Laporan Awal Investigasi SJ182 KNKT: Ketinggian Pesawat Sriwijaya 10.900 Kaki, Auto Pilot Mati

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melaporkan hasil preliminary report, atau laporan awal investigasi pesawat Boeing Sriwijaya SJ 182 rute Jakarta-Pontianak yang jatuh pada 9 Januari 2021. 

Preliminary report ini merupakan ketentuan dalam aturan internasional. Setiap otoritas wajib merilis laporan awal dalam waktu 30 hari setelah terjadinya kecelakaan. 

Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Capt. Nurcahyo Utomo menjelaskan, laporan awal KNKT memuat data faktual yang sudah dikumpulkan dalam 30 hari.  

Berikut kronologi rekaman detik per detik pesawat Sriwijaya yang diceritakan Nurcahyo: 

Pukul 14.36 WIB 

Pada 9 Januari 2021, pesawat jenis Boeing 737-500 berangkat dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta pada pukul 14.36 WIB dengan tujuan Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak dengan nomor penerbangan SJY 182. 

Penerbangan ini diawaki oleh 2 pilot, 4 awak kabin, dan membawa 56 penumpang. Setelah tinggal landas, pesawat terbang mengikuti jalur keberangkatan yang sudah ditentukan sebelumnya (ABASA 2D). 

“Data FDR merekam sistem autopilot aktif (engage) di ketinggian 1.980 kaki. Pada saat melewati ketinggian 8.150 kaki, tuas pengatur tenaga mesin (throttle) sebelah kiri bergerak mundur (tenaga berkurang) sedangkan yang kanan tetap,” tutur Nurcahyo dalam konferensi persnya di Jakarta, Rabu (10/2). 

Pukul 14.38 WIB 

Selanjutnya, karena kondisi cuaca, pilot meminta kepada pengatur lalu lintas udara (ATC) untuk berbelok ke arah 075 derajat dan diizinkan. Lalu, ATC memperkirakan perubahan arah tersebut akan membuat pesawat SJ182 berpapasan dengan pesawat lain yang berangkat dari landasan pacu 25 L dengan tujuan yang sama. 

“Oleh karena itu ATC meminta pilot untuk berhenti di ketinggian 11 ribu kaki,” jelasnya. 

Pukul 14.40 WIB 

FDR merekam ketinggian tertinggi yaitu 10.900 kaki. Pesawat mulai turun ketinggian, autopilot tidak aktif (disengage) ketika arah pesawat di arah 016 derajat. Pesawat pada posisi naik atau pitch up, dan pesawat miring ke kiri atau roll. Tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri kembali berkurang sementara yang kanan tetap. 

Kemudian, FDR mencatat autothrottle tidak aktif dan sikap pesawat menunduk atau pitch down. Sekitar 20 detik kemudian FDR berhenti merekam data. Setelah itu pesawat Sriwijaya kehilangan kontak dan terjatuh. 

“Dari data cuaca BMKG, menunjukkan pergerakan pesawat ini tidak melalui area awan yang signifikan dan bukan area turbulence atau awan yang menimbulkan guncangan,” jelasnya. 

Dalam laporan awal investigasinya, kata Nurcahyo, KNKT juga menemukan adanya dua kerusakan pesawat yang ditunda perbaikannya (Deferred Maintenance Item) sejak 25 Desember 2020. 

“Investigasi menemukan ada 2 kerusakan yang ditunda perbaikannya atau Deferred Maintenance Item (DMI) sejak 25 Desember 2020,” ungkapnya. 

Nurcahyo menjelaskan, pertama pada 25 Desember 2020 ditemukan penunjuk kecepatan atau March/Speed Indicator pada bagian sisi sebelah kanannya mengalami kerusakan. Kemudian, perbaikan tersebut belum berhasil dilakukan. 

“Akhirnya itu dimasukan ke dalam penundaan perbaikan,” ungkapnya. 

Walaupun ada penundaan perbaikan, pesawat tetap bisa terbang karena penundaan tersebut masuk ke dalam kategori C yang artinya boleh sampai batas waktu 10 hari. 

“Tanggal 4 Januari 2021 indicator akhirnya diganti dan hasilnya bagus sehingga DMI ditutup,” ujarnya. 

Kemudian masalah pada pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ditemukan kembali yakni adanya laporan dari pilot bahwa Autothrottle tidak berfungsi. Itu terjadi pada 3 Januari. Namun hal itu sudah diperbaiki dan hasilnya bagus. 

Masalah kembali terjadi di mana Autothrottle ternyata kembali tidak berfungsi pada 4 Januari. Tapi, perbaikan belum berhasil dilakukan akhirnya alami penundaan dimasukan ke catatan DMI. [KPJ]

]]> Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melaporkan hasil preliminary report, atau laporan awal investigasi pesawat Boeing Sriwijaya SJ 182 rute Jakarta-Pontianak yang jatuh pada 9 Januari 2021. 

Preliminary report ini merupakan ketentuan dalam aturan internasional. Setiap otoritas wajib merilis laporan awal dalam waktu 30 hari setelah terjadinya kecelakaan. 

Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Capt. Nurcahyo Utomo menjelaskan, laporan awal KNKT memuat data faktual yang sudah dikumpulkan dalam 30 hari.  

Berikut kronologi rekaman detik per detik pesawat Sriwijaya yang diceritakan Nurcahyo: 

Pukul 14.36 WIB 

Pada 9 Januari 2021, pesawat jenis Boeing 737-500 berangkat dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta pada pukul 14.36 WIB dengan tujuan Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak dengan nomor penerbangan SJY 182. 

Penerbangan ini diawaki oleh 2 pilot, 4 awak kabin, dan membawa 56 penumpang. Setelah tinggal landas, pesawat terbang mengikuti jalur keberangkatan yang sudah ditentukan sebelumnya (ABASA 2D). 

“Data FDR merekam sistem autopilot aktif (engage) di ketinggian 1.980 kaki. Pada saat melewati ketinggian 8.150 kaki, tuas pengatur tenaga mesin (throttle) sebelah kiri bergerak mundur (tenaga berkurang) sedangkan yang kanan tetap,” tutur Nurcahyo dalam konferensi persnya di Jakarta, Rabu (10/2). 

Pukul 14.38 WIB 

Selanjutnya, karena kondisi cuaca, pilot meminta kepada pengatur lalu lintas udara (ATC) untuk berbelok ke arah 075 derajat dan diizinkan. Lalu, ATC memperkirakan perubahan arah tersebut akan membuat pesawat SJ182 berpapasan dengan pesawat lain yang berangkat dari landasan pacu 25 L dengan tujuan yang sama. 

“Oleh karena itu ATC meminta pilot untuk berhenti di ketinggian 11 ribu kaki,” jelasnya. 

Pukul 14.40 WIB 

FDR merekam ketinggian tertinggi yaitu 10.900 kaki. Pesawat mulai turun ketinggian, autopilot tidak aktif (disengage) ketika arah pesawat di arah 016 derajat. Pesawat pada posisi naik atau pitch up, dan pesawat miring ke kiri atau roll. Tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri kembali berkurang sementara yang kanan tetap. 

Kemudian, FDR mencatat autothrottle tidak aktif dan sikap pesawat menunduk atau pitch down. Sekitar 20 detik kemudian FDR berhenti merekam data. Setelah itu pesawat Sriwijaya kehilangan kontak dan terjatuh. 

“Dari data cuaca BMKG, menunjukkan pergerakan pesawat ini tidak melalui area awan yang signifikan dan bukan area turbulence atau awan yang menimbulkan guncangan,” jelasnya. 

Dalam laporan awal investigasinya, kata Nurcahyo, KNKT juga menemukan adanya dua kerusakan pesawat yang ditunda perbaikannya (Deferred Maintenance Item) sejak 25 Desember 2020. 

“Investigasi menemukan ada 2 kerusakan yang ditunda perbaikannya atau Deferred Maintenance Item (DMI) sejak 25 Desember 2020,” ungkapnya. 

Nurcahyo menjelaskan, pertama pada 25 Desember 2020 ditemukan penunjuk kecepatan atau March/Speed Indicator pada bagian sisi sebelah kanannya mengalami kerusakan. Kemudian, perbaikan tersebut belum berhasil dilakukan. 

“Akhirnya itu dimasukan ke dalam penundaan perbaikan,” ungkapnya. 

Walaupun ada penundaan perbaikan, pesawat tetap bisa terbang karena penundaan tersebut masuk ke dalam kategori C yang artinya boleh sampai batas waktu 10 hari. 

“Tanggal 4 Januari 2021 indicator akhirnya diganti dan hasilnya bagus sehingga DMI ditutup,” ujarnya. 

Kemudian masalah pada pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ditemukan kembali yakni adanya laporan dari pilot bahwa Autothrottle tidak berfungsi. Itu terjadi pada 3 Januari. Namun hal itu sudah diperbaiki dan hasilnya bagus. 

Masalah kembali terjadi di mana Autothrottle ternyata kembali tidak berfungsi pada 4 Januari. Tapi, perbaikan belum berhasil dilakukan akhirnya alami penundaan dimasukan ke catatan DMI. [KPJ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories