Kearifan Global Dan Kemenangan Taliban Di Afghanistan

Kemenangan kelompok Taliban di Afghanistan baru baru ini mengejutkan. Mengingat tak sesiapa yang menduga sama sekali.

Sehingga lahir analisa beragam menanggapi sukses Taliban tersebut. Mulai dari opini lahirnya negara teroris. Meski ada juga yang menilai ini peristiwa menarik. Bagus untuk keseimbangan politik Asia Selatan. Afghanistan sebagai negara moderat baru dalam hubungan internasional.

Opini memberi label teroris tergadap Afghanistan menyamakannya dengan ISIS yang dulu juga hampir saja menguasai Irak membawa kerisauan. Namun kemudian selesai dan Irak tetap jadi negara moderat hingga kini. Artinya, label teroris adalah alasan yang dicari-cari, yang bisa jadi tidak relevan.

Analisa lain adalah dimunculkan pokok pikiran tentang kearifan global untuk melihat situasi Afghanistan tersebut. Tidakkah ada sisi lain sebagai argument menjelaskan Afghanistan yang baru. Menghapus fenomena di masa lalu. Afghanistan disebut teroris karena melawan Uni Sovyet. Kemudian datang Amerika, yang dilawan juga oleh rakyat Afghanistan, yang disebut teroris juga.

Pada logika intinya, Afghanistan bukan teroris. Melainkan sebuah negara yang sedang menegakkan kedaulatannya melawan musuh negaranya. Dulu ketika melawan Uni Sovyet, rakyat Afghanistan juga disebut teroris. Melawan Amerika, juga disebut teroris. Kesannya, jika melawan negara yang mengintervensi sebuah negara lain, maka akan diberi nama teroris. Itu tentu kekeliruan.

 

Dalam hal ini, menarik apa yang dikatakan mantan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, bahwa Afghnistan akan menjadi negara damai. “Hal itu mereka inginkan sejak lama” kata JK, dalam sebuah acara webinar di Jakarta, 16 Agustus 2021 lalu.

Dari pandangan JK, sejarah panjang negara itu menemukan fenomena anti thesis bahwa akhirnya Taliban memenangkan konflik tersebut. Bercermin pada perang lama Amerika Vietnam tahun 60-an, bagaimanapun 20 tahun perang di Afghanistan tidak berguna, kecuali hanya membawa pertumpahan darah belaka. Amerika pun sudah lelah dengan perang Afghanistan dan ingin keluar. ”Tentara Amerika sudah lelah,“ ungkap JK.

Sebelumnya, Presiden Amerika telah memutuskan, 18 Agustus 2021 sebagai batas akhir keluar dari Afghanistan dan menarik 100.000 personil tentaranya pulang. Mengingat perang yang tidak menentu dan hanya menghabiskan dana perang dari sumber keuangan asal pajak rakyat Amerika.

Seperti dilansir dari CNBC 17 Agustus 2021, negeri Paman Sam itu telah menghabiskan 2,26 triliyun dollar AS untuk perang Afghanistan dari 2001 sampai 2021. Di samping tentara yang tewas 2.300 orang ditambah 20.000 lebih yang cedera.

Dalam perspektif Indonesia, masa besar telah lahir bagi Afghanistan menunggu tangan-tangan putra terbaik negeri itu memanfaatkannya. Satu hal, adalah pentingnya kearifan global dijadikan dasar melihat masalah yang ada. Tidak sekadar isu Taliban teroris, fundamentalis dan semacmanya.I su klasik itu sebaiknya kita tinggalkan.

[Dr Masud HMN, Anggota Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah dan dosen Pascsarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta. Email: masud.riau@gmail.com]

]]> Kemenangan kelompok Taliban di Afghanistan baru baru ini mengejutkan. Mengingat tak sesiapa yang menduga sama sekali.

Sehingga lahir analisa beragam menanggapi sukses Taliban tersebut. Mulai dari opini lahirnya negara teroris. Meski ada juga yang menilai ini peristiwa menarik. Bagus untuk keseimbangan politik Asia Selatan. Afghanistan sebagai negara moderat baru dalam hubungan internasional.

Opini memberi label teroris tergadap Afghanistan menyamakannya dengan ISIS yang dulu juga hampir saja menguasai Irak membawa kerisauan. Namun kemudian selesai dan Irak tetap jadi negara moderat hingga kini. Artinya, label teroris adalah alasan yang dicari-cari, yang bisa jadi tidak relevan.

Analisa lain adalah dimunculkan pokok pikiran tentang kearifan global untuk melihat situasi Afghanistan tersebut. Tidakkah ada sisi lain sebagai argument menjelaskan Afghanistan yang baru. Menghapus fenomena di masa lalu. Afghanistan disebut teroris karena melawan Uni Sovyet. Kemudian datang Amerika, yang dilawan juga oleh rakyat Afghanistan, yang disebut teroris juga.

Pada logika intinya, Afghanistan bukan teroris. Melainkan sebuah negara yang sedang menegakkan kedaulatannya melawan musuh negaranya. Dulu ketika melawan Uni Sovyet, rakyat Afghanistan juga disebut teroris. Melawan Amerika, juga disebut teroris. Kesannya, jika melawan negara yang mengintervensi sebuah negara lain, maka akan diberi nama teroris. Itu tentu kekeliruan.

 

Dalam hal ini, menarik apa yang dikatakan mantan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, bahwa Afghnistan akan menjadi negara damai. “Hal itu mereka inginkan sejak lama” kata JK, dalam sebuah acara webinar di Jakarta, 16 Agustus 2021 lalu.

Dari pandangan JK, sejarah panjang negara itu menemukan fenomena anti thesis bahwa akhirnya Taliban memenangkan konflik tersebut. Bercermin pada perang lama Amerika Vietnam tahun 60-an, bagaimanapun 20 tahun perang di Afghanistan tidak berguna, kecuali hanya membawa pertumpahan darah belaka. Amerika pun sudah lelah dengan perang Afghanistan dan ingin keluar. ”Tentara Amerika sudah lelah,“ ungkap JK.

Sebelumnya, Presiden Amerika telah memutuskan, 18 Agustus 2021 sebagai batas akhir keluar dari Afghanistan dan menarik 100.000 personil tentaranya pulang. Mengingat perang yang tidak menentu dan hanya menghabiskan dana perang dari sumber keuangan asal pajak rakyat Amerika.

Seperti dilansir dari CNBC 17 Agustus 2021, negeri Paman Sam itu telah menghabiskan 2,26 triliyun dollar AS untuk perang Afghanistan dari 2001 sampai 2021. Di samping tentara yang tewas 2.300 orang ditambah 20.000 lebih yang cedera.

Dalam perspektif Indonesia, masa besar telah lahir bagi Afghanistan menunggu tangan-tangan putra terbaik negeri itu memanfaatkannya. Satu hal, adalah pentingnya kearifan global dijadikan dasar melihat masalah yang ada. Tidak sekadar isu Taliban teroris, fundamentalis dan semacmanya.I su klasik itu sebaiknya kita tinggalkan.

[Dr Masud HMN, Anggota Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah dan dosen Pascsarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta. Email: masud.riau@gmail.com]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories