Kerumunan Saat Jokowi Di NTT Harap Maklum Saja, Ya!

Kerumunan masyarakat yang antusias menyambut kedatangan Presiden Jokowi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (23/2), jadi diskusi panjang. Banyak pihak dapat memaklumi kerumunan tersebut.

Ada beberapa video yang merekam kerumunan warga NTT saat menyambut kedatangan Jokowi. Salah satunya, berdurasi 30 detik. Video itu memperlihatkan iring-iringan rombongan Kepala Negara tertahan di salah satu ruas jalan Maumere, Kabupaten Sikka, NTT. 

Warga yang antusias menyambut Jokowi tumpah ruah ke tengah jalan dan mendekat ke mobil RI 1. Jokowi kemudian muncul dari sunroof mobil SUV yang ditunggangi. Ia melambaikan tangan ke arah warga, yang disambut tepuk tangan dan teriakan histeris. Jokowi mencoba memperingatkan warga soal jaga jarak dengan memberikan isyarat menunjuk ke mulutnya yang ditutup masker hitam.

Namun, warga yang terlanjur antusias seakan tak menyadari isyarat itu. mereka terus mendekat ke arah Jokowi. Suasana semakin penuh sesak ketika warga rebutan saat Jokowi melemparkan beberapa souvenir ke arah kerumunan. 

Di video lain, kerumunan warga juga terjadi di pinggir ruas jalan yang dilalui Jokowi. Mereka kompak melambai-lambaikan bendera merah putih ketika orang nomor 1 di negara ini lewat. Tapi tidak sampai membuat iring-iringan rombongan presiden tertahan.

Di video selanjutnya, para warga dari berbagai penjuru berlari ke tengah sawah untuk menghampiri Jokowi yang sedang meninjau lokasi food estate. Melihat kondisi ini, para petugas yang mengawal Jokowi sampai kerepotan.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media, Sekretariat Presiden Bey Machmudin menerangkan, video yang merekam kerumunan saat kunjungan Presiden itu terjadi di Maumere. Saat itu, rombongan Jokowi menuju Bendungan Napun Gete. Namun, iring-iringan terhenti karena masyarakat yang sudah menunggu Jokowi lewat bergerak dari pinggir ke tengah jalan. Lalu, Jokowi spontan menyapa warga dari atap mobil. 

“Itu spontanitas Presiden untuk menghargai antusiasme masyarakat. Souvenirnya itu buku, kaos, dan masker. Tapi, poinnya, Presiden tetap mengingatkan warga tetap taati protokol kesehatan,” jelas Bey, dalam keterangannya, Selasa (23/2).

Relawan Covid-19 dr Tirta Mandira Hudhi menjadi salah satu pihak yang memaklumi kerumunan ini. Dia melihat, warga tidak diundang atau diajak berkumpul untuk menyambut Jokowi.

“Semua pure (murni) antusias yang ramai-ramai datang menyambut Presiden. Ini tugas protokoler mengatur keramaian. Dan emang kalah jumlah,” kata dr Tirta, di akun Instagramnya, dr.tirta, kemarin.

Ia juga memaklumi cara Jokowi keluar lewat atap mobil dan menyapa warga. Termasuk iringan mobil yang menahan lajunya. “Satu-satunya cara agar bubar, ya, mau nggak mau Pakde keluar dari atap, dan menyapa dan meminta warga kembali ke rumah masing-masing,” terangnya.

 

Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay juga memaklumi kerumunan itu. Dia melihat, Jokowi tidak bisa menghindari kerumunan warga yang mendekat. 

“Presiden itu kan banyak yang mengidolakan. Wajar mereka antusias dan ingin mendekat, selfie, salaman, dan lain-lain,” ucapnya, via pesan WhatsApp kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Namun begitu, dia berharap, pihak protokol yang mengatur jadwal Jokowi bertanggung jawab atas kejadian ini. “Kegiatan Presiden di sana tentu sudah diatur sebelumnya. Protokol lah yang mengatur seluruh kegiatan dan perjalanan Presiden selama di sana,” tegasnya.

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman juga bisa memaklumi. Dia tidak sepakat jika kerumunan seperti itu harus dibawa ke ranah hukum. Sebab, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Justru akan kontraproduktif dalam penanganan pandemi. 

“Sanksi, saya tidak dalam posisi mendukung ya. Tapi, mendukung upaya peningkatan komunikasi risiko yang tepat dan efektif. Kemudian diperkuat dengan role model atau keteladanan dari public figure,” kata Dicky, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Sedangkan yang meminta masalah ini dibawa ke ranah hukum, banyak bertebaran di Twitter. Sampai-sampai, kata “kerumunan” nangkring di jajaran trending topic. Ada 51,7 ribu cuitan membahas persoalan ini.

Salah satu yang mencuitkan ini adalah akun @KetumProDEM. Dia mempermasalahkan alasan spontanitas. Sebab, dia memandang, ada pelemparan paket oleh Jokowi ke arah kerumunan massa tidak mengindahkan protokol kesehatan. “(Ini) menunjukkan Pemda tak memberlakukan prokes dan aturan PPKM seperti instruksi Pemerintah Pusat. Rakyat dihukum, rakyat diminta maklum,” kritiknya. 

Politisi Fraksi PKS Mardani Ali Sera ikut nimbrung. Menurutnya, kasus kerumunan yang melibatkan Jokowi ini bukan yang pertama. [SAR]

]]> Kerumunan masyarakat yang antusias menyambut kedatangan Presiden Jokowi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (23/2), jadi diskusi panjang. Banyak pihak dapat memaklumi kerumunan tersebut.

Ada beberapa video yang merekam kerumunan warga NTT saat menyambut kedatangan Jokowi. Salah satunya, berdurasi 30 detik. Video itu memperlihatkan iring-iringan rombongan Kepala Negara tertahan di salah satu ruas jalan Maumere, Kabupaten Sikka, NTT. 

Warga yang antusias menyambut Jokowi tumpah ruah ke tengah jalan dan mendekat ke mobil RI 1. Jokowi kemudian muncul dari sunroof mobil SUV yang ditunggangi. Ia melambaikan tangan ke arah warga, yang disambut tepuk tangan dan teriakan histeris. Jokowi mencoba memperingatkan warga soal jaga jarak dengan memberikan isyarat menunjuk ke mulutnya yang ditutup masker hitam.

Namun, warga yang terlanjur antusias seakan tak menyadari isyarat itu. mereka terus mendekat ke arah Jokowi. Suasana semakin penuh sesak ketika warga rebutan saat Jokowi melemparkan beberapa souvenir ke arah kerumunan. 

Di video lain, kerumunan warga juga terjadi di pinggir ruas jalan yang dilalui Jokowi. Mereka kompak melambai-lambaikan bendera merah putih ketika orang nomor 1 di negara ini lewat. Tapi tidak sampai membuat iring-iringan rombongan presiden tertahan.

Di video selanjutnya, para warga dari berbagai penjuru berlari ke tengah sawah untuk menghampiri Jokowi yang sedang meninjau lokasi food estate. Melihat kondisi ini, para petugas yang mengawal Jokowi sampai kerepotan.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media, Sekretariat Presiden Bey Machmudin menerangkan, video yang merekam kerumunan saat kunjungan Presiden itu terjadi di Maumere. Saat itu, rombongan Jokowi menuju Bendungan Napun Gete. Namun, iring-iringan terhenti karena masyarakat yang sudah menunggu Jokowi lewat bergerak dari pinggir ke tengah jalan. Lalu, Jokowi spontan menyapa warga dari atap mobil. 

“Itu spontanitas Presiden untuk menghargai antusiasme masyarakat. Souvenirnya itu buku, kaos, dan masker. Tapi, poinnya, Presiden tetap mengingatkan warga tetap taati protokol kesehatan,” jelas Bey, dalam keterangannya, Selasa (23/2).

Relawan Covid-19 dr Tirta Mandira Hudhi menjadi salah satu pihak yang memaklumi kerumunan ini. Dia melihat, warga tidak diundang atau diajak berkumpul untuk menyambut Jokowi.

“Semua pure (murni) antusias yang ramai-ramai datang menyambut Presiden. Ini tugas protokoler mengatur keramaian. Dan emang kalah jumlah,” kata dr Tirta, di akun Instagramnya, dr.tirta, kemarin.

Ia juga memaklumi cara Jokowi keluar lewat atap mobil dan menyapa warga. Termasuk iringan mobil yang menahan lajunya. “Satu-satunya cara agar bubar, ya, mau nggak mau Pakde keluar dari atap, dan menyapa dan meminta warga kembali ke rumah masing-masing,” terangnya.

 

Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay juga memaklumi kerumunan itu. Dia melihat, Jokowi tidak bisa menghindari kerumunan warga yang mendekat. 

“Presiden itu kan banyak yang mengidolakan. Wajar mereka antusias dan ingin mendekat, selfie, salaman, dan lain-lain,” ucapnya, via pesan WhatsApp kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Namun begitu, dia berharap, pihak protokol yang mengatur jadwal Jokowi bertanggung jawab atas kejadian ini. “Kegiatan Presiden di sana tentu sudah diatur sebelumnya. Protokol lah yang mengatur seluruh kegiatan dan perjalanan Presiden selama di sana,” tegasnya.

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman juga bisa memaklumi. Dia tidak sepakat jika kerumunan seperti itu harus dibawa ke ranah hukum. Sebab, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Justru akan kontraproduktif dalam penanganan pandemi. 

“Sanksi, saya tidak dalam posisi mendukung ya. Tapi, mendukung upaya peningkatan komunikasi risiko yang tepat dan efektif. Kemudian diperkuat dengan role model atau keteladanan dari public figure,” kata Dicky, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Sedangkan yang meminta masalah ini dibawa ke ranah hukum, banyak bertebaran di Twitter. Sampai-sampai, kata “kerumunan” nangkring di jajaran trending topic. Ada 51,7 ribu cuitan membahas persoalan ini.

Salah satu yang mencuitkan ini adalah akun @KetumProDEM. Dia mempermasalahkan alasan spontanitas. Sebab, dia memandang, ada pelemparan paket oleh Jokowi ke arah kerumunan massa tidak mengindahkan protokol kesehatan. “(Ini) menunjukkan Pemda tak memberlakukan prokes dan aturan PPKM seperti instruksi Pemerintah Pusat. Rakyat dihukum, rakyat diminta maklum,” kritiknya. 

Politisi Fraksi PKS Mardani Ali Sera ikut nimbrung. Menurutnya, kasus kerumunan yang melibatkan Jokowi ini bukan yang pertama. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories