Keluar Penjara Nazar Masih Kaya Raya .

Keluar dari penjara karena berbagai kasus korupsi, eks Bendahara Umum Partai Demokrat, M Nazaruddin ternyata masih kaya raya. Salah satu buktinya, dia menjadi ‘kasir’ bagi para peserta KLB Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara yang mengangkat Moeldoko sebagai ketua umum.

Nama Nazar muncul lagi seiring dengan ramainya KLB Partai Demokrat. Foto-foto Nazar bersama Moeldoko dan Jhoni Allen Marbun berseliweran di media sosial.

Soal peran Nazar terungkap saat Eks Wakil Ketua DPC PD Kotamobagu Sulawesi Utara, Gerald Pieter Runtuthomas yang hadir di KLB, membocorkan soal uang saku. Ternyata, yang membayar mereka Nazar.

Hal tersebut dikatakan Gerald dalam Konferensi Pers Ketua Umum Partai Demokrat, Menguak Kebenaran: Testimoni Peserta KLB Abal-abal, Senin (8/3). “Kami dijanjikan Rp 100 juta. Namun, kenyataannya, para peserta KLB hanya mendapatkan uang Rp 5 juta saja. Karena tak sesuai janji, para peserta KLB memberontak,” bebernya.

Karena tak sesuai harapan, jelas Gerald, banyak peserta KLB yang berontak. Kemudian, peserta yang berontak ini mendapat uang saku tambahan dari Nazar. “Ditambah lagi oleh Nazar 5 juta, jadi 10 juta,” beber Gerald.

Cerita Gerald soal Nazar yang nyawer-nyawer ini, dikomentari warganet. Mereka mempertanyakan asal usul duit Nazar yang dibagi-bagi buat peserta KLB. Politisi Demokrat, Ossy Dermawan heran, Nazar masih kaya raya meskipun duitnya telah disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Kalau peserta KLB ilegal ada 400-an dan asumsinya Nazarudin nambahkan masing-masing 5 juta, maka total yang ditambahkan adalah 2 Miliar dalam sehari. Kelihatannya uang Nazarudin masih banyak. Dari mana?” tanya Wasekjen Partai Demokrat itu, di akun twitter pribadinya @OssyDermawan, kemarin.

Akun @agungt10 juga heran dengan aksi Nazar yang menjatah peserta KLB. “Udah lama nggak kerja, Nazarudin tetap kaya raya ya,” sebutnya. “Ada Nazarudin koruptor yang gagal dimiskinkan @KPK_RI sekarang bagi-bagi duit pula. Dulu proses penangkapannya heboh banget akhirnya bebas dan masih kaya raya hasil korupsi,” tukas @Adek_Sanusi.

Akun @RestuMohon menduga para koruptor tidak pernah dimiskinkan. “Pelaku korupsi di Indonesia tetap kaya, mereka jarang yang miskin sebab nggak dimiskinkan, yang dimiskinkan itu masa tahanannya,” cuitnya.

Lalu berapakah kekayaan Nazar? Dalam berbagai kesempatan, Nazar mengatakan, hanya memiliki harta Rp 200 miliar. Namun, harta Nazar yang disita KPK karena korupsi Rp 550 miliar.

Beberapa harta Nazar yang disita KPK adalah saham di berbagai perusahaan bernilai ratusan miliar rupiah, rumah, perkebunan, tanah dan bangunan kantor. Namun, ada juga yang dikembalikan.

Saat ditanya apakah duit KLB Partai Demokrat di Sumut dari Nazar? Penggagas KLB Partai Demokrat, Hengky Luntungan tak mempermasalahkan siapa pun penyokong dana untuk penyelenggaraan KLB. Termasuk, dari Nazar.

“Siapa pun kasih uang dengan ketulusan apa itu salah? Saya tanya aja, apa itu salah?” ucap Hengky, ketika dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin. [UMM]

]]> .
Keluar dari penjara karena berbagai kasus korupsi, eks Bendahara Umum Partai Demokrat, M Nazaruddin ternyata masih kaya raya. Salah satu buktinya, dia menjadi ‘kasir’ bagi para peserta KLB Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara yang mengangkat Moeldoko sebagai ketua umum.

Nama Nazar muncul lagi seiring dengan ramainya KLB Partai Demokrat. Foto-foto Nazar bersama Moeldoko dan Jhoni Allen Marbun berseliweran di media sosial.

Soal peran Nazar terungkap saat Eks Wakil Ketua DPC PD Kotamobagu Sulawesi Utara, Gerald Pieter Runtuthomas yang hadir di KLB, membocorkan soal uang saku. Ternyata, yang membayar mereka Nazar.

Hal tersebut dikatakan Gerald dalam Konferensi Pers Ketua Umum Partai Demokrat, Menguak Kebenaran: Testimoni Peserta KLB Abal-abal, Senin (8/3). “Kami dijanjikan Rp 100 juta. Namun, kenyataannya, para peserta KLB hanya mendapatkan uang Rp 5 juta saja. Karena tak sesuai janji, para peserta KLB memberontak,” bebernya.

Karena tak sesuai harapan, jelas Gerald, banyak peserta KLB yang berontak. Kemudian, peserta yang berontak ini mendapat uang saku tambahan dari Nazar. “Ditambah lagi oleh Nazar 5 juta, jadi 10 juta,” beber Gerald.

Cerita Gerald soal Nazar yang nyawer-nyawer ini, dikomentari warganet. Mereka mempertanyakan asal usul duit Nazar yang dibagi-bagi buat peserta KLB. Politisi Demokrat, Ossy Dermawan heran, Nazar masih kaya raya meskipun duitnya telah disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Kalau peserta KLB ilegal ada 400-an dan asumsinya Nazarudin nambahkan masing-masing 5 juta, maka total yang ditambahkan adalah 2 Miliar dalam sehari. Kelihatannya uang Nazarudin masih banyak. Dari mana?” tanya Wasekjen Partai Demokrat itu, di akun twitter pribadinya @OssyDermawan, kemarin.

Akun @agungt10 juga heran dengan aksi Nazar yang menjatah peserta KLB. “Udah lama nggak kerja, Nazarudin tetap kaya raya ya,” sebutnya. “Ada Nazarudin koruptor yang gagal dimiskinkan @KPK_RI sekarang bagi-bagi duit pula. Dulu proses penangkapannya heboh banget akhirnya bebas dan masih kaya raya hasil korupsi,” tukas @Adek_Sanusi.

Akun @RestuMohon menduga para koruptor tidak pernah dimiskinkan. “Pelaku korupsi di Indonesia tetap kaya, mereka jarang yang miskin sebab nggak dimiskinkan, yang dimiskinkan itu masa tahanannya,” cuitnya.

Lalu berapakah kekayaan Nazar? Dalam berbagai kesempatan, Nazar mengatakan, hanya memiliki harta Rp 200 miliar. Namun, harta Nazar yang disita KPK karena korupsi Rp 550 miliar.

Beberapa harta Nazar yang disita KPK adalah saham di berbagai perusahaan bernilai ratusan miliar rupiah, rumah, perkebunan, tanah dan bangunan kantor. Namun, ada juga yang dikembalikan.

Saat ditanya apakah duit KLB Partai Demokrat di Sumut dari Nazar? Penggagas KLB Partai Demokrat, Hengky Luntungan tak mempermasalahkan siapa pun penyokong dana untuk penyelenggaraan KLB. Termasuk, dari Nazar.

“Siapa pun kasih uang dengan ketulusan apa itu salah? Saya tanya aja, apa itu salah?” ucap Hengky, ketika dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin. [UMM]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories