Korut Uji Coba Rudal Lagi, Biden Cuek .

Presiden Amerika Serikat Joe Biden menanggapi santai uji coba penembakan rudal jarak pendek dan menengah yang baru saja dilakukan Korea Utara akhir pekan kemarin. Ini merupakan uji coba rudal perdana yang dilakukan Korut, di masa pemerintahan Joe Biden.

Berbeda dengan pendahulunya yang otomatis akan mengecam langkah Pyongyang, pihak Biden justru cuek. Dia tidak menganggap ini sebagai langkah provokasi. Menurut Biden, para pejabat pertahanan AS menilai uji coba misil Korut itu lumrah.

Korea Utara telah menembakkan rudal jelajah non balistik, yang tidak melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, selama akhir pekan.

Uji coba itu terjadi setelah Korut mengkritik AS dan Korea Selatan karena melakukan latihan militer bersama. Aksi ini juga terjadi ketika pemerintahan Biden terus berusaha membangun hubungan diplomatik dengan Korea Utara.

Peluncuran tersebut, yang awalnya dilaporkan oleh media AS, telah dikonfirmasi pejabat AS dan Kementerian Pertahanan Korea Selatan. Korea Selatan mengatakan, dua rudal jelajah ditembakkan ke Laut Kuning pada Minggu (21/3/2021) pagi dari Onchon di Korea Utara.

“Ya, kami mendengar kabar tersebut. Tidak ada yang berbeda. Ini hal biasa,” ujar Biden kepada jurnalis, Selasa (23/3), dikutip Reuters, Rabu (24/3).

Ketika ditanya apakah dia menganggap tes itu sebagai provokasi, Biden menjawab tegas bahwa itu bukan tindakan provokasi.

Resolusi Dewan Keamanan PBB, yang menerapkan sanksi ketat terhadap Korea Utara, hanya melarang Pyongyang menembakkan senjata yang mengancam seperti rudal balistik.

Pejabat senior AS secara terpisah mengatakan, mereka menganggap tindakan itu sebagai aktivitas militer paling normal oleh Korea Utara.

 

Biasanya, ketika Korea Utara uji coba senjata canggih seperti senjata nuklir dan rudal balistik, pasukan gabungan Korsel-AS /JCS melaporkan hampir secara real time. Namun berbeda dengan uji senjata tingkat rendah dan jarak pendek.

Sementara para pengamat menganggapnya sebagai tantangan sederhana bagi pemerintahan baru Presiden Biden, sama seperti upaya pembukaan untuk terlibat dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dalam pembicaraan tentang denuklirisasi.

Peluncuran rudal itu juga dilakukan hanya beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin mengunjungi Jepang dan Korea Selatan, untuk membahas masalah aliansi dan keamanan mereka di kawasan itu. Dalam konteks ini, Korea Utara yang memiliki senjata nuklir, dipandang sebagai ancaman utama.

Blinken dan Austin juga menyaksikan latihan gabungan pada 8-17 Maret oleh pasukan pertahanan AS dan Korea Selatan.

Peluncuran semacam itu, terutama rudal balistik berkemampuan nuklir, biasanya disertai dengan pengumuman sombong dari Korut dan komentar keras dari Korsel.

Sementara pakar tentang Korea Utara, Martyn Williams dari Stimson Center menyebut, diamnya AS itu sebagai suatu hal yang menimbulkan rasa penasaran.

Korut sendiri belum mengakui, bahwa Presiden Biden sekarang telah menjabat. Kedua negara tetap berselisih mengenai program nuklir dan rudal balistik Korea Utara.

Selama kampanye Pemilu AS lalu, Biden menyebut Kim “penjahat” dan mengatakan, perlucutan senjata nuklir Korea Utara harus terjadi sebelum sanksi ekonomi AS dan PBB bisa dilonggarkan. [DAY]

]]> .
Presiden Amerika Serikat Joe Biden menanggapi santai uji coba penembakan rudal jarak pendek dan menengah yang baru saja dilakukan Korea Utara akhir pekan kemarin. Ini merupakan uji coba rudal perdana yang dilakukan Korut, di masa pemerintahan Joe Biden.

Berbeda dengan pendahulunya yang otomatis akan mengecam langkah Pyongyang, pihak Biden justru cuek. Dia tidak menganggap ini sebagai langkah provokasi. Menurut Biden, para pejabat pertahanan AS menilai uji coba misil Korut itu lumrah.

Korea Utara telah menembakkan rudal jelajah non balistik, yang tidak melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, selama akhir pekan.

Uji coba itu terjadi setelah Korut mengkritik AS dan Korea Selatan karena melakukan latihan militer bersama. Aksi ini juga terjadi ketika pemerintahan Biden terus berusaha membangun hubungan diplomatik dengan Korea Utara.

Peluncuran tersebut, yang awalnya dilaporkan oleh media AS, telah dikonfirmasi pejabat AS dan Kementerian Pertahanan Korea Selatan. Korea Selatan mengatakan, dua rudal jelajah ditembakkan ke Laut Kuning pada Minggu (21/3/2021) pagi dari Onchon di Korea Utara.

“Ya, kami mendengar kabar tersebut. Tidak ada yang berbeda. Ini hal biasa,” ujar Biden kepada jurnalis, Selasa (23/3), dikutip Reuters, Rabu (24/3).

Ketika ditanya apakah dia menganggap tes itu sebagai provokasi, Biden menjawab tegas bahwa itu bukan tindakan provokasi.

Resolusi Dewan Keamanan PBB, yang menerapkan sanksi ketat terhadap Korea Utara, hanya melarang Pyongyang menembakkan senjata yang mengancam seperti rudal balistik.

Pejabat senior AS secara terpisah mengatakan, mereka menganggap tindakan itu sebagai aktivitas militer paling normal oleh Korea Utara.

 

Biasanya, ketika Korea Utara uji coba senjata canggih seperti senjata nuklir dan rudal balistik, pasukan gabungan Korsel-AS /JCS melaporkan hampir secara real time. Namun berbeda dengan uji senjata tingkat rendah dan jarak pendek.

Sementara para pengamat menganggapnya sebagai tantangan sederhana bagi pemerintahan baru Presiden Biden, sama seperti upaya pembukaan untuk terlibat dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dalam pembicaraan tentang denuklirisasi.

Peluncuran rudal itu juga dilakukan hanya beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin mengunjungi Jepang dan Korea Selatan, untuk membahas masalah aliansi dan keamanan mereka di kawasan itu. Dalam konteks ini, Korea Utara yang memiliki senjata nuklir, dipandang sebagai ancaman utama.

Blinken dan Austin juga menyaksikan latihan gabungan pada 8-17 Maret oleh pasukan pertahanan AS dan Korea Selatan.

Peluncuran semacam itu, terutama rudal balistik berkemampuan nuklir, biasanya disertai dengan pengumuman sombong dari Korut dan komentar keras dari Korsel.

Sementara pakar tentang Korea Utara, Martyn Williams dari Stimson Center menyebut, diamnya AS itu sebagai suatu hal yang menimbulkan rasa penasaran.

Korut sendiri belum mengakui, bahwa Presiden Biden sekarang telah menjabat. Kedua negara tetap berselisih mengenai program nuklir dan rudal balistik Korea Utara.

Selama kampanye Pemilu AS lalu, Biden menyebut Kim “penjahat” dan mengatakan, perlucutan senjata nuklir Korea Utara harus terjadi sebelum sanksi ekonomi AS dan PBB bisa dilonggarkan. [DAY]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories