Kasus Penipuan Investasi DNA Pro Tersangka Umpetin Aset Di British Virgin Island

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) mengendus upaya tersangka kasus penipuan investasi robot trading DNA Pro menyembunyikan aset di luar negeri.

Sejauh ini penyidik telah memblokir 64 rekening dan menyita aset milik para tersangka mencapai Rp307.525.057.172.

“Hasil tracing asset PPATK, ada beberapa transaksi yang dikirimkan ke luar negeri,” kata Kasubdit Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus, Komisaris Besar Yuldi Yusman kepada wartawan, Jumat (27/5/2022).

Yuldi mengungkapkan dana itu dikirim ke Virgin Island. “Sedang kita dalami,” ujarnya.

Virgin Island merupakan bagian dari 14 Teritori Seberang Laut Britania (British Overseas Territories) yang masuk ke dalam yuridiksi Britania Raya.

Virgin Island juga sering disebut sebagai negara tax haven atau biasa dikenal sebagai daerah bebas pajak, atau yang dikenakan sangatlah rendah. Sehingga, cocok untuk mendirikan perusahaan offshore.

Negara-negara surga pajak itu sering dipersepsikan negatif, hal ini dikarenakan kerap menawarkan kerahasiaan keuangan tingkat tinggi.

Dalam penyidikan kasus ini, Bareskrim menetapkan 11 tersangka. Yakni Direktur Utama PT DNA Pro Academy Daniel Piri alias Daniel Abe, Founder Rudi Kusuma, Robby Setiadi, Dedi Tumiadi, Yosua Trisutrisno, Franky Yulianto, Russel, Jerry Gunandar, Stefanus Richard, Hans Andre, dan Muhammad Asad.

“Tiga tersangka masih dalam pencarian yang diduga ada di luar negeri,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim, Brigadir Jenderal Whisnu Hermawan, Jumat (27/5/2022).

Ia membeberkan sejumlah aset tersangka yang berhasil disita. Yakni uang tunai Rp 112.525.057.172 dan aset bernilai Rp 195.000.000.000.

Aset itu meliputi emas 20 kilogram, 10 rumah, 1 hotel di Jakarta Pusat, 2 unit apartemen. Berikutnya 14 mobil merek Ferrari, Toyota Alphard, Ford Mustang, Lexus, BMW, Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero, Honda HRV hingga Honda Brio.

 

Berdasarkan data sementara yang dihimpun penyidik, diketahui kedua tersangka memiliki omset downline mencapai Rp 330 miliar dari mengelola robot trading DNA Pro.

Modusnya menawarkan aplikasi robot trading DNA Pro. Dijanjikan aplikasi ini bisa mengelola dana investasi member.

Untuk menarik calon member, pengelola DNA Pro meng-endorse semua artis. Supaya mengampanyekan robot trading.

Belakangan, DNA Pro dinyatakan sebagai platform investasi ilegal. Hasil penyelidikan polisi, DNA Pro menerapkan skema Ponzi. Akibatnya, banyak member yang dirugikan. Dana investasi mereka raib.

Setelah kasus penipuan ini terbongkar bos DNA Pro menyatakan minta maaf. “Saya Daniel Abe, Direktur Utama DNA Pro, meminta maaf sebesar-besarnya untuk para kolega, keluarga, member, dan saya sudah bertanggung jawab atas semua itu sampai detik ini,” ujarnya.

Ia mengutarakan, DNA Pro awalnya tidak memiliki sistem trading yang menyimpang. Namun, seiring berkembangnya member, sistem yang dimiliki tak siap sehingga tercipta skema Ponzi. “Skema piramida itu terjadi uangnya memang balik ke member ke member lagi,” dalihnya.

Daniel mengakui yang membangun DNA Pro hingga berujung di Bareskrim. Ia berharap robot trading lainnya tak berakhir seperti DNA Pro.

“Saya berterima kasih ke pihak Bareskrim dan pihak terkait yang sudah membantu sampai saat ini. Dan terakhir saya mau bilang bahwa industri robot trading supaya ke depannya harus lebih maju lagi dari sekarang,” tutupnya. ■

]]> Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) mengendus upaya tersangka kasus penipuan investasi robot trading DNA Pro menyembunyikan aset di luar negeri.

Sejauh ini penyidik telah memblokir 64 rekening dan menyita aset milik para tersangka mencapai Rp307.525.057.172.

“Hasil tracing asset PPATK, ada beberapa transaksi yang dikirimkan ke luar negeri,” kata Kasubdit Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus, Komisaris Besar Yuldi Yusman kepada wartawan, Jumat (27/5/2022).

Yuldi mengungkapkan dana itu dikirim ke Virgin Island. “Sedang kita dalami,” ujarnya.

Virgin Island merupakan bagian dari 14 Teritori Seberang Laut Britania (British Overseas Territories) yang masuk ke dalam yuridiksi Britania Raya.

Virgin Island juga sering disebut sebagai negara tax haven atau biasa dikenal sebagai daerah bebas pajak, atau yang dikenakan sangatlah rendah. Sehingga, cocok untuk mendirikan perusahaan offshore.

Negara-negara surga pajak itu sering dipersepsikan negatif, hal ini dikarenakan kerap menawarkan kerahasiaan keuangan tingkat tinggi.

Dalam penyidikan kasus ini, Bareskrim menetapkan 11 tersangka. Yakni Direktur Utama PT DNA Pro Academy Daniel Piri alias Daniel Abe, Founder Rudi Kusuma, Robby Setiadi, Dedi Tumiadi, Yosua Trisutrisno, Franky Yulianto, Russel, Jerry Gunandar, Stefanus Richard, Hans Andre, dan Muhammad Asad.

“Tiga tersangka masih dalam pencarian yang diduga ada di luar negeri,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim, Brigadir Jenderal Whisnu Hermawan, Jumat (27/5/2022).

Ia membeberkan sejumlah aset tersangka yang berhasil disita. Yakni uang tunai Rp 112.525.057.172 dan aset bernilai Rp 195.000.000.000.

Aset itu meliputi emas 20 kilogram, 10 rumah, 1 hotel di Jakarta Pusat, 2 unit apartemen. Berikutnya 14 mobil merek Ferrari, Toyota Alphard, Ford Mustang, Lexus, BMW, Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero, Honda HRV hingga Honda Brio.

 

Berdasarkan data sementara yang dihimpun penyidik, diketahui kedua tersangka memiliki omset downline mencapai Rp 330 miliar dari mengelola robot trading DNA Pro.

Modusnya menawarkan aplikasi robot trading DNA Pro. Dijanjikan aplikasi ini bisa mengelola dana investasi member.

Untuk menarik calon member, pengelola DNA Pro meng-endorse semua artis. Supaya mengampanyekan robot trading.

Belakangan, DNA Pro dinyatakan sebagai platform investasi ilegal. Hasil penyelidikan polisi, DNA Pro menerapkan skema Ponzi. Akibatnya, banyak member yang dirugikan. Dana investasi mereka raib.

Setelah kasus penipuan ini terbongkar bos DNA Pro menyatakan minta maaf. “Saya Daniel Abe, Direktur Utama DNA Pro, meminta maaf sebesar-besarnya untuk para kolega, keluarga, member, dan saya sudah bertanggung jawab atas semua itu sampai detik ini,” ujarnya.

Ia mengutarakan, DNA Pro awalnya tidak memiliki sistem trading yang menyimpang. Namun, seiring berkembangnya member, sistem yang dimiliki tak siap sehingga tercipta skema Ponzi. “Skema piramida itu terjadi uangnya memang balik ke member ke member lagi,” dalihnya.

Daniel mengakui yang membangun DNA Pro hingga berujung di Bareskrim. Ia berharap robot trading lainnya tak berakhir seperti DNA Pro.

“Saya berterima kasih ke pihak Bareskrim dan pihak terkait yang sudah membantu sampai saat ini. Dan terakhir saya mau bilang bahwa industri robot trading supaya ke depannya harus lebih maju lagi dari sekarang,” tutupnya. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories