Kasus Sambo Senggol Peristiwa KM50

Mantan Kepala Divisi (Kadiv) Propam Polri Irjen Ferdy Sambo cs menggunakan tim insiden pembunuhan Laskar FPI di KM50 Tol Jakarta-Cikampek untuk mengganti kamera pengawas atau CCTV dalam kasus pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Hal itu terungkap dari dakwaan mantan Karopaminal Divpropam Polri Hendra Kurniawan yang dibacakan tim jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), kemarin.

Politikhariini mengunggah tiga meme berkaitan dengan tujuh anggota perwira Polri yang terlibat dalam perkara obstruc­tion of justice atau menghalangi penyidi­kan dalam kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Pertama, Ferdy Sambo yang menatap serius ke depan sambil memakai seragam dinas kepolisian lengkap. Di dalamnya ada pernyataan tim spesialis CCTV KM50 terlibat kasus Sambo.

Kedua, terdapat empat foto polisi yang terlibat dalam perusakan CCTV. Pertama, Ferdy Sambo, Brigjen Hendra Kurniawan, AKBP Ari Cahya Nugraha dan AKP Irfan Widyanto. Di dalamnya terdapat penjelasan kronologi perusakan CCTV. Yaitu, demi memuluskan reka­yasa, Sambo meminta Brigjen Hendra Kurniawan mengamankan CCTV di Kompleks Duren Tiga.

Selanjutnya, Brigjen Hendra menghubungi Ari Cahya Nugara (Acay), merupakan tim spesialis CCTV yang mengurusi kasus KM50. Kemudian, Acay mendelegasikan perintah Sambo ke Irfan Widyanto. Hasilnya, Irfan me­nemukan 20 CCTV yang terpasang di TKP. Lalu mengeksekusi sebagian CCTV yang dianggap menggambarkan situasi sebenarnya.

Ketiga, Ferdy Sambo dengan bayang-bayang Brigjen Hendra Kurniawan yang mengenakan rompi tahanan Kejaksaan Agung (Kejagung).

Politikhariini mengatakan, terdakwa kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Ferdy Sambo, didakwa memerintahkan men­gondisikan rekaman CCTV yang berada di sekitar rumah dinasnya di kompleks Polri, Duren Tiga.

“Tujuannya, mengaburkan atau meng­hilangkan bukti,” ujar Politikhariini dalam caption-nya.

Akun @Manusia_bisa mengatakan, akhirnya kasus Ferdy Sambo nyenggol peristiwa KM50 yang menewaskan be­berapa Laskar FPI. Alasan yang diguna­kan, kata dia, selalu CCTV mati.

“KM50 rekaman CCTV hilang, di Duren tiga rekaman CCTV hilang, di Kanjuruhan, Malang rekaman CCTV hilang. Kok polanya sama yak,” kata @MuhammadZuhri.

Akun @HushRush001 menimpali. Kata dia, penanganan kasus di kepolisian sepertinya bukan lagi oknum, tapi sudah menjadi Standar Operasional Prosedur (SOP). Soalnya, kata dia, hampir setiap kasus CCTV-nya hilang atau dirusak.

 

“Mulai dari KM50, Ferdy Sambo dan Kanjuruhan, Malang,” ujarnya.

Menurut @hipohan, sudah cukup fakta bahwa memang ada pengkondisian CCTV pada kasus KM50. Soalnya, kata dia, tim yang sama melakukan pengkon­disian CCTV pada kasus Ferdy Sambo.

“Sehingga terkesan CCTV bukan un­tuk investigasi, tapi malah untuk tutupi fakta,” ujarnya.

Akun @mathsoul1 menuturkan, dari KM50, Ferdy Sambo hingga Kanjuruhan, Malang banyak rekayasa. Sehingga, kata dia, selama ini masyarakat disuguhi drama berkepanjangan.

“Selanjutnya, akan berlalu dan terlupa­kan begitu saja,” katanya.

Akun @rino_effendy menerangkan, peristiwa KM50 yang disalahkan korban yang meninggal. Begitu pun, kata dia, pada peristiwa kasus Ferdy Sambo yang disalahkan yang ditembak mati.

“Kemudian, peristiwa penembakan gas air mata di Kanjuruhan, Malang yang disalahkan supporter Arema. Apa nggak lucu negeri ini,” kata dia.

Akun @Siapa_Aku bilang, sedikit demi sedikit mulai terkuak permainan mereka. Dia bilang, karma sedang berlangsung. Satu per satu, kata @Wahjana, kebohongan dan rekayasa kasus KM50 mulai terkuak.

“Saat ini kasus pembantaian Laskar FPI di KM50 sudah ada bukti baru. Ayo Kapolri bersihkan institusi Polri dari polisi-polisi busuk,” pinta @ArSyahla.

“Semua polisi yang terlibat pada kasus merintangi penyidikan, sebaiknya dipecat saja. Sebab, mereka ganas pada rakyat yang melanggar hukum. Padahal mereka juga tidak lebih baik daripada masyarakat perihal ketaatan pada hukum,” tegas @Bilma_Simbolon. [TIF]

]]> Mantan Kepala Divisi (Kadiv) Propam Polri Irjen Ferdy Sambo cs menggunakan tim insiden pembunuhan Laskar FPI di KM50 Tol Jakarta-Cikampek untuk mengganti kamera pengawas atau CCTV dalam kasus pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Hal itu terungkap dari dakwaan mantan Karopaminal Divpropam Polri Hendra Kurniawan yang dibacakan tim jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), kemarin.

Politikhariini mengunggah tiga meme berkaitan dengan tujuh anggota perwira Polri yang terlibat dalam perkara obstruc­tion of justice atau menghalangi penyidi­kan dalam kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Pertama, Ferdy Sambo yang menatap serius ke depan sambil memakai seragam dinas kepolisian lengkap. Di dalamnya ada pernyataan tim spesialis CCTV KM50 terlibat kasus Sambo.

Kedua, terdapat empat foto polisi yang terlibat dalam perusakan CCTV. Pertama, Ferdy Sambo, Brigjen Hendra Kurniawan, AKBP Ari Cahya Nugraha dan AKP Irfan Widyanto. Di dalamnya terdapat penjelasan kronologi perusakan CCTV. Yaitu, demi memuluskan reka­yasa, Sambo meminta Brigjen Hendra Kurniawan mengamankan CCTV di Kompleks Duren Tiga.

Selanjutnya, Brigjen Hendra menghubungi Ari Cahya Nugara (Acay), merupakan tim spesialis CCTV yang mengurusi kasus KM50. Kemudian, Acay mendelegasikan perintah Sambo ke Irfan Widyanto. Hasilnya, Irfan me­nemukan 20 CCTV yang terpasang di TKP. Lalu mengeksekusi sebagian CCTV yang dianggap menggambarkan situasi sebenarnya.

Ketiga, Ferdy Sambo dengan bayang-bayang Brigjen Hendra Kurniawan yang mengenakan rompi tahanan Kejaksaan Agung (Kejagung).

Politikhariini mengatakan, terdakwa kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Ferdy Sambo, didakwa memerintahkan men­gondisikan rekaman CCTV yang berada di sekitar rumah dinasnya di kompleks Polri, Duren Tiga.

“Tujuannya, mengaburkan atau meng­hilangkan bukti,” ujar Politikhariini dalam caption-nya.

Akun @Manusia_bisa mengatakan, akhirnya kasus Ferdy Sambo nyenggol peristiwa KM50 yang menewaskan be­berapa Laskar FPI. Alasan yang diguna­kan, kata dia, selalu CCTV mati.

“KM50 rekaman CCTV hilang, di Duren tiga rekaman CCTV hilang, di Kanjuruhan, Malang rekaman CCTV hilang. Kok polanya sama yak,” kata @MuhammadZuhri.

Akun @HushRush001 menimpali. Kata dia, penanganan kasus di kepolisian sepertinya bukan lagi oknum, tapi sudah menjadi Standar Operasional Prosedur (SOP). Soalnya, kata dia, hampir setiap kasus CCTV-nya hilang atau dirusak.

 

“Mulai dari KM50, Ferdy Sambo dan Kanjuruhan, Malang,” ujarnya.

Menurut @hipohan, sudah cukup fakta bahwa memang ada pengkondisian CCTV pada kasus KM50. Soalnya, kata dia, tim yang sama melakukan pengkon­disian CCTV pada kasus Ferdy Sambo.

“Sehingga terkesan CCTV bukan un­tuk investigasi, tapi malah untuk tutupi fakta,” ujarnya.

Akun @mathsoul1 menuturkan, dari KM50, Ferdy Sambo hingga Kanjuruhan, Malang banyak rekayasa. Sehingga, kata dia, selama ini masyarakat disuguhi drama berkepanjangan.

“Selanjutnya, akan berlalu dan terlupa­kan begitu saja,” katanya.

Akun @rino_effendy menerangkan, peristiwa KM50 yang disalahkan korban yang meninggal. Begitu pun, kata dia, pada peristiwa kasus Ferdy Sambo yang disalahkan yang ditembak mati.

“Kemudian, peristiwa penembakan gas air mata di Kanjuruhan, Malang yang disalahkan supporter Arema. Apa nggak lucu negeri ini,” kata dia.

Akun @Siapa_Aku bilang, sedikit demi sedikit mulai terkuak permainan mereka. Dia bilang, karma sedang berlangsung. Satu per satu, kata @Wahjana, kebohongan dan rekayasa kasus KM50 mulai terkuak.

“Saat ini kasus pembantaian Laskar FPI di KM50 sudah ada bukti baru. Ayo Kapolri bersihkan institusi Polri dari polisi-polisi busuk,” pinta @ArSyahla.

“Semua polisi yang terlibat pada kasus merintangi penyidikan, sebaiknya dipecat saja. Sebab, mereka ganas pada rakyat yang melanggar hukum. Padahal mereka juga tidak lebih baik daripada masyarakat perihal ketaatan pada hukum,” tegas @Bilma_Simbolon. [TIF]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories