Kematangan Demokrasi

Suhu politik terus meningkat panas. Gesekan-gesekan akibat manuver politik memperebutkan partai menjadi sebab utama semakin memanasnya situasi. Perbedaan politik ini menjadi sangat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara karena semua bermain dengan hati.

Kontestasi kepemimpinan partai lumrah dalam jagat politik. Sebuah keniscayaan dalam negara berdemokrasi. Justru karena keniscayaan, makanya masing-masing individu pemilih di negeri ini sudah harus bisa lebih rileks dalam menyikapi perbedaan pandangan, pilihan politik.

Kita miris kalau cara penyikapan anak-anak bangsa kita begitu emosionalnya terhadap perbedaan. Seperti memilih keyakinan agama saja. Perbedaan yang telah merusak jalinan persaudaraan yang diikat dalam keluarga, pertemanan, persahabatan, dan kekerabatan. Grup-grup sosial media isinya saling sindir, saling serang, dan saling block.

Inilah bahaya kontestasi politiknya yang dicampur politik kotor. Jadi, ada yang membelah dukungan dan pendulangan suara. Tidak membatu ke dalam dua kelompok seperti ini.

Kita berharap selepas ini, setelah terpilih, siapa pun ia, kita semua kembali pulih dari luka perbedaan yang mengeras. Tidak ada lagi gesekan-gesekan yang memanaskan relasi sesama anak bangsa. Kontestasi yang berujung konflik ini tidak berujung dendam kesumat. Tidak berkepanjangan.

Indikator kedewasaan berdemokrasi diukur dari seberapa cepat bangsa ini pulih dari perbedaan karena preferensi politik. Kita berharap ini terjadi dalam tubuh ini. Perang politik melalui jalur udara dan darat tidak meluluhlantakkan jalinan persaudaraan berbangsa dan bernegara.

Ini semua habangsarus dimulai dengan keteladanan elit yang jadi peserta kontestasi politik. Merekalah yang harus mempelopori recovery apapun hasil hajatan demokrasi. Semua menerima apapun yang rakyat putuskan. Segera move on dan melakukan kerja membangun masa depan Indonesia hebat.

]]> Suhu politik terus meningkat panas. Gesekan-gesekan akibat manuver politik memperebutkan partai menjadi sebab utama semakin memanasnya situasi. Perbedaan politik ini menjadi sangat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara karena semua bermain dengan hati.

Kontestasi kepemimpinan partai lumrah dalam jagat politik. Sebuah keniscayaan dalam negara berdemokrasi. Justru karena keniscayaan, makanya masing-masing individu pemilih di negeri ini sudah harus bisa lebih rileks dalam menyikapi perbedaan pandangan, pilihan politik.

Kita miris kalau cara penyikapan anak-anak bangsa kita begitu emosionalnya terhadap perbedaan. Seperti memilih keyakinan agama saja. Perbedaan yang telah merusak jalinan persaudaraan yang diikat dalam keluarga, pertemanan, persahabatan, dan kekerabatan. Grup-grup sosial media isinya saling sindir, saling serang, dan saling block.

Inilah bahaya kontestasi politiknya yang dicampur politik kotor. Jadi, ada yang membelah dukungan dan pendulangan suara. Tidak membatu ke dalam dua kelompok seperti ini.

Kita berharap selepas ini, setelah terpilih, siapa pun ia, kita semua kembali pulih dari luka perbedaan yang mengeras. Tidak ada lagi gesekan-gesekan yang memanaskan relasi sesama anak bangsa. Kontestasi yang berujung konflik ini tidak berujung dendam kesumat. Tidak berkepanjangan.

Indikator kedewasaan berdemokrasi diukur dari seberapa cepat bangsa ini pulih dari perbedaan karena preferensi politik. Kita berharap ini terjadi dalam tubuh ini. Perang politik melalui jalur udara dan darat tidak meluluhlantakkan jalinan persaudaraan berbangsa dan bernegara.

Ini semua habangsarus dimulai dengan keteladanan elit yang jadi peserta kontestasi politik. Merekalah yang harus mempelopori recovery apapun hasil hajatan demokrasi. Semua menerima apapun yang rakyat putuskan. Segera move on dan melakukan kerja membangun masa depan Indonesia hebat.
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories