Kemenperin Dorong Sektor Farmasi Terapkan Industri 4.0 .

Pemerintah terus berupaya mendorong transformasi teknologi 4.0 pada sektor industri farmasi nasional, agar semakin berdaya saing serta mampu menjadi sektor yang mandiri di dalam negeri.

Melalui upaya tersebut, diharapkan sektor tersebut mampu memenuhi kebutuhan domestik, dan secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk farmasi impor.

“Industri yang sudah bertransformasi digital akan lebih produktif, mengurangi biaya operasional, lebih efektif, dan membuat harga produk akan menjadi lebih kompetitif,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Khayam di Jakarta, Sabtu (17/4).

Kemenperin telah menambahkan sektor industri farmasi masuk dalam program prioritas pengembangan Making Indonesia 4.0. Hal ini sebagai upaya konkret untuk segera mewujudkan Indonesia yang mandiri di sektor kesehatan. “Industri priortias dalam Making Indonesia 4.0 awalnya hanya lima sektor, namun ketika pandemi, Kememperin menambahkan dua sektor ini menjadi prioritas, yaitu farmasi dan alat kesehatan,” imbuh Khayam.

Guna mendorong tranformasi pada sektor tersebut, pada tahun 2019 dan 2020 Kemenperin juga telah melakukan assessment Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Selanjutnya, program dan kegiatan terkait industri 4.0 di sektor IKFT tahun 2021 meliputi fasilitasi perusahaan industri kimia hilir dan farmasi dalam menerapkan Industri 4.0 melalui big data industri kimia hilir dan farmasi, readiness assessment penerapan industri 4.0 sektor industri kimia hilir dan farmasi,  penyusunan model factory cell, dan  penerapan lean management.

“INDI 4.0 diharapkan mampu mendorong pengembangan sektor farmasi, dan kita mendorong sebanyak 32 perusahaan farmasi yang sedang dalam tahap persiapan INDI 4.0, sehingga proses produksi hingga distribusinya bisa jauh lebih efisien,” paparnya.

Dalam mengimplementasikan langkah-langkah strategis tersebut, Kemenperin juga terus berupaya bersinergi dengan para stakeholder yang bergerak pada industri farmasi, di antaranya Bio Farma, yang merupakan induk holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang farmasi, yakni PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk. 

“Kami harapkan ini semakin meningkatkan daya saing industri farmasi nasional,” imbuhnya. [DIT]

]]> .
Pemerintah terus berupaya mendorong transformasi teknologi 4.0 pada sektor industri farmasi nasional, agar semakin berdaya saing serta mampu menjadi sektor yang mandiri di dalam negeri.

Melalui upaya tersebut, diharapkan sektor tersebut mampu memenuhi kebutuhan domestik, dan secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk farmasi impor.

“Industri yang sudah bertransformasi digital akan lebih produktif, mengurangi biaya operasional, lebih efektif, dan membuat harga produk akan menjadi lebih kompetitif,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Khayam di Jakarta, Sabtu (17/4).

Kemenperin telah menambahkan sektor industri farmasi masuk dalam program prioritas pengembangan Making Indonesia 4.0. Hal ini sebagai upaya konkret untuk segera mewujudkan Indonesia yang mandiri di sektor kesehatan. “Industri priortias dalam Making Indonesia 4.0 awalnya hanya lima sektor, namun ketika pandemi, Kememperin menambahkan dua sektor ini menjadi prioritas, yaitu farmasi dan alat kesehatan,” imbuh Khayam.

Guna mendorong tranformasi pada sektor tersebut, pada tahun 2019 dan 2020 Kemenperin juga telah melakukan assessment Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Selanjutnya, program dan kegiatan terkait industri 4.0 di sektor IKFT tahun 2021 meliputi fasilitasi perusahaan industri kimia hilir dan farmasi dalam menerapkan Industri 4.0 melalui big data industri kimia hilir dan farmasi, readiness assessment penerapan industri 4.0 sektor industri kimia hilir dan farmasi,  penyusunan model factory cell, dan  penerapan lean management.

“INDI 4.0 diharapkan mampu mendorong pengembangan sektor farmasi, dan kita mendorong sebanyak 32 perusahaan farmasi yang sedang dalam tahap persiapan INDI 4.0, sehingga proses produksi hingga distribusinya bisa jauh lebih efisien,” paparnya.

Dalam mengimplementasikan langkah-langkah strategis tersebut, Kemenperin juga terus berupaya bersinergi dengan para stakeholder yang bergerak pada industri farmasi, di antaranya Bio Farma, yang merupakan induk holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang farmasi, yakni PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk. 

“Kami harapkan ini semakin meningkatkan daya saing industri farmasi nasional,” imbuhnya. [DIT]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories