Lama Vakum, Eksekutif Keuangan Perbankan Kembali Gelar Ketoprak Financial

Komunitas masyarakat keuangan, perbankan, BUMN, akademisi, hingga anggota DPR dan jurnalis senior kembali menyajikan pagelaran ketoprak financial di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (29/7).

Pagelaran ketoprak financial yang disutradari oleh Aries Mukadi ini membawakan lakon “Ken Dedes: Harta, Tahta, Cinta”. Pagelaran ketoprak financial kali ini terasa spesial karena pertama sejak vakum setahun lebih karena pandemi Covid-19.

Tempat digelarnya pertunjukan juga spesial, yakni di Teater Besar TIM, teater megah berstandar internasional dengan kapasitas 1.200 pengunjung yang baru saja selesai direvitalisasi.

Pagelaran semakin spesial karena melibatkan banyak eksekutif dari sektor perbankan, asuransi, multifinance, BUMN, lembaga asosiasi keuangan, badan pemerintah, dan perusahaan swasta. Bahkan, Fathan Subchi, Wakil Ketua Komisi XI DPR, Komisi DPR yang membidangi keuangan dan perbankan, ikut naik panggung, bersama para jurnalis senior.

Eksekutif perbankan yang ikut bermain antara lain Alexandra Askandar dan Arief Budimanta (Bank Mandiri), Rita Mirasari (Bank Danamon), Vera Eve Liem, Lianawaty Suwono, Haryanto T. Budiman, dan John Kosasih (BCA), Meliza Musa Rusli (Bank Permata), Aviliani (Allo Bank), Lisawati (Bank Ganesha), Chaterine Hadiman (HSBC), Royke Tumilaar, Adi Sulistyowati (BNI), Haru Koesmahargyo (BTN), Romy Widjayanto dan Amirul Wicaksono (Bank DKI), Danny Hartono (Bank MAS), Juanita A. Luthan (Nobu Bank), Joice F. Rosandi (Sea Bank), dan Rokidi (Bank Kalbar).

Sementara eksekutif perusahaan asuransi yang ikut bermain antara lain Dumasi MM Samosir (Sinas Mas), Priyastomo (Askrindo), dan Nicolaus Prawiro (Cakrawala Proteksi). Dari perusahaan multifinance ada Suwandi Wiratno, Ketua Umum APPI yang juga Direktur Utama CSUL Finance.

Dari BUMN ada Sinthya Roesly (PLN), Rivan A. Purwantono (Jasa Raharja), dan Krisna Widjaja (PPA). Dari badan/lembaga pemerintah ada Anggoro E. Cahyo (BPJS-TK), Chesna F. Anwar (LPEI), Eko Ariantoro (BP Tapera), dan Lies Permana (Transjakarta). Dari asosiasi dan perusahaan swasta ada Evi Aviatin Ismail (CFO Club Indonesia), Eko Taufik Wibowo (IBI), Achmad Fajar (LPPI), Intan Adams Katoppo (Panasonic Gobel), dan Apri Susanti (Rintis Sejahtera).

Sementara itu, dari kalangan jurnalis senior ada Budi Setyarso (Tempo), Eko B. Supriyanto dan Karnoto Mohamad (Infobank), Maria Y. Benyamin (Bisnis Indonesia), Apreyvita D. Wulansari (GTV), serta dari kalangan akademisi ada Benny Purnomo (Atmajaya) dan Nimmi Zulbainarni (IPB).

Sebagai bintang tamu hadir pelawak Polo dan Tessy, serta para pemain dari Perhimpunan Wayang Orang Bharata dan para pemain Ketoprak Adhi Budaya.

“Pagelaran Ketoprak Financial ini menjadi arena networking sesama pelaku jasa keuangan, direksi BUMN, asosiasi, akademisi, dan jurnalis senior, serta pemain asli Wayang Orang Bharata dan pemain ketoprak Adhi Budaya,” ujar Eko B. Supriyanto, Produser Eksekutif Pagelaran Ketoprak Financial “Ken Dedes: Harta, Tahta, Cinta” kepada wartawan Jumat (29/7).

Selain untuk networking dan hiburan, pagelaran Ketoprak Financial ini juga merupakan sarana sosial untuk melestarikan kebudayaan tradisional ketoprak, mendukung para praktisi kesenian tradisional, serta untuk menggalang dana pendidikan bagi anak kurang mampu di bawah Yayasan Anak Asuh Kita.

“Seluruh hasil penjualan tiket akan disumbangkan ke Yayasan Anah Asuh Kita,” ungkap Eko.

Untuk itu, Eko memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para eksekutif industri keuangan, perbankan, BUMN, DPR, asosiasi, dan akademisi yang turut mendukung pagelaran ketoprak financial ini. Di tengah kesibukan sebagai profesional, mereka masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian kesenian tradisional Indonesia.

“Semoga pagelaran ini dapat menjadi lilin penerang bagi kesenian tradisi yang sudah lama redup,” harap Eko yang juga Pemimpin Redaksi Majalah Infobank itu.

 

Tahta Berlumur Darah

Lakon “Ken Dedes: Harta, Tahta, Cinta” diangkat dari sejarah berdirinya Kerjaan Singasari pada tahun 1222 Masehi. Ken Arok (diperankan oleh Anggoro E. Cahyo) adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Singasari atau Kerajaan Tumapel dengan gelar Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi yang memerintah dari tahun 1222 sampai 1227 Masehi.

Dinasti Rajasa yang di kemudiaan hari menurunkan raja-raja di Tanah Jawa ini dimulai dari pengabdian Ken Arok muda kepada Tunggul Ametung (diperankan oleh Haryanto T. Budiman), seorang akuwu di Tumapel. Di tengah pengabdiannya ini, dia tergoda oleh kecantikan Ken Dedes (diperankan oleh Alexandra Askandar), istri Tunggul Ametung.

Padahal, Ken Arok sudah mempunyai istri, Ken Umang (diperankan oleh Lies Permana). Ken Arok yang sejak kecil dibuang oleh orangtuanya dan diasuh oleh seorang maling itu semakin tergoda untuk memiliki Ken Dedes setelah mendengarkan ramalan Brahmana Lohgawe.

“Siapa pun yang mengawini Ken Dedes akan menguasai Kediri dan menurunkan raja-raja di Tanah Jawa,” kata Lohgawe.

Ken Arok pun merencanakan siasat jahat. Dia memesan keris kepada pandai besi terkenal bernama Mpu Gandring. Rencananya, keris itu akan dia gunakan untuk membunuh Ametung. Tak sabar menunggu Mpu Gandring menyelesaikan kerisnya, Ken Arok langsung merebut keris yang baru setengah jadi itu, dan menusukkan ke dada pembuatnya hingga meregang nyawa.

Namun, sebelum meninggal, Mpu Gandring mengucapkan wasiat yang menjadi petaka bagi anak-keturunan Ken Arok kelak. “Ken Arok ingatlah, keris ini akan memakan nyawa tujuh raja-raja di Tanah Jawa,” ujar Mpu Gandring.

Keris sakti setengah jadi itu di kemudian hari dikenal sebagai Keris Mpu Gandring. Sebelum melancarkan aksinya, Ken Arok sengaja meminjamkan Keris Mpu Gandrung kepada Kebo Ijo (diperankan oleh Fathan Subchi), seorang punggawa di Tumapel.

Mendapat pinjaman keris, Kebo Ijo memamerkan kerisnya itu kepada setiap orang. Dia tidak tahu sedang dalam perangkap tipu daya Ken Arok. Benar saja, di suatu malam, Ken Arok secara diam-diam mengambil kerisnya dari Kebo Ijo, dan menggunakan untuk membunuh Tunggul Ametung yang sedang tidur.

Keris dibiarkan menancap di dada Tunggul Ametung. Kematian Tunggul Ametung menghebohkan Tumapel. Dan, Kebo Ijo menjadi terdakwa utama. Dengan siasat liciknya, Ken Arok langsung menangkap Kebo Ijo dan membunuhnya dengan Keris Mpu Gandring.

Kematian Tunggul Ametung melempangkan jalan Ken Arok untuk memperistri Ken Dedes dan menguasai Tumapel. Setelah mengukuhkan diri sebagai Akuwu Tumapel, Ken Arok menikahi Ken Dedes yang sedang mengandung anak Tunggul Ametung, yang kelak diberi nama Anusapati.

Ambisi Ken Arok semakin membara setelah menjadi penguasa di Tumapel. Setelah menyusun pasukan, dia memberontok ke Kerajaan Kediri dan berhasil membunuh Raja Kertajaya dalam pertempuran Ganter.

Setelah itu, Ken Arok menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kediri. Ken Arok menjadi raja pertama Kerajaan Tumapel atau lebih dikenal sebagai Kerajaan Singasari dengan gelar Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi dan dinastinya disebut Dinasti Rajasa.

Ken Arok hanya lima tahun memerintah Kerajaan Singasari. Tahun 1227 Masehi dia dibunuh dengan keris Mpu Gandring oleh Anusapati yang akhirnya tahu siapa pembunuh ayahnya. Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Arok mempunyai empat orang anak, yaitu Mahisa Wonga Teleng, Apanji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rumbu.

Sedangkan dari Ken Umang, Ken Arok memiliki empat anak, yaitu Tohjaya, Panji Sudhatu, Tuan Wergola, dan Dewi Rambi. Ken Arok disebut sebagai pendiri Dinasti Rajasa, yaitu dinasti yang menurunkan raja-raja Singasari dan Majapahit. Selain itu, raja Demak, Pajang, dan Mataram Islam, juga merupakan keturunan Dinasti Rajasa. ■

]]> Komunitas masyarakat keuangan, perbankan, BUMN, akademisi, hingga anggota DPR dan jurnalis senior kembali menyajikan pagelaran ketoprak financial di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (29/7).

Pagelaran ketoprak financial yang disutradari oleh Aries Mukadi ini membawakan lakon “Ken Dedes: Harta, Tahta, Cinta”. Pagelaran ketoprak financial kali ini terasa spesial karena pertama sejak vakum setahun lebih karena pandemi Covid-19.

Tempat digelarnya pertunjukan juga spesial, yakni di Teater Besar TIM, teater megah berstandar internasional dengan kapasitas 1.200 pengunjung yang baru saja selesai direvitalisasi.

Pagelaran semakin spesial karena melibatkan banyak eksekutif dari sektor perbankan, asuransi, multifinance, BUMN, lembaga asosiasi keuangan, badan pemerintah, dan perusahaan swasta. Bahkan, Fathan Subchi, Wakil Ketua Komisi XI DPR, Komisi DPR yang membidangi keuangan dan perbankan, ikut naik panggung, bersama para jurnalis senior.

Eksekutif perbankan yang ikut bermain antara lain Alexandra Askandar dan Arief Budimanta (Bank Mandiri), Rita Mirasari (Bank Danamon), Vera Eve Liem, Lianawaty Suwono, Haryanto T. Budiman, dan John Kosasih (BCA), Meliza Musa Rusli (Bank Permata), Aviliani (Allo Bank), Lisawati (Bank Ganesha), Chaterine Hadiman (HSBC), Royke Tumilaar, Adi Sulistyowati (BNI), Haru Koesmahargyo (BTN), Romy Widjayanto dan Amirul Wicaksono (Bank DKI), Danny Hartono (Bank MAS), Juanita A. Luthan (Nobu Bank), Joice F. Rosandi (Sea Bank), dan Rokidi (Bank Kalbar).

Sementara eksekutif perusahaan asuransi yang ikut bermain antara lain Dumasi MM Samosir (Sinas Mas), Priyastomo (Askrindo), dan Nicolaus Prawiro (Cakrawala Proteksi). Dari perusahaan multifinance ada Suwandi Wiratno, Ketua Umum APPI yang juga Direktur Utama CSUL Finance.

Dari BUMN ada Sinthya Roesly (PLN), Rivan A. Purwantono (Jasa Raharja), dan Krisna Widjaja (PPA). Dari badan/lembaga pemerintah ada Anggoro E. Cahyo (BPJS-TK), Chesna F. Anwar (LPEI), Eko Ariantoro (BP Tapera), dan Lies Permana (Transjakarta). Dari asosiasi dan perusahaan swasta ada Evi Aviatin Ismail (CFO Club Indonesia), Eko Taufik Wibowo (IBI), Achmad Fajar (LPPI), Intan Adams Katoppo (Panasonic Gobel), dan Apri Susanti (Rintis Sejahtera).

Sementara itu, dari kalangan jurnalis senior ada Budi Setyarso (Tempo), Eko B. Supriyanto dan Karnoto Mohamad (Infobank), Maria Y. Benyamin (Bisnis Indonesia), Apreyvita D. Wulansari (GTV), serta dari kalangan akademisi ada Benny Purnomo (Atmajaya) dan Nimmi Zulbainarni (IPB).

Sebagai bintang tamu hadir pelawak Polo dan Tessy, serta para pemain dari Perhimpunan Wayang Orang Bharata dan para pemain Ketoprak Adhi Budaya.

“Pagelaran Ketoprak Financial ini menjadi arena networking sesama pelaku jasa keuangan, direksi BUMN, asosiasi, akademisi, dan jurnalis senior, serta pemain asli Wayang Orang Bharata dan pemain ketoprak Adhi Budaya,” ujar Eko B. Supriyanto, Produser Eksekutif Pagelaran Ketoprak Financial “Ken Dedes: Harta, Tahta, Cinta” kepada wartawan Jumat (29/7).

Selain untuk networking dan hiburan, pagelaran Ketoprak Financial ini juga merupakan sarana sosial untuk melestarikan kebudayaan tradisional ketoprak, mendukung para praktisi kesenian tradisional, serta untuk menggalang dana pendidikan bagi anak kurang mampu di bawah Yayasan Anak Asuh Kita.

“Seluruh hasil penjualan tiket akan disumbangkan ke Yayasan Anah Asuh Kita,” ungkap Eko.

Untuk itu, Eko memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para eksekutif industri keuangan, perbankan, BUMN, DPR, asosiasi, dan akademisi yang turut mendukung pagelaran ketoprak financial ini. Di tengah kesibukan sebagai profesional, mereka masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian kesenian tradisional Indonesia.

“Semoga pagelaran ini dapat menjadi lilin penerang bagi kesenian tradisi yang sudah lama redup,” harap Eko yang juga Pemimpin Redaksi Majalah Infobank itu.

 

Tahta Berlumur Darah

Lakon “Ken Dedes: Harta, Tahta, Cinta” diangkat dari sejarah berdirinya Kerjaan Singasari pada tahun 1222 Masehi. Ken Arok (diperankan oleh Anggoro E. Cahyo) adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Singasari atau Kerajaan Tumapel dengan gelar Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi yang memerintah dari tahun 1222 sampai 1227 Masehi.

Dinasti Rajasa yang di kemudiaan hari menurunkan raja-raja di Tanah Jawa ini dimulai dari pengabdian Ken Arok muda kepada Tunggul Ametung (diperankan oleh Haryanto T. Budiman), seorang akuwu di Tumapel. Di tengah pengabdiannya ini, dia tergoda oleh kecantikan Ken Dedes (diperankan oleh Alexandra Askandar), istri Tunggul Ametung.

Padahal, Ken Arok sudah mempunyai istri, Ken Umang (diperankan oleh Lies Permana). Ken Arok yang sejak kecil dibuang oleh orangtuanya dan diasuh oleh seorang maling itu semakin tergoda untuk memiliki Ken Dedes setelah mendengarkan ramalan Brahmana Lohgawe.

“Siapa pun yang mengawini Ken Dedes akan menguasai Kediri dan menurunkan raja-raja di Tanah Jawa,” kata Lohgawe.

Ken Arok pun merencanakan siasat jahat. Dia memesan keris kepada pandai besi terkenal bernama Mpu Gandring. Rencananya, keris itu akan dia gunakan untuk membunuh Ametung. Tak sabar menunggu Mpu Gandring menyelesaikan kerisnya, Ken Arok langsung merebut keris yang baru setengah jadi itu, dan menusukkan ke dada pembuatnya hingga meregang nyawa.

Namun, sebelum meninggal, Mpu Gandring mengucapkan wasiat yang menjadi petaka bagi anak-keturunan Ken Arok kelak. “Ken Arok ingatlah, keris ini akan memakan nyawa tujuh raja-raja di Tanah Jawa,” ujar Mpu Gandring.

Keris sakti setengah jadi itu di kemudian hari dikenal sebagai Keris Mpu Gandring. Sebelum melancarkan aksinya, Ken Arok sengaja meminjamkan Keris Mpu Gandrung kepada Kebo Ijo (diperankan oleh Fathan Subchi), seorang punggawa di Tumapel.

Mendapat pinjaman keris, Kebo Ijo memamerkan kerisnya itu kepada setiap orang. Dia tidak tahu sedang dalam perangkap tipu daya Ken Arok. Benar saja, di suatu malam, Ken Arok secara diam-diam mengambil kerisnya dari Kebo Ijo, dan menggunakan untuk membunuh Tunggul Ametung yang sedang tidur.

Keris dibiarkan menancap di dada Tunggul Ametung. Kematian Tunggul Ametung menghebohkan Tumapel. Dan, Kebo Ijo menjadi terdakwa utama. Dengan siasat liciknya, Ken Arok langsung menangkap Kebo Ijo dan membunuhnya dengan Keris Mpu Gandring.

Kematian Tunggul Ametung melempangkan jalan Ken Arok untuk memperistri Ken Dedes dan menguasai Tumapel. Setelah mengukuhkan diri sebagai Akuwu Tumapel, Ken Arok menikahi Ken Dedes yang sedang mengandung anak Tunggul Ametung, yang kelak diberi nama Anusapati.

Ambisi Ken Arok semakin membara setelah menjadi penguasa di Tumapel. Setelah menyusun pasukan, dia memberontok ke Kerajaan Kediri dan berhasil membunuh Raja Kertajaya dalam pertempuran Ganter.

Setelah itu, Ken Arok menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kediri. Ken Arok menjadi raja pertama Kerajaan Tumapel atau lebih dikenal sebagai Kerajaan Singasari dengan gelar Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi dan dinastinya disebut Dinasti Rajasa.

Ken Arok hanya lima tahun memerintah Kerajaan Singasari. Tahun 1227 Masehi dia dibunuh dengan keris Mpu Gandring oleh Anusapati yang akhirnya tahu siapa pembunuh ayahnya. Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Arok mempunyai empat orang anak, yaitu Mahisa Wonga Teleng, Apanji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rumbu.

Sedangkan dari Ken Umang, Ken Arok memiliki empat anak, yaitu Tohjaya, Panji Sudhatu, Tuan Wergola, dan Dewi Rambi. Ken Arok disebut sebagai pendiri Dinasti Rajasa, yaitu dinasti yang menurunkan raja-raja Singasari dan Majapahit. Selain itu, raja Demak, Pajang, dan Mataram Islam, juga merupakan keturunan Dinasti Rajasa. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories