Kebut Proyek Industri Kendaraan Listrik Kementerian BUMN Bentuk Holding IBC .

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan membentuk holding Indonesia Battery Corporation (IBC) pada semester tahun ini. Langkah ini, akan mempercepat pendirian industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/ EV) di Tanah Air.

Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reformasi (IESR) Fabby Tumiwa menilai, positif pembentukan holding baterai BUMN. Menurutnya, holding itu memudahkan upaya bangsa ini mengkonsolidasi sum­ber daya dari hulu ke hilir. Mulai dari pemanfaatan sumber daya nikel, kobalt, produksi baterai untuk kendaraan listrik, hingga infrastruktur pendukung lainnya. Hal ini tentu akan menstimulasi pasar kendaraan listrik nasional.

“Terutama (pengelolaan ni­kel), sebagai bahan baku utama baterai. Indonesia merupakan penghasil nikel terbesar di dunia, jadi kita berharap ini (pemben­tukan holding) bisa mengelola bahan baku dengan baik,” ujar Fabby kepada Rakyat Merdeka.

Asal tahu saja, papar Fabby, In­donesia memiliki cadangan nikel 30 persen dari seluruh cadangan dunia. Selain itu, ada pula mate­rial-material logam lain seperti kobalt, mangan dan grafit yang juga melimpah di Tanah Air.

Artinya, pembentukan hold­ing pasti akan sangat bermanfaat bagi Indonesia. Karena di situ akan ada pemanfaatan nilai tam­bah mineral, pembangunan in­dustri-industri baru, penyerapan tenaga kerja, serta penambahan penerimaan negara. Serta, alih teknologi yang lebih cepat.

“Untuk target pembentukan holding di semester I-2020 saya kira cukup wajar dan doable (bisa dilakukan). Jadi produksi baterai bisa mulai di 2024,” imbuhnya.

Ia berharap, kehadiran holding bisa menimbulkan nilai postif lain­nya. Terutama, bisa menekan impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Catatannya nanti, bagaimana kendaraan listrik ini bisa banyak dipakai masyarakat, jadi dampaknya lebih signifikan lagi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri I BUMN Pahala Mansury me­nyatakan, pembentukan holding baterai akan melibatkan empat BUMN. Yakni, holding pertam­bangan MIND ID, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero).

Menurut Pahala, nantinya value chain yang terbentuk dari hulu dan hilir ini akan dipayungi IBC (In­donesia Battery Corporation).

“Diharapkan IBC bisa diben­tuk di semester I tahun ini,” ujar Pahala dalam media talk yang digelar secara virtual, kemarin.

 

Mantan bos BTN ini yakin, industri baterai EV bisa mem­berikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional. Kontri­businya diperkirakan bisa men­capai 25 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau setara dengan Rp 400 triliun pada 2027.

“Pengaruh industri ini luar biasa. Pada 2027 nanti bisa mempekerjakan kurang lebih 23 ribu karyawan,” tutur Pahala.

Lebih detail, Pahala men­jelaskan, di bawah holding IBC akan ada perusahaan patungan alias Joint Venture (JV). Saat ini, penjajakan kerja sama terus dilakukan dengan calon mitra. Ia bilang, pihaknya terbuka untuk bekerja sama dengan perusahaan global. Baik itu dari China, Ko­rea Selatan, Amerika Serikat, maupun Eropa.

Mantan Dirut Garuda Indonesia ini menyebutkan, pemerintah memiliki tiga kriteria utama untuk menjaring calon mitra tersebut. Yaitu, memiliki dana yang cukup (investasi), teknologi, dan mau membuka akses pasar. Kemente­rian BUMN menargetkan, kerja sama dengan mitra dan pemben­tukan JV juga bisa rampung pada paruh pertama tahun ini.

Komisaris Utama MIND ID, Agus Tjahajana Wirakusumah mengatakan, Tim Percepatan Proyek EV Battery telah men­jajaki kerja sama dengan 11 perusahaan baterai cell terke­muka. Berdasarkan seleksi yang dilakukan, tersaring tujuh calon mitra. Namun ia belum mau merincikan satu per satu calon mitra itu. Komunikasi intensif pun sudah dilakukan dengan sejumlah perusahaan, termasuk dengan LG Chem dan Tesla.

“Untuk LG Chem, proses negosiasi masih berlangsung. Mereka meminta jaminan pa­sokan bahan baku, khususnya berupa nikel,” jelas Agus.

Sementara dengan Tesla, lan­jutnya, pemerintah juga masih dalam tahap negosiasi. Saat ini timnya masih mempelajari apa yang diinginkan oleh Tesla. Salah satu kerja sama yang diinginkan ialah terkait Energy Storage System (ESS).

“Kami sedang mencari dan mempelajari interest Tesla. Karena Tesla agak late comers. Kami sudah hampir lima bulan di depan (negosiasi kerja sama), Tesla baru masuk belakangan. Kami dapat kabar, Tesla ingin masuk ke ESS,” terangnya.

Agus mengungkapkan, perusahaan BUMN memiliki ambisi dalam ekosistem industri baterai di 2025. Salah satunya, menjadi pemain global material hulu baterai. Yakni, menjadi produsen ni­kel sulfat global, dengan produksi tahunan sekitar 50-100 ribu ton.

“Ini untuk memenuhi kebu­tuhan industri dalam negeri dan ekspor,” pungkas Agus. [DWI]

]]> .
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan membentuk holding Indonesia Battery Corporation (IBC) pada semester tahun ini. Langkah ini, akan mempercepat pendirian industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/ EV) di Tanah Air.

Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reformasi (IESR) Fabby Tumiwa menilai, positif pembentukan holding baterai BUMN. Menurutnya, holding itu memudahkan upaya bangsa ini mengkonsolidasi sum­ber daya dari hulu ke hilir. Mulai dari pemanfaatan sumber daya nikel, kobalt, produksi baterai untuk kendaraan listrik, hingga infrastruktur pendukung lainnya. Hal ini tentu akan menstimulasi pasar kendaraan listrik nasional.

“Terutama (pengelolaan ni­kel), sebagai bahan baku utama baterai. Indonesia merupakan penghasil nikel terbesar di dunia, jadi kita berharap ini (pemben­tukan holding) bisa mengelola bahan baku dengan baik,” ujar Fabby kepada Rakyat Merdeka.

Asal tahu saja, papar Fabby, In­donesia memiliki cadangan nikel 30 persen dari seluruh cadangan dunia. Selain itu, ada pula mate­rial-material logam lain seperti kobalt, mangan dan grafit yang juga melimpah di Tanah Air.

Artinya, pembentukan hold­ing pasti akan sangat bermanfaat bagi Indonesia. Karena di situ akan ada pemanfaatan nilai tam­bah mineral, pembangunan in­dustri-industri baru, penyerapan tenaga kerja, serta penambahan penerimaan negara. Serta, alih teknologi yang lebih cepat.

“Untuk target pembentukan holding di semester I-2020 saya kira cukup wajar dan doable (bisa dilakukan). Jadi produksi baterai bisa mulai di 2024,” imbuhnya.

Ia berharap, kehadiran holding bisa menimbulkan nilai postif lain­nya. Terutama, bisa menekan impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Catatannya nanti, bagaimana kendaraan listrik ini bisa banyak dipakai masyarakat, jadi dampaknya lebih signifikan lagi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri I BUMN Pahala Mansury me­nyatakan, pembentukan holding baterai akan melibatkan empat BUMN. Yakni, holding pertam­bangan MIND ID, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero).

Menurut Pahala, nantinya value chain yang terbentuk dari hulu dan hilir ini akan dipayungi IBC (In­donesia Battery Corporation).

“Diharapkan IBC bisa diben­tuk di semester I tahun ini,” ujar Pahala dalam media talk yang digelar secara virtual, kemarin.

 

Mantan bos BTN ini yakin, industri baterai EV bisa mem­berikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional. Kontri­businya diperkirakan bisa men­capai 25 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau setara dengan Rp 400 triliun pada 2027.

“Pengaruh industri ini luar biasa. Pada 2027 nanti bisa mempekerjakan kurang lebih 23 ribu karyawan,” tutur Pahala.

Lebih detail, Pahala men­jelaskan, di bawah holding IBC akan ada perusahaan patungan alias Joint Venture (JV). Saat ini, penjajakan kerja sama terus dilakukan dengan calon mitra. Ia bilang, pihaknya terbuka untuk bekerja sama dengan perusahaan global. Baik itu dari China, Ko­rea Selatan, Amerika Serikat, maupun Eropa.

Mantan Dirut Garuda Indonesia ini menyebutkan, pemerintah memiliki tiga kriteria utama untuk menjaring calon mitra tersebut. Yaitu, memiliki dana yang cukup (investasi), teknologi, dan mau membuka akses pasar. Kemente­rian BUMN menargetkan, kerja sama dengan mitra dan pemben­tukan JV juga bisa rampung pada paruh pertama tahun ini.

Komisaris Utama MIND ID, Agus Tjahajana Wirakusumah mengatakan, Tim Percepatan Proyek EV Battery telah men­jajaki kerja sama dengan 11 perusahaan baterai cell terke­muka. Berdasarkan seleksi yang dilakukan, tersaring tujuh calon mitra. Namun ia belum mau merincikan satu per satu calon mitra itu. Komunikasi intensif pun sudah dilakukan dengan sejumlah perusahaan, termasuk dengan LG Chem dan Tesla.

“Untuk LG Chem, proses negosiasi masih berlangsung. Mereka meminta jaminan pa­sokan bahan baku, khususnya berupa nikel,” jelas Agus.

Sementara dengan Tesla, lan­jutnya, pemerintah juga masih dalam tahap negosiasi. Saat ini timnya masih mempelajari apa yang diinginkan oleh Tesla. Salah satu kerja sama yang diinginkan ialah terkait Energy Storage System (ESS).

“Kami sedang mencari dan mempelajari interest Tesla. Karena Tesla agak late comers. Kami sudah hampir lima bulan di depan (negosiasi kerja sama), Tesla baru masuk belakangan. Kami dapat kabar, Tesla ingin masuk ke ESS,” terangnya.

Agus mengungkapkan, perusahaan BUMN memiliki ambisi dalam ekosistem industri baterai di 2025. Salah satunya, menjadi pemain global material hulu baterai. Yakni, menjadi produsen ni­kel sulfat global, dengan produksi tahunan sekitar 50-100 ribu ton.

“Ini untuk memenuhi kebu­tuhan industri dalam negeri dan ekspor,” pungkas Agus. [DWI]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories

Generated by Feedzy