Kendalikan Inflasi Akibat Kenaikan Harga BBM BI Sebar 77 Ribu Bibit Cabe Ke Petani Kota

Bank Indonesia (BI) Perwakilan DKI Jakarta mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan inflasi di Ibu Kota. Salah satunya dengan membagikan 77 ribu bibit cabe ke petani.

Inflasi di Jakarta pada tahun ini diprediksi tembus di angka 5,25 persen dari target 4 persen. Kenaikan tersebut salah satunya disebabkan kenaikan harga pangan dan energi.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan DKI Jakarta, Onny Widjanarko mengungkapkan, tekanan inflasi sudah terjadi sejak melonjaknya harga komoditi pangan, geopolitik dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Tekanannya itu dari segala penjuru. Karena itu, cara mengatasinya harus bersama-sama,” kata Onny usai acara Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Jakarta di Kantor BI Perwakilan DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (20/9).

Per Agustus 2022, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) di Ibu Kota mencapai 3,3 persen. Inflasi IHK itu dipicu inflasi komoditas pangan 5,21 persen. Onny memprediksi, inflasi Jakarta pada 2022 akan berada 5,15-5,25 persen.

“Sudah banyak pengamat ekonomi yang bilang inflasi di angka 6, kita sih yakin di angka 5, komanya juga tidak terlalu besar,” yakin Onny.

Untuk mengendalikan inflasi, BI DKI menginisiasi GNPIP Jakarta. GNPIP ini berkolaborasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta dan stakeholder Pemerintah Daerah (Pemda) luar Jakarta.

Disebutkannya, salah satu penyebab inflasi adalah harga kenaikan komoditas pangan. Karena itu, pengendalian inflasi pangan menjadi kunci.

“Terutama pangan yang asalnya dari dalam negeri. Jangan sampai dari luar negerinya sudah mahal, dalam negerinya tidak terkelola dengan baik, kena double impact kan?” jelas Onny.

Ke depan, paparnya, tekanan inflasi diprediksi akan meningkat. Ada tiga penyebabnya. Pertama, pangan bergejolak disebabkan oleh gangguan cuaca La Nina, kesenjangan pasokan antar waktu dan antar daerah, kenaikan harga komoditas global dan kenaikan permintaan hotel, restoran serta catering.

 

Kedua, kenaikan harga barang dan jasa yang diatur Pemerintah seperti harga energi dan fuel surcharge angkutan udara.

Ketiga, ekspektasi inflasi meningkat, permintaan meningkat gradual, risiko nilai tukar serta dampak lanjutan kenaikan Volatile Foods (VF), dan Administered Prices (AP).

Untuk mengantisipasinya, GNPIP mencetuskan Program 4K. Yakni Keterjangkauan harga, Ketersedian pasokan, Kelancaran distribusi dan Komunikasi efektif. Wujud nyata dari implementasi 4K, di antaranya penandatanganan kerja sama Antar Daerah (KAD) antara PT Food Station Tjipinang dengan PT Mitra Desa Bersama Tempuran, Jawa Barat dan Koperasi Produsen Rumpun Padi Berkah, Jawa Barat. Dari dua kerja sama itu, disiapkan lahan seluas 330 hektar, dengan potensi Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 3.672 ton per tahun.

Selain itu, pembagian 77 ribu bibit cabe kepada 10 kelompok tani urban farming di Jakarta.

“Kenapa cabe? Karena secara historis cabe ini bandel, inflasinya selalu naik,” ungkap Onny.

Asisten Perekonomian dan Keuangan Setda DKI Sri Haryati mengatakan, perekonomian Jakarta masih dalam tantangan berat. Tantangan itu dari nasional dan global. Dia sepakat untuk mengatasi tantangan tersebut diperlukan kolaborasi.

Sri menuturkan, pihaknya juga mengambil sejumlah langkah untuk mengendalikan inflasi. Antara lain, mendorong peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) terkait pangan Pemprov DKI Jakarta. Saat ini BUMD tidak hanya menyewakan kios. Namun didorong menyediakan market. Sehingga suplai, keterjangkauan dan harga pangan dapat dikendalikan.

Selain itu, Pemprov DKI menggelontorkan berbagai bantuan sosial (bansos) seperti subsidi pangan, Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Lansia Jakarta (KLJ) dan sebagainya.

Kemudian, Pemprov DKI menggalakkan urban farming. Pertanian di tengah kota ini diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan. “Kita telah memberikan 77 ribu bibit cabe kepada 10 kelompok tani di wilayah DKI Jakarta,” ujarnya.

Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati mengaku bahagia perekonomian Jakarta relatif terkendali. Meski inflasi meningkat, namun pertumbuhan ekonominya juga bergeliat. Meskipun, menurutnya, dampak pertumbuhan ekonomi belum merata.

“Dan di sinilah tugas kita, untuk membantu warga yang belum tersentuh. Karena itu saya sangat mengapresiasi Bank Indonesia DKI Jakarta yang selama ini konsen membantu ekonomi warga,” kata Anis.

Anis berharap, program bansos dan pangan murah di Jakarta dipertahankan.

“Kalau bisa diperluas, sehingga dapat menjangkau masyarakat lebih luas,” ujarnya.

Dia mendorong BI DKI Jakarta terus berkontribusi untuk mengatasi kemiskinan dan mengendalikan inflasi.

“Mudah-mudahan program ini dapat membantu masyarakat mandiri,” tandasnya. ■

]]> Bank Indonesia (BI) Perwakilan DKI Jakarta mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan inflasi di Ibu Kota. Salah satunya dengan membagikan 77 ribu bibit cabe ke petani.

Inflasi di Jakarta pada tahun ini diprediksi tembus di angka 5,25 persen dari target 4 persen. Kenaikan tersebut salah satunya disebabkan kenaikan harga pangan dan energi.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan DKI Jakarta, Onny Widjanarko mengungkapkan, tekanan inflasi sudah terjadi sejak melonjaknya harga komoditi pangan, geopolitik dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Tekanannya itu dari segala penjuru. Karena itu, cara mengatasinya harus bersama-sama,” kata Onny usai acara Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Jakarta di Kantor BI Perwakilan DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (20/9).

Per Agustus 2022, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) di Ibu Kota mencapai 3,3 persen. Inflasi IHK itu dipicu inflasi komoditas pangan 5,21 persen. Onny memprediksi, inflasi Jakarta pada 2022 akan berada 5,15-5,25 persen.

“Sudah banyak pengamat ekonomi yang bilang inflasi di angka 6, kita sih yakin di angka 5, komanya juga tidak terlalu besar,” yakin Onny.

Untuk mengendalikan inflasi, BI DKI menginisiasi GNPIP Jakarta. GNPIP ini berkolaborasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta dan stakeholder Pemerintah Daerah (Pemda) luar Jakarta.

Disebutkannya, salah satu penyebab inflasi adalah harga kenaikan komoditas pangan. Karena itu, pengendalian inflasi pangan menjadi kunci.

“Terutama pangan yang asalnya dari dalam negeri. Jangan sampai dari luar negerinya sudah mahal, dalam negerinya tidak terkelola dengan baik, kena double impact kan?” jelas Onny.

Ke depan, paparnya, tekanan inflasi diprediksi akan meningkat. Ada tiga penyebabnya. Pertama, pangan bergejolak disebabkan oleh gangguan cuaca La Nina, kesenjangan pasokan antar waktu dan antar daerah, kenaikan harga komoditas global dan kenaikan permintaan hotel, restoran serta catering.

 

Kedua, kenaikan harga barang dan jasa yang diatur Pemerintah seperti harga energi dan fuel surcharge angkutan udara.

Ketiga, ekspektasi inflasi meningkat, permintaan meningkat gradual, risiko nilai tukar serta dampak lanjutan kenaikan Volatile Foods (VF), dan Administered Prices (AP).

Untuk mengantisipasinya, GNPIP mencetuskan Program 4K. Yakni Keterjangkauan harga, Ketersedian pasokan, Kelancaran distribusi dan Komunikasi efektif. Wujud nyata dari implementasi 4K, di antaranya penandatanganan kerja sama Antar Daerah (KAD) antara PT Food Station Tjipinang dengan PT Mitra Desa Bersama Tempuran, Jawa Barat dan Koperasi Produsen Rumpun Padi Berkah, Jawa Barat. Dari dua kerja sama itu, disiapkan lahan seluas 330 hektar, dengan potensi Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 3.672 ton per tahun.

Selain itu, pembagian 77 ribu bibit cabe kepada 10 kelompok tani urban farming di Jakarta.

“Kenapa cabe? Karena secara historis cabe ini bandel, inflasinya selalu naik,” ungkap Onny.

Asisten Perekonomian dan Keuangan Setda DKI Sri Haryati mengatakan, perekonomian Jakarta masih dalam tantangan berat. Tantangan itu dari nasional dan global. Dia sepakat untuk mengatasi tantangan tersebut diperlukan kolaborasi.

Sri menuturkan, pihaknya juga mengambil sejumlah langkah untuk mengendalikan inflasi. Antara lain, mendorong peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) terkait pangan Pemprov DKI Jakarta. Saat ini BUMD tidak hanya menyewakan kios. Namun didorong menyediakan market. Sehingga suplai, keterjangkauan dan harga pangan dapat dikendalikan.

Selain itu, Pemprov DKI menggelontorkan berbagai bantuan sosial (bansos) seperti subsidi pangan, Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Lansia Jakarta (KLJ) dan sebagainya.

Kemudian, Pemprov DKI menggalakkan urban farming. Pertanian di tengah kota ini diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan. “Kita telah memberikan 77 ribu bibit cabe kepada 10 kelompok tani di wilayah DKI Jakarta,” ujarnya.

Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati mengaku bahagia perekonomian Jakarta relatif terkendali. Meski inflasi meningkat, namun pertumbuhan ekonominya juga bergeliat. Meskipun, menurutnya, dampak pertumbuhan ekonomi belum merata.

“Dan di sinilah tugas kita, untuk membantu warga yang belum tersentuh. Karena itu saya sangat mengapresiasi Bank Indonesia DKI Jakarta yang selama ini konsen membantu ekonomi warga,” kata Anis.

Anis berharap, program bansos dan pangan murah di Jakarta dipertahankan.

“Kalau bisa diperluas, sehingga dapat menjangkau masyarakat lebih luas,” ujarnya.

Dia mendorong BI DKI Jakarta terus berkontribusi untuk mengatasi kemiskinan dan mengendalikan inflasi.

“Mudah-mudahan program ini dapat membantu masyarakat mandiri,” tandasnya. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories