Langgar Prokes, PTM Di SDN 05 Jagakarsa Disetop Sementara

Sudah sejak Senin (30/8) lalu, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas berlangsung di 610 sekolah berbagai jenjang di DKI Jakarta. Pelaksanaan uji coba PTM ini relatif lancar. Namun ternyata, ada sekolah yang tak boleh melanjutkan PTM. Lantaran melanggar Protokol Kesehatan (Prokes). Sekolah tersebut adalah SD Negeri 05 Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta Nahdiana mengungkapkan, ditemukan pelanggaran dalam penyelenggaraan PTM di sekolah tersebut. Yakni penerapan protokol kesehatan memakai masker. 

Disdik DKI Jakarta menemukan, aturan memakai masker selama proses PTM berlangsung tak diterapkan dengan disiplin oleh pihak sekolah. Disdik DKI mengetahui pelanggaran ini dari laporan video yang beredar berisi pelanggaran masker saat tatap muka di sekolah ini.

“Dihentikan sementara. Karena tidak sesuai ketentuan dan prosedur yang berlaku untuk dievaluasi kembali,” kata Nahdiana dalam keterangan tertulisnya, Minggu (5/9).

Menurut Nahdiana, temuan ini menjadi pembelajaran bersama bagi setiap satuan pendidikan. Diharapkannya, sekolah yang melangsungkan PTM mematuhi proses ketentuan yang ditetapkan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Khususnya memenuhi protokol kesehatan. “Ini kan tentu untuk keamanan anak dan warga sekolah lainnya,” ingatnya.

Nahdiana menyebut penghentian sementara PTM di SD 05 Jagakarsa itu telah sesuai dengan aturan yang tertera dalam Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nomor 883 Tahun 2021 tentang Penetapan Satuan Pendidikan yang Melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Pembelajaran Campuran Tahap 1 pada Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat.

Pada diktum kelima aturan tersebut dinyatakan, satuan pendidikan yang tidak melaksanakan kewajiban perlindungan kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan akan dihentikan sementara kegiatan PTM.

Selama dihentikan, Dinas Pendidikan DKI akan memastikan kembali kesiapan sekolah tersebut untuk kembali menggelar PTM. “Kami akan terus berkomitmen melakukan monitoring dan evaluasi agar hal serupa tidak terjadi lagi,” tandas Nahdiana.

 

Rencana Masuk Setiap Hari

Di luar sekolah yang melanggar ini, Indeks pihaknya menargetkan PTM bakal dilakukan setiap hari, dari Senin hingga Jumat. Kata Nahdiana, rencana ini akan dilakukan mulai pekan ketiga sejak dilangsungkannya PTM campuran tahap 1, Senin (30/8) lalu. Atau mulai 13 September mendatang, sekolah akan dibuka tiap Senin sampai Jumat.

“Dua minggu pertama ini kan siklusnya sekarang sekolah sehari-dibuka, lalu sehari ditutup. Sehari anak-anak masuk, sehari didisinfeksi. Di minggu ketiga kita mulai sekolah buka tiap hari,” ujar Nahdiana.

Diketahui, sejak PTM campuran dimulai, 610 sekolah hanya dibuka setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Setiap Selasa dan Kamis sekolah disemprot disinfektan. Tidak semua siswa datang ke sekolah karena pembelajaran daring tetap dilakukan. Selain itu, vaksinasi juga jadi syarat bagi guru, siswa, dan karyawan yang datang ke sekolah.

Meski demikian, lanjut Nahdiana, mulai pekan ketiga semua siswa tidak belajar setiap hari di sekolah. Ada aturan dan jadwal yang dibuat agar para siswa bergantian ikut PTM di sekolah.

“Katakanlah yang SD kali ini yang belajar di sekolah kelas 6. Itulah yang kita latih dalam blended learning. Jadi, misalnya sehari ada 6 sampai 10 pelajaran, artinya yang lain ada didaringkan pelajarannya,” jelasnya.

Tak hanya menjadikan pembukaan sekolah setiap hari, jumlah sekolah yang menyelenggarakan PTM campuran tahap 1 ini akan ditambah. Dari 610 menjadi 1.500 sekolah. Pembukaan akan dilakukan secara bertahap mulai pertengahan September. Hingga akhirnya, semua sekolah bisa kembali dibuka bergantung pada situasi pandemi Covid-19.

“Apakah semua sekolah akan masuk? Kalau kita rencanakan, iya. Karena kita enggak boleh diskriminasi sekolah ini masuk, sekolah ini tidak,” katanya.

Namun ditegaskannya, setiap sekolah yang sudah boleh dibuka sudah dinyatakan mampu mengikuti aturan dan menerapkan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19. [FAQ]

]]> Sudah sejak Senin (30/8) lalu, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas berlangsung di 610 sekolah berbagai jenjang di DKI Jakarta. Pelaksanaan uji coba PTM ini relatif lancar. Namun ternyata, ada sekolah yang tak boleh melanjutkan PTM. Lantaran melanggar Protokol Kesehatan (Prokes). Sekolah tersebut adalah SD Negeri 05 Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta Nahdiana mengungkapkan, ditemukan pelanggaran dalam penyelenggaraan PTM di sekolah tersebut. Yakni penerapan protokol kesehatan memakai masker. 

Disdik DKI Jakarta menemukan, aturan memakai masker selama proses PTM berlangsung tak diterapkan dengan disiplin oleh pihak sekolah. Disdik DKI mengetahui pelanggaran ini dari laporan video yang beredar berisi pelanggaran masker saat tatap muka di sekolah ini.

“Dihentikan sementara. Karena tidak sesuai ketentuan dan prosedur yang berlaku untuk dievaluasi kembali,” kata Nahdiana dalam keterangan tertulisnya, Minggu (5/9).

Menurut Nahdiana, temuan ini menjadi pembelajaran bersama bagi setiap satuan pendidikan. Diharapkannya, sekolah yang melangsungkan PTM mematuhi proses ketentuan yang ditetapkan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Khususnya memenuhi protokol kesehatan. “Ini kan tentu untuk keamanan anak dan warga sekolah lainnya,” ingatnya.

Nahdiana menyebut penghentian sementara PTM di SD 05 Jagakarsa itu telah sesuai dengan aturan yang tertera dalam Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nomor 883 Tahun 2021 tentang Penetapan Satuan Pendidikan yang Melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Pembelajaran Campuran Tahap 1 pada Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat.

Pada diktum kelima aturan tersebut dinyatakan, satuan pendidikan yang tidak melaksanakan kewajiban perlindungan kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan akan dihentikan sementara kegiatan PTM.

Selama dihentikan, Dinas Pendidikan DKI akan memastikan kembali kesiapan sekolah tersebut untuk kembali menggelar PTM. “Kami akan terus berkomitmen melakukan monitoring dan evaluasi agar hal serupa tidak terjadi lagi,” tandas Nahdiana.

 

Rencana Masuk Setiap Hari

Di luar sekolah yang melanggar ini, Indeks pihaknya menargetkan PTM bakal dilakukan setiap hari, dari Senin hingga Jumat. Kata Nahdiana, rencana ini akan dilakukan mulai pekan ketiga sejak dilangsungkannya PTM campuran tahap 1, Senin (30/8) lalu. Atau mulai 13 September mendatang, sekolah akan dibuka tiap Senin sampai Jumat.

“Dua minggu pertama ini kan siklusnya sekarang sekolah sehari-dibuka, lalu sehari ditutup. Sehari anak-anak masuk, sehari didisinfeksi. Di minggu ketiga kita mulai sekolah buka tiap hari,” ujar Nahdiana.

Diketahui, sejak PTM campuran dimulai, 610 sekolah hanya dibuka setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Setiap Selasa dan Kamis sekolah disemprot disinfektan. Tidak semua siswa datang ke sekolah karena pembelajaran daring tetap dilakukan. Selain itu, vaksinasi juga jadi syarat bagi guru, siswa, dan karyawan yang datang ke sekolah.

Meski demikian, lanjut Nahdiana, mulai pekan ketiga semua siswa tidak belajar setiap hari di sekolah. Ada aturan dan jadwal yang dibuat agar para siswa bergantian ikut PTM di sekolah.

“Katakanlah yang SD kali ini yang belajar di sekolah kelas 6. Itulah yang kita latih dalam blended learning. Jadi, misalnya sehari ada 6 sampai 10 pelajaran, artinya yang lain ada didaringkan pelajarannya,” jelasnya.

Tak hanya menjadikan pembukaan sekolah setiap hari, jumlah sekolah yang menyelenggarakan PTM campuran tahap 1 ini akan ditambah. Dari 610 menjadi 1.500 sekolah. Pembukaan akan dilakukan secara bertahap mulai pertengahan September. Hingga akhirnya, semua sekolah bisa kembali dibuka bergantung pada situasi pandemi Covid-19.

“Apakah semua sekolah akan masuk? Kalau kita rencanakan, iya. Karena kita enggak boleh diskriminasi sekolah ini masuk, sekolah ini tidak,” katanya.

Namun ditegaskannya, setiap sekolah yang sudah boleh dibuka sudah dinyatakan mampu mengikuti aturan dan menerapkan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19. [FAQ]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories