Ketua MPR: Humas Kementerian/Lembaga Tak Boleh Kalah Sama Buzzer

Ketua MPR Bambang Soesatyo berharap banyak pada Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) untuk menjalankan koordinasi peran dan fungsi sebagai humas kementerian/lembaga yang jumlahnya cukup banyak. Tugas dan fungsi humas kementerian/lembaga adalah menyampaikan fakta kepada publik atas keberhasilan-keberhasilan pembangunan di kementerian/lembaga masing-masing.

“Yang kita sama-sama rasakan dan saksikan, peran dan fungsi humas kementerian/lembaga kadang kalah dengan para buzzer. Faktanya, humas kementerian/lembaga selalu kalah dengan serangan udara dan serangan darat yang dilakukan pihak-pihak yang tidak ingin melihat pemerintahan ini sukses,” kata Bamsoet, sapaan akrab Bambang, ketika menyampaikan keynote speech dalam Forum Tematik Bakohumas MPR dengan tema “Sidang Tahunan MPR Sebagai Konvensi Ketatanegaraan”, di Ruang Delegasi Lantai II, Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/8).

Forum Tematik Bakohumas MPR ini dihadiri Wakil Ketua MPR Syarief Hasan dan Yandri Soesanto, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Usman Kansong, Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono, dan Plt Deputi Administrasi Setjen MPR Siti Fauziah. 

Bamsoet mengungkapkan, pihak-pihak yang tidak ingin melihat pemerintahan ini sukses hanya menyampaikan atau menyajikan berita-berita bahwa rakyat sampai hari ini terus mengalami pemiskinan, pembodohan, dan ketidakadilan. “Itu yang selalu digaungkan mereka. Sementara, para menteri dan pimpinan lembaga telah bekerja mati-matian untuk mewujudkan harapan Indonesia sejahtera,” ujarnya.

Menurut Bamsoet, humas kementerian/lembaga selalu kalah dengan para buzzer antara lain karena terbiasa dalam birokrasi. Humas kementerian dan lembaga kadang kurang adaptif, kurang responsif, terhadap perkembangan zaman dan teknologi. “Mereka (buzzer) sudah memakai berbagai platform, media sosial, sementara humas kementerian/lembaga masih terjebak pada rilis-rilis dan berita-berita yang konvensional,” tambahnya.

Untuk menghadapi buzzer, lanjut Bamsoet, humas kementerian/lembaga harus bisa membangun narasi yang baik, bukan hanya menyampaikan berita atau hanya sekadar menyampaikan peristiwa. “Tapi menyampaikan narasi-narasi yang bisa mempengaruhi bawah sadar orang-orang yang membacanya. Itulah fungsi dari para humas lembaga/kementerian dalam bidang kehumasan,” ujarnya.

Bamsoet menambahkan, narasi yang baik tidak memerlukan kata-kata dan kalimat yang panjang hingga satu halaman, tetapi cukup beberapa baris. “Yang penting narasi itu mampu menggugah, mengubah konotasi, buah pikiran, persepsi, pada publik terhadap suatu peristiwa,” sambungnya.

Peran Bakohumas adalah menjalin koordinasi dengan humas kementerian/lembaga agar bisa bersatu dan berjuang membangun narasi yang baik. Bakohumas bekerja bukan untuk kepentingan sendiri tetapi kepentingan bersama.

“Itulah gunanya koordinasi, kolaborasi. Platform sudah banyak, mulai dari Facebook, Instagram, TikTok, YuoTube, Twitter, tetapi perlu juga dibentuk antarindividual sehingga terbentuk komunitas-komunitas yang tugasnya membangun informasi untuk melawan informasi yang menyesatkan,” imbuhnya.

Bamsoet melanjutkan, dengan anggaran yang cukup besar, humas kementerian/lembaga seharusnya tidak boleh kalah dengan para buzzer yang kadang-kadang bekerja secara serabutan. “Masak kalah sama buzzer. Humas kementerian dan lembaga punya anggaran besar. Buzzer kadang-kadang kerja serabut, meski ada beberapa yang ‘dibayar’. Humas bisa memakai jasa-jasa mereka (buzzer) untuk meluruskan atau membenarkan satu informasi yang menyesatkan,” katanya.

“Yang penting humas kementerian/lembaga tidak boleh kalah dengan buzzer-buzzer yang merugikan negara Indonesia, yang mengancam dan memiliki potensi pemecah belah bangsa, dan mengancam nilai-nilai Pancasila,” pungkasnya.■

]]> Ketua MPR Bambang Soesatyo berharap banyak pada Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) untuk menjalankan koordinasi peran dan fungsi sebagai humas kementerian/lembaga yang jumlahnya cukup banyak. Tugas dan fungsi humas kementerian/lembaga adalah menyampaikan fakta kepada publik atas keberhasilan-keberhasilan pembangunan di kementerian/lembaga masing-masing.

“Yang kita sama-sama rasakan dan saksikan, peran dan fungsi humas kementerian/lembaga kadang kalah dengan para buzzer. Faktanya, humas kementerian/lembaga selalu kalah dengan serangan udara dan serangan darat yang dilakukan pihak-pihak yang tidak ingin melihat pemerintahan ini sukses,” kata Bamsoet, sapaan akrab Bambang, ketika menyampaikan keynote speech dalam Forum Tematik Bakohumas MPR dengan tema “Sidang Tahunan MPR Sebagai Konvensi Ketatanegaraan”, di Ruang Delegasi Lantai II, Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/8).

Forum Tematik Bakohumas MPR ini dihadiri Wakil Ketua MPR Syarief Hasan dan Yandri Soesanto, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Usman Kansong, Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono, dan Plt Deputi Administrasi Setjen MPR Siti Fauziah. 

Bamsoet mengungkapkan, pihak-pihak yang tidak ingin melihat pemerintahan ini sukses hanya menyampaikan atau menyajikan berita-berita bahwa rakyat sampai hari ini terus mengalami pemiskinan, pembodohan, dan ketidakadilan. “Itu yang selalu digaungkan mereka. Sementara, para menteri dan pimpinan lembaga telah bekerja mati-matian untuk mewujudkan harapan Indonesia sejahtera,” ujarnya.

Menurut Bamsoet, humas kementerian/lembaga selalu kalah dengan para buzzer antara lain karena terbiasa dalam birokrasi. Humas kementerian dan lembaga kadang kurang adaptif, kurang responsif, terhadap perkembangan zaman dan teknologi. “Mereka (buzzer) sudah memakai berbagai platform, media sosial, sementara humas kementerian/lembaga masih terjebak pada rilis-rilis dan berita-berita yang konvensional,” tambahnya.

Untuk menghadapi buzzer, lanjut Bamsoet, humas kementerian/lembaga harus bisa membangun narasi yang baik, bukan hanya menyampaikan berita atau hanya sekadar menyampaikan peristiwa. “Tapi menyampaikan narasi-narasi yang bisa mempengaruhi bawah sadar orang-orang yang membacanya. Itulah fungsi dari para humas lembaga/kementerian dalam bidang kehumasan,” ujarnya.

Bamsoet menambahkan, narasi yang baik tidak memerlukan kata-kata dan kalimat yang panjang hingga satu halaman, tetapi cukup beberapa baris. “Yang penting narasi itu mampu menggugah, mengubah konotasi, buah pikiran, persepsi, pada publik terhadap suatu peristiwa,” sambungnya.

Peran Bakohumas adalah menjalin koordinasi dengan humas kementerian/lembaga agar bisa bersatu dan berjuang membangun narasi yang baik. Bakohumas bekerja bukan untuk kepentingan sendiri tetapi kepentingan bersama.

“Itulah gunanya koordinasi, kolaborasi. Platform sudah banyak, mulai dari Facebook, Instagram, TikTok, YuoTube, Twitter, tetapi perlu juga dibentuk antarindividual sehingga terbentuk komunitas-komunitas yang tugasnya membangun informasi untuk melawan informasi yang menyesatkan,” imbuhnya.

Bamsoet melanjutkan, dengan anggaran yang cukup besar, humas kementerian/lembaga seharusnya tidak boleh kalah dengan para buzzer yang kadang-kadang bekerja secara serabutan. “Masak kalah sama buzzer. Humas kementerian dan lembaga punya anggaran besar. Buzzer kadang-kadang kerja serabut, meski ada beberapa yang ‘dibayar’. Humas bisa memakai jasa-jasa mereka (buzzer) untuk meluruskan atau membenarkan satu informasi yang menyesatkan,” katanya.

“Yang penting humas kementerian/lembaga tidak boleh kalah dengan buzzer-buzzer yang merugikan negara Indonesia, yang mengancam dan memiliki potensi pemecah belah bangsa, dan mengancam nilai-nilai Pancasila,” pungkasnya.■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories