Kutuk Pembunuhan Wartawan Al Jazeera, JFCC Tuntut Penyelidikan Independen

Jakarta Foreign Correspondents’ Club (JFCC) mengutuk keras pembunuhan wartawan Al Jazeera, Shireen Abu Akleh (51) dan menuntut penyelidikan independen atas kematiannya.

“Kami mengutuk semua tindak kekerasan terhadap pekerja media. Kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga dan teman-teman Shireen Abu Akleh, serta rekan kerjanya di Al Jazeera,” demikian pernyataan JFCC yang diterima redaksi, Jumat (13/5).

Abu Akleh adalah seorang jurnalis berita siaran terkemuka, yang telah menjalani karier di televisi selama hampir tiga dekade.

Saat ditembak mati ketika sedang meliput di Kota Jenin, Tepi Barat pada 11 Mei lalu, Abu Akleh mengenakan helm dan rompi pelindung bertuliskan “PRESS”. Tulisannya jelas terbaca.  

Dalam serangan ini, Ali al-Samudi – jurnalis Palestina yang bekerja sebagai produser Al Jazeera – dilaporkan terluka.

Wartawan yang menyaksikan penembakan itu, menggambarkannya sebagai pembunuhan yang disengaja oleh pasukan Israel. Jaringan media Al Jazeera bahkan menyebut pasukan Israel, sebagai pembunuh berdarah dingin.  

Terkait hal ini, militer Israel mengatakan, pihaknya tengah menyelidiki peristiwa penembakan tersebut. Serta mencari kemungkinan, bahwa para wartawan itu ditembak kelompok bersenjata Palestina. Namun, klaim tersebut dibantah para saksi. 

Reporters Without Borders menyebut pembunuhan itu sebagai pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2222 tentang Perlindungan Jurnalis. [HES]

]]> Jakarta Foreign Correspondents’ Club (JFCC) mengutuk keras pembunuhan wartawan Al Jazeera, Shireen Abu Akleh (51) dan menuntut penyelidikan independen atas kematiannya.

“Kami mengutuk semua tindak kekerasan terhadap pekerja media. Kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga dan teman-teman Shireen Abu Akleh, serta rekan kerjanya di Al Jazeera,” demikian pernyataan JFCC yang diterima redaksi, Jumat (13/5).

Abu Akleh adalah seorang jurnalis berita siaran terkemuka, yang telah menjalani karier di televisi selama hampir tiga dekade.

Saat ditembak mati ketika sedang meliput di Kota Jenin, Tepi Barat pada 11 Mei lalu, Abu Akleh mengenakan helm dan rompi pelindung bertuliskan “PRESS”. Tulisannya jelas terbaca.  

Dalam serangan ini, Ali al-Samudi – jurnalis Palestina yang bekerja sebagai produser Al Jazeera – dilaporkan terluka.

Wartawan yang menyaksikan penembakan itu, menggambarkannya sebagai pembunuhan yang disengaja oleh pasukan Israel. Jaringan media Al Jazeera bahkan menyebut pasukan Israel, sebagai pembunuh berdarah dingin.  

Terkait hal ini, militer Israel mengatakan, pihaknya tengah menyelidiki peristiwa penembakan tersebut. Serta mencari kemungkinan, bahwa para wartawan itu ditembak kelompok bersenjata Palestina. Namun, klaim tersebut dibantah para saksi. 

Reporters Without Borders menyebut pembunuhan itu sebagai pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2222 tentang Perlindungan Jurnalis. [HES]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories