Lagi, AS Jatuhkan Sanksi 2 Personel Junta Myanmar

Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan sanksi terhadap dua pemimpin junta militer Myanmar, Senin (22/2). Kedua anggota tersebut adalah Jenderal Maung Maung Kyaw, Panglima Angkatan Udara, dan Letnan Jenderal Moe Myint Tun.

AS menyatakan, pihaknya memblokir properti dan melarang masuk dua anggota Dewan Pemerintah Myanmar tersebut. “Kami tidak akan ragu mengambil tindakan lebih lanjut terhadap mereka yang melakukan kekerasan dan menekan keinginan rakyat. Kami tidak akan goyah mendukung rakyat Burma,” ujar Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken dikutip kantor berita AFP, Selasa (23/2).

“Kami meminta kepada militer dan polisi untuk menghentikan semua serangan terhadap pengunjuk rasa damai, segera membebaskan semua yang ditahan secara tidak adil,” sambung Blinken dalam konferensi pers, Senin (22/2).

Dia juga mendesak personel junta menghentikan serangan dan intimidasi terhadap jurnalis dan aktivis, serta mengembalikan pemerintahan yang dipilih secara demokratis.

Pengumuman ini muncul beberapa jam setelah Uni Eropa juga menyetujui sanksi terhadap militer Myanmar, dengan meningkatkan tekanan internasional atas kudeta pada 1 Februari, di mana para jenderal menggulingkan pemimpin demokrasi Aung San Suu Kyi.

Junta militer Myanmar telah memperingatkan, pihaknya bersedia menggunakan kekuatan mematikan untuk menumpas demonstrasi yang semakin besar, setelah pengunjuk rasa ditembak mati selama akhir pekan.

Sebelumnya, AS telah menjatuhkan sanksi kepada tokoh-tokoh lainnya, termasuk Jenderal Min Aung Hlaing, panglima militer dan penguasa baru negara itu. [DAY]

]]> Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan sanksi terhadap dua pemimpin junta militer Myanmar, Senin (22/2). Kedua anggota tersebut adalah Jenderal Maung Maung Kyaw, Panglima Angkatan Udara, dan Letnan Jenderal Moe Myint Tun.

AS menyatakan, pihaknya memblokir properti dan melarang masuk dua anggota Dewan Pemerintah Myanmar tersebut. “Kami tidak akan ragu mengambil tindakan lebih lanjut terhadap mereka yang melakukan kekerasan dan menekan keinginan rakyat. Kami tidak akan goyah mendukung rakyat Burma,” ujar Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken dikutip kantor berita AFP, Selasa (23/2).

“Kami meminta kepada militer dan polisi untuk menghentikan semua serangan terhadap pengunjuk rasa damai, segera membebaskan semua yang ditahan secara tidak adil,” sambung Blinken dalam konferensi pers, Senin (22/2).

Dia juga mendesak personel junta menghentikan serangan dan intimidasi terhadap jurnalis dan aktivis, serta mengembalikan pemerintahan yang dipilih secara demokratis.

Pengumuman ini muncul beberapa jam setelah Uni Eropa juga menyetujui sanksi terhadap militer Myanmar, dengan meningkatkan tekanan internasional atas kudeta pada 1 Februari, di mana para jenderal menggulingkan pemimpin demokrasi Aung San Suu Kyi.

Junta militer Myanmar telah memperingatkan, pihaknya bersedia menggunakan kekuatan mematikan untuk menumpas demonstrasi yang semakin besar, setelah pengunjuk rasa ditembak mati selama akhir pekan.

Sebelumnya, AS telah menjatuhkan sanksi kepada tokoh-tokoh lainnya, termasuk Jenderal Min Aung Hlaing, panglima militer dan penguasa baru negara itu. [DAY]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories