Kementan Dorong Kontribusi Perkebunan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional .

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memberikan apresiasi kepada Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan beserta seluruh jajarannya, serta seluruh Kepala Dinas yang membidangi Perkebunan Provinsi/Kabupaten/Kota.

Sebab, mereka telah memberikan kontribusi nyata dalam sektor pelaksanaan pembangunan perkebunan, yang berkontribusi besar dalam upaya pemulihan ekonomi nasional (PEN) di tengah kondisi pandemi Covid-19.

“Tahun 2020, sektor perkebunan memberikan kontribusi yang positif untuk pertumbuhan dan pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19,” ujar Syahrul, dalam siaran pers, Senin (3/5).

Berdasarkan data BPS, ekspor pertanian bulan Januari hingga November 2020 sebesar 399,5 triliun rupiah, atau naik 12,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar 349,1 triliun rupiah.

Dari nilai ekspor tersebut, kontribusi perkebunan mencapai 90,9 persen atau 363,2 triliun rupiah. Sektor perkebunan sekaligus menjadi kontributor penting dalam mencapai target gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratieks).

Ekspor komoditas perkebunan yang melonjak pada Januari-November tersebut paling besar disumbang oleh komoditas kelapa sawit, karet, kakao, dan kopi.

Sejalan dengan arah kebijakan pembangunan pertanian yaitu Pertanian Maju, Mandiri, Modern, arah kebijakan dan program pembangunan perkebunan harus mengacu pada kebijakan tersebut.

Adapun Program utama dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah dan ekspor meliputi program peningkatan produksi pangan.

“Saya minta program swasembada gula konsumsi dan pemenuhan kebutuhan minyak goreng menjadi program utama pembangunan perkebunan,” imbau Syahrul.

Kemudian, program pendukung yang diformat dalam cara bertindak (CB)1 tentang peningkatan kapasitas produksi (utamanya gula), CB2 diversifikasi pangan (utamanya sagu), CB3 lumbung pangan, CB4 pertanian modern (utamanya mekanisasi dan hilirisasi perkebunan), dan CB5 Ekspor (utamanya kopi, kakao, kelapa, karet).

Lalu, program Super Prioritas Pertanian (SPP) pada sub sektor perkebunan, antara lain swasembada gula konsumsi, seribu desa perkebunan rumah tangga, program 1 provinsi 1 triliun untuk mekanisasi dan hilirisasi perkebunan, serta digitalisasi perkebunan dan marketplace.

Selain itu, juga berkontribusi dalam program Food Estate Kalteng Sumut, NTT, Maluku, Sumsel dan Papua, sekolah pertanian di 34 provinsi, mencetak 2,5 juta petani milenial, magang petani/pekebun milenial ke luar negeri, dan seribu desa gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratieks).

Dalam mendukung diversifikasi pangan, Mentan Syahrul meminta jajaran Ditjen Perkebunan bersama Dinas dan mitra lainnya agar segera melakukan langkah nyata dalam upaya pengembangan sagu sebagai bahan pokok pengganti beras.

“Tingkatkan terus ekspor komoditas perkebunan 2021 secara kualitas dan kuantitas, tidak hanya untuk kelapa sawit, tetapi juga untuk komoditas strategis lainnya, seperti kopi, kakao, kelapa, karet, kayu manis, lada, dan pala. Buat target-target dan upaya konkritnya secara lebih terukur,” imbaunya.

Syahrul juga menyoroti swasembada gula konsumsi. Hal itu, harus mendapatkan perhatian yang serius. “Bapak Presiden menyoroti khusus terkait hal ini,” ucap Syahrul.

Dia mengimbau jajarannya untuk menyusun langkah-langkah konkrit dalam upaya peningkatan produktivitas dan produksi tebu, peningkatan kapasitas dan efisiensi pabrik gula (PG) berbasis tebu (gula konsumsi), peningkatan penyerapan tenaga kerjanya serta peningkatan pendapatan petani/pekebun.

“Pembangunan seribu desa perkebunan rumah tangga, diarahkan untuk komoditas kelapa dan komoditas lainnya sesuai potensi daerah,” tambahnya.

Syahrul menuturkan, bahwa dalam pengembangannya, sektor ini harus diarahkan ke industrialisasi. Luasan pengembangannya harus dipastikan berskala ekonomi, produksi dan produktivitas komoditasnya sesuai denhan skala industri.

Kemudian, Syahrul juga meminta jajarannya untuk membuat rancangan kegiatan dan anggaran secara multiyear, serta membuat target pencapaian yang dapat diukur setiap triwulan.

“Di era industri 4.0 pembangunan infrastruktur berbasis digital menjadi sebuah keniscayaan. Digitalisasi perkebunan menjadi kunci kecepatan dan ketepatan dalam akselerasi pembangunan perkebunan. Agar terus dilengkapi AWR perkebunan yang telah ada, dan di-link-kan dengan AWR Pusat dan Daerah di Kostratani,” tegas Syahrul.

Selain itu, dia juga meminta digitalisasi dalam pelayanan perizinan, peningkatan akurasi data, marketplace, dan ekspor perkebunan. Pada 2021, Ditjen Perkebunan harus terus berupaya untuk meningkatkan produktivitas, produksi, nilai tambah dan ekspor, serta kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Agar dapat melaksanakan kebijakan dan program pembangunan perkebunan 2021 yang lebih maju, lebih mandiri dan lebih modern dibanding 2020, Ditjen Perkebunan, diminta Syahrul untuk meningkatkan kerjasama dan bersinergi dengan Eselon I lainnya, Kementerian dan Lembaga lainnya, Pemerintah Daerah, dan mitra lainnya.

“Semua pihak harus bekerja keras di lapangan, harus mengerti, bisa dan mampu mengeksekusi kebijakan, program dan arahan,” imbaunya.

Diharapkan dengan adanya rapat koordinasi nasional pembangunan perkebunan 2021 ini, langkah-langkah kongkrit untuk percepatan program dan kegiatan pembangunan perkebunan 2021 dapat dirumuskan secara operasional. Sementara Ditjen Perkebunan dan jajarannya siap melaksanakan percepatan 2021 sesuai arahan Mentan. [DNU]

]]> .
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memberikan apresiasi kepada Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan beserta seluruh jajarannya, serta seluruh Kepala Dinas yang membidangi Perkebunan Provinsi/Kabupaten/Kota.

Sebab, mereka telah memberikan kontribusi nyata dalam sektor pelaksanaan pembangunan perkebunan, yang berkontribusi besar dalam upaya pemulihan ekonomi nasional (PEN) di tengah kondisi pandemi Covid-19.

“Tahun 2020, sektor perkebunan memberikan kontribusi yang positif untuk pertumbuhan dan pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19,” ujar Syahrul, dalam siaran pers, Senin (3/5).

Berdasarkan data BPS, ekspor pertanian bulan Januari hingga November 2020 sebesar 399,5 triliun rupiah, atau naik 12,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar 349,1 triliun rupiah.

Dari nilai ekspor tersebut, kontribusi perkebunan mencapai 90,9 persen atau 363,2 triliun rupiah. Sektor perkebunan sekaligus menjadi kontributor penting dalam mencapai target gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratieks).

Ekspor komoditas perkebunan yang melonjak pada Januari-November tersebut paling besar disumbang oleh komoditas kelapa sawit, karet, kakao, dan kopi.

Sejalan dengan arah kebijakan pembangunan pertanian yaitu Pertanian Maju, Mandiri, Modern, arah kebijakan dan program pembangunan perkebunan harus mengacu pada kebijakan tersebut.

Adapun Program utama dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah dan ekspor meliputi program peningkatan produksi pangan.

“Saya minta program swasembada gula konsumsi dan pemenuhan kebutuhan minyak goreng menjadi program utama pembangunan perkebunan,” imbau Syahrul.

Kemudian, program pendukung yang diformat dalam cara bertindak (CB)1 tentang peningkatan kapasitas produksi (utamanya gula), CB2 diversifikasi pangan (utamanya sagu), CB3 lumbung pangan, CB4 pertanian modern (utamanya mekanisasi dan hilirisasi perkebunan), dan CB5 Ekspor (utamanya kopi, kakao, kelapa, karet).

Lalu, program Super Prioritas Pertanian (SPP) pada sub sektor perkebunan, antara lain swasembada gula konsumsi, seribu desa perkebunan rumah tangga, program 1 provinsi 1 triliun untuk mekanisasi dan hilirisasi perkebunan, serta digitalisasi perkebunan dan marketplace.

Selain itu, juga berkontribusi dalam program Food Estate Kalteng Sumut, NTT, Maluku, Sumsel dan Papua, sekolah pertanian di 34 provinsi, mencetak 2,5 juta petani milenial, magang petani/pekebun milenial ke luar negeri, dan seribu desa gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratieks).

Dalam mendukung diversifikasi pangan, Mentan Syahrul meminta jajaran Ditjen Perkebunan bersama Dinas dan mitra lainnya agar segera melakukan langkah nyata dalam upaya pengembangan sagu sebagai bahan pokok pengganti beras.

“Tingkatkan terus ekspor komoditas perkebunan 2021 secara kualitas dan kuantitas, tidak hanya untuk kelapa sawit, tetapi juga untuk komoditas strategis lainnya, seperti kopi, kakao, kelapa, karet, kayu manis, lada, dan pala. Buat target-target dan upaya konkritnya secara lebih terukur,” imbaunya.

Syahrul juga menyoroti swasembada gula konsumsi. Hal itu, harus mendapatkan perhatian yang serius. “Bapak Presiden menyoroti khusus terkait hal ini,” ucap Syahrul.

Dia mengimbau jajarannya untuk menyusun langkah-langkah konkrit dalam upaya peningkatan produktivitas dan produksi tebu, peningkatan kapasitas dan efisiensi pabrik gula (PG) berbasis tebu (gula konsumsi), peningkatan penyerapan tenaga kerjanya serta peningkatan pendapatan petani/pekebun.

“Pembangunan seribu desa perkebunan rumah tangga, diarahkan untuk komoditas kelapa dan komoditas lainnya sesuai potensi daerah,” tambahnya.

Syahrul menuturkan, bahwa dalam pengembangannya, sektor ini harus diarahkan ke industrialisasi. Luasan pengembangannya harus dipastikan berskala ekonomi, produksi dan produktivitas komoditasnya sesuai denhan skala industri.

Kemudian, Syahrul juga meminta jajarannya untuk membuat rancangan kegiatan dan anggaran secara multiyear, serta membuat target pencapaian yang dapat diukur setiap triwulan.

“Di era industri 4.0 pembangunan infrastruktur berbasis digital menjadi sebuah keniscayaan. Digitalisasi perkebunan menjadi kunci kecepatan dan ketepatan dalam akselerasi pembangunan perkebunan. Agar terus dilengkapi AWR perkebunan yang telah ada, dan di-link-kan dengan AWR Pusat dan Daerah di Kostratani,” tegas Syahrul.

Selain itu, dia juga meminta digitalisasi dalam pelayanan perizinan, peningkatan akurasi data, marketplace, dan ekspor perkebunan. Pada 2021, Ditjen Perkebunan harus terus berupaya untuk meningkatkan produktivitas, produksi, nilai tambah dan ekspor, serta kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Agar dapat melaksanakan kebijakan dan program pembangunan perkebunan 2021 yang lebih maju, lebih mandiri dan lebih modern dibanding 2020, Ditjen Perkebunan, diminta Syahrul untuk meningkatkan kerjasama dan bersinergi dengan Eselon I lainnya, Kementerian dan Lembaga lainnya, Pemerintah Daerah, dan mitra lainnya.

“Semua pihak harus bekerja keras di lapangan, harus mengerti, bisa dan mampu mengeksekusi kebijakan, program dan arahan,” imbaunya.

Diharapkan dengan adanya rapat koordinasi nasional pembangunan perkebunan 2021 ini, langkah-langkah kongkrit untuk percepatan program dan kegiatan pembangunan perkebunan 2021 dapat dirumuskan secara operasional. Sementara Ditjen Perkebunan dan jajarannya siap melaksanakan percepatan 2021 sesuai arahan Mentan. [DNU]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories