Lanjutkan Program G21H Di 2022, YAICI Perluas Jangkauan Perbaikan Gizi Balita

Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Arif Hidayat mengatakan, organisasi yang dipimpinnya melanjutkan program edukasi gizi balita di tahun 2022. Salah satunya lewat program G21H.

G21H adalah singkat dari Gerakan 21 Hari. Tujuannya, membiasakan anak mengkonsumsi makanan bergizi. Program yang sudah berjalan sejak akhir 2021 ini telah membuahkan hasil.

“Hasilnya, dari 30 peserta (ibu dan anak), hanya 2 anak yang gagal. Sebanyak 28 peserta akhirnya bisa terlepas dari kebiasaan makan yang buruk,” kata Arif dalam keterangannya, Sabtu (8/1).

Kini, sebutnya, anak dengan sadar menghindari asupan makanan yang tinggi gula garam lemak, dan mau mengkonsumsi makanan minuman yang kaya akan protein, serat dan vitamin. Karena itu, YAICI akan melanjutkan program pendampingan G21H tahun ini. Agar dapat memberi dampak yang lebih luas lagi bagi masyarakat dan masa depan anak-anak.

Ia menjelaskan, dasar dari generasi yang produktif itu adalah anak yang secara fisik sehat dan tumbuh kembang optimal. Caranya dengan memberi anak gizi yang cukup dan menghindarkan anak dari asupan yang tinggi kandungan gula garam lemak. “Anak-anak yang cukup gizi, fisiknya akan sehat, tumbuh kembang otak optimal dan saat usia dewasa nanti akan menjadi generasi yang unggul,” jelas Arif.

Menurut Arif, cara permanen untuk memperbaiki gizi balita adalah dengan memutus rantai kemiskinan di Indonesia. Apalagi isi dari bantuan sosial kerapkali masih berupa beras, minyak, mie instan, gula, kopi dan susu kental manis.

“Kalau saya bilang ini nggak akan mengubah keadaan. Anak-anak dari keluarga miskin yang mengkonsumsi bansos-bansos seperti ini di masa depannya besar kemungkinan akan tetap berada di lingkaran kemiskinan. Sebab, intervensi seperti ini hanya untuk menghilangkan lapar, tapi tidak memberi asupan pada otak, tidak mempengaruhi perkembangan otak. Maka tidak heran mereka tidak akan pernah bersaing di pasar global, mereka akan sulit memasuki dunia white collar,” tandasnya.

Oleh karena itu, YAICI bersama sejumlah mitra kerja seperti PP Aisyiyah, PP Muslimat NU dan HIMPAUDI, menggagas model edukasi yang tidak hanya sekadar memberikan informasi, namun juga membiasakan masyarakat melakukan hal-hal baik yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

 

Founder Komunitas Menata Keluarga Melly Amaya Kiong mengapresisasi atas program G21H ini. Ia menilai, kolaborasi konsep Mindful Parenting dengan pendampingan oleh kader selama 21 hari dan memonitoring perubahan-perubahan anak ini ternyata bisa mewujudkan kebiasaan makan yang baik pada balita.

“Ini adalah sesuatu yang baru. Ke depannya, metode ini dapat diterapkan untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baik pada anak dan keluarga,” kata Melly, yang juga praktisi Mindful Parenting itu.

Nyai, orang tua dari Arka (usia 2 tahun), mengaku keluarganya mengalami banyak perubahan sejak mengikuti program pendampingan G21H ini. Dari sebelumnya mengkonsumsi kental manis tiga kali sehari, sekarang sudah lepas dari kebiasaan itu.

“Arka juga terlihat lebih sehat dan ceria, makan lebih teratur dan banyak minum air putih. Di awal program memang terasa sulit. Tapi, lama-kelamaan aktivitas ini jadi menyenangkan. Semoga ibu-ibu lain yang mengalami problem seperti saya dapat berkesempatan mengikuti program ini,” harap Nyai.

Sementara, kader yang mendampingi keluarga Nyai, yaitu Lina Marlina berharap G21H dapat dilanjutkan dengan menyasar lebih banyak masyarakat. Karena parenting, sebutnya adalah ilmu yang tidak diajarkan di bangku sekolah, namun harus belajar dari pengalaman.

Materi edukasi di program G21H yang digunakan juga sangat membantu mendorong kreativitas orang tua dalam memberikan edukasi. Tanpa harus memaksa dan menghakimi, melainkan dengan penuh kasih sayang dan keceriaan. “Melalui program ini, selaku kader sayapun ikut belajar, menata kembali keluarga supaya menjadi lebih harmonis,” jelas Lina. [SAR]

]]> Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Arif Hidayat mengatakan, organisasi yang dipimpinnya melanjutkan program edukasi gizi balita di tahun 2022. Salah satunya lewat program G21H.

G21H adalah singkat dari Gerakan 21 Hari. Tujuannya, membiasakan anak mengkonsumsi makanan bergizi. Program yang sudah berjalan sejak akhir 2021 ini telah membuahkan hasil.

“Hasilnya, dari 30 peserta (ibu dan anak), hanya 2 anak yang gagal. Sebanyak 28 peserta akhirnya bisa terlepas dari kebiasaan makan yang buruk,” kata Arif dalam keterangannya, Sabtu (8/1).

Kini, sebutnya, anak dengan sadar menghindari asupan makanan yang tinggi gula garam lemak, dan mau mengkonsumsi makanan minuman yang kaya akan protein, serat dan vitamin. Karena itu, YAICI akan melanjutkan program pendampingan G21H tahun ini. Agar dapat memberi dampak yang lebih luas lagi bagi masyarakat dan masa depan anak-anak.

Ia menjelaskan, dasar dari generasi yang produktif itu adalah anak yang secara fisik sehat dan tumbuh kembang optimal. Caranya dengan memberi anak gizi yang cukup dan menghindarkan anak dari asupan yang tinggi kandungan gula garam lemak. “Anak-anak yang cukup gizi, fisiknya akan sehat, tumbuh kembang otak optimal dan saat usia dewasa nanti akan menjadi generasi yang unggul,” jelas Arif.

Menurut Arif, cara permanen untuk memperbaiki gizi balita adalah dengan memutus rantai kemiskinan di Indonesia. Apalagi isi dari bantuan sosial kerapkali masih berupa beras, minyak, mie instan, gula, kopi dan susu kental manis.

“Kalau saya bilang ini nggak akan mengubah keadaan. Anak-anak dari keluarga miskin yang mengkonsumsi bansos-bansos seperti ini di masa depannya besar kemungkinan akan tetap berada di lingkaran kemiskinan. Sebab, intervensi seperti ini hanya untuk menghilangkan lapar, tapi tidak memberi asupan pada otak, tidak mempengaruhi perkembangan otak. Maka tidak heran mereka tidak akan pernah bersaing di pasar global, mereka akan sulit memasuki dunia white collar,” tandasnya.

Oleh karena itu, YAICI bersama sejumlah mitra kerja seperti PP Aisyiyah, PP Muslimat NU dan HIMPAUDI, menggagas model edukasi yang tidak hanya sekadar memberikan informasi, namun juga membiasakan masyarakat melakukan hal-hal baik yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

 

Founder Komunitas Menata Keluarga Melly Amaya Kiong mengapresisasi atas program G21H ini. Ia menilai, kolaborasi konsep Mindful Parenting dengan pendampingan oleh kader selama 21 hari dan memonitoring perubahan-perubahan anak ini ternyata bisa mewujudkan kebiasaan makan yang baik pada balita.

“Ini adalah sesuatu yang baru. Ke depannya, metode ini dapat diterapkan untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baik pada anak dan keluarga,” kata Melly, yang juga praktisi Mindful Parenting itu.

Nyai, orang tua dari Arka (usia 2 tahun), mengaku keluarganya mengalami banyak perubahan sejak mengikuti program pendampingan G21H ini. Dari sebelumnya mengkonsumsi kental manis tiga kali sehari, sekarang sudah lepas dari kebiasaan itu.

“Arka juga terlihat lebih sehat dan ceria, makan lebih teratur dan banyak minum air putih. Di awal program memang terasa sulit. Tapi, lama-kelamaan aktivitas ini jadi menyenangkan. Semoga ibu-ibu lain yang mengalami problem seperti saya dapat berkesempatan mengikuti program ini,” harap Nyai.

Sementara, kader yang mendampingi keluarga Nyai, yaitu Lina Marlina berharap G21H dapat dilanjutkan dengan menyasar lebih banyak masyarakat. Karena parenting, sebutnya adalah ilmu yang tidak diajarkan di bangku sekolah, namun harus belajar dari pengalaman.

Materi edukasi di program G21H yang digunakan juga sangat membantu mendorong kreativitas orang tua dalam memberikan edukasi. Tanpa harus memaksa dan menghakimi, melainkan dengan penuh kasih sayang dan keceriaan. “Melalui program ini, selaku kader sayapun ikut belajar, menata kembali keluarga supaya menjadi lebih harmonis,” jelas Lina. [SAR]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories