KPK Buka Penyidikan Baru Kasus Jasindo Tebak-tebak Buah Manggis, Siapa Yang Bakal Meringis

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka penyidikan baru kasus korupsi pembayaran komisi agen fiktif PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo).

Kemarin, penyidik lembaga antirasuah memanggil sejumlah orang. Salah satunya, Kiagus Emil Fahmy Cornain. Orang kepercayaan Raden Priyono semasa menjabat Kepala BP Migas itu diketahui kecipratan Rp 1,3 miliar.

Tapi, menurut Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri, Kiagus berstatus saksi. Lalu siapa yang jadi tersangkanya? Ali tak bersedia membocorkannya. KPK seperti mengajak main tebak-tebak manggis, siapa yang bakal meringis di penyidikan baru ini.

“Proses penyidikan saat ini sedang berjalan dan pihak yang akan ditetapkan sebagai tersangka akan kami umumkan bersamaan penangkapan atau penahanannya,” dalih Ali.

Bersamaan dengan Kiagus, penyidik memeriksa Kepala Seksi Izin Tinggal/Status Keimigrasian pada Kantor Imigrasi Mataram Abdul Rahmat, karyawan BUMN SB Gautama Sayogha dan serta Budi Susilowati, seorang ibu rumah tangga.

Ali hanya menerangkan, semuanya diperiksa terkait jasa konsultasi bisnis asuransi dan reasuransi migas periode 2008-2012.

Pada penyidikan awal kasus ini, KPK menjerat mantan Direktur Utama Jasindo, Budi Tjahjono sebagai tersangka. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan vonis 7 tahun penjara kepadanya.

Budi juga dihukum membayar uang pengganti sebesar Rp 6 miliar dan 462.795 dolar AS. Majelis Hakim menyatakan Budi terbukti melakukan korupsi pada penutupan asuransi aset dan konstruksi pada BP Migas-Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) 2010-2012 dan 2012-2014.

Modus korupsinya, dengan merekayasa kegiatan agen dan pembayaran komisi kepada agen. Padahal, pada kegiatan itu tidak menggunakan jasa agen Jasindo.

Menurut hakim, perbuatan Budi memperkaya dirinya sendiri maupun orang lain. Yakni, Kiagus Emil Fahmy Cornain, orang kepercayaan Kepala BP Migas sebesar Rp 1,3 miliar.

Kemudian, Direktur Keuangan dan Investasi Jasindo, Solihah sebesar 198.340 dolar Amerika. Juga memperkaya Soepomo Hidjazie selaku Direktur PT Bravo Delta Persada (agen tahun 2008-2012) sebesar 137 ribu dolar Amerika.

 

Pada sidang perkara Budi terungkap Deputi Keuangan BP Migas saat itu, Wibowo Suseno Wirjawan alias Maman menerima uang 100 ribu dolar Amerika.

Untuk memenangkan tender penutupan asuransi aset dan konstruksi BP Migas-Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ta­hun 2010-2012 dan 2012-2014, Jasindo mendekati para pejabat BP Migas.

Sebelumnya, tender ini selalu dimenangkan Tugu Pratama, perusahaan asuransi anak usaha Pertamina. Tanpa bantuan Kiagus, Raden Priyono dan Maman Wirjawan, Jasindo sulit memenangkan tender.

Sebagai timbal-baliknya, Jasindo mengucurkan uang kepada pejabat BP Migas. Terdakwa mengakui kesalahan menyuap para pejabat itu.

Penyerahan uang ini dikuatkan keterangan sejumlah saksi. Salah satunya, Husin Iskandar alias Jimmy Iskandar, Direktur PT Putra Mandiri Selaras, perusahaan kontraktor. Ia pernah merenovasi rumah Maman di Widya Chandra Jakarta.

Jimmy mengungkapkan pernah disuruh Maman mengambil uang dari Kiagus di kantor Widjojo Centre. Setelah Jimmy menerima uang 100 ribu dolar AS, Maman menyuruh membawanya ke rumah.

Keesokan harinya Jimmy datang setelah menukarkan dolar itu menjadi rupiah. Penyerahan duit kepada Maman dilakukan dengan cara transfer ke rekening. Menurut Jimmy, uang itu digunakan untuk membayar renovasi rumah Maman setelah terjadi perampokan.

Maman yang dihadirkan se­bagai saksi kasus ini mengakui pernah menerima uang itu. Namun telah dikembalikan ke Kiagus. Pengembalian uang tanpa tanda terima.

Untuk menutup pembayaran uang untuk pejabat BP Migas, Budi pun merancang pengeluaran anggaran perusahaan. Anggaran itu seolah-olah untuk membayar komisi agen yang terlibat penutupan asuransi BP Migas-KKKS.

Setelah dilakukan pembayaran komisi fiktif, uang ditarik lagi. Dana ini yang diserahkan kepada pejabat BP Migas. Modus ini menyebabkan kerugian negara Rp 8,4 miliar dan 766.955,97 dolar Amerika (setara Rp 7,58 miliar). [BYU]

]]> Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka penyidikan baru kasus korupsi pembayaran komisi agen fiktif PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo).

Kemarin, penyidik lembaga antirasuah memanggil sejumlah orang. Salah satunya, Kiagus Emil Fahmy Cornain. Orang kepercayaan Raden Priyono semasa menjabat Kepala BP Migas itu diketahui kecipratan Rp 1,3 miliar.

Tapi, menurut Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri, Kiagus berstatus saksi. Lalu siapa yang jadi tersangkanya? Ali tak bersedia membocorkannya. KPK seperti mengajak main tebak-tebak manggis, siapa yang bakal meringis di penyidikan baru ini.

“Proses penyidikan saat ini sedang berjalan dan pihak yang akan ditetapkan sebagai tersangka akan kami umumkan bersamaan penangkapan atau penahanannya,” dalih Ali.

Bersamaan dengan Kiagus, penyidik memeriksa Kepala Seksi Izin Tinggal/Status Keimigrasian pada Kantor Imigrasi Mataram Abdul Rahmat, karyawan BUMN SB Gautama Sayogha dan serta Budi Susilowati, seorang ibu rumah tangga.

Ali hanya menerangkan, semuanya diperiksa terkait jasa konsultasi bisnis asuransi dan reasuransi migas periode 2008-2012.

Pada penyidikan awal kasus ini, KPK menjerat mantan Direktur Utama Jasindo, Budi Tjahjono sebagai tersangka. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan vonis 7 tahun penjara kepadanya.

Budi juga dihukum membayar uang pengganti sebesar Rp 6 miliar dan 462.795 dolar AS. Majelis Hakim menyatakan Budi terbukti melakukan korupsi pada penutupan asuransi aset dan konstruksi pada BP Migas-Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) 2010-2012 dan 2012-2014.

Modus korupsinya, dengan merekayasa kegiatan agen dan pembayaran komisi kepada agen. Padahal, pada kegiatan itu tidak menggunakan jasa agen Jasindo.

Menurut hakim, perbuatan Budi memperkaya dirinya sendiri maupun orang lain. Yakni, Kiagus Emil Fahmy Cornain, orang kepercayaan Kepala BP Migas sebesar Rp 1,3 miliar.

Kemudian, Direktur Keuangan dan Investasi Jasindo, Solihah sebesar 198.340 dolar Amerika. Juga memperkaya Soepomo Hidjazie selaku Direktur PT Bravo Delta Persada (agen tahun 2008-2012) sebesar 137 ribu dolar Amerika.

 

Pada sidang perkara Budi terungkap Deputi Keuangan BP Migas saat itu, Wibowo Suseno Wirjawan alias Maman menerima uang 100 ribu dolar Amerika.

Untuk memenangkan tender penutupan asuransi aset dan konstruksi BP Migas-Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ta­hun 2010-2012 dan 2012-2014, Jasindo mendekati para pejabat BP Migas.

Sebelumnya, tender ini selalu dimenangkan Tugu Pratama, perusahaan asuransi anak usaha Pertamina. Tanpa bantuan Kiagus, Raden Priyono dan Maman Wirjawan, Jasindo sulit memenangkan tender.

Sebagai timbal-baliknya, Jasindo mengucurkan uang kepada pejabat BP Migas. Terdakwa mengakui kesalahan menyuap para pejabat itu.

Penyerahan uang ini dikuatkan keterangan sejumlah saksi. Salah satunya, Husin Iskandar alias Jimmy Iskandar, Direktur PT Putra Mandiri Selaras, perusahaan kontraktor. Ia pernah merenovasi rumah Maman di Widya Chandra Jakarta.

Jimmy mengungkapkan pernah disuruh Maman mengambil uang dari Kiagus di kantor Widjojo Centre. Setelah Jimmy menerima uang 100 ribu dolar AS, Maman menyuruh membawanya ke rumah.

Keesokan harinya Jimmy datang setelah menukarkan dolar itu menjadi rupiah. Penyerahan duit kepada Maman dilakukan dengan cara transfer ke rekening. Menurut Jimmy, uang itu digunakan untuk membayar renovasi rumah Maman setelah terjadi perampokan.

Maman yang dihadirkan se­bagai saksi kasus ini mengakui pernah menerima uang itu. Namun telah dikembalikan ke Kiagus. Pengembalian uang tanpa tanda terima.

Untuk menutup pembayaran uang untuk pejabat BP Migas, Budi pun merancang pengeluaran anggaran perusahaan. Anggaran itu seolah-olah untuk membayar komisi agen yang terlibat penutupan asuransi BP Migas-KKKS.

Setelah dilakukan pembayaran komisi fiktif, uang ditarik lagi. Dana ini yang diserahkan kepada pejabat BP Migas. Modus ini menyebabkan kerugian negara Rp 8,4 miliar dan 766.955,97 dolar Amerika (setara Rp 7,58 miliar). [BYU]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories