali berubah.</p>

<p>Karena itu, menggunakan sosial media dengan bijak, dan mampu mengontrol penggunaan sosial media, dengan cara mengikuti sosial media dengan konten-konten yang positif.</p>

<p>Kevin mengungkapkan memberikan edukasi kepada orang lain memang harus diawali dari diri sendiri.</p>

<p>&quot;Apakah kita sudah siap secara energy, emosional, dan pengetahuan kita untuk memberikan satu intervensi kepada orang lain. Supaya kita tidak terpengaruh,&quot; tuturnya.</p>

<p>Tak hanya itu, melakukan terapi diri dengan menyaring informasi yang dibaca di media sosial juga harus dilakukan.</p>

<p>Karena itu, ketika menemukan suatu konten yang tidak bertanggung jawab di media sosial, maka mengatur respon terhadap konten yang dibaca atau ditonton juga harus dilakukan.</p>

<p>Seperti yang dikemukakan Irwantja, selaku Mental Health Content Creator. Perlu ketahanan diri yang baik, di era sosial media ini.</p>

<p>&quot;Belajar tentang batasanku sendiri jadi penting banget sih untuk tahu kapan kita berani untuk bisa atau punya kapasitas untuk merespon ketika ada konten atau mungkin orang lain yang approach kita terkait masalah dia yang mungkin pastinya nggak menyenangkan dan apalagi dalam konteks self-harm,&quot; ujar Irwan.</p>

<p>Menurut Irwan, jika dirasa tidak mampu membaca atau merespon konten negatif, maka sebaiknya dihindari.</p>

<p>Salah satunya, dengan cara mengenali fungsi-fungsi pengamanan di akun sosial media yang digunakan, dan memahami seberapa rentan kita terhadap konten-konten yang berseliweran di sosial media.</p>

<p>Untuk bisa terus mendapatkan informasi ter-up to date mengenai kegiatan Zoom Bareng dan kegiatan seru lainnya, dapat dilihat di info.literasidigital.id atau follow media sosial Literasi Digital Kominfo. ■</p> <p>Media digital saat ini telah menjadi salah satu sarana atau ruang bagi semua kalangan untuk berkomunikasi hingga mengenal dunia lebih luas.</p>

<p>Meski demikian, penggunaan sosial media, juga dapat menjadi sarana munculnya perilaku menyimpang, salah satunya keinginan melukai diri sendiri atau <em>self</em>-<em>harm</em>.</p>

<p>Berdasarkan kajian yang dilakukan Wilkinson, pada tahun 2012 diperkirakan 20 persen remaja di seluruh dunia pernah melukai dirinya sendiri dengan sengaja.</p>

<p>Sedangkan menurut Suyemoto, salah satu alasan perilaku self-harm adalah upaya untuk mengalihkan rasa sakit batin, dengan cara melukai diri sendiri.</p>

<p>Baik dengan menyayat permukaan kulit, membenturkan fisik ke benda keras, hingga meminum obat-obatan secara berlebihan agar merasa lebih baik.</p>

<p>Lalu bagaimana mengenal gejala self-harm di media sosial, dan apa yang bisa kita lakukan?</p>

<p>Kementerian Kominfo bersama GNLD Siberkreasi, menyelenggarakan kegiatan Obral Obrol Literasi Digital (OOTD) yang mengangkat topik &quot;Tren Self Harm di Media Sosial&quot; pada Kamis (11/5).</p>

<p>Menurut Psikolog Anastasia Satrio, jika dalam pikiran muncul keinginan untuk melukai diri sendiri, maka kita harus belajar mengenali emosi dalam diri kita. Sehingga, emosi dapat dikelola dengan lebih sehat.</p>

<p>&quot;Ada beragam cara untuk kita bisa menenangkan emosi. Misalnya, dengan ada namanya <em>magic</em> <em>finger</em>. Jadi kalau kita ngerasa cemas, kita pegang tangan yang misalnya salah satu tangan ini untuk tarik napas 10 menit atau 2 menit gitu,&quot; ungkap Anastasia.</p>

<p>Sedangkan menurut Yosafat Kevin, dari Into The Light Indonesia sebagai komunitas pencegahan bunuh diri, jika perilaku menyakiti diri ini dipamerkan di media sosial, maka dapat mengakibatkan efek domino.</p>

<p>Sebab, ada kecenderungan mengajak orang lain juga mengikuti perilaku self-harm. Saat ini, perilaku self harm atau self injury ini, marak dilakukan oleh anak usia muda yang merasa harus mengikuti tren tertentu, karena takut dianggap ketinggalan zaman atau <em>fear</em> <em>of</em> <em>missing</em> <em>out</em>.</p>

<p>Usia remaja menjadi rentan, karena usia remaja mulai masuk fase memiliki emosi yang lebih kompleks. Bahkan, terkadang emosi yang dirasakan juga cepat sekali berubah.</p>

<p>Karena itu, menggunakan sosial media dengan bijak, dan mampu mengontrol penggunaan sosial media, dengan cara mengikuti sosial media dengan konten-konten yang positif.</p>

<p>Kevin mengungkapkan memberikan edukasi kepada orang lain memang harus diawali dari diri sendiri.</p>

<p>&quot;Apakah kita sudah siap secara energy, emosional, dan pengetahuan kita untuk memberikan satu intervensi kepada orang lain. Supaya kita tidak terpengaruh,&quot; tuturnya.</p>

<p>Tak hanya itu, melakukan terapi diri dengan menyaring informasi yang dibaca di media sosial juga harus dilakukan.</p>

<p>Karena itu, ketika menemukan suatu konten yang tidak bertanggung jawab di media sosial, maka mengatur respon terhadap konten yang dibaca atau ditonton juga harus dilakukan.</p>

<p>Seperti yang dikemukakan Irwantja, selaku Mental Health Content Creator. Perlu ketahanan diri yang baik, di era sosial media ini.</p>

<p>&quot;Belajar tentang batasanku sendiri jadi penting banget sih untuk tahu kapan kita berani untuk bisa atau punya kapasitas untuk merespon ketika ada konten atau mungkin orang lain yang approach kita terkait masalah dia yang mungkin pastinya nggak menyenangkan dan apalagi dalam konteks self-harm,&quot; ujar Irwan.</p>

<p>Menurut Irwan, jika dirasa tidak mampu membaca atau merespon konten negatif, maka sebaiknya dihindari.</p>

<p>Salah satunya, dengan cara mengenali fungsi-fungsi pengamanan di akun sosial media yang digunakan, dan memahami seberapa rentan kita terhadap konten-konten yang berseliweran di sosial media.</p>

<p>Untuk bisa terus mendapatkan informasi ter-up to date mengenai kegiatan Zoom Bareng dan kegiatan seru lainnya, dapat dilihat di info.literasidigital.id atau follow media sosial Literasi Digital Kominfo. ■</p>.

Sumber : Berita Lifestyle, Kuliner, Travel, Kesehatan, Tips .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories