Ketum PP PGSI Harap Kompetisi Gulat PON Papua Berjalan Lancar Dan Menjunjung Sportivitas

Kompetisi gulat PON XX Papua, yang akan digelar 8 hingga 14 Oktober di Merauke, menjanjikan perfektif baru. Zero accident, nihil kerusuhan, menjadi target utama dari gelaran kompetisi cabor beladiri yang memperebutkan 18 set medali ini.

Pengurus teras PP Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) maupun perangkat pertandingan cabor gulat PON XX Papua berkomitmen menjalankan kompetisi dengan aman tanpa keributan.

Ketua Umum PP PGSI Trimedya Panjaitan mengharapkan jajaran perangkat pertandingan cabor gulat dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, dan tidak dipengaruhi tekanan dari apa dan siapa pun.

Trimedya juga meminta para atletnya bertanding dengan menjunjung tinggi fairplay. “Bertandinglah dengan semangat luar biasa, tetapi tetap dengan mengedepankan sportivitas,” ujar Trimedya .

Trimedya Panjaitan secara khusus melakukan dialog dengan para wasit yang akan memimpin perebutan 18 set medali cabor gulat ini, pada Selasa (28/9) malam.

 

Dalam dialog virtual itu, Trimedya mengapresiasi tugas berat yang diemban 25 wasit yang bertugas di Merauke. Diketahui, kompetisi cabor beladiri selalu rentan masalah, tak terkecuali saat dipertandingkan di PON. Demikian juga dengan gulat.

Pertandingan gulat di tiga PON terakhir rawan persoalan, sebagian karena keputusan wasit yang menimbulkan ketidak-puasan satu pihak. Keributan atau kerusuhan yang terjadi di arena pertandingan seringkali disebabkan oleh keputusan wasit yang dinilai subyektif.

Perihal keputusan wasit yang subyektif itu juga disampaikan Technical Delegate (TD) gulat PON XX Papua, Yahya Madjid. Dalam dialog dan pembekalan kepada perangkat pertandingan, Rabu (29/9) siang,

Yahya Madjid mengisyaratkan jika dulu sering ada keputusan wasit yang “diperjual-belikan”. “Menjadi tekad kita bersama jika hal itu tidak terulang lagi, atau terjadi di kompetisi gulat PON XX Papua ini,” ujar Yahya Madjid dalam dialog virtual yang juga diikuti oleh Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PGSI, Gusti Randa, Rabu (29/9).

Pada kesempatan itu Gusti Randa secara khusus meminta jajaran perangkat pertandingan, dalam hal ini panitia pelaksana (panpel), dengan senantiasa menjadi contoh dalam penerapan protokol kesehatan  untuk menghindari penularan Covid-19.

“Fokus membuat kompetisi gulat PON XX ini berlangsung lancar dan baik saja,” tegas Gusti Randa, yang akan hadir ke Merauke mewakili Ketua Umum Trimedya Panjaitan.

Yahya Madjid menegaskan kembali tekad PP PGSI yang akan berupaya keras menyelenggarakan cabor gulat yang lancar, aman, nyaman, tanpa gangguan dan bersih.

Di samping 25 wasit yang bertugas, ada dewan hakim yang terdiri dari tiga wasit senior, yakni Ali Asmi (Sumbar), Munir ((Jabar), dan Andi Lala (Sumut). Kompetisi gulat PON XX Papua akan diikuti sebanyak 106 atlet dari 15 provinsi. [WUR]

]]> Kompetisi gulat PON XX Papua, yang akan digelar 8 hingga 14 Oktober di Merauke, menjanjikan perfektif baru. Zero accident, nihil kerusuhan, menjadi target utama dari gelaran kompetisi cabor beladiri yang memperebutkan 18 set medali ini.

Pengurus teras PP Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) maupun perangkat pertandingan cabor gulat PON XX Papua berkomitmen menjalankan kompetisi dengan aman tanpa keributan.

Ketua Umum PP PGSI Trimedya Panjaitan mengharapkan jajaran perangkat pertandingan cabor gulat dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, dan tidak dipengaruhi tekanan dari apa dan siapa pun.

Trimedya juga meminta para atletnya bertanding dengan menjunjung tinggi fair-play. “Bertandinglah dengan semangat luar biasa, tetapi tetap dengan mengedepankan sportivitas,” ujar Trimedya .

Trimedya Panjaitan secara khusus melakukan dialog dengan para wasit yang akan memimpin perebutan 18 set medali cabor gulat ini, pada Selasa (28/9) malam.

 

Dalam dialog virtual itu, Trimedya mengapresiasi tugas berat yang diemban 25 wasit yang bertugas di Merauke. Diketahui, kompetisi cabor beladiri selalu rentan masalah, tak terkecuali saat dipertandingkan di PON. Demikian juga dengan gulat.

Pertandingan gulat di tiga PON terakhir rawan persoalan, sebagian karena keputusan wasit yang menimbulkan ketidak-puasan satu pihak. Keributan atau kerusuhan yang terjadi di arena pertandingan seringkali disebabkan oleh keputusan wasit yang dinilai subyektif.

Perihal keputusan wasit yang subyektif itu juga disampaikan Technical Delegate (TD) gulat PON XX Papua, Yahya Madjid. Dalam dialog dan pembekalan kepada perangkat pertandingan, Rabu (29/9) siang,

Yahya Madjid mengisyaratkan jika dulu sering ada keputusan wasit yang “diperjual-belikan”. “Menjadi tekad kita bersama jika hal itu tidak terulang lagi, atau terjadi di kompetisi gulat PON XX Papua ini,” ujar Yahya Madjid dalam dialog virtual yang juga diikuti oleh Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PGSI, Gusti Randa, Rabu (29/9).

Pada kesempatan itu Gusti Randa secara khusus meminta jajaran perangkat pertandingan, dalam hal ini panitia pelaksana (panpel), dengan senantiasa menjadi contoh dalam penerapan protokol kesehatan  untuk menghindari penularan Covid-19.

“Fokus membuat kompetisi gulat PON XX ini berlangsung lancar dan baik saja,” tegas Gusti Randa, yang akan hadir ke Merauke mewakili Ketua Umum Trimedya Panjaitan.

Yahya Madjid menegaskan kembali tekad PP PGSI yang akan berupaya keras menyelenggarakan cabor gulat yang lancar, aman, nyaman, tanpa gangguan dan bersih.

Di samping 25 wasit yang bertugas, ada dewan hakim yang terdiri dari tiga wasit senior, yakni Ali Asmi (Sumbar), Munir ((Jabar), dan Andi Lala (Sumut). Kompetisi gulat PON XX Papua akan diikuti sebanyak 106 atlet dari 15 provinsi. [WUR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories