Ketua PP Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad Anak Kecil Mau Pulang Ke Rumah, Kok Dilarang

Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin meminta santri diberikan dispensasi untuk pulang ke rumah saat Lebaran. “Wakil Presiden minta agar santri tidak dikenai aturan-aturan ketat terkait larangan mudik yang berhubungan dengan konteks pandemi saat ini,” ujar Juru Bicara Ma’ruf, Masduki Baidlowi, dalam keterangannya, Jumat (23/4).
 
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad setuju dengan keinginan Wapres ini. Menurut Guru Besar Sosiologi Agama UIN Bandung ini, para santri bukan mudik. Mereka hanya pulang ke rumah orang tua masing-masing.
 
Berikut kutipan wawancara Rakyat Merdeka dengan Dadang Kahmad:
 
Anda setuju para santri diberi dispensasi agar bisa pulang?
Saya setuju saja, karena mereka itu pulang. Mereka itu bukan mudik. Mereka hanya pulang ke rumah orang tuanya masing-masing. Mereka banyak yang masih anak-anak atau remaja. 
 
Karena mereka masih anak-anak atau remaja, maka pantas diberi dispensasi? 
Iya, karena mereka masih anak-anak atau remaja, maka pantas dikasih dispensasi untuk pulang. Pantas pula bagi pemerintah untuk memberikan dispensasi ini. Begitu pandangan saya mengenai dispensasi bagi para santri untuk pulang ini. 
 
Bukankah pulang sama saja dengan mudik? 
Yang namanya mudik itu biasanya sekeluarga, ramai-ramai. Pulang itu hanya sendiri-sendiri. Ada yang pulang, mungkin ada yang nggak. Masak anak kecil mau pulang, kita larang. Kalau orang dewasa yang mau pulang, itu beda lagi. 
 
Apakah Anda tidak takut kepulangan para santri itu akan membawa virus Corona ke keluarganya? 
Makanya, harus dicek dulu kesehatan para santri itu melalui tes. Mau PCR (polymerase chain reaction) atau antigen test, itu terserah mereka. Setelah tes itu, yang dinyatakan tidak ada masalah, negatif, baru boleh dipersilakan pulang. 
 
Apa langkah selanjutnya? 
Ya, tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat di perjalanan sampai rumah masing-masing. Begitu juga ketika di kampung halamannya, harus menerapkan prokes ketat, agar kita bisa mengatasi pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) ini bersama-sama. 
 
Bukankah ada kasus Corona juga di pesantren? 
Iya, memang ada pesantren yang jadi klaster juga. Makanya itu tadi, harus dicek dulu kesehatannya. Siapa pun yang mau pulang, harus dites. Kalau negatif, nggak ada masalah, baru boleh pulang. 
 
Bukankah ada risiko tertular Corona di perjalanan pulang? 
Kalau bisa, santri dijemput orang tuanya. Jangan naik kendaraan umum. Karena kalau pakai kendaraan umum, memang lebih berisiko. Kita juga nggak mau anak-anak membawa virus karena kena di jalan. 
 
Kapan Muhammadiyah akan melayangkan surat kepada Presiden atau Wapres, supaya para santri bisa pulang? 
Tidak, karena ini keinginan pribadi saya saja. Muhammadiyah tidak ikut-ikutan soal dispensasi ini. Ini bukan inisiatif Muhammadiyah. Saat itu, saya hanya ditanya soal permintaan Wapres tersebut. Menurut saya, silakan saja kalau memang anak-anak ada yang mau pulang. 
 
Kenapa Muhammadiyah tidak mengajukan surat supaya keinginan ini bisa diwujudkan? 
Karena, tidak ada kepentingan Muhammadiyah dalam konteks ini. Pesantren Muhammadiyah, semuanya masih tutup. Sudah setahun lebih kami tidak buka. Universitas dan sekolah Muhammadiyah pun, semuanya pakai sistem pembelajaran daring, atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat pandemi ini. Bukan pembelajaran tatap muka (PTM). Jadi, Muhammadiyah terserah bagaimana kebijakan pemerintah saja. [NDA]
]]> Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin meminta santri diberikan dispensasi untuk pulang ke rumah saat Lebaran. “Wakil Presiden minta agar santri tidak dikenai aturan-aturan ketat terkait larangan mudik yang berhubungan dengan konteks pandemi saat ini,” ujar Juru Bicara Ma’ruf, Masduki Baidlowi, dalam keterangannya, Jumat (23/4).
 
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad setuju dengan keinginan Wapres ini. Menurut Guru Besar Sosiologi Agama UIN Bandung ini, para santri bukan mudik. Mereka hanya pulang ke rumah orang tua masing-masing.
 
Berikut kutipan wawancara Rakyat Merdeka dengan Dadang Kahmad:
 Anda setuju para santri diberi dispensasi agar bisa pulang?
Saya setuju saja, karena mereka itu pulang. Mereka itu bukan mudik. Mereka hanya pulang ke rumah orang tuanya masing-masing. Mereka banyak yang masih anak-anak atau remaja. 
 Karena mereka masih anak-anak atau remaja, maka pantas diberi dispensasi? 
Iya, karena mereka masih anak-anak atau remaja, maka pantas dikasih dispensasi untuk pulang. Pantas pula bagi pemerintah untuk memberikan dispensasi ini. Begitu pandangan saya mengenai dispensasi bagi para santri untuk pulang ini. 
 Bukankah pulang sama saja dengan mudik? 
Yang namanya mudik itu biasanya sekeluarga, ramai-ramai. Pulang itu hanya sendiri-sendiri. Ada yang pulang, mungkin ada yang nggak. Masak anak kecil mau pulang, kita larang. Kalau orang dewasa yang mau pulang, itu beda lagi. 
 Apakah Anda tidak takut kepulangan para santri itu akan membawa virus Corona ke keluarganya? 
Makanya, harus dicek dulu kesehatan para santri itu melalui tes. Mau PCR (polymerase chain reaction) atau antigen test, itu terserah mereka. Setelah tes itu, yang dinyatakan tidak ada masalah, negatif, baru boleh dipersilakan pulang. 
 Apa langkah selanjutnya? 
Ya, tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat di perjalanan sampai rumah masing-masing. Begitu juga ketika di kampung halamannya, harus menerapkan prokes ketat, agar kita bisa mengatasi pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) ini bersama-sama. 
 Bukankah ada kasus Corona juga di pesantren? 
Iya, memang ada pesantren yang jadi klaster juga. Makanya itu tadi, harus dicek dulu kesehatannya. Siapa pun yang mau pulang, harus dites. Kalau negatif, nggak ada masalah, baru boleh pulang. 
 Bukankah ada risiko tertular Corona di perjalanan pulang? 
Kalau bisa, santri dijemput orang tuanya. Jangan naik kendaraan umum. Karena kalau pakai kendaraan umum, memang lebih berisiko. Kita juga nggak mau anak-anak membawa virus karena kena di jalan. 
 Kapan Muhammadiyah akan melayangkan surat kepada Presiden atau Wapres, supaya para santri bisa pulang? 
Tidak, karena ini keinginan pribadi saya saja. Muhammadiyah tidak ikut-ikutan soal dispensasi ini. Ini bukan inisiatif Muhammadiyah. Saat itu, saya hanya ditanya soal permintaan Wapres tersebut. Menurut saya, silakan saja kalau memang anak-anak ada yang mau pulang. 
 Kenapa Muhammadiyah tidak mengajukan surat supaya keinginan ini bisa diwujudkan? 
Karena, tidak ada kepentingan Muhammadiyah dalam konteks ini. Pesantren Muhammadiyah, semuanya masih tutup. Sudah setahun lebih kami tidak buka. Universitas dan sekolah Muhammadiyah pun, semuanya pakai sistem pembelajaran daring, atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat pandemi ini. Bukan pembelajaran tatap muka (PTM). Jadi, Muhammadiyah terserah bagaimana kebijakan pemerintah saja. [NDA]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories