Ketika Alam Dan Manusia Tidak Bersinergi (4)

Ayat ini juga mengisyaratkan kemungkinan mengakses dan merekayasa, serta menyalurkan energi-energinya kepada suatu obyek yang dituju. Meski semuanya ditundukkan untuk manusia, tetapi manusia tidak dibenarkan menggunakannya dengan sewenang-wenang dan melampaui batas:

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang ber­junjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS al-An’am/6:141).

Manusia dituntut untuk bersahabat dan menjaga kelestar­ian alam dan ekosistemnya. Antara manusia dan alam raya saling membutuhkan satu sama lain. Jika terjadi kerusakan lingkungan alam, maka sudah barang tentu akan berdampak negatif terhadap manusia dan masyarakat.

Alam raya adalah resources manusia. Kualitas dan kelang­sungan hidup manusia sangat ditentukan oleh lingkungan hidupnya. Alam raya ini diciptakan serasi dengan kehidupan manusia. Jika di kemudian hari alam raya tidak lagi dapat memfasilitasi kehidupan manusia, maka itu isyarat adanya disharmonisasi di antara mereka.

Jika terjadi disharmonitas seperti itu, maka yang bertang­gung jawab adalah manusia, karena manusialah sebagai khalifah, pemimpin jagat raya sebagai representatif Tuhan.

Egoisme dan egosentrisme manusia acapkali menjadi penyebab terjadinya kerusakan alam, sebagaimana dii­syaratkan Allah dalam Al-Qur’an: “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS al-Mu’minun/23:71).

Dalam surat lain disebutkan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS al-Rum/30:41).

Sikap keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara sesama makhluk betul-betul sangat ditekankan dalam Al-Qur’an. Makhluk biologis seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan merupakan komunitas tersendiri yang tidak ubahnya dengan komunitas manusia. Bahkan menurut Ibn Hazm, mereka juga memiliki pemimpin dan Nabi, dengan mengutip firman Allah:

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS al-An’am/6:38)

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, ber­katalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS al-Naml/27:18)

Interaksi positif antara alam raya dan manusia serta in­teraksi positif antara manusia dengan makhluk-makhluk spiritual seperti malaikat dan jin banyak diungkap dalam Al-Qur’an. Semuanya ini memperkuat anggapan, betapa per­lunya memelihara hubungan sinergis antara sesama makhluk Allah SWT. ■

]]> Ayat ini juga mengisyaratkan kemungkinan mengakses dan merekayasa, serta menyalurkan energi-energinya kepada suatu obyek yang dituju. Meski semuanya ditundukkan untuk manusia, tetapi manusia tidak dibenarkan menggunakannya dengan sewenang-wenang dan melampaui batas:

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang ber­junjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS al-An’am/6:141).

Manusia dituntut untuk bersahabat dan menjaga kelestar­ian alam dan ekosistemnya. Antara manusia dan alam raya saling membutuhkan satu sama lain. Jika terjadi kerusakan lingkungan alam, maka sudah barang tentu akan berdampak negatif terhadap manusia dan masyarakat.

Alam raya adalah resources manusia. Kualitas dan kelang­sungan hidup manusia sangat ditentukan oleh lingkungan hidupnya. Alam raya ini diciptakan serasi dengan kehidupan manusia. Jika di kemudian hari alam raya tidak lagi dapat memfasilitasi kehidupan manusia, maka itu isyarat adanya disharmonisasi di antara mereka.

Jika terjadi disharmonitas seperti itu, maka yang bertang­gung jawab adalah manusia, karena manusialah sebagai khalifah, pemimpin jagat raya sebagai representatif Tuhan.

Egoisme dan egosentrisme manusia acapkali menjadi penyebab terjadinya kerusakan alam, sebagaimana dii­syaratkan Allah dalam Al-Qur’an: “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS al-Mu’minun/23:71).

Dalam surat lain disebutkan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS al-Rum/30:41).

Sikap keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara sesama makhluk betul-betul sangat ditekankan dalam Al-Qur’an. Makhluk biologis seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan merupakan komunitas tersendiri yang tidak ubahnya dengan komunitas manusia. Bahkan menurut Ibn Hazm, mereka juga memiliki pemimpin dan Nabi, dengan mengutip firman Allah:

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS al-An’am/6:38)

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, ber­katalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS al-Naml/27:18)

Interaksi positif antara alam raya dan manusia serta in­teraksi positif antara manusia dengan makhluk-makhluk spiritual seperti malaikat dan jin banyak diungkap dalam Al-Qur’an. Semuanya ini memperkuat anggapan, betapa per­lunya memelihara hubungan sinergis antara sesama makhluk Allah SWT. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories