Keteladanan Membenci Produk Asing .

Ajakan Presiden Jokowi kepada masyarakat agar membenci produk asing terdengar sangat patriotik. Sangat nasionalis. Namun, ajakan itu tidak akan bekerja jika Presiden tidak memberi keteladan dalam melakukan itu.

Ajakan membenci produk asing itu sejatinya bukan ranah Presiden. Itu ranahnya aktivis atau pegiat sosial. Ranahnya Presiden membuat kebijakan dan program proteksionis.

Meski bertentangan dengan prinsip pasar bebas di era globalisasi, tapi Presiden mesti memiliki sikap melindungi national interest, utamanya kepentingan masyarakat kecil dan menengah. Presiden membuat kebijakan yang bisa mendorong produk lokal memiliki daya saing di tengah banjir impor produk asing.

Ajakan tidak ada artinya jika, pertama, tidak ada keteladan dari Presiden dan jajarannya untuk selalu lebih memilih produk dalam negeri sendiri, baik barang-barang pribadi maupun kegiatan bernegara. Kedua, kebijakan Presiden alih-alih memberi proteksi produk sendiri, malah membuka keran impor yang akhirnya membunuh secara sadis produk dalam negeri.

Keteladanan itu sangat penting. Bila tidak ajakan hanya cuma jadi cibiran. Kalau dalam bahasa yang sedang jatuh cinta, ajakan itu hanya gombalan saja. Bualan. Selebihnya cuma jadi bahan bully-an. Muak.

Kebijakan proteksionis itu riil. Garis keberpihakan yang konkret. Dan ini yang ditunggu dan amat dibutuhkan para pelaku usaha kecil menengah. Ada ragam format kebijakan keberpihakan pada produk dalam negeri, antara lain, memberikan akses pinjaman lunak untuk permodalan, keringanan pajak hingga akses pasar.

Di era digital, para pengusaha kecil menengah mesti memiliki kesadaran baru untuk memaksimalkan piranti digital untuk manajemen bisnisnya. Pemerintah bisa membantu mereka memfamilierkan tata kelola bisnis dengan menggunakan payment gateway, market place dan media sosial. Dengan demikian, produk lokal bisa digjaya menghadapi asing.

]]> .
Ajakan Presiden Jokowi kepada masyarakat agar membenci produk asing terdengar sangat patriotik. Sangat nasionalis. Namun, ajakan itu tidak akan bekerja jika Presiden tidak memberi keteladan dalam melakukan itu.

Ajakan membenci produk asing itu sejatinya bukan ranah Presiden. Itu ranahnya aktivis atau pegiat sosial. Ranahnya Presiden membuat kebijakan dan program proteksionis.

Meski bertentangan dengan prinsip pasar bebas di era globalisasi, tapi Presiden mesti memiliki sikap melindungi national interest, utamanya kepentingan masyarakat kecil dan menengah. Presiden membuat kebijakan yang bisa mendorong produk lokal memiliki daya saing di tengah banjir impor produk asing.

Ajakan tidak ada artinya jika, pertama, tidak ada keteladan dari Presiden dan jajarannya untuk selalu lebih memilih produk dalam negeri sendiri, baik barang-barang pribadi maupun kegiatan bernegara. Kedua, kebijakan Presiden alih-alih memberi proteksi produk sendiri, malah membuka keran impor yang akhirnya membunuh secara sadis produk dalam negeri.

Keteladanan itu sangat penting. Bila tidak ajakan hanya cuma jadi cibiran. Kalau dalam bahasa yang sedang jatuh cinta, ajakan itu hanya gombalan saja. Bualan. Selebihnya cuma jadi bahan bully-an. Muak.

Kebijakan proteksionis itu riil. Garis keberpihakan yang konkret. Dan ini yang ditunggu dan amat dibutuhkan para pelaku usaha kecil menengah. Ada ragam format kebijakan keberpihakan pada produk dalam negeri, antara lain, memberikan akses pinjaman lunak untuk permodalan, keringanan pajak hingga akses pasar.

Di era digital, para pengusaha kecil menengah mesti memiliki kesadaran baru untuk memaksimalkan piranti digital untuk manajemen bisnisnya. Pemerintah bisa membantu mereka memfamilierkan tata kelola bisnis dengan menggunakan payment gateway, market place dan media sosial. Dengan demikian, produk lokal bisa digjaya menghadapi asing.
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories