Kasus Korupsi Tanah Munjul, Eks Dirut Sarana Jaya Divonis 6,5 Tahun Penjara

Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan vonis 6 tahun dan 6 bulan, atau 6,5 tahun penjara kepada mantan Direktur Utama (Dirut) Perumda Pembangunan Sarana Jaya, Yoory Corneles Pinontoan. Dia juga diganjar denda sebesar Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan.

Yoory dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam pengadaan tanah di Munjul, Pondok Rangon, Jakarta Timur.

“Menyatakan terdakwa Yoory Cornelis Pinontoan telah terbukti secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut sebagaimana dakwaan primair (Pasal 2 ayat 1 Jo Pasal 18 UU Tipikor),” ujar Ketua Majelis Hakim Saifudin Zuhri, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (24/2).

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 6 tahun 6 bulan dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan,” imbuhnya.

Pertimbangan yang memberatkan, perbuatan Yoory tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Lalu, sebagai Dirut BUMD, ulah Yoory dinilai dapat merusak kepercayaan terhadap lembaga pemerintah. Dalam hal ini, Pemprov DKI.

Sementara pertimbangan yang meringankan, Yoory belum pernah dihukum, punya tanggungan keluarga, tidak menikmati uang korupsi, dan menyesali perbuatannya.

Vonis ini sedikit di bawah tuntutan Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang menuntut Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat menjatuhkan hukuman pidana 6 tahun 8 bulan penjara serta denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan terhadap Yoory.

 

Dalam surat dakwaan, disebutkan perbuatan Yoory atas pengadaan tanah Munjul memperkaya diri sendiri, atau orang lain, atau suatu korporasi, yaitu memperkaya Anja Runtuwene dan Rudy Hartono Iskandar selaku pemilik korporasi PT Adonara Propertindo sebesar Rp 152.565.440.000.

Uang hasil korupsi pembayaran atas pengadaan tanah Munjul dipergunakan Rudi dan Anja untuk kepentingan pribadi, seperti pembelian mobil, apartemen dan pembayaran kartu kredit.

Uang juga digunakan untuk keperluan operasional perusahaannya salah satunya PT Rhys Auto Gallery yang masih satu grup dengan korporasi PT Adonara Propertindo. [OKT]

]]> Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan vonis 6 tahun dan 6 bulan, atau 6,5 tahun penjara kepada mantan Direktur Utama (Dirut) Perumda Pembangunan Sarana Jaya, Yoory Corneles Pinontoan. Dia juga diganjar denda sebesar Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan.

Yoory dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam pengadaan tanah di Munjul, Pondok Rangon, Jakarta Timur.

“Menyatakan terdakwa Yoory Cornelis Pinontoan telah terbukti secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut sebagaimana dakwaan primair (Pasal 2 ayat 1 Jo Pasal 18 UU Tipikor),” ujar Ketua Majelis Hakim Saifudin Zuhri, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (24/2).

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 6 tahun 6 bulan dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan,” imbuhnya.

Pertimbangan yang memberatkan, perbuatan Yoory tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Lalu, sebagai Dirut BUMD, ulah Yoory dinilai dapat merusak kepercayaan terhadap lembaga pemerintah. Dalam hal ini, Pemprov DKI.

Sementara pertimbangan yang meringankan, Yoory belum pernah dihukum, punya tanggungan keluarga, tidak menikmati uang korupsi, dan menyesali perbuatannya.

Vonis ini sedikit di bawah tuntutan Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang menuntut Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat menjatuhkan hukuman pidana 6 tahun 8 bulan penjara serta denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan terhadap Yoory.

 

Dalam surat dakwaan, disebutkan perbuatan Yoory atas pengadaan tanah Munjul memperkaya diri sendiri, atau orang lain, atau suatu korporasi, yaitu memperkaya Anja Runtuwene dan Rudy Hartono Iskandar selaku pemilik korporasi PT Adonara Propertindo sebesar Rp 152.565.440.000.

Uang hasil korupsi pembayaran atas pengadaan tanah Munjul dipergunakan Rudi dan Anja untuk kepentingan pribadi, seperti pembelian mobil, apartemen dan pembayaran kartu kredit.

Uang juga digunakan untuk keperluan operasional perusahaannya salah satunya PT Rhys Auto Gallery yang masih satu grup dengan korporasi PT Adonara Propertindo. [OKT]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories