Kunjungan Jokowi Ke Rusia Dan Ukraina, Ekonom: Baik Buat Ekonomi Indonesia

Rencana kunjungan Presiden Jokowi ke Rusia dan Ukraina, selain bisa mendorong perdamaian, juga berdampak baik bagi perekonomian global. Bahkan, bisa menyelamatkan Indonesia dari inflasi sangat tinggi yang dialami oleh negara-negara barat dan Amerika.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal, Sabtu (25/6).

Meski kunjungan tersebut adalah masalah politik, namun ada celah untuk menyelematkan ekonomi Indonesia dari bahaya inflasi.

“Politik tidak lepas dari masalah ekonomi. Karena kondisi global sekarang sedang mengalami inflasi sangat tinggi. Termasuk kenaikan harga energi di banyak negara, termasuk Amerika, Eropa dan menular ke Indonesia karena disebabkan konflik tersebut,” kata Faisal.

Menurut Faisal, konflik antara Rusia-Ukraina sangat berpengaruh dan mampu membuat kondisi pasar ambruk, terutama bagi negara-negara Eropa dan Amerika. 

Oleh karena itu, langkah Jokowi untuk mengunjungi dua negara tersebut sangat tepat. Karena ke depan, Indonesia akan mengalami dampak yang sangat besar jika konflik tersebut berkepanjangan. 

“Perang Rusia dan Ukraina penting yang mempengaruhi memburuknya kondisi ekonomi pasar pada tahun ini. Kalau ditanya apa manfaatnya, ya untuk meredam semakin memburuknya kondisi ekonomi global. Kalau tidak antisipasi, bisa memperburuk ekonomi dalam negeri,” ucapnya.

Indonesia sebagai negara bebas aktif memiliki peluang besar membuka dialog dengan Rusia dan Ukraina, dan tidak akan berpengaruh pada hubungan Indonesia dengan negara-negara barat atau keanggotaan NATO yang cenderung ke Ukraina. 

Oleh sebab itu, kunjungan ini tidak akan mempengaruhi hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara tersebut, apalagi Presiden Jokowi sebagai Ketua G20 yang memiliki kekuatan politik untuk menghadirkan kedamaian buat anggotanya yang sedang berkonflik. 

“Saya rasa kunjungan Pak Jokowi juga kapasitasnya sebagai Ketua G20 tahun ini, untuk memastikan konferensi di KTT G20 yang dilakukan di Bali akhir tahun ini berjalan lancar, walaupun anggotanya sedang berkonflik,” jelasnya.

Jadi, kunjungan Jokowi dalam rangka lobi untuk menjembatani dialog antara Rusia dan Ukraina, karena sudah ada ancaman dari blok NATO tidak mau datang ke KTT kalau Rusia hadir.

Menurutnya, Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Bebas artinya tidak memihak, kemudian aktif ikut secara aktif mewujudkan perdamaian dan menyelesaikan perekonomian global.

Sementara, pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdulloh mengatakan, rencana kunjungan Jokowi ke Rusia dan Ukraina adalah bagian dari diplomasi ekonomi yang memiliki keuntungan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Ini kan soal diplomasi ekonomi. Secara langsung, kalau Pak Jokowi bisa meredam tegangan Rusia-Ukraina dan perang udah berhenti, pasokan barang lancar maka harga-harga bisa turun. Misalnya, harga gandum gak naik, gas gak naik dan itu menguntungkan di sisi ekonomi,” ungkapnya.

Dikatakan Rusli, konflik antara dua negara penghasil gandum terbesar di dunia ini tidak bisa diprediksikan ujungnya. Jadi, kehadiran Jokowi ke Rusia dan Ukraina sangat tepat karena Indonesia memiliki kepentingan besar di dua negara tersebut. Pasalnya, Indonesia masih mengimpor gandum dari Rusia sebesar 25 persen, dan itu yang harus diperhatikan oleh pemerintah. 

“Mungkin kunjungan Pak Jokowi ke sana juga untuk melihat sejauh mana perang itu akan berlangsung, agar Indonesia bisa masuk menjual batu bara dan CPO. Kan sejauh ini negara-negara Eropa mendapat pasokan energi dari Rusia, dan mereka sedang konflik,” tutupnya.■

]]> Rencana kunjungan Presiden Jokowi ke Rusia dan Ukraina, selain bisa mendorong perdamaian, juga berdampak baik bagi perekonomian global. Bahkan, bisa menyelamatkan Indonesia dari inflasi sangat tinggi yang dialami oleh negara-negara barat dan Amerika.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal, Sabtu (25/6).

Meski kunjungan tersebut adalah masalah politik, namun ada celah untuk menyelematkan ekonomi Indonesia dari bahaya inflasi.

“Politik tidak lepas dari masalah ekonomi. Karena kondisi global sekarang sedang mengalami inflasi sangat tinggi. Termasuk kenaikan harga energi di banyak negara, termasuk Amerika, Eropa dan menular ke Indonesia karena disebabkan konflik tersebut,” kata Faisal.

Menurut Faisal, konflik antara Rusia-Ukraina sangat berpengaruh dan mampu membuat kondisi pasar ambruk, terutama bagi negara-negara Eropa dan Amerika. 

Oleh karena itu, langkah Jokowi untuk mengunjungi dua negara tersebut sangat tepat. Karena ke depan, Indonesia akan mengalami dampak yang sangat besar jika konflik tersebut berkepanjangan. 

“Perang Rusia dan Ukraina penting yang mempengaruhi memburuknya kondisi ekonomi pasar pada tahun ini. Kalau ditanya apa manfaatnya, ya untuk meredam semakin memburuknya kondisi ekonomi global. Kalau tidak antisipasi, bisa memperburuk ekonomi dalam negeri,” ucapnya.

Indonesia sebagai negara bebas aktif memiliki peluang besar membuka dialog dengan Rusia dan Ukraina, dan tidak akan berpengaruh pada hubungan Indonesia dengan negara-negara barat atau keanggotaan NATO yang cenderung ke Ukraina. 

Oleh sebab itu, kunjungan ini tidak akan mempengaruhi hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara tersebut, apalagi Presiden Jokowi sebagai Ketua G20 yang memiliki kekuatan politik untuk menghadirkan kedamaian buat anggotanya yang sedang berkonflik. 

“Saya rasa kunjungan Pak Jokowi juga kapasitasnya sebagai Ketua G20 tahun ini, untuk memastikan konferensi di KTT G20 yang dilakukan di Bali akhir tahun ini berjalan lancar, walaupun anggotanya sedang berkonflik,” jelasnya.

Jadi, kunjungan Jokowi dalam rangka lobi untuk menjembatani dialog antara Rusia dan Ukraina, karena sudah ada ancaman dari blok NATO tidak mau datang ke KTT kalau Rusia hadir.

Menurutnya, Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Bebas artinya tidak memihak, kemudian aktif ikut secara aktif mewujudkan perdamaian dan menyelesaikan perekonomian global.

Sementara, pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdulloh mengatakan, rencana kunjungan Jokowi ke Rusia dan Ukraina adalah bagian dari diplomasi ekonomi yang memiliki keuntungan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Ini kan soal diplomasi ekonomi. Secara langsung, kalau Pak Jokowi bisa meredam tegangan Rusia-Ukraina dan perang udah berhenti, pasokan barang lancar maka harga-harga bisa turun. Misalnya, harga gandum gak naik, gas gak naik dan itu menguntungkan di sisi ekonomi,” ungkapnya.

Dikatakan Rusli, konflik antara dua negara penghasil gandum terbesar di dunia ini tidak bisa diprediksikan ujungnya. Jadi, kehadiran Jokowi ke Rusia dan Ukraina sangat tepat karena Indonesia memiliki kepentingan besar di dua negara tersebut. Pasalnya, Indonesia masih mengimpor gandum dari Rusia sebesar 25 persen, dan itu yang harus diperhatikan oleh pemerintah. 

“Mungkin kunjungan Pak Jokowi ke sana juga untuk melihat sejauh mana perang itu akan berlangsung, agar Indonesia bisa masuk menjual batu bara dan CPO. Kan sejauh ini negara-negara Eropa mendapat pasokan energi dari Rusia, dan mereka sedang konflik,” tutupnya.■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories