Kata Ngabalin, Reshuffle Pekan Ini Menteri Dagdigdug

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan, Ali Mochtar Ngabalin kasih informasi yang bikin dagdidug para menteri. Kata dia, Presiden Jokowi akan segera melakukan reshuffle kabinet. Kapan waktunya? Pekan ini. Siapa yang akan di-reshuffle? Masih misterius.

Dalam sepekan kemarin, wacana reshuffle kembali digoreng-goreng politisi pasca keputusan Jokowi menggabungkan dua kementerian menjadi satu. Keputusan penggabungan ini berdasarkan Surat Presiden (Surpres) Nomor R-14/Pres/03/2021 dan sudah diketuk palu oleh Ketua DPR, Puan Maharani. Lewat Surpes tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) resmi dilebur menjadi 1 kementerian.

Tak hanya meleburkan dua kementerian, Jokowi juga membentuk 1 kementerian baru. Namanya: Kementerian Investasi. Usulan Jokowi ini juga sudah disetujui DPR.

Berubahnya nomenklatur kementerian ini tentu membuat komposisi kabinet akan berubah. Pertanyannya, siapa yang akan duduk sebagai Mendikbud dan Ristek? Apakah Nadiem Makarim yang saat ini duduk sebagai Mendikbud atau Bambang Brojonegoro yang sekarang menjabat Menristek? Lalu siapa juga yang akan menempati kursi empuk sebagai Menteri Investasi?

Sebelumnya, Menristek Bambang Brojonegoro sudah pasrah akan nasibnya di kabinet. Dalam kunjungannya ke Makassar, pekan lalu, eks Kepala Bappenas itu bahkan sudah berpamitan. Dia sadar, penggabungan dua kementerian membuat posisinya sebagai menteri terancam didepak dari kabinet.

Meskipun kuota menteri baru hanya dua, sejumlah politisi malah menggoreng momentum ini untuk lakukan reshuffle yang lebih besar. Bakal ada reshuffle jilid II yang tak hanya sebatas pada posisi Mendikbud dan Ristek serta Menteri Investasi.

Menanggapi isu liar tersebut, Ngabalin langsung memberi bocoran. “Menurut Bang Ali, ya pekan-pekan ini. Keyakinanku, ya pekan ini. Gitu,” kata Ngabalin, dalam obrolan dengan Rakyat Merdeka, kemarin.

Keyakinan Ngabalin bukan tanpa dasar. Ia paham betul, Jokowi selalu cepat dan tepat dalam mengambil keputusan. Presiden ketujuh itu, sepengetahuannya, juga tidak pernah ketergantungan kepada siapapun. Sehingga tidak ragu-ragu.

“Bang Ali kan bukan baru sehari dua hari di Istana. Kita di sini kan selalu mengikuti perkembangan langkah dan apa-apa yang beliau lakukan. Ya tidak mau juga lambat-lambat. Insya Allah, selalu tepat dan cepat,” lanjutnya.

Mantan anggota Komisi I DPR ini menilai, keputusan yang akan diambil Jokowi terkait reshuffle, sepenuhnya murni untuk kepentingan masyarakat. Seperti dalam hal investasi dan perizinan. Jika lambat, maka akan berdampak pada sumber pendapatan negara.

“Kegiatan operasional perusahaan juga akan terhambat. Ini termasuk pesan dalam pembentukan Kementerian Investasi. Pastinya Presiden punya kemampuan yang tak perlu kita ragukan dengan hak-hak prerogatif beliau,” terang Ngabalin.

 

Politisi kelahiran Fakfak, Papua Barat ini juga tidak menampik, adanya kemungkinan reshuffle merembet ke kementerian lain. “Bisa jadi,” ucapnya. “Presiden kan terus melakukan evaluasi terhadap pembantu-pembantunya di kabinet. Jadi, kalau umpama beliau mengambil keputusan di luar dugaan, ya itulah Jokowi,” sambung dia.

Bagaimana reaksi menteri menyikapi adanya kabar reshuffle jilid II? Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly malah ketawa. Ia mengaku tak mau ambil pusing, apalagi dagdigdug soal perombakan kabinet.

“He…he…he. Kita mah kerja saja. Urusan reshuffle adalah kewenangan prerogatif Presiden,” kata Yasonna, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil juga demikian. Menteri dari kalangan non partai yang terus bercokol di kabinet sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) periode pertama ini mengirim dua emoji ketawa ketika ditanya soal itu.

Sementara Johnny G. Plate enggan berkomentar atas nama Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo). Ia lebih nyaman menyikapi isu reshuffle dalam kapasitasnya sebagai Sekjen Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

“Pendapat saya sebagai Sekjen NasDem ya,” ujar Plate, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Ia berpandangan, reshuffle adalah domain sepenuhnya presiden. Apalagi DPR sudah menyetujui perubahan nomenklatur beberapa kementerian. Partainya mendukung keputusan presiden untuk reshuffle.

Bahkan, lebih cepat lebih baik untuk kepastian jalannya pemerintahan. “Baik (reshuffle) terbatas atau bahkan bisa lebih luas,” lanjutnya.

Sementara itu, pengamat politik Hendri Satrio sependapat dengan Ngabalin. Kata dia, peluang terjadinya reshuffle dalam waktu dekat sangat terbuka. Minimal, kata dia, reshuffle terjadi pada posisi menteri yang nomenklatur kementeriannya diubah. Tapi, apakah momen itu akan jadi pemantik reshuffle yang lebih luas, ini yang masih menjadi misteri dan bikin para menteri dagdigdug.

“Menteri yang gak bisa kerja dan pencari kerja pasti dagdigdug. Tapi bagi yang profesional, bekerja untuk bangsa dan bukan pencari kerja, ya biasa aja,” kata Hensat, sapaannya, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam. [SAR]

]]> Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan, Ali Mochtar Ngabalin kasih informasi yang bikin dagdidug para menteri. Kata dia, Presiden Jokowi akan segera melakukan reshuffle kabinet. Kapan waktunya? Pekan ini. Siapa yang akan di-reshuffle? Masih misterius.

Dalam sepekan kemarin, wacana reshuffle kembali digoreng-goreng politisi pasca keputusan Jokowi menggabungkan dua kementerian menjadi satu. Keputusan penggabungan ini berdasarkan Surat Presiden (Surpres) Nomor R-14/Pres/03/2021 dan sudah diketuk palu oleh Ketua DPR, Puan Maharani. Lewat Surpes tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) resmi dilebur menjadi 1 kementerian.

Tak hanya meleburkan dua kementerian, Jokowi juga membentuk 1 kementerian baru. Namanya: Kementerian Investasi. Usulan Jokowi ini juga sudah disetujui DPR.

Berubahnya nomenklatur kementerian ini tentu membuat komposisi kabinet akan berubah. Pertanyannya, siapa yang akan duduk sebagai Mendikbud dan Ristek? Apakah Nadiem Makarim yang saat ini duduk sebagai Mendikbud atau Bambang Brojonegoro yang sekarang menjabat Menristek? Lalu siapa juga yang akan menempati kursi empuk sebagai Menteri Investasi?

Sebelumnya, Menristek Bambang Brojonegoro sudah pasrah akan nasibnya di kabinet. Dalam kunjungannya ke Makassar, pekan lalu, eks Kepala Bappenas itu bahkan sudah berpamitan. Dia sadar, penggabungan dua kementerian membuat posisinya sebagai menteri terancam didepak dari kabinet.

Meskipun kuota menteri baru hanya dua, sejumlah politisi malah menggoreng momentum ini untuk lakukan reshuffle yang lebih besar. Bakal ada reshuffle jilid II yang tak hanya sebatas pada posisi Mendikbud dan Ristek serta Menteri Investasi.

Menanggapi isu liar tersebut, Ngabalin langsung memberi bocoran. “Menurut Bang Ali, ya pekan-pekan ini. Keyakinanku, ya pekan ini. Gitu,” kata Ngabalin, dalam obrolan dengan Rakyat Merdeka, kemarin.

Keyakinan Ngabalin bukan tanpa dasar. Ia paham betul, Jokowi selalu cepat dan tepat dalam mengambil keputusan. Presiden ketujuh itu, sepengetahuannya, juga tidak pernah ketergantungan kepada siapapun. Sehingga tidak ragu-ragu.

“Bang Ali kan bukan baru sehari dua hari di Istana. Kita di sini kan selalu mengikuti perkembangan langkah dan apa-apa yang beliau lakukan. Ya tidak mau juga lambat-lambat. Insya Allah, selalu tepat dan cepat,” lanjutnya.

Mantan anggota Komisi I DPR ini menilai, keputusan yang akan diambil Jokowi terkait reshuffle, sepenuhnya murni untuk kepentingan masyarakat. Seperti dalam hal investasi dan perizinan. Jika lambat, maka akan berdampak pada sumber pendapatan negara.

“Kegiatan operasional perusahaan juga akan terhambat. Ini termasuk pesan dalam pembentukan Kementerian Investasi. Pastinya Presiden punya kemampuan yang tak perlu kita ragukan dengan hak-hak prerogatif beliau,” terang Ngabalin.

 

Politisi kelahiran Fakfak, Papua Barat ini juga tidak menampik, adanya kemungkinan reshuffle merembet ke kementerian lain. “Bisa jadi,” ucapnya. “Presiden kan terus melakukan evaluasi terhadap pembantu-pembantunya di kabinet. Jadi, kalau umpama beliau mengambil keputusan di luar dugaan, ya itulah Jokowi,” sambung dia.

Bagaimana reaksi menteri menyikapi adanya kabar reshuffle jilid II? Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly malah ketawa. Ia mengaku tak mau ambil pusing, apalagi dagdigdug soal perombakan kabinet.

“He…he…he. Kita mah kerja saja. Urusan reshuffle adalah kewenangan prerogatif Presiden,” kata Yasonna, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil juga demikian. Menteri dari kalangan non partai yang terus bercokol di kabinet sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) periode pertama ini mengirim dua emoji ketawa ketika ditanya soal itu.

Sementara Johnny G. Plate enggan berkomentar atas nama Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo). Ia lebih nyaman menyikapi isu reshuffle dalam kapasitasnya sebagai Sekjen Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

“Pendapat saya sebagai Sekjen NasDem ya,” ujar Plate, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Ia berpandangan, reshuffle adalah domain sepenuhnya presiden. Apalagi DPR sudah menyetujui perubahan nomenklatur beberapa kementerian. Partainya mendukung keputusan presiden untuk reshuffle.

Bahkan, lebih cepat lebih baik untuk kepastian jalannya pemerintahan. “Baik (reshuffle) terbatas atau bahkan bisa lebih luas,” lanjutnya.

Sementara itu, pengamat politik Hendri Satrio sependapat dengan Ngabalin. Kata dia, peluang terjadinya reshuffle dalam waktu dekat sangat terbuka. Minimal, kata dia, reshuffle terjadi pada posisi menteri yang nomenklatur kementeriannya diubah. Tapi, apakah momen itu akan jadi pemantik reshuffle yang lebih luas, ini yang masih menjadi misteri dan bikin para menteri dagdigdug.

“Menteri yang gak bisa kerja dan pencari kerja pasti dagdigdug. Tapi bagi yang profesional, bekerja untuk bangsa dan bukan pencari kerja, ya biasa aja,” kata Hensat, sapaannya, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories