Listrik Naik, Tol Naik Rakyat Miskin Makin Tercekik

Selain tarif dasar listrik, pemerintah juga berencana menaikkan tarif di sejumlah ruas tol. Kenaikan tarif listrik dan tol ini tentu saja bikin rakyat miskin makin tercekik. Apalagi, kondisi ekonomi rakyat masih belum pulih akibat dihantam badai pandemi Corona.

Kabar soal kenaikan tarif tol ini dibenarkan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Danang Perikesit. Dia bilang, ada 29 ruas jalan tol yang tarifnya bakal disesuaikan. Namun kapan penyesuaian tarif itu akan berlaku, pihaknya masih menunggu surat persetujuan dari Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

“Masih menunggu Keputusan Menteri PUPR,” katanya di Jakarta, kemarin.

Pelaksana Harian (Plh) Anggota BPJT Unsur PUPR, Mahbullah Nurdin tidak membantah soal rencana kenaikan tarif tol itu. Namun, acuan aturan kenaikan tol bukan lagi Kepmen PUPR sebagaimana yang disampaikan Danang. Akan tetapi Undang-Undang Nomor 38/2004 tentang Jalan dan Pasal 68 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 30/2017 tentang perubahan ketiga atas PP Nomor 15/2005 tentang Jalan Tol. “Aturan itu menyebut tarif jalan tol mengalami penyesuaian setiap dua tahun sekali sesuai dengan evaluasi dan mengikuti pengaruh laju inflasi,” jelasnya.

Ada beberapa ruas tol yang akan dilakukan penyesuaian tarif seperti jalan tol Lingkar Dalam Jakarta hingga Ruas tol Integrasi Tangerang-Merak dan Jakarta-Tangerang Segmen SS Tomang-Tangerang Barat-Cikupa. Selain itu, ruas tol Cikopo-Palimanan hingga Pemalang-Batang juga akan dilakukan penyesuaian tarif.

Nurdin menambahkan, beberapa ruas tol yang akan mengajukan penyesuaian tarif harus memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM). Jika SPM belum terpenuhi, maka penyesuaian tarif tol belum bisa dilakukan. “Semua jalan tol sebelum penyesuaian tarif pasti akan penilaian SPM-nya, sudah terpenuhi atau belum,” cetusnya.

Namun rencana pemerintah menaikkan tol tarif tol ditolak anggota Komisi V DPR RI, Toriq Hidayat. Politisi PKS ini menyebut, saat ini belum saatnya bagi pemerintah untuk menaikkan tarif tol.

“Belum saatnya dilakukan karena Indonesia masih dalam suasana krisis pandemi,” protesnya.

 

Apalagi selain tarif tol, sebelumnya pemerintah juga akan menaikkan besaran tarif dasar listrik. Keputusan itu disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Rencananya, tarif listrik akan naik pada Juli 2021 mendatang.

Salah satu skema yang dipertimbangkan adalah menghapus 100 persen kompensasi yang selama ini dibayar pemerintah. Sehingga tarif dan tagihan pelanggan PLN golongan non-subsidi merangkak naik.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira mengkritik kebijakan pemerintah tersebut. Menurutnya, keputusan menaikkan tarif tol bukti pemerintah tidak peka terhadap tekanan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat dan dunia usaha. Sedangkan kenaikan tarif listrik bakal mengurangi daya beli masyarakat.

“Efeknya sampai ke angka kemiskinan yang naik hingga pertumbuhan konsumsi rumah tangga kembali melambat. Momentumnya sama sekali tidak pas,” jelas Bhima saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.

Menyoal tarif tol juga bisa menjadi blunder ke tingkat keterisian tol. Apalagi kebijakan ini menyasar ke tarif angkutan logistik. “Alhasil sektor jasa transportasi dan pergudangan yang terimbas dengan naiknya tarif tol,” pungkasnya.

Di dunia maya, kabar kenaikan tol dan listrik disambut sedih netizen. Warganet rame-rame memprotes soal keputusan tersebut ”Banyak rakyat yang menangis di bulan ini. Mereka korban PHK, usaha sepi, BLT diberhentikan, harga sembako melejit, kebutuhan perut mendesak, dan tarif listrik naik,” ucap @nisaruhullutfa2. “Yang parah diam-diam tarif listrik naik, diam-diam BBM naik sedangkan utang IMF naik. Ini mah diam yang nggak baik ya toh,” timpal @maulana00454021.

Ungkapan dramatis diutarakan @yosngngarang. “Rakyat makin dicekik untuk bayar bunga dan pokok utang. Subsidi dicabut, tarif LPG dan tarif listrik naik,” sebutnya. “Negara bangkrut?? Ya kagak lah. Kan tarif gua naikin, listrik, BPJS, BBM, tol, pajak ngetwit, Etc. Pokoknya semua naik kecuali ingus,” sambung @lambesuwing.

“Lebih baik rencana kenaikan tarif tol di seluruh Indonesia ditunda dulu sampai sesudah Lebaran. Rencana kenaikan tarif BBM dan listrik juga ditunda minimal setelah Lebaran sehingga transportasi umum tidak naik dan tidak memengaruhi daya beli masyarakat yang sedang membaik karena THR. Bijak dan cerdiklah,” ujar @HestiBambang. [UMM]

]]> Selain tarif dasar listrik, pemerintah juga berencana menaikkan tarif di sejumlah ruas tol. Kenaikan tarif listrik dan tol ini tentu saja bikin rakyat miskin makin tercekik. Apalagi, kondisi ekonomi rakyat masih belum pulih akibat dihantam badai pandemi Corona.

Kabar soal kenaikan tarif tol ini dibenarkan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Danang Perikesit. Dia bilang, ada 29 ruas jalan tol yang tarifnya bakal disesuaikan. Namun kapan penyesuaian tarif itu akan berlaku, pihaknya masih menunggu surat persetujuan dari Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

“Masih menunggu Keputusan Menteri PUPR,” katanya di Jakarta, kemarin.

Pelaksana Harian (Plh) Anggota BPJT Unsur PUPR, Mahbullah Nurdin tidak membantah soal rencana kenaikan tarif tol itu. Namun, acuan aturan kenaikan tol bukan lagi Kepmen PUPR sebagaimana yang disampaikan Danang. Akan tetapi Undang-Undang Nomor 38/2004 tentang Jalan dan Pasal 68 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 30/2017 tentang perubahan ketiga atas PP Nomor 15/2005 tentang Jalan Tol. “Aturan itu menyebut tarif jalan tol mengalami penyesuaian setiap dua tahun sekali sesuai dengan evaluasi dan mengikuti pengaruh laju inflasi,” jelasnya.

Ada beberapa ruas tol yang akan dilakukan penyesuaian tarif seperti jalan tol Lingkar Dalam Jakarta hingga Ruas tol Integrasi Tangerang-Merak dan Jakarta-Tangerang Segmen SS Tomang-Tangerang Barat-Cikupa. Selain itu, ruas tol Cikopo-Palimanan hingga Pemalang-Batang juga akan dilakukan penyesuaian tarif.

Nurdin menambahkan, beberapa ruas tol yang akan mengajukan penyesuaian tarif harus memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM). Jika SPM belum terpenuhi, maka penyesuaian tarif tol belum bisa dilakukan. “Semua jalan tol sebelum penyesuaian tarif pasti akan penilaian SPM-nya, sudah terpenuhi atau belum,” cetusnya.

Namun rencana pemerintah menaikkan tol tarif tol ditolak anggota Komisi V DPR RI, Toriq Hidayat. Politisi PKS ini menyebut, saat ini belum saatnya bagi pemerintah untuk menaikkan tarif tol.

“Belum saatnya dilakukan karena Indonesia masih dalam suasana krisis pandemi,” protesnya.

 

Apalagi selain tarif tol, sebelumnya pemerintah juga akan menaikkan besaran tarif dasar listrik. Keputusan itu disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Rencananya, tarif listrik akan naik pada Juli 2021 mendatang.

Salah satu skema yang dipertimbangkan adalah menghapus 100 persen kompensasi yang selama ini dibayar pemerintah. Sehingga tarif dan tagihan pelanggan PLN golongan non-subsidi merangkak naik.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira mengkritik kebijakan pemerintah tersebut. Menurutnya, keputusan menaikkan tarif tol bukti pemerintah tidak peka terhadap tekanan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat dan dunia usaha. Sedangkan kenaikan tarif listrik bakal mengurangi daya beli masyarakat.

“Efeknya sampai ke angka kemiskinan yang naik hingga pertumbuhan konsumsi rumah tangga kembali melambat. Momentumnya sama sekali tidak pas,” jelas Bhima saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.

Menyoal tarif tol juga bisa menjadi blunder ke tingkat keterisian tol. Apalagi kebijakan ini menyasar ke tarif angkutan logistik. “Alhasil sektor jasa transportasi dan pergudangan yang terimbas dengan naiknya tarif tol,” pungkasnya.

Di dunia maya, kabar kenaikan tol dan listrik disambut sedih netizen. Warganet rame-rame memprotes soal keputusan tersebut ”Banyak rakyat yang menangis di bulan ini. Mereka korban PHK, usaha sepi, BLT diberhentikan, harga sembako melejit, kebutuhan perut mendesak, dan tarif listrik naik,” ucap @nisaruhullutfa2. “Yang parah diam-diam tarif listrik naik, diam-diam BBM naik sedangkan utang IMF naik. Ini mah diam yang nggak baik ya toh,” timpal @maulana00454021.

Ungkapan dramatis diutarakan @yosngngarang. “Rakyat makin dicekik untuk bayar bunga dan pokok utang. Subsidi dicabut, tarif LPG dan tarif listrik naik,” sebutnya. “Negara bangkrut?? Ya kagak lah. Kan tarif gua naikin, listrik, BPJS, BBM, tol, pajak ngetwit, Etc. Pokoknya semua naik kecuali ingus,” sambung @lambesuwing.

“Lebih baik rencana kenaikan tarif tol di seluruh Indonesia ditunda dulu sampai sesudah Lebaran. Rencana kenaikan tarif BBM dan listrik juga ditunda minimal setelah Lebaran sehingga transportasi umum tidak naik dan tidak memengaruhi daya beli masyarakat yang sedang membaik karena THR. Bijak dan cerdiklah,” ujar @HestiBambang. [UMM]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories