Konsisten Terapkan Protokol Kesehatan Jumlah Penumpang MRT Merangkak Naik .

Jumlah penumpang Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta mulai merangkak naik dibandingkan awal pandemi. Pengelola memastikan protokol kesehatan (prokes) tetap dilaksanakan dengan ketat.

Selama pandemi Covid-19 melanda Indonesia sejak Maret 2020, nyaris seluruh sektor lumpuh, termasuk sektor transportasi. Jumlah penumpang MRT Jakarta turun drastis sejak pandemi mampir ke Ibu Kota. Target 100 ribu penumpang per hari pada 2020, hanya tercapai 27 ribu penumpang per hari.

Namun, kini kondisi MRT mulai pulih berkat program vaksinasi dan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro, dan menurunnya angka kasus positif Covid-19 di Jakarta. Warga sudah mulai kembali naik moda transportasi massal kebanggan Kota Jakarta ini. Termasuk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Mantan Menteri Pendidikan ini ternyata rutin naik MRT. Ini terlihat dari unggahan di berbagai akun media sosialnya @aniesbaswedan.

Anies menilai, prokes kesehatan dijalankan oleh disiplin oleh MRT. “Protokol kesehatan ketat dijalankan sejak memasuki area stasiun. Semua penumpang diukur suhunya dan wajib memakai masker dengan benar. Ketika di dalam ratangga pun dilarang mengobrol maupun berbicara melalui telepon,” tulis Anies.

Kapasitas MRT Jakarta, kata Anies, sebelum berlakunya prokes ketat antara 144 sampai 158 penumpang baik yang duduk maupun berdiri. Jumlah itu berkurang hingga menjadi 62 sampai 67 penumpang dalam 1 kereta. Pengurangan jumlah ini untuk membuat penumpang dapat menjaga jarak satu sama lain di kereta.

Menurut Anies, keuntungan naik MRT adalah bebas macet sehingga punya waktu lebih sebelum ngantor ke Balai Kota. Di Stasiun Dukuh Atas, Anies sempat inspeksi beberapa fasilitas publik di sekitar. “Teman-teman ada yang sering naik atau turun MRT dari Dukuh Atas? Ada jajanan apa yang enak di sekitar sini?” tanya Anies menutup ceritanya.

Penumpang Nambah

Berdasarkan pantauan, aktivitas lalu lintas di Ibu Kota memang kian meningkat. Jalanan sudah mulai macet parah. Imbasnya, warga mulai kembali naik MRT Jakarta. Direktur Utama (Dirut) PT MRT Jakarta William P. Sabandar mencatat, sejak Januari 2021, ada tanda-tanda jumlah kenaikan penumpang.

“Maret ini kita sudah mencapai di atas 20 ribu penumpang per hari. Malah kadang-kadang kalau di hari sibuk bisa sampai 24 ribu. Saat akhir pekan 18 ribu. Jadi bervariasi antara 18 ribu sampai ke 24 ribu,” ungkapnya dalam diskusi virtual, Rabu (17/3).

 

Pada Maret 2020, saat pertama kali kasus Covid-19 diumumkan masuk ke Indonesia, penurunan penumpang terjadi drastis. Dari rata-rata 46.279 per hari, memasuki bulan April hanya 4.059 penumpang per hari.

Mei adalah bulan dengan penumpang terendah dalam sejarah dua tahun MRT beroperasi, yakni cuma 1.405 penumpang. Jumlah penumpang membaik ketika ada kampanye new normal pada pertengahan Juni 2020, ada peningkatan penumpang menjadi 11.151 per hari.

Peningkatan terus berlanjut, namun berjalan pelan. Rata-rata penumpang harian meningkat menjadi 13.694 orang. Memasuki Februari 2021, meningkat kembali menjadi 16.812 orang. Nah, di bulan Maret, peningkatan mulai lumayan kenceng yakni menjadi 20.728 penumpang per hari. “Inilah pertama kali sejak Maret 2020, MRT mulai mencatatkan kenaikan jumlah penumpang yang cukup signifikan,” ungkap William.

Setelah hampir dua tahun resmi beroperasi di Jakarta, tepatnya dari 24 Maret 2019 hingga 16 Maret 2021, MRT telah mengangkut sebanyak 35,5 juta penumpang dengan 155.640 perjalanan.

William berharap, jumlah penumpang bertambah signifikan seiring pulihnya berbagai sektor kehidupan. Dia menargetkan MRT Jakarta mengangkut 65.000 penumpang per hari di akhir tahun 2021.

Selama beroperasi, MRT Jakarta juga tidak pernah mendapatkan kasus atau kecelakaan besar. Menurutnya, dari segi operasional, perusahaan juga mencatatkan ketepatan waktu kedatangan antarstasiun atau arriving time hingga 99,93 persen. Sementara pencapaian ketepatan berhenti di stasiun atau dwelling time sebesar 99,97 persen. Pencapaian ketepatan waktu tempuh kereta per lintas atau travelling time mencapai 99,95 persen.

“Achievement amat membahagiakan. On time performance yang tetap hampir 100 persen selama dua tahun,” tambah William.

Dia yakin, tahun 2021 MRT akan Revive and Grow Sustainably. Revive adalah kembali hidup atau pulih, dan beraktivitas normal. Grow Sustainably adalah bertumbuh kembang berkelanjutan setelah terbukti daya tahannya terbentuk melewati badai krisis.

“Strategi utama kita adalah tetap taat pada penerapan protokol kesehatan Covid-19 ketat. Sembari melakukan berbagai langkah pemulihan dan bergerak maju menjalankan misi utama dan mandat pengembangan,” tandas William.

 

Inovasi Dan Integrasi

PT MRT Jakarta terus melakukan terobosan untuk melayani penumpang. Salah satunya mengizinkan masyarakat membawa sepeda ke dalam Ratangga. Selama ini, memang boleh bawa sepeda ke dalam, namun hanya sepeda lipat.

Pihaknya tengah mempersiapkan dengan hati-hati. Soft launching aturan ini direncanakan pada 24 Maret mendatang, tepat dua tahun ulang tahun MRT, di tiga stasiun di Lebak Bulus Grab, Blok MBCA, dan Bundaran HI.

“Nantinya akan ada gerbong khusus. Sedang kita godok konsepnya. Ini sejalan dengan konsep Jakarta semakin ramah bukan hanya untuk pejalan kaki, melainkan juga untuk pesepeda,” tambah William. PT MRT juga terus melakukan upaya integrasi layanan transportasi massal. Bukan hanya persoalan kempemilikan saham dan aksi korporasi semata yang dilakukan, tapi agar publik merasakan layanan yang maksimal.

Pihaknya akan berkolaborasi dengan pihak baik dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, Pemprov DKI Jakarta, PT Kereta Api Indonesia, dan PT Transjkarta yang merupakan bagian dari kerja sama menyiapkan sistem tranporasi publik yang terintegrasi.

Saat ini integrasi telah diterapkan di Stasiun Tanah Abang, Pasar Senen, Sudirman, dan Juanda. Stasiun-stasiun lainnya juga sedang dikerjakan. Seperti Tebet, Gondagdia, Jakarta Kota. Selain itu kerja sama dengan operator lewat aksi korporasi dalam integrasi tiket lewat Jak Lingko.

PT MRT Jakarta juga berencana mengakuisisi anak usaha PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), anak usaha PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai salah satu langkah mewujudkan integrasi. Proses ini masih dalam tahap due diligence untuk menentukan nilai aset dan valuasi dari PT KCI. Aksi ini juga berdasarkan penugasan dari Gubernur DKI Jakarta dan inisiasi dari Pemerintah Pusat untuk integrasi moda transportasi di Ibu Kota.

Selain itu, aksi korporasi ini akan membuat Pemprov DKI Jakarta memiliki kewenangan memanfaatkan dan mengelola stasiun serta kawasan sekitarnya. Pemprov DKI Jakarta akan mendapatkan manfaat untuk menata kota serta mengintegrasikan berbagai moda transportasi publik.

“Integrasi ini bisa terjadi kalau kita sama-sama melepas jaket masing-masing dan mengutamakan kepentingan bersama. Kalau sebelumnya masing-masing pihak berkompetisi, sekarang hanya lewat kolaborasi ini bisa dilakukan pelayanan lebih bagus,” ajak William. [FAQ]

]]> .
Jumlah penumpang Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta mulai merangkak naik dibandingkan awal pandemi. Pengelola memastikan protokol kesehatan (prokes) tetap dilaksanakan dengan ketat.

Selama pandemi Covid-19 melanda Indonesia sejak Maret 2020, nyaris seluruh sektor lumpuh, termasuk sektor transportasi. Jumlah penumpang MRT Jakarta turun drastis sejak pandemi mampir ke Ibu Kota. Target 100 ribu penumpang per hari pada 2020, hanya tercapai 27 ribu penumpang per hari.

Namun, kini kondisi MRT mulai pulih berkat program vaksinasi dan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro, dan menurunnya angka kasus positif Covid-19 di Jakarta. Warga sudah mulai kembali naik moda transportasi massal kebanggan Kota Jakarta ini. Termasuk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Mantan Menteri Pendidikan ini ternyata rutin naik MRT. Ini terlihat dari unggahan di berbagai akun media sosialnya @aniesbaswedan.

Anies menilai, prokes kesehatan dijalankan oleh disiplin oleh MRT. “Protokol kesehatan ketat dijalankan sejak memasuki area stasiun. Semua penumpang diukur suhunya dan wajib memakai masker dengan benar. Ketika di dalam ratangga pun dilarang mengobrol maupun berbicara melalui telepon,” tulis Anies.

Kapasitas MRT Jakarta, kata Anies, sebelum berlakunya prokes ketat antara 144 sampai 158 penumpang baik yang duduk maupun berdiri. Jumlah itu berkurang hingga menjadi 62 sampai 67 penumpang dalam 1 kereta. Pengurangan jumlah ini untuk membuat penumpang dapat menjaga jarak satu sama lain di kereta.

Menurut Anies, keuntungan naik MRT adalah bebas macet sehingga punya waktu lebih sebelum ngantor ke Balai Kota. Di Stasiun Dukuh Atas, Anies sempat inspeksi beberapa fasilitas publik di sekitar. “Teman-teman ada yang sering naik atau turun MRT dari Dukuh Atas? Ada jajanan apa yang enak di sekitar sini?” tanya Anies menutup ceritanya.

Penumpang Nambah

Berdasarkan pantauan, aktivitas lalu lintas di Ibu Kota memang kian meningkat. Jalanan sudah mulai macet parah. Imbasnya, warga mulai kembali naik MRT Jakarta. Direktur Utama (Dirut) PT MRT Jakarta William P. Sabandar mencatat, sejak Januari 2021, ada tanda-tanda jumlah kenaikan penumpang.

“Maret ini kita sudah mencapai di atas 20 ribu penumpang per hari. Malah kadang-kadang kalau di hari sibuk bisa sampai 24 ribu. Saat akhir pekan 18 ribu. Jadi bervariasi antara 18 ribu sampai ke 24 ribu,” ungkapnya dalam diskusi virtual, Rabu (17/3).

 

Pada Maret 2020, saat pertama kali kasus Covid-19 diumumkan masuk ke Indonesia, penurunan penumpang terjadi drastis. Dari rata-rata 46.279 per hari, memasuki bulan April hanya 4.059 penumpang per hari.

Mei adalah bulan dengan penumpang terendah dalam sejarah dua tahun MRT beroperasi, yakni cuma 1.405 penumpang. Jumlah penumpang membaik ketika ada kampanye new normal pada pertengahan Juni 2020, ada peningkatan penumpang menjadi 11.151 per hari.

Peningkatan terus berlanjut, namun berjalan pelan. Rata-rata penumpang harian meningkat menjadi 13.694 orang. Memasuki Februari 2021, meningkat kembali menjadi 16.812 orang. Nah, di bulan Maret, peningkatan mulai lumayan kenceng yakni menjadi 20.728 penumpang per hari. “Inilah pertama kali sejak Maret 2020, MRT mulai mencatatkan kenaikan jumlah penumpang yang cukup signifikan,” ungkap William.

Setelah hampir dua tahun resmi beroperasi di Jakarta, tepatnya dari 24 Maret 2019 hingga 16 Maret 2021, MRT telah mengangkut sebanyak 35,5 juta penumpang dengan 155.640 perjalanan.

William berharap, jumlah penumpang bertambah signifikan seiring pulihnya berbagai sektor kehidupan. Dia menargetkan MRT Jakarta mengangkut 65.000 penumpang per hari di akhir tahun 2021.

Selama beroperasi, MRT Jakarta juga tidak pernah mendapatkan kasus atau kecelakaan besar. Menurutnya, dari segi operasional, perusahaan juga mencatatkan ketepatan waktu kedatangan antarstasiun atau arriving time hingga 99,93 persen. Sementara pencapaian ketepatan berhenti di stasiun atau dwelling time sebesar 99,97 persen. Pencapaian ketepatan waktu tempuh kereta per lintas atau travelling time mencapai 99,95 persen.

“Achievement amat membahagiakan. On time performance yang tetap hampir 100 persen selama dua tahun,” tambah William.

Dia yakin, tahun 2021 MRT akan Revive and Grow Sustainably. Revive adalah kembali hidup atau pulih, dan beraktivitas normal. Grow Sustainably adalah bertumbuh kembang berkelanjutan setelah terbukti daya tahannya terbentuk melewati badai krisis.

“Strategi utama kita adalah tetap taat pada penerapan protokol kesehatan Covid-19 ketat. Sembari melakukan berbagai langkah pemulihan dan bergerak maju menjalankan misi utama dan mandat pengembangan,” tandas William.

 

Inovasi Dan Integrasi

PT MRT Jakarta terus melakukan terobosan untuk melayani penumpang. Salah satunya mengizinkan masyarakat membawa sepeda ke dalam Ratangga. Selama ini, memang boleh bawa sepeda ke dalam, namun hanya sepeda lipat.

Pihaknya tengah mempersiapkan dengan hati-hati. Soft launching aturan ini direncanakan pada 24 Maret mendatang, tepat dua tahun ulang tahun MRT, di tiga stasiun di Lebak Bulus Grab, Blok MBCA, dan Bundaran HI.

“Nantinya akan ada gerbong khusus. Sedang kita godok konsepnya. Ini sejalan dengan konsep Jakarta semakin ramah bukan hanya untuk pejalan kaki, melainkan juga untuk pesepeda,” tambah William. PT MRT juga terus melakukan upaya integrasi layanan transportasi massal. Bukan hanya persoalan kempemilikan saham dan aksi korporasi semata yang dilakukan, tapi agar publik merasakan layanan yang maksimal.

Pihaknya akan berkolaborasi dengan pihak baik dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, Pemprov DKI Jakarta, PT Kereta Api Indonesia, dan PT Transjkarta yang merupakan bagian dari kerja sama menyiapkan sistem tranporasi publik yang terintegrasi.

Saat ini integrasi telah diterapkan di Stasiun Tanah Abang, Pasar Senen, Sudirman, dan Juanda. Stasiun-stasiun lainnya juga sedang dikerjakan. Seperti Tebet, Gondagdia, Jakarta Kota. Selain itu kerja sama dengan operator lewat aksi korporasi dalam integrasi tiket lewat Jak Lingko.

PT MRT Jakarta juga berencana mengakuisisi anak usaha PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), anak usaha PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai salah satu langkah mewujudkan integrasi. Proses ini masih dalam tahap due diligence untuk menentukan nilai aset dan valuasi dari PT KCI. Aksi ini juga berdasarkan penugasan dari Gubernur DKI Jakarta dan inisiasi dari Pemerintah Pusat untuk integrasi moda transportasi di Ibu Kota.

Selain itu, aksi korporasi ini akan membuat Pemprov DKI Jakarta memiliki kewenangan memanfaatkan dan mengelola stasiun serta kawasan sekitarnya. Pemprov DKI Jakarta akan mendapatkan manfaat untuk menata kota serta mengintegrasikan berbagai moda transportasi publik.

“Integrasi ini bisa terjadi kalau kita sama-sama melepas jaket masing-masing dan mengutamakan kepentingan bersama. Kalau sebelumnya masing-masing pihak berkompetisi, sekarang hanya lewat kolaborasi ini bisa dilakukan pelayanan lebih bagus,” ajak William. [FAQ]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories