Kebijakan Anies Soal LEZ Diapresiasi Dubes Denmark

Kebijakan Low Emission Zone (LEZ), atau Zona Emisi Rendah di Kota Tua yang digagas Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan diapresiasi Dubes Denmark, Lars Bo Larsen.

Dalam akun Twitternya, Dubes Denmark, Lars Bo Larsen yakni @DubesDenmark mengapresasi langkah Anies dalam melakukan kawasan rendah emisi (LEZ).

“Saat Jakarta memperkenalkan Kawasan Rendah Emisi (LEZ) skala kecil di Kota Tua, berikut beberapa pelajaran dari Kopenhagen sebagai ibu kota pertama di dunia yang memperkenalkan Kawasan Pejalan Kaki Rendah Emisi,” tulis Lars Bo Larsen dikutip pada Kamis (18/2). 

Dalam video yang diunggah Lars Bo Larsen, dirinya menyatakan, Jakarta baru saja menerapkan kawasan khusus pejalan kaki di area Kota Tua. 

“Saya menyambut baik inisiatif ini. Saya berbagi cerita pertama kali kawasan serupa dibangun di Kota Copanhagen (Denmark-red). Karena Copanhagen merupakan ibu kota pertama di dunia yang membangun jalur khusus pejalan kaki. Ide kawasan pejalan kaki saat itu dianggap kontroversial,” tegasnya.

Bahkan kata dia, arsitek perancangnya harus mendapat pengawalan khusus dari polisi saat jalur pejalan kaki resmi dibuka. Seperti tang baru saja dilakukan di Kota Tua. Tapi sekarang 9 dari 10 warga Copenhagen justru ingin area pejalan kaki diperbanyak mengapa? Perubahan persepsi menurut saya terjadi dalam beberapa tahap,” tegasnya.

Fase pertama adalah pemilik toko di aera tersebut melihat bahwa adanya jalur pejalan kaki. “Ternyata membuat area tersebut ramai dikunjungi oleh konsumen. Fase kedua, terjadi saat para ahli mulai melihat perubahan perilaku masyarakat Copenhagen saat itu. Mereka jadi lebih banyak jalan kaki dan Bersepeda saat bepergian. Hal Inilah Yang Dikemudian Hari Menjadi Tradisi Bersepeda Yang Dikenal Dengan Istilah “Viking Adventure”,” bebernya.

Fase Ketiga lanjut Lars Bo Larsen, yang juga dialami di Jakarta adalah tantangan perubahan iklim global yang dihadapi. 

“Kawasan seperti ini akan menurunkan tingkat emisi karbon. Sehingga masyarakat dapat ikut berkontribusi dalam memecahkan masalah iklim global dunia. Dan saat ini, kita berada pada fase keempat yang berkaitan dengan kesehatan,” terangnya. 

“Karena jalan kaki dan bersepeda membuat tubuh sehat dan membuat ibukota tempat yang lebih sehat bagi semua. Sehingga dengan warga sehat tentunya jumlah pasien di rumah sakit juga akan menurun. Saya sangat mendukung pembangunan kawasan pejalan kaki di aera Kota Tua. Saya harap setelah pandemi berakhir kawasan ini akan menjadi inspirasi gaya hidup baru lebih baik Jakarta,” tambah Lars Bo Larsen.

Ucapan Lars Bo Larsen disambut warganet. Akun @SahidSurapradja berharap ada LEZ di Bandung, Jawa Barat. “Copenhagen kemudian Jakarta, kapan Bandung mau mengikutinya”. @pianRitonga: Mudah2an Medan bisa seperti ini, paling tidak dimulai dikawasan titik 0 Medan, Lap. merdeka dan sekitarnya.. singkirkan pohon besi (tiang telepon) Yg sdh seperti rumpun. @Recehanrezim: Orang sonoh aj seneng masa gw orang Jakarta kaga seneng si, kan gw masih normal. berpikirnya Wajah menyeringai dengan mata tersenyumWajah menyeringai dengan mata tersenyumWajah menyeringai dengan mata tersenyum. [FIK]
 

]]> Kebijakan Low Emission Zone (LEZ), atau Zona Emisi Rendah di Kota Tua yang digagas Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan diapresiasi Dubes Denmark, Lars Bo Larsen.

Dalam akun Twitternya, Dubes Denmark, Lars Bo Larsen yakni @DubesDenmark mengapresasi langkah Anies dalam melakukan kawasan rendah emisi (LEZ).

“Saat Jakarta memperkenalkan Kawasan Rendah Emisi (LEZ) skala kecil di Kota Tua, berikut beberapa pelajaran dari Kopenhagen sebagai ibu kota pertama di dunia yang memperkenalkan Kawasan Pejalan Kaki Rendah Emisi,” tulis Lars Bo Larsen dikutip pada Kamis (18/2). 

Dalam video yang diunggah Lars Bo Larsen, dirinya menyatakan, Jakarta baru saja menerapkan kawasan khusus pejalan kaki di area Kota Tua. 

“Saya menyambut baik inisiatif ini. Saya berbagi cerita pertama kali kawasan serupa dibangun di Kota Copanhagen (Denmark-red). Karena Copanhagen merupakan ibu kota pertama di dunia yang membangun jalur khusus pejalan kaki. Ide kawasan pejalan kaki saat itu dianggap kontroversial,” tegasnya.

Bahkan kata dia, arsitek perancangnya harus mendapat pengawalan khusus dari polisi saat jalur pejalan kaki resmi dibuka. Seperti tang baru saja dilakukan di Kota Tua. Tapi sekarang 9 dari 10 warga Copenhagen justru ingin area pejalan kaki diperbanyak mengapa? Perubahan persepsi menurut saya terjadi dalam beberapa tahap,” tegasnya.

Fase pertama adalah pemilik toko di aera tersebut melihat bahwa adanya jalur pejalan kaki. “Ternyata membuat area tersebut ramai dikunjungi oleh konsumen. Fase kedua, terjadi saat para ahli mulai melihat perubahan perilaku masyarakat Copenhagen saat itu. Mereka jadi lebih banyak jalan kaki dan Bersepeda saat bepergian. Hal Inilah Yang Dikemudian Hari Menjadi Tradisi Bersepeda Yang Dikenal Dengan Istilah “Viking Adventure”,” bebernya.

Fase Ketiga lanjut Lars Bo Larsen, yang juga dialami di Jakarta adalah tantangan perubahan iklim global yang dihadapi. 

“Kawasan seperti ini akan menurunkan tingkat emisi karbon. Sehingga masyarakat dapat ikut berkontribusi dalam memecahkan masalah iklim global dunia. Dan saat ini, kita berada pada fase keempat yang berkaitan dengan kesehatan,” terangnya. 

“Karena jalan kaki dan bersepeda membuat tubuh sehat dan membuat ibukota tempat yang lebih sehat bagi semua. Sehingga dengan warga sehat tentunya jumlah pasien di rumah sakit juga akan menurun. Saya sangat mendukung pembangunan kawasan pejalan kaki di aera Kota Tua. Saya harap setelah pandemi berakhir kawasan ini akan menjadi inspirasi gaya hidup baru lebih baik Jakarta,” tambah Lars Bo Larsen.

Ucapan Lars Bo Larsen disambut warganet. Akun @SahidSurapradja berharap ada LEZ di Bandung, Jawa Barat. “Copenhagen kemudian Jakarta, kapan Bandung mau mengikutinya”. @pianRitonga: Mudah2an Medan bisa seperti ini, paling tidak dimulai dikawasan titik 0 Medan, Lap. merdeka dan sekitarnya.. singkirkan pohon besi (tiang telepon) Yg sdh seperti rumpun. @Recehanrezim: Orang sonoh aj seneng masa gw orang Jakarta kaga seneng si, kan gw masih normal. berpikirnya Wajah menyeringai dengan mata tersenyumWajah menyeringai dengan mata tersenyumWajah menyeringai dengan mata tersenyum. [FIK]
 
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories