Kenali, Risiko Rambut Rontok Pada Survivor Covid-19 .

Kerontokan rambut termasuk salah satu gejala yang dialami survivor (penyintas) Covid-19, yang masih diinvestigasi oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular AS (CDC).

Sekitar 24,1 persen penyintas Covid mengalami kerontokan rambut. Kerontokan tersebut rata-rata muncul pada 58,6 hari sejak awal munculnya gejala Covid. Sekitar 35 persen kasus, dilaporkan membaik secara spontan (Miyazato et al, 2020).

Terkait hal ini, dr. RA Adaninggar Sp.PD menjelaskan, kerontokan rambut pada penyintas Covid-19 ini merupakan kondisi yang dikenal dengan istilah telogen effluvium.

Kondisi ini banyak terjadi pada wanita, terjadi secara tiba-tiba, rambut banyak rontok saat disisir atau mandi, dan biasanya muncul 2-3 bulan setelah kondisi pencetus, dengan lokasi di sebagian kepala.

Kerontokan ini bisa berlangsung hingga 6-9 bulan, setelahnya rambut akan tumbuh kembali.

“Pada penderita Covid-19, kondisi yang bisa mencetuskan telogen effluvium adalah demam saat sakit Covid akut. Selain itu, stres fisik dan psikis juga bisa jadi pemicu,” terang dokter yang akrab disapa Ning, via laman Instagram-nya.

“Stres akut bisa menyebabkan kondisi tellogen effluvium. Rambut berhenti tumbuh dalam 2-3 bulan. Tapi, sifatnya hanya sementara,” sambungnya.
 

 

Ning yang berpraktek di RS Adi Usada dan RS Brawijaya Surabaya ini menjelaskan, pada penyintas Covid laki-laki, jenis kerontokan rambutnya berbeda.

Dengan kondisi alopecia androgenik, penyintas Covid-19 laki-laki berisiko mengalami rambut yang tidak tumbuh, dan tidak diganti oleh rambut baru.

“Akibatnya, rambut menipis dan botak. Kejadian ini kerap dikaitkan pada kondisi Covid yang berat,” cetus Ning.

Namun, tak semua penyintas Covid-19 mengalami kerontokan rambut. Diperkirakan, ada faktor predisposisi genetik.

“Kondisi telogen effluvium ini bukanlah kondisi yang spesifik terjadi pada pasien Covid-19. Kondisi ini biasa terjadi dengan pencetus-pencetus seperti penyakit sistemik, stres psikis, efek obat-obatan, kekurangan nutrisi tertentu, dan setelah operasi besar,” jelas dokter yang aktif memberikan edukasi kesehatan melalui Instagram ini.

“Lakukan pola hidup sehat dan manajemen stres untuk mempercepat pemulihan. Jangan ragu konsul ke dokter kulit, bila kerontokan rambut berlangsung lama dan disertai keluhan lain,” pungkas Ning. [HES]

]]> .
Kerontokan rambut termasuk salah satu gejala yang dialami survivor (penyintas) Covid-19, yang masih diinvestigasi oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular AS (CDC).

Sekitar 24,1 persen penyintas Covid mengalami kerontokan rambut. Kerontokan tersebut rata-rata muncul pada 58,6 hari sejak awal munculnya gejala Covid. Sekitar 35 persen kasus, dilaporkan membaik secara spontan (Miyazato et al, 2020).

Terkait hal ini, dr. RA Adaninggar Sp.PD menjelaskan, kerontokan rambut pada penyintas Covid-19 ini merupakan kondisi yang dikenal dengan istilah telogen effluvium.

Kondisi ini banyak terjadi pada wanita, terjadi secara tiba-tiba, rambut banyak rontok saat disisir atau mandi, dan biasanya muncul 2-3 bulan setelah kondisi pencetus, dengan lokasi di sebagian kepala.

Kerontokan ini bisa berlangsung hingga 6-9 bulan, setelahnya rambut akan tumbuh kembali.

“Pada penderita Covid-19, kondisi yang bisa mencetuskan telogen effluvium adalah demam saat sakit Covid akut. Selain itu, stres fisik dan psikis juga bisa jadi pemicu,” terang dokter yang akrab disapa Ning, via laman Instagram-nya.

“Stres akut bisa menyebabkan kondisi tellogen effluvium. Rambut berhenti tumbuh dalam 2-3 bulan. Tapi, sifatnya hanya sementara,” sambungnya.
 

 

Ning yang berpraktek di RS Adi Usada dan RS Brawijaya Surabaya ini menjelaskan, pada penyintas Covid laki-laki, jenis kerontokan rambutnya berbeda.

Dengan kondisi alopecia androgenik, penyintas Covid-19 laki-laki berisiko mengalami rambut yang tidak tumbuh, dan tidak diganti oleh rambut baru.

“Akibatnya, rambut menipis dan botak. Kejadian ini kerap dikaitkan pada kondisi Covid yang berat,” cetus Ning.

Namun, tak semua penyintas Covid-19 mengalami kerontokan rambut. Diperkirakan, ada faktor predisposisi genetik.

“Kondisi telogen effluvium ini bukanlah kondisi yang spesifik terjadi pada pasien Covid-19. Kondisi ini biasa terjadi dengan pencetus-pencetus seperti penyakit sistemik, stres psikis, efek obat-obatan, kekurangan nutrisi tertentu, dan setelah operasi besar,” jelas dokter yang aktif memberikan edukasi kesehatan melalui Instagram ini.

“Lakukan pola hidup sehat dan manajemen stres untuk mempercepat pemulihan. Jangan ragu konsul ke dokter kulit, bila kerontokan rambut berlangsung lama dan disertai keluhan lain,” pungkas Ning. [HES]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories