Launching Shopee Center Di Pekalongan, Shopee Bidik 58.000 UMKM

Shopee kembali menghadirkan fasilitas penunjang untuk mengembangkan UMKM lokal, melalui Shopee Center Pekalongan.

Fasilitas yang baru diresmikan pada Rabu (6/7), menyediakan fasilitas untuk mendorong proses pemasaran bagi pelaku UMKM lokal di Pekalongan, Jawa Tengah.

Fasilitas pendukung tersebut di antaranya adalah studio foto dan studio live streaming yang dapat dimanfaatkan secara gratis oleh setiap pegiat UMKM di Pekalongan dan sekitarnya.

Selain menyediakan kedua fasilitas tersebut, Shopee Center Pekalongan juga menjadi jembatan bagi para pelaku UMKM untuk mendapatkan pelatihan dan pembinaan yang lebih komprehensif di Kampus UMKM Shopee Semarang maupun Kampus UMKM Shopee Ekspor Solo yang terletak di Provinsi Jawa Tengah.

Head of Government Relations Shopee Indonesia Balques Manisang mengatakan, hadirnya Shopee Center Pekalongan merupakan wujud dari komitmen #ShopeeAdaUntukUMKM, sebuah komitmen jangka panjang dari Shopee Indonesia untuk mendukung dan membawa UMKM lokal naik kelas, khususnya di era digital saat ini.

 

“Kami berkomitmen menjadi kawan dalam setiap perjalanan UMKM lokal agar bisa berdaya, bertumbuh dan berdampak bagi sesama,” jelasnya dalam keterangan resmi, Kamis (7/7).

Pekalongan merupakan salah satu kota dengan potensi yang besar untuk berkembang dengan ekosistem digital. Dengan lebih dari 58.000 UMKM di Pekalongan, potensi UMKM lokal di Kota dan Kabupaten Pekalongan bisa semakin berkembang dengan beradaptasi bersama teknologi digital.

Namun, bagi sebagian pelaku UMKM di Pekalongan, bermigrasi ke sistem penjualan online menjadi tantangan tersendiri.

Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan M Yulian Akbar mengapresiasi langkah Shopee Indonesia, yang telah menunjukkan komitmen terhadap UMKM di daerah melalui Shopee Center Pekalongan.

“Pekalongan memiliki kultur wirausaha yang kuat. Hal ini dapat terlihat dari kontribusi positif UMKM lokal terhadap perputaran ekonomi daerah. Selain itu, semakin banyak UMKM yang sadar akan pentingnya memanfaatkan platform digital, seperti Shopee,” ujarnya.

Untuk itu sambung Yulian, kehadiran Shopee bagi UMKM memang menjadi hal yang tepat mengingat adanya potensi UMKM Pekalongan yang hingga saat ini mencapai 58.000.

“Sekali lagi, kami menyampaikan terima kasih kepada Shopee, karena telah menghadirkan Shopee Center Pekalongan sebagai bentuk dukungan yang luar biasa bagi pelaku UMKM Pekalongan,” ujar Yulian.

 

Seller Shopee Inndenim

Salah satu pedagang jeans asal Kabupaten Pekalongan Andi Supriyadi (27), menjadi bukti UMKM yang mampu beradaptasi dengan teknologi digital.

Pria asal Karangdadap, Kabupaten Pekalongan ini, sebelumnya berdagang di salah satu sentra perdagangan besar di Jakarta.

Penurunan omzet yang dialami Andi menjelang tahun 2018, membuatnya bermigrasi ke platform online.

“Tahun 2017 itu penjualan udah mulai sepi. Banyak yang bayar pakai giro, banyak banget dalam satu bulan bisa beberapa orang ambil barang dengan tempo 5 bulan.

Waktu 2018, gironya sampai saya jual karena banyak orang yang terlambat atau bahkan nggak membayar,” cerita Andi.

Keadaan semakin bertambah parah saat pandemi Covid-19, yang membuat tempatnya berjualan harus ditutup karena pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB.

Pada akhirnya, ia memutuskan untuk kembali pulang ke kampung halaman di Pekalongan dan berjualan di e-commerce Shopee dan memulai bisnis onlinenya dengan nama Inndenim.

Ia langsung tancap gas untuk bisa beradaptasi dengan sistem penjualan online. Andi langsung mencoba berbagai macam fitur seperti fitur diskon hingga promo gratis ongkos kirim. Alhasil, penjualan toko Inndenim di tahun pertama pun cukup melesat.

“Dulu awal-awal saya jualan online, penjualan cukup banyak karena belum banyak pesaing. Bahkan di tahun pertama itu, omzet saya di Shopee bisa mendekati omzet waktu saya jualan di toko,” ujarnya.

Melalui e-commerce Shopee, pemasaran produk jeans milik Inndenim sudah merambah ke seluruh Indonesia, bahkan hingga negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Meskipun begitu, persaingan dagang yang semakin ketat membuat Andi harus mencari metode terkini untuk pemasarannya, termasuk berjualan secara live streaming. Ia berusaha untuk menerapkan metode tersebut, agar bisa berkomunikasi secara dua arah dengan para pelanggannya.

“Saya tertarik untuk coba-coba jualan live streaming, soalnya biar pelanggan bisa tahu kualitas produk saya dan pembeli bisa lihat apa model yang mana yang kira-kira pas untuk mereka,” jelasnya.

Andi berharap, hadirnya Shopee Center Pekalongan, dapat membantu dirinya sekaligus ribuan pelaku UMKM di Pekalongan untuk bisa meningkatkan kualitas pemasaran melalui teknologi digital.

“Selain saya berniat secara rutin untuk menggunakan fasilitas studio live streaming, harapannya sih, saya dan teman-teman UMKM lain bisa belajar lebih banyak lagi soal pemasaran di internet, agar industri rumahan Pekalongan semakin berkembang ke depannya,” kata dia.

Selain sentra batik, Pekalongan, Jawa Tengah juga memiliki jeans sebagai produk unggulan. Meskipun diproduksi melalui industri UMKM rumahan, nyatanya jeans dari Kota Santri ini memiliki kualitas yang bersaing hingga akhirnya diekspor ke berbagai negara tetangga seperti Malaysia.

Melalui fasilitas pendukung yang ada di Shopee Center Pekalongan, diharapkan seluruh pelaku UMKM di Pekalongan dan sekitarnya mampu meningkatkan kualitas, kapasitas, hingga daya saing, dalam ekosistem digital. ■

]]> Shopee kembali menghadirkan fasilitas penunjang untuk mengembangkan UMKM lokal, melalui Shopee Center Pekalongan.

Fasilitas yang baru diresmikan pada Rabu (6/7), menyediakan fasilitas untuk mendorong proses pemasaran bagi pelaku UMKM lokal di Pekalongan, Jawa Tengah.

Fasilitas pendukung tersebut di antaranya adalah studio foto dan studio live streaming yang dapat dimanfaatkan secara gratis oleh setiap pegiat UMKM di Pekalongan dan sekitarnya.

Selain menyediakan kedua fasilitas tersebut, Shopee Center Pekalongan juga menjadi jembatan bagi para pelaku UMKM untuk mendapatkan pelatihan dan pembinaan yang lebih komprehensif di Kampus UMKM Shopee Semarang maupun Kampus UMKM Shopee Ekspor Solo yang terletak di Provinsi Jawa Tengah.

Head of Government Relations Shopee Indonesia Balques Manisang mengatakan, hadirnya Shopee Center Pekalongan merupakan wujud dari komitmen #ShopeeAdaUntukUMKM, sebuah komitmen jangka panjang dari Shopee Indonesia untuk mendukung dan membawa UMKM lokal naik kelas, khususnya di era digital saat ini.

 

“Kami berkomitmen menjadi kawan dalam setiap perjalanan UMKM lokal agar bisa berdaya, bertumbuh dan berdampak bagi sesama,” jelasnya dalam keterangan resmi, Kamis (7/7).

Pekalongan merupakan salah satu kota dengan potensi yang besar untuk berkembang dengan ekosistem digital. Dengan lebih dari 58.000 UMKM di Pekalongan, potensi UMKM lokal di Kota dan Kabupaten Pekalongan bisa semakin berkembang dengan beradaptasi bersama teknologi digital.

Namun, bagi sebagian pelaku UMKM di Pekalongan, bermigrasi ke sistem penjualan online menjadi tantangan tersendiri.

Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan M Yulian Akbar mengapresiasi langkah Shopee Indonesia, yang telah menunjukkan komitmen terhadap UMKM di daerah melalui Shopee Center Pekalongan.

“Pekalongan memiliki kultur wirausaha yang kuat. Hal ini dapat terlihat dari kontribusi positif UMKM lokal terhadap perputaran ekonomi daerah. Selain itu, semakin banyak UMKM yang sadar akan pentingnya memanfaatkan platform digital, seperti Shopee,” ujarnya.

Untuk itu sambung Yulian, kehadiran Shopee bagi UMKM memang menjadi hal yang tepat mengingat adanya potensi UMKM Pekalongan yang hingga saat ini mencapai 58.000.

“Sekali lagi, kami menyampaikan terima kasih kepada Shopee, karena telah menghadirkan Shopee Center Pekalongan sebagai bentuk dukungan yang luar biasa bagi pelaku UMKM Pekalongan,” ujar Yulian.

 

Seller Shopee Inndenim

Salah satu pedagang jeans asal Kabupaten Pekalongan Andi Supriyadi (27), menjadi bukti UMKM yang mampu beradaptasi dengan teknologi digital.

Pria asal Karangdadap, Kabupaten Pekalongan ini, sebelumnya berdagang di salah satu sentra perdagangan besar di Jakarta.

Penurunan omzet yang dialami Andi menjelang tahun 2018, membuatnya bermigrasi ke platform online.

“Tahun 2017 itu penjualan udah mulai sepi. Banyak yang bayar pakai giro, banyak banget dalam satu bulan bisa beberapa orang ambil barang dengan tempo 5 bulan.

Waktu 2018, gironya sampai saya jual karena banyak orang yang terlambat atau bahkan nggak membayar,” cerita Andi.

Keadaan semakin bertambah parah saat pandemi Covid-19, yang membuat tempatnya berjualan harus ditutup karena pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB.

Pada akhirnya, ia memutuskan untuk kembali pulang ke kampung halaman di Pekalongan dan berjualan di e-commerce Shopee dan memulai bisnis onlinenya dengan nama Inndenim.

Ia langsung tancap gas untuk bisa beradaptasi dengan sistem penjualan online. Andi langsung mencoba berbagai macam fitur seperti fitur diskon hingga promo gratis ongkos kirim. Alhasil, penjualan toko Inndenim di tahun pertama pun cukup melesat.

“Dulu awal-awal saya jualan online, penjualan cukup banyak karena belum banyak pesaing. Bahkan di tahun pertama itu, omzet saya di Shopee bisa mendekati omzet waktu saya jualan di toko,” ujarnya.

Melalui e-commerce Shopee, pemasaran produk jeans milik Inndenim sudah merambah ke seluruh Indonesia, bahkan hingga negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Meskipun begitu, persaingan dagang yang semakin ketat membuat Andi harus mencari metode terkini untuk pemasarannya, termasuk berjualan secara live streaming. Ia berusaha untuk menerapkan metode tersebut, agar bisa berkomunikasi secara dua arah dengan para pelanggannya.

“Saya tertarik untuk coba-coba jualan live streaming, soalnya biar pelanggan bisa tahu kualitas produk saya dan pembeli bisa lihat apa model yang mana yang kira-kira pas untuk mereka,” jelasnya.

Andi berharap, hadirnya Shopee Center Pekalongan, dapat membantu dirinya sekaligus ribuan pelaku UMKM di Pekalongan untuk bisa meningkatkan kualitas pemasaran melalui teknologi digital.

“Selain saya berniat secara rutin untuk menggunakan fasilitas studio live streaming, harapannya sih, saya dan teman-teman UMKM lain bisa belajar lebih banyak lagi soal pemasaran di internet, agar industri rumahan Pekalongan semakin berkembang ke depannya,” kata dia.

Selain sentra batik, Pekalongan, Jawa Tengah juga memiliki jeans sebagai produk unggulan. Meskipun diproduksi melalui industri UMKM rumahan, nyatanya jeans dari Kota Santri ini memiliki kualitas yang bersaing hingga akhirnya diekspor ke berbagai negara tetangga seperti Malaysia.

Melalui fasilitas pendukung yang ada di Shopee Center Pekalongan, diharapkan seluruh pelaku UMKM di Pekalongan dan sekitarnya mampu meningkatkan kualitas, kapasitas, hingga daya saing, dalam ekosistem digital. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories