Kisah Perkembangan Islam di Kuba Ada yang Jadi Mualaf Gara-gara Nonton Film Malcolm X

Muslim di Kuba, mengalami perkembangan jumlah dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Pada awal tahun 2000-an, jumlah muslim di negara sosialis-komunis itu berjumlah sekitar 5.000. Sementara hari ini, jumlahnya sekitar 10 ribu.

Duta Besar RI untuk Kuba, Nana Yuliana mengungkapkan, muslim sudah datang ke Kuba sejak abad ke-16. Saat itu, Spanyol, yang menjajah negara itu, membawa budak-budak dari Afrika Barat yang beragama Islam untuk dipekerjakan di kebun-kebun.

Lepas dari Spanyol, Kuba sempat dipegang Amerika Serikat (AS) pada 1848. Kemudian, tahun 1959 terjadi revolusi di Kuba yang dipelopori dan dipimpin Fidel Castro.

“Pada awalnya Islam, bukan hanya Islam, tapi agama-agama lain dilarang. Agama tidak diakui dan berkembang. Kemudian pada saat itu gereja-gereja yang merupakan peninggalan Spanyol, tidak diperkenankan dipraktikkan,” tutur Nana dalam talk show RM.id bertajuk “Cerita Lebaran dari Kuba”, Jumat (14/5) malam.

Kuba baru mulai membuka diri pada agama ketika pada 1998, Paus Paulus mengunjungi negara itu. Fidel Castro memberikan masyarakat kesempatan untuk beragama. “Artinya bisa ke gereja, mulai diizinkan untuk dijadikan tempat beribadah,” imbuhnya.

Kristen dan Katolik berkembang. Islam, yang jadi agama minoritas di sana, ikut mengalami perkembangan. Tahun 2000-an jumlah muslim ada sekitar 5.000-an. Kemudian terus berkembang hingga hari ini ada 10 ribu orang. Sebanyak 2.000 di antaranya, ada di Havana, ibu kota Kuba. Sisanya tersebar di provinsi-provinsi lain.

Perkembangan Islam, salah satunya dipengaruhi para mahasiswa dari Pakistan yang menuntut ilmu kedokteran di negara itu.

“Saat itu Pakistan mengalami bencana alam, dan Kuba memberikan beasiswa kepada hampir 1.000 orang, khususnya di bidang kedokteran. Para mahasiswa ini yang membantu mengembangkan dan menguatkan Islam,” beber Nana.

Pada 2015, pemerintah Kuba memberikan satu gedung untuk dijadikan masjid di Havana. Namanya, Masjid Abdallah. “Ini masjid satu-satunya di Havana. Dulunya gedung ini untuk pameran mobil, museum mobil. Bisa menampung 400 orang,” tuturnya.

Kebanyakan, kata Nana, muslim di Kuba merupakan mualaf. Mereka memilih memeluk Islam karena beragam alasan. Salah satu yang unik, ditemui Nana di Camaguay, sebuah provinsi di Kuba yang berjarak tempuh sekitar 8 jam dari Havana.

“Waktu saya tanya seorang Imam di sana, kenapa dia masuk Islam. Dia bilang, karena nonton film Malcolm X, dia terinspirasi,” kisah Nana.

Ada juga yang memilih menjadi muslim karena mendengar cerita dan membaca buku tentang Islam. “Ada yang semula tidak beragama, kemudian mencari ketenangan, dan mendapatkannya di Islam,” imbuh dia.

Sementara jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang beragama Islam di Kuba, kata Nana, hanya 56 orang. Itu pun terpisah-pisah di berbagai provinsi. [OKT]

]]> Muslim di Kuba, mengalami perkembangan jumlah dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Pada awal tahun 2000-an, jumlah muslim di negara sosialis-komunis itu berjumlah sekitar 5.000. Sementara hari ini, jumlahnya sekitar 10 ribu.

Duta Besar RI untuk Kuba, Nana Yuliana mengungkapkan, muslim sudah datang ke Kuba sejak abad ke-16. Saat itu, Spanyol, yang menjajah negara itu, membawa budak-budak dari Afrika Barat yang beragama Islam untuk dipekerjakan di kebun-kebun.

Lepas dari Spanyol, Kuba sempat dipegang Amerika Serikat (AS) pada 1848. Kemudian, tahun 1959 terjadi revolusi di Kuba yang dipelopori dan dipimpin Fidel Castro.

“Pada awalnya Islam, bukan hanya Islam, tapi agama-agama lain dilarang. Agama tidak diakui dan berkembang. Kemudian pada saat itu gereja-gereja yang merupakan peninggalan Spanyol, tidak diperkenankan dipraktikkan,” tutur Nana dalam talk show RM.id bertajuk “Cerita Lebaran dari Kuba”, Jumat (14/5) malam.

Kuba baru mulai membuka diri pada agama ketika pada 1998, Paus Paulus mengunjungi negara itu. Fidel Castro memberikan masyarakat kesempatan untuk beragama. “Artinya bisa ke gereja, mulai diizinkan untuk dijadikan tempat beribadah,” imbuhnya.

Kristen dan Katolik berkembang. Islam, yang jadi agama minoritas di sana, ikut mengalami perkembangan. Tahun 2000-an jumlah muslim ada sekitar 5.000-an. Kemudian terus berkembang hingga hari ini ada 10 ribu orang. Sebanyak 2.000 di antaranya, ada di Havana, ibu kota Kuba. Sisanya tersebar di provinsi-provinsi lain.

Perkembangan Islam, salah satunya dipengaruhi para mahasiswa dari Pakistan yang menuntut ilmu kedokteran di negara itu.

“Saat itu Pakistan mengalami bencana alam, dan Kuba memberikan beasiswa kepada hampir 1.000 orang, khususnya di bidang kedokteran. Para mahasiswa ini yang membantu mengembangkan dan menguatkan Islam,” beber Nana.

Pada 2015, pemerintah Kuba memberikan satu gedung untuk dijadikan masjid di Havana. Namanya, Masjid Abdallah. “Ini masjid satu-satunya di Havana. Dulunya gedung ini untuk pameran mobil, museum mobil. Bisa menampung 400 orang,” tuturnya.

Kebanyakan, kata Nana, muslim di Kuba merupakan mualaf. Mereka memilih memeluk Islam karena beragam alasan. Salah satu yang unik, ditemui Nana di Camaguay, sebuah provinsi di Kuba yang berjarak tempuh sekitar 8 jam dari Havana.

“Waktu saya tanya seorang Imam di sana, kenapa dia masuk Islam. Dia bilang, karena nonton film Malcolm X, dia terinspirasi,” kisah Nana.

Ada juga yang memilih menjadi muslim karena mendengar cerita dan membaca buku tentang Islam. “Ada yang semula tidak beragama, kemudian mencari ketenangan, dan mendapatkannya di Islam,” imbuh dia.

Sementara jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang beragama Islam di Kuba, kata Nana, hanya 56 orang. Itu pun terpisah-pisah di berbagai provinsi. [OKT]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories