Kejagung Rampungkan Penyidikan Jilid II Kerugian Membengkak, Kocek Jiwasraya Makin Bolong Besar

Kerugian kasus Jiwasraya membengkak. Ditemukan lagi kerugian sebesar Rp 12,1 triliun. Kocek perusahaan asuransi pelat merah itu makin bolong besar.

Angka ini ditemukan dalam penyidikan kasus Jiwasraya jilid II. Tersangkanya 13 perusahaan manajer investasi.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menuangkan temuan itu dalam laporan perhitungan kerugian negara atas pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2008-2018.

Laporan bernomor 06/LHP/XXI/03/2020 tanggal 9 Maret 2020 itu telah diserahkan ke Kejaksaan Agung.

Sebelumnya, BPK menemukan kerugian Rp 16,8 triliun dalam penyidikan jilid I. Sehingga total kerugian yang dialami Jiwasraya mencapai Rp 28,9 triliun.

Dengan dikantonginya laporan perhitungan kerugian, penyidik Gedung Bundar bisa merampungkan penyidikan kasus Jiwasraya jilid II.

Penanganan perkara ke-13 tersangka korporasi itu selanjutnya dilimpahkan ke Direktorat Penuntutan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus).

“Tim jaksa penyidik telah melakukan serah terima tanggung jawab tersangka dan barang bukti,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung,

Pelimpahan perkara ke tahap penuntutan ini dihadiri pengurus perusahaan yang didampingi penasihat hukum masing-masing.

Ke-13 tersangka korporasi itu adalah PT Millenium Capital Management, PT Treasure Fund Investama, PT Pool Advista Aset Manajemen, PT Gap Capital (dahulu PT. Guna Abadi Perkasa), PT Maybank Asset Management, PT Pinnacle Persada Investama.

 

Kemudian, PT Sinarmas Asset Management, PT Corfina Capital, PT Jasa Capital Asset Management, PT Prospera Asset Management, PT MNC Asset Management, PT OSO Management Investasi dan PT Pan Arcadia Capital.

Penuntutan perkara ini ditangani tim gabungan Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. “Tim Jaksa Penuntut Umum segera mempersiapkan surat dakwaan untuk pelimpahan berkas perkara ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,” kata Leonard.

Para tersangka korporasi itu bakal didakwa dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Saat proses penyidikan, PT Sinarmas Asset Management (SAM) memutuskan mengembalikan dana Jiwasraya Rp 76,9 miliar. Pengembalian dicicil. Pertama Rp 3 miliar. Lalu dilunasi Rp 73.938.704.154.

JAM Pidsus Ali Mukartono mengapresiasi sikap PT SAM yang bersedia mengembalikan dana. Ia berharap langkah ini diikuti 12 manajer investasi (MI) lainnya. Sehingga bisa mengurangi kerugian kasus Jiwasraya. “Setiap MI macam-macam jumlahnya,” ujarnya.

Meski begitu, pengembalian uang tidak serta merta menghapuskan tindak pidana. “(Kasusnya) tetap berjalan,” tandas Ali.

Hotman Paris Hutapea, kuasa hukum PT SAM mengungkapkan awalnya perusahaan manajer investasi ini mengelola dana Jiwasraya Rp 100 miliar. Jiwasraya kemudian menarik Rp 23 miliar. Sehingga tersisa sekitar Rp 77 miliar.

PT SAM menawarkan kepada Jiwasraya untuk menarik sisa dana investasinya. Namun tak direspons. Hingga akhirnya Kejaksaan Agung memutuskan memblokir dana itu.

Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin berupaya menenangkan investor supaya tidak perlu khawatir mengenai pengusutan 13 MI. “Ketiga belas perusahaan tersebut tetap beroperasi dan bisa menjalankan aktivitas usahanya di Bursa Efek Indonesia,” katanya.

Penyidikan, lanjutnya, hanya terkait dengan pengelolaan dana investasi Jiwasraya. Tidak men­gutikutik portofolia reksadana yang tidak terkait perkara. [GPG] 

]]> Kerugian kasus Jiwasraya membengkak. Ditemukan lagi kerugian sebesar Rp 12,1 triliun. Kocek perusahaan asuransi pelat merah itu makin bolong besar.

Angka ini ditemukan dalam penyidikan kasus Jiwasraya jilid II. Tersangkanya 13 perusahaan manajer investasi.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menuangkan temuan itu dalam laporan perhitungan kerugian negara atas pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2008-2018.

Laporan bernomor 06/LHP/XXI/03/2020 tanggal 9 Maret 2020 itu telah diserahkan ke Kejaksaan Agung.

Sebelumnya, BPK menemukan kerugian Rp 16,8 triliun dalam penyidikan jilid I. Sehingga total kerugian yang dialami Jiwasraya mencapai Rp 28,9 triliun.

Dengan dikantonginya laporan perhitungan kerugian, penyidik Gedung Bundar bisa merampungkan penyidikan kasus Jiwasraya jilid II.

Penanganan perkara ke-13 tersangka korporasi itu selanjutnya dilimpahkan ke Direktorat Penuntutan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus).

“Tim jaksa penyidik telah melakukan serah terima tanggung jawab tersangka dan barang bukti,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung,

Pelimpahan perkara ke tahap penuntutan ini dihadiri pengurus perusahaan yang didampingi penasihat hukum masing-masing.

Ke-13 tersangka korporasi itu adalah PT Millenium Capital Management, PT Treasure Fund Investama, PT Pool Advista Aset Manajemen, PT Gap Capital (dahulu PT. Guna Abadi Perkasa), PT Maybank Asset Management, PT Pinnacle Persada Investama.

 

Kemudian, PT Sinarmas Asset Management, PT Corfina Capital, PT Jasa Capital Asset Management, PT Prospera Asset Management, PT MNC Asset Management, PT OSO Management Investasi dan PT Pan Arcadia Capital.

Penuntutan perkara ini ditangani tim gabungan Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. “Tim Jaksa Penuntut Umum segera mempersiapkan surat dakwaan untuk pelimpahan berkas perkara ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,” kata Leonard.

Para tersangka korporasi itu bakal didakwa dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Saat proses penyidikan, PT Sinarmas Asset Management (SAM) memutuskan mengembalikan dana Jiwasraya Rp 76,9 miliar. Pengembalian dicicil. Pertama Rp 3 miliar. Lalu dilunasi Rp 73.938.704.154.

JAM Pidsus Ali Mukartono mengapresiasi sikap PT SAM yang bersedia mengembalikan dana. Ia berharap langkah ini diikuti 12 manajer investasi (MI) lainnya. Sehingga bisa mengurangi kerugian kasus Jiwasraya. “Setiap MI macam-macam jumlahnya,” ujarnya.

Meski begitu, pengembalian uang tidak serta merta menghapuskan tindak pidana. “(Kasusnya) tetap berjalan,” tandas Ali.

Hotman Paris Hutapea, kuasa hukum PT SAM mengungkapkan awalnya perusahaan manajer investasi ini mengelola dana Jiwasraya Rp 100 miliar. Jiwasraya kemudian menarik Rp 23 miliar. Sehingga tersisa sekitar Rp 77 miliar.

PT SAM menawarkan kepada Jiwasraya untuk menarik sisa dana investasinya. Namun tak direspons. Hingga akhirnya Kejaksaan Agung memutuskan memblokir dana itu.

Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin berupaya menenangkan investor supaya tidak perlu khawatir mengenai pengusutan 13 MI. “Ketiga belas perusahaan tersebut tetap beroperasi dan bisa menjalankan aktivitas usahanya di Bursa Efek Indonesia,” katanya.

Penyidikan, lanjutnya, hanya terkait dengan pengelolaan dana investasi Jiwasraya. Tidak men­gutikutik portofolia reksadana yang tidak terkait perkara. [GPG] 
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories