Legenda Tinju Indonesia Albert Papilaya Tutup Usia .

Dunia tinju Indonesia berduka. Petinju terbaik sepanjang masa yang telah memenangkan sejumlah medali emas dalam dan luar negeri, Komisaris Polisi (Kompol) Alberth Papilaya, meninggal dunia, Minggu (18/4) dinihari pukul 02.45 WIT, atau 00.45 WIB.

Minggu pagi pukul 07.00 jenazah diberangkatkan ke Jailolo, kampung istrinya, dengan kapal feri.

Sejak masuk rumah sakit pada Jumat (16/4) malam, Alberth yang berusia 53 tahun sudah koma akibat stroke.

Pemegang medali emas PON empat kali Alberth Papilaya, sudah berada di kampung halaman istrinya Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, sejak awal Maret 2021.

Alberth kelahiran Tobelo, Maluku Utara, 15 September 1967. Pada Olimpiade XXV/1992 Barcelona, Alberth Papilaya bertanding di kelas menengah 75 kilogram dan berhasil sampai ke 8 besar kemudian kalah dan gagal merebut medali.

Pada Olimpiade Alberth bersama Hendrik Simangunsong, yang bertanding di kelas menengah ringan. Saat Olimpiade berlangsung, tim Oscar De La Hoya datang ke asrama atlet dan menawarkan tinju profesional. Alberth menolak.

Alberth Papilaya memulai tinju dari Yonif 732 Benau, Maluku Utara. Dari sana masuk Pusdiklat Maluku di Ambon, kemudian masuk Pelatnas, dan akhirnya sampai ke olimpiade.

Alberth Papilaya pernah juara di kelas welter, kelas menengah ringan, kelas menengah, kelas berat ringan, dan kelas berat. Alberth lima kali bertanding di PON dan empat kali merebut medali emas.

Di SEA Games, Alberth merebut medali emas kelas menengah. Di kejuaraan Asia Junior (sekarang youth) ke-5 di Katmandu, Nepal 1985, Albert Papilaya merebut medali emas kelas welter. Indonesia mengirim lima petinju. Semua pulang dengan medali emas.

Empat emas lainnya dipersembahkan oleh Pujo Ardianto kelas layang, Stevanus Herry kelas terbang, Ade Hasan kelas bulu, dan Ricky Soares kelas menengah ringan.

“Kami sebagai keluarga besar Pertina Maluku Utara merasa sangat kehilangan atas kepergian Bung Albert Papilaya,” kata Ketua Pertina Maluku Utara, Djasman Abubakar.

Albert Papilaya yang lahir Tobelo, Maluku Utara, 15 September 1967 merupakan legenda tinju amatir Indonesia. Dia mengoleksi 7 medali emas SEA Games dan juga meraih prestasi di Piala Presiden serta termasuk tiga petinju Indonesia yang mampu menembus babak perempat finalis Olimpiade.

“Sebagai putra Maluku Utara, almarhum banyak dijadikan contoh bagi atlet tinju Maluku Utara dalam meraih prestasi sampai ke tingkat Internasional. Oleh karenanya, tentu kami sangat merasa kehilangan sosok yang menjadi inspirasi bagi anak muda Maluku Utara,” kata Djasman.

Ucapan belasungkawa juga dilontarkan Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari.

“Dunia tinju amatir Indonesia berduka. Kita telah kehilangan petinju yang pernah mengharumkan nama bangsa dan negara di ajang SEA Games dan Olimpiade. Saya dan seluruh jajaran pengurus KOI/NOC Indonesia ikut belasungkawa. Selamat jalan Bung Albert Papilaya,” kata Raja Sapta Oktohari yang akrab dipanggil Okto. [WUR]

]]> .
Dunia tinju Indonesia berduka. Petinju terbaik sepanjang masa yang telah memenangkan sejumlah medali emas dalam dan luar negeri, Komisaris Polisi (Kompol) Alberth Papilaya, meninggal dunia, Minggu (18/4) dinihari pukul 02.45 WIT, atau 00.45 WIB.

Minggu pagi pukul 07.00 jenazah diberangkatkan ke Jailolo, kampung istrinya, dengan kapal feri.

Sejak masuk rumah sakit pada Jumat (16/4) malam, Alberth yang berusia 53 tahun sudah koma akibat stroke.

Pemegang medali emas PON empat kali Alberth Papilaya, sudah berada di kampung halaman istrinya Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, sejak awal Maret 2021.

Alberth kelahiran Tobelo, Maluku Utara, 15 September 1967. Pada Olimpiade XXV/1992 Barcelona, Alberth Papilaya bertanding di kelas menengah 75 kilogram dan berhasil sampai ke 8 besar kemudian kalah dan gagal merebut medali.

Pada Olimpiade Alberth bersama Hendrik Simangunsong, yang bertanding di kelas menengah ringan. Saat Olimpiade berlangsung, tim Oscar De La Hoya datang ke asrama atlet dan menawarkan tinju profesional. Alberth menolak.

Alberth Papilaya memulai tinju dari Yonif 732 Benau, Maluku Utara. Dari sana masuk Pusdiklat Maluku di Ambon, kemudian masuk Pelatnas, dan akhirnya sampai ke olimpiade.

Alberth Papilaya pernah juara di kelas welter, kelas menengah ringan, kelas menengah, kelas berat ringan, dan kelas berat. Alberth lima kali bertanding di PON dan empat kali merebut medali emas.

Di SEA Games, Alberth merebut medali emas kelas menengah. Di kejuaraan Asia Junior (sekarang youth) ke-5 di Katmandu, Nepal 1985, Albert Papilaya merebut medali emas kelas welter. Indonesia mengirim lima petinju. Semua pulang dengan medali emas.

Empat emas lainnya dipersembahkan oleh Pujo Ardianto kelas layang, Stevanus Herry kelas terbang, Ade Hasan kelas bulu, dan Ricky Soares kelas menengah ringan.

“Kami sebagai keluarga besar Pertina Maluku Utara merasa sangat kehilangan atas kepergian Bung Albert Papilaya,” kata Ketua Pertina Maluku Utara, Djasman Abubakar.

Albert Papilaya yang lahir Tobelo, Maluku Utara, 15 September 1967 merupakan legenda tinju amatir Indonesia. Dia mengoleksi 7 medali emas SEA Games dan juga meraih prestasi di Piala Presiden serta termasuk tiga petinju Indonesia yang mampu menembus babak perempat finalis Olimpiade.

“Sebagai putra Maluku Utara, almarhum banyak dijadikan contoh bagi atlet tinju Maluku Utara dalam meraih prestasi sampai ke tingkat Internasional. Oleh karenanya, tentu kami sangat merasa kehilangan sosok yang menjadi inspirasi bagi anak muda Maluku Utara,” kata Djasman.

Ucapan belasungkawa juga dilontarkan Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari.

“Dunia tinju amatir Indonesia berduka. Kita telah kehilangan petinju yang pernah mengharumkan nama bangsa dan negara di ajang SEA Games dan Olimpiade. Saya dan seluruh jajaran pengurus KOI/NOC Indonesia ikut belasungkawa. Selamat jalan Bung Albert Papilaya,” kata Raja Sapta Oktohari yang akrab dipanggil Okto. [WUR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories