Kasus Pencucian Uang Yudi PKS KPK Korek Rekan Bisnis Tambak Udang

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelusuri pencucian uang yang dilakukan mantan Wakil Ketua Komisi V DPR Yudi Widiana Adia.

Penyidik lembaga antirasuah mengorek keterangan Tri Hasta Buwana, rekan Yudi dalam bis­nis tambak udang. Politisi PKS itu diduga menggunakan duit suap proyek jalan untuk modal usaha ini.

Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, pemeriksaan terhadap Tri terkait usaha yang dibangun bersama Yudi. “Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi,” katanya.

Dalam penyidikan ini, Yudi ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang Rp 20 miliar. Uang itu diduga diperoleh dari “main” proyek infrastruktur ketika menjadi Wakil Ketua Komisi V.

Yudi mengusulkan proyek jalan di Maluku, Maluku Utara dan Kalimantan sebagai program aspirasinya kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Usulan Yudi disetujui. Program aspirasinya dititipkan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) IX Maluku-Maluku Utara untuk tahun 2015 dan 2016.

Yudi juga mengusulkan, program aspirasi proyek pengairan di Balai Besar Sungai Wilayah (BBSW) Kalimantan II.

Yudi lalu “melego” proyek itu kepada kontraktor. Dengan imbalan fee sebesar 5 persen dari nilai proyek.

Pengusaha So Kok Seng alias Aseng berminat menggarap proyek jatah Yudi. Ia menyerahkan fee melalui M Kurniawan Eka Nugraha, mantan staf Yudi.

Dalam persidangan perkara rasuah ini, terungkap Yudi menggunakan uang hasil main proyek untuk buka usaha dan membeli aset. Aset itu kemudian diatasnamakan pasangan suami-istri anggota PKS Kota Bandung.

 

Pasangan itu Tri Hasta Buwana dan Ratih Julikowati Margopuri. Keduanya pun dihadirkan sebagai saksi di Pengadilan Tipikor Jakarta 17 Januari 2018 lalu.

Tri mengungkapkan pada 2015 diajak Yudi membuat perusahaan patungan yang bergerak di bidang budidaya udang. Lokasinya di Sukabumi, daerah asal Yudi.

Yudi lalu menyerahkan modal Rp 1,085 miliar. Ada pun Tri menyetor Rp 600 juta. Pada September 2015 dibuatlah akta notaris pendirian perusahaan yang diberi nama PT Anugrah Buwana Indonesia.

Namun Yudi menolak namanya dicantumkan dalam akta pendirian perusahaan. Ia menyodorkan nama anaknya, Ismail Zuhdi.

Tri kemudian duduk sebagai direktur utama di perusahaan patungan ini. Sedangkan istrinya, Ratih Julikowati Margopuri sebagai direktur.

Perusahaan yang dimodali Yudi ini lalu membuka dua rekening. Rekeningnya atas nama Tri Hasta Buwana dan Ratih Julikowati Margopuri.

Tapi pasangan suami-istri ini tak memegang buku rekening maupun kartu ATM-nya. “(Kartu) ATM dan buku rekening dipegang oleh sama Pak Yudi dan istrinya,” ungkap Tri.

Usaha budidaya udang itu menghasilkan laba. Yudi menyuruh laba usaha dibelikan tiga rumah dan dua bidang tanah. “Semua properti atas nama saya. Padahal, semua milik Pak Yudi,” aku Tri.

KPK telah menyita sejumlah aset milik Yudi yang diduga dibeli dari duit hasil korupsi. Salah satunya ruko di kompleks Dawuan Center di Jalan Ahmad Yani. Cikampek, Karawang, Jawa Barat. Bangunan berlantai dua itu baru disita pada November 2020 lalu.

Hingga kini, budidaya udang yang menempati lahan 11,98 hektare di Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, masih berjalan. Dikelola Tri dan istrinya. [GPG]

]]> Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelusuri pencucian uang yang dilakukan mantan Wakil Ketua Komisi V DPR Yudi Widiana Adia.

Penyidik lembaga antirasuah mengorek keterangan Tri Hasta Buwana, rekan Yudi dalam bis­nis tambak udang. Politisi PKS itu diduga menggunakan duit suap proyek jalan untuk modal usaha ini.

Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, pemeriksaan terhadap Tri terkait usaha yang dibangun bersama Yudi. “Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi,” katanya.

Dalam penyidikan ini, Yudi ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang Rp 20 miliar. Uang itu diduga diperoleh dari “main” proyek infrastruktur ketika menjadi Wakil Ketua Komisi V.

Yudi mengusulkan proyek jalan di Maluku, Maluku Utara dan Kalimantan sebagai program aspirasinya kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Usulan Yudi disetujui. Program aspirasinya dititipkan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) IX Maluku-Maluku Utara untuk tahun 2015 dan 2016.

Yudi juga mengusulkan, program aspirasi proyek pengairan di Balai Besar Sungai Wilayah (BBSW) Kalimantan II.

Yudi lalu “melego” proyek itu kepada kontraktor. Dengan imbalan fee sebesar 5 persen dari nilai proyek.

Pengusaha So Kok Seng alias Aseng berminat menggarap proyek jatah Yudi. Ia menyerahkan fee melalui M Kurniawan Eka Nugraha, mantan staf Yudi.

Dalam persidangan perkara rasuah ini, terungkap Yudi menggunakan uang hasil main proyek untuk buka usaha dan membeli aset. Aset itu kemudian diatasnamakan pasangan suami-istri anggota PKS Kota Bandung.

 

Pasangan itu Tri Hasta Buwana dan Ratih Julikowati Margopuri. Keduanya pun dihadirkan sebagai saksi di Pengadilan Tipikor Jakarta 17 Januari 2018 lalu.

Tri mengungkapkan pada 2015 diajak Yudi membuat perusahaan patungan yang bergerak di bidang budidaya udang. Lokasinya di Sukabumi, daerah asal Yudi.

Yudi lalu menyerahkan modal Rp 1,085 miliar. Ada pun Tri menyetor Rp 600 juta. Pada September 2015 dibuatlah akta notaris pendirian perusahaan yang diberi nama PT Anugrah Buwana Indonesia.

Namun Yudi menolak namanya dicantumkan dalam akta pendirian perusahaan. Ia menyodorkan nama anaknya, Ismail Zuhdi.

Tri kemudian duduk sebagai direktur utama di perusahaan patungan ini. Sedangkan istrinya, Ratih Julikowati Margopuri sebagai direktur.

Perusahaan yang dimodali Yudi ini lalu membuka dua rekening. Rekeningnya atas nama Tri Hasta Buwana dan Ratih Julikowati Margopuri.

Tapi pasangan suami-istri ini tak memegang buku rekening maupun kartu ATM-nya. “(Kartu) ATM dan buku rekening dipegang oleh sama Pak Yudi dan istrinya,” ungkap Tri.

Usaha budidaya udang itu menghasilkan laba. Yudi menyuruh laba usaha dibelikan tiga rumah dan dua bidang tanah. “Semua properti atas nama saya. Padahal, semua milik Pak Yudi,” aku Tri.

KPK telah menyita sejumlah aset milik Yudi yang diduga dibeli dari duit hasil korupsi. Salah satunya ruko di kompleks Dawuan Center di Jalan Ahmad Yani. Cikampek, Karawang, Jawa Barat. Bangunan berlantai dua itu baru disita pada November 2020 lalu.

Hingga kini, budidaya udang yang menempati lahan 11,98 hektare di Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, masih berjalan. Dikelola Tri dan istrinya. [GPG]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories