Liburan Bawa Petaka

Hampir setahun berlalu, pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Bahkan, semakin dekat dengan lingkungan tempat kita tinggal. Padahal, hampir setahun ini kita telah melaksanakan disiplin protokol kesehatan (prokes) secara ketat, seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak alias 3M.

Tak pelak, lamanya kita melakukan kebiasaan baru itu menimbulkan kebosanan yang sangat. Jenuh hingga stress melanda diri. Terlebih, pemerintah juga terus melarang bepergian dan juga ke tempat wisata saat libur panjang tiba. Tujuannya mencegah penularan.

Di kala kita lengah dan stres, saat itulah Covid-19 semakin mendekat. Benar saja, di perumahan tempat saya tinggal sudah ada 5 orang terdeteksi positif Corona. Hal itu terjadi awal Desember tahun 2020 hingga awal Januari 2021. Atau setelah 8 bulan virus asal Wuhan, China, itu masuk ke Indonesia. Umumnya, penderita mengalami gejala demam, batuk, hilang indra penciuman dan perasa hingga sesak nafas.

Tidak semua sembuh. Ada satu warga yang akhirnya meninggal dunia karena mengalami sesak napas. Kebetulan usianya sudah memasuki 50 tahun dan mempunyai komorbid atau penyakit penyerta, seperti, Jantung dan Asma. “Bu Wati meninggal karena mengalami sesak nafas dan keterbatasan ruang ICU di rumah sakit sehingga tidak tertolong,” ujar Ipung salah seorang kerabat dekatnya.

Sebetulnya, Wati, yang berusia setengah abad itu menerapkan prokes secara ketat. Sejak awal pandemi Maret 2020, tidak pernah sekalipun ia keluar rumah. Berbagai multivitamin mahal pun diminumnya. Anak-anaknya juga melarangnya hanya sekedar berjalan ke sekeliling rumah. Takut terkena virus Corona. Apalagi, ia mempunyai riwayat penyakit berat. “Kalau terkena Covid-19 pasti dampaknya berat,” kata salah satu anaknya kepada warga sekitar saat awal pandemi lalu.

Karena kebosanan yang sangat, dua anaknya yang semula lebih banyak work from home (wfh) tiba-tiba ingin berlibur. Kebetulan bertepatan libur panjang akhir tahun. Waktu dua minggu dirasa cukup untuk menghilangkan kepenatan. Akhirnya, anak kedua memutuskan berlibur ke Bali, anak ketiga berlibur ke Puncak, Bogor, sedangkan anak pertama memilih berdiam di rumah sembari menjaga ibunya.

 

Petaka datang ketika liburan berakhir. Kedua anaknya juga telah tiba di rumah. Dua hari kemudian, kedua anaknya mengalami demam tinggi disertai batuk ringan. Sehari kemudian, giliran ibunya yang mengalami demam tinggi, batuk ringan dan sesak nafas.

Curiga terkena Covid-19, ibu dan dua anaknya memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit rujukan Covid di Tangerang Selatan (Tangsel) untuk melakukan swab. Kekhawatiran mereka menjadi kenyataan, dua hari kemudian hasilnya keluar, ketiganya positif Covid-19

Kaget dengan hasil itu, kondisi sang ibu mendadak parah. Napasnya semakin sesak, disertai demam tinggi. Sehingga membutuhkan bantuan oksigen. Takut kondisinya lebih parah, salah satu anaknya membawa ibunya ke rumah sakit sekitar pukul 02.00 dini hari.

Sampai di salah satu rumah sakit di Tangsel ternyata ruang ICU penuh. Menunggu giliran untuk masuk. Akhirnya, ibu tersebut terpaksa di rawat di tenda darurat. Di tempat itu, sejumlah pasien Covid juga sudah mengantri panjang. Rata-rata sudah dipasang selang oksigen karena mengalami gejala berat.

Selang dua hari kemudian, kondisinya semakin buruk dan tidak tertolong lagi. Karena sudah di vonis meninggal oleh dokter, ibu tersebut akhirnya dimakamkan sesuai protokol Covid-19 di salah satu makam di Tangsel. Sedihnya, kedua anaknya yang perempuan itu tidak bisa menyaksikan pemakaman ibu karena harus di rawat di rumah sakit. [Ahmad Latif Rosyid/Wartawan Rakyat Merdeka]

]]> Hampir setahun berlalu, pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Bahkan, semakin dekat dengan lingkungan tempat kita tinggal. Padahal, hampir setahun ini kita telah melaksanakan disiplin protokol kesehatan (prokes) secara ketat, seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak alias 3M.

Tak pelak, lamanya kita melakukan kebiasaan baru itu menimbulkan kebosanan yang sangat. Jenuh hingga stress melanda diri. Terlebih, pemerintah juga terus melarang bepergian dan juga ke tempat wisata saat libur panjang tiba. Tujuannya mencegah penularan.

Di kala kita lengah dan stres, saat itulah Covid-19 semakin mendekat. Benar saja, di perumahan tempat saya tinggal sudah ada 5 orang terdeteksi positif Corona. Hal itu terjadi awal Desember tahun 2020 hingga awal Januari 2021. Atau setelah 8 bulan virus asal Wuhan, China, itu masuk ke Indonesia. Umumnya, penderita mengalami gejala demam, batuk, hilang indra penciuman dan perasa hingga sesak nafas.

Tidak semua sembuh. Ada satu warga yang akhirnya meninggal dunia karena mengalami sesak napas. Kebetulan usianya sudah memasuki 50 tahun dan mempunyai komorbid atau penyakit penyerta, seperti, Jantung dan Asma. “Bu Wati meninggal karena mengalami sesak nafas dan keterbatasan ruang ICU di rumah sakit sehingga tidak tertolong,” ujar Ipung salah seorang kerabat dekatnya.

Sebetulnya, Wati, yang berusia setengah abad itu menerapkan prokes secara ketat. Sejak awal pandemi Maret 2020, tidak pernah sekalipun ia keluar rumah. Berbagai multivitamin mahal pun diminumnya. Anak-anaknya juga melarangnya hanya sekedar berjalan ke sekeliling rumah. Takut terkena virus Corona. Apalagi, ia mempunyai riwayat penyakit berat. “Kalau terkena Covid-19 pasti dampaknya berat,” kata salah satu anaknya kepada warga sekitar saat awal pandemi lalu.

Karena kebosanan yang sangat, dua anaknya yang semula lebih banyak work from home (wfh) tiba-tiba ingin berlibur. Kebetulan bertepatan libur panjang akhir tahun. Waktu dua minggu dirasa cukup untuk menghilangkan kepenatan. Akhirnya, anak kedua memutuskan berlibur ke Bali, anak ketiga berlibur ke Puncak, Bogor, sedangkan anak pertama memilih berdiam di rumah sembari menjaga ibunya.

 

Petaka datang ketika liburan berakhir. Kedua anaknya juga telah tiba di rumah. Dua hari kemudian, kedua anaknya mengalami demam tinggi disertai batuk ringan. Sehari kemudian, giliran ibunya yang mengalami demam tinggi, batuk ringan dan sesak nafas.

Curiga terkena Covid-19, ibu dan dua anaknya memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit rujukan Covid di Tangerang Selatan (Tangsel) untuk melakukan swab. Kekhawatiran mereka menjadi kenyataan, dua hari kemudian hasilnya keluar, ketiganya positif Covid-19

Kaget dengan hasil itu, kondisi sang ibu mendadak parah. Napasnya semakin sesak, disertai demam tinggi. Sehingga membutuhkan bantuan oksigen. Takut kondisinya lebih parah, salah satu anaknya membawa ibunya ke rumah sakit sekitar pukul 02.00 dini hari.

Sampai di salah satu rumah sakit di Tangsel ternyata ruang ICU penuh. Menunggu giliran untuk masuk. Akhirnya, ibu tersebut terpaksa di rawat di tenda darurat. Di tempat itu, sejumlah pasien Covid juga sudah mengantri panjang. Rata-rata sudah dipasang selang oksigen karena mengalami gejala berat.

Selang dua hari kemudian, kondisinya semakin buruk dan tidak tertolong lagi. Karena sudah di vonis meninggal oleh dokter, ibu tersebut akhirnya dimakamkan sesuai protokol Covid-19 di salah satu makam di Tangsel. Sedihnya, kedua anaknya yang perempuan itu tidak bisa menyaksikan pemakaman ibu karena harus di rawat di rumah sakit. [Ahmad Latif Rosyid/Wartawan Rakyat Merdeka]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories