Ketua Umum Muhammadiyah: Masjid Harus Jadi Pusat Perdamaian, Termasuk Urusan Politik .

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir memingatkan bahwa masjid harus menjadi pusat perdamaian umat. Masjid harus menjadi pusat pencerahan masyarakat. Termasuk dalam urusan politik. 

Hal ini disampaikan Haedar saat meresmikan pembangunan serambi Masjid Al Furqan, Jalan Nitikan, Yogyakarta, Minggu. Haedar mengatakan, peresmian ini merupakan ikhtiar untuk meningkatkan fasilitas Masjid dan wujud usaha bersama agar benar-benar berfungsi untuk memberikan pelayanan kegiatan ibadah dan muamalah duniawiyah dan juga menjadi pusat ketakwaan umat.

“Ketakwaan bukan hanya sebagai dimensi ibadah, tetapi juga harus melahirkan sikap kesalehan sosial bagi setiap jamaah yang memakmurkan masjid ini. Kaitan dengan hablum minallah, maka masjid harus menjadi pusat iman dan tauhid yang memantulkan sikap dekat dengan Allah tetapi juga membawa nilai nilai Ilahi dalam kehidupan,” tutur Haedar, seperti dikutip muhammadiyah.or.id.

Haedar menyebutkan, masjid harus menjadi pusat pencerahan hati, alam pikiran, sikap, dan tindakan setiap kaum muslimin. Dia juga berharap, setiap jamaah Masjid Al Furqan akan menjadi teladan yang baik dalam hal kebaikan dan kejujurannya dan segala hal serba makruf terpancar dalam kehidupan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. 

“Masjid juga harus sebagai pusat tanwir, pusat pencerahaan, yang diwujudkan dalam hablum minannas. Ketika masjid menjadi pusat hablum minallah dan hablum minannas, maka tidak ada masalah kita dalam kehidupan pribadi dengan masjid,” imbuh Haedar.

Haedar menambahkan, masjid juga harus menjadi pusat islah (perdamaian). Perbedaan paham yang menyangkut pilihan kehidupan jangan dipertajam di masjid. Yang harus dilakukan adalah islah dari masjid. Perbedaan pilihan, salah satunya pilihan politik, jangan dibawa ke masjid.

“Masjid sebagai pusat islah harus memancarkan pencerahan bagi kehidupan masyarakat. Sebagai pusat amal saleh, dari masjid ini harus lahir berbabagai amal saleh dan amal kebaikan yang membawa nilai positif bagi siapa pun. Warga jamaah harus mengasah untuk bersama-sama memancarkan amal saleh. Dari masjid juga harus ada gerakan keilmuan, yang diimplemnetasikan lewat pengajian, bacaan Al-Qur’an dan hadits serta menelaah dinamika kehidupan,” jelas Haedar.

Haedar mengajak pengurus dan jamaah Masjid Al Furqan dan masjid-masjid Muhammadiyah lainnya untuk memancarkan semangat dan spirit masjid sebagai pusat pencerahan, hablum minannas dan hablum minallah. “Koreksi diri jika ada kelemahan dalam kehidupan. Masjid harus menjadi tempat yang bersih. Masjid jangan menjadi sumber masalah bagi masyarakat, apa pun itu masalahnya. Dan masjid juga harus menjadi penyambung dengan lembaga-lembaga lain, serta masjid harus menjadi teladan dan uswah khasanah,” tutup Haedar. [USU]

]]> .
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir memingatkan bahwa masjid harus menjadi pusat perdamaian umat. Masjid harus menjadi pusat pencerahan masyarakat. Termasuk dalam urusan politik. 

Hal ini disampaikan Haedar saat meresmikan pembangunan serambi Masjid Al Furqan, Jalan Nitikan, Yogyakarta, Minggu. Haedar mengatakan, peresmian ini merupakan ikhtiar untuk meningkatkan fasilitas Masjid dan wujud usaha bersama agar benar-benar berfungsi untuk memberikan pelayanan kegiatan ibadah dan muamalah duniawiyah dan juga menjadi pusat ketakwaan umat.

“Ketakwaan bukan hanya sebagai dimensi ibadah, tetapi juga harus melahirkan sikap kesalehan sosial bagi setiap jamaah yang memakmurkan masjid ini. Kaitan dengan hablum minallah, maka masjid harus menjadi pusat iman dan tauhid yang memantulkan sikap dekat dengan Allah tetapi juga membawa nilai nilai Ilahi dalam kehidupan,” tutur Haedar, seperti dikutip muhammadiyah.or.id.

Haedar menyebutkan, masjid harus menjadi pusat pencerahan hati, alam pikiran, sikap, dan tindakan setiap kaum muslimin. Dia juga berharap, setiap jamaah Masjid Al Furqan akan menjadi teladan yang baik dalam hal kebaikan dan kejujurannya dan segala hal serba makruf terpancar dalam kehidupan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. 

“Masjid juga harus sebagai pusat tanwir, pusat pencerahaan, yang diwujudkan dalam hablum minannas. Ketika masjid menjadi pusat hablum minallah dan hablum minannas, maka tidak ada masalah kita dalam kehidupan pribadi dengan masjid,” imbuh Haedar.

Haedar menambahkan, masjid juga harus menjadi pusat islah (perdamaian). Perbedaan paham yang menyangkut pilihan kehidupan jangan dipertajam di masjid. Yang harus dilakukan adalah islah dari masjid. Perbedaan pilihan, salah satunya pilihan politik, jangan dibawa ke masjid.

“Masjid sebagai pusat islah harus memancarkan pencerahan bagi kehidupan masyarakat. Sebagai pusat amal saleh, dari masjid ini harus lahir berbabagai amal saleh dan amal kebaikan yang membawa nilai positif bagi siapa pun. Warga jamaah harus mengasah untuk bersama-sama memancarkan amal saleh. Dari masjid juga harus ada gerakan keilmuan, yang diimplemnetasikan lewat pengajian, bacaan Al-Qur’an dan hadits serta menelaah dinamika kehidupan,” jelas Haedar.

Haedar mengajak pengurus dan jamaah Masjid Al Furqan dan masjid-masjid Muhammadiyah lainnya untuk memancarkan semangat dan spirit masjid sebagai pusat pencerahan, hablum minannas dan hablum minallah. “Koreksi diri jika ada kelemahan dalam kehidupan. Masjid harus menjadi tempat yang bersih. Masjid jangan menjadi sumber masalah bagi masyarakat, apa pun itu masalahnya. Dan masjid juga harus menjadi penyambung dengan lembaga-lembaga lain, serta masjid harus menjadi teladan dan uswah khasanah,” tutup Haedar. [USU]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories