Kasus Corona Turun Wapres: Jangan Tepuk Tangan Dulu

Wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin mengamini kasus Corona terus mengalami penurunan. Meski begitu, dia meminta, semua pihak tidak tepuk tangan dulu. Pasalnya, pandemi masih belum selesai.

Kemarin, Ma’ruf terbang ke Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Agenda Ma’ruf adalah meresmikan Bandara Haji Muhammad Sidik di Kota Muara Teweh.

Ma’ruf didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, dan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono.

Usai meresmikan Bandara Haji Muhammad Sidik, Ma’ruf langsung geser ke Lapangan Olahraga Tiara Batara, Melayu, Teweh Tengah. Di sini, dia meninjau vaksinasi.

Kedatangan Ma’ruf langsung disambut banyak pihak. Eks Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu, langsung meninjau pelaksanaan vaksinasi.

Dalam sambutannya, Ma’ruf mengatakan, angka penambahan kasus Corona di dalam negeri terus menunjukkan penurunan. Jika di awal tahun kasus hariannya di atas 10 ribu, belakangan ini berkisar di angka 4-6 ribu per hari.

Begitu juga dengan keterisian rumah sakit. Kata dia, jika di awal tahun mencapai 90 persen, kini sudah di bawah 50 persen.

Namun, Ma’ruf meminta jangan senang dulu. Pasalnya, jika penurunan ini tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin terjadi lonjalan lagi seperti di Amerika Serikat.

“Karena itu, tetap masalah protokol kesehatan, 3M, 3T, kemudian PPKM di tingkat mikro dan juga pelaksanaan vaksinasi, merupakan upaya yang secara terus kita lakukan,” ujar Ma’ruf.

Menurut Ma’ruf, salah satu kebijakan pemerintah yang bersifat antisipasi adalah pelarangan mudik. Saat ini, pemerintah telah menyiapkan skema sanksi bagi masyarakat yang nakal mudik pada 6-17 Mei.

“Sekarang sedang disusun apa nanti hal-hal kalau terjadi kebocoran-kebocoranlah. Mereka yang mendahului sebelum tanggal itu sudah disiapkan penangkalan-penangkalannya,” kata Ma’ruf.

Menurutnya, pemerintah tidak mau kecolongan lagi. “Kita sekarang ini tidak boleh apa ya, terlalu euforia. Sebab kalau tidak, itu bisa akan naik seperti di negara-negara lain,” pesannya.

 

Hal senada dikatakan Jubir Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito. Menurut dia, saat ini, tren kasus pasien positif Corona harian mengalami penurunan. Namun, dirinya tetap meminta masyarakat waspada dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. “Tetap jaga protokol kesehatan,” ujarnya.

Menurutnya, kedisiplinan masyarakat mematuhi protokol kesehatan memberikan kontribusi penting terhadap upaya penanganan Corona oleh pemerintah pusat dan daerah. Begitu juga dengan peranan posko pengendalian Corona di tingkat desa atau kelurahan.

Karena itu, dia meminta, peran posko tingkat desa/kelurahan serta RT dan RW ini dapat terus dijaga. “Saya minta pemda, kemudian Satgas Covid-19 di daerah, bergotong-royong menjaga dan meningkatkan efektivitas posko supaya lebih maksimal mencegah penularan Covid-19,” tegas Wiku.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra mengakui, terjadi penurunan kasus harian, meski masih fluktuatif. Malah, menurutnya, penurunan ini tidak mencerminkan apa-apa, mengingat positivity rate-nya masih tinggi, di kisaran 15 persen. Sedangkan standar World Health Organization (WHO) hanya 5 persen.

“Yang wajar itu positivity rate-nya turun. Kalau memang turun dalam dua minggu secara berturut-turut, itu baru sebuah kabar baik. Kalau masih begini, itu riskan,” papar Hermawan saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Ia mengatakan, keterisian rumah sakit memang sudah berkurang. Tapi tidak dengan ruang ICU yang cenderung penuh. Karenanya, ia menganggap, bersyukur atas penurunan sah-sah saja, tetapi tidak boleh euforia berlebih.

Dia juga menyayangkan terjadinya pelonggaran kebijakan. Buktinya, mobilitas tinggi, restoran dan acara-acara yang menyebabkan orang berkumpul malah banyak. “Makanya saya dukung mudik dilarang. Itu agar upaya setahun ini tidak sia-sia. Makanya mudik ditiadakan,” cetusnya.

Sebelumnya Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta, masyarakat mengubah prilaku yang mengarah pada hidup sehat, dan menerapkan protokol kesehatan. Pasalnya, pandemi selalu bertahan lama. Tak akan selesai dalam waktu singkat, apalagi cuma setahun.

“Jarang sekali, atau saya nggak pernah lihat ada pandemi selesai dalam waktu satu tahun. Pandemi ini akan berkurang menjadi epidemi, tapi tetap ada virusnya, tetap ada bakteri,” pungkasnya.

Berdasarkan data pemerintah, hingga kemarin sore, tercatat kasus positif Corona di Indonesia mencapai 1.505.775 orang. Jumlah tersebut didapatkan setelah ada penambahan sebanyak 4.682 kasus baru dalam 24 jam terakhir.

Kemudian, pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh bertambah 5.877 orang, sehingga jumlahnya menjadi 1.342.695 orang. Sementara itu, ada penambahan 173 kasus kematian akibat Covid-19. Maka pasien Covid-19 meninggal dunia menjadi 40.754 orang. [MEN]

]]> Wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin mengamini kasus Corona terus mengalami penurunan. Meski begitu, dia meminta, semua pihak tidak tepuk tangan dulu. Pasalnya, pandemi masih belum selesai.

Kemarin, Ma’ruf terbang ke Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Agenda Ma’ruf adalah meresmikan Bandara Haji Muhammad Sidik di Kota Muara Teweh.

Ma’ruf didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, dan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono.

Usai meresmikan Bandara Haji Muhammad Sidik, Ma’ruf langsung geser ke Lapangan Olahraga Tiara Batara, Melayu, Teweh Tengah. Di sini, dia meninjau vaksinasi.

Kedatangan Ma’ruf langsung disambut banyak pihak. Eks Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu, langsung meninjau pelaksanaan vaksinasi.

Dalam sambutannya, Ma’ruf mengatakan, angka penambahan kasus Corona di dalam negeri terus menunjukkan penurunan. Jika di awal tahun kasus hariannya di atas 10 ribu, belakangan ini berkisar di angka 4-6 ribu per hari.

Begitu juga dengan keterisian rumah sakit. Kata dia, jika di awal tahun mencapai 90 persen, kini sudah di bawah 50 persen.

Namun, Ma’ruf meminta jangan senang dulu. Pasalnya, jika penurunan ini tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin terjadi lonjalan lagi seperti di Amerika Serikat.

“Karena itu, tetap masalah protokol kesehatan, 3M, 3T, kemudian PPKM di tingkat mikro dan juga pelaksanaan vaksinasi, merupakan upaya yang secara terus kita lakukan,” ujar Ma’ruf.

Menurut Ma’ruf, salah satu kebijakan pemerintah yang bersifat antisipasi adalah pelarangan mudik. Saat ini, pemerintah telah menyiapkan skema sanksi bagi masyarakat yang nakal mudik pada 6-17 Mei.

“Sekarang sedang disusun apa nanti hal-hal kalau terjadi kebocoran-kebocoranlah. Mereka yang mendahului sebelum tanggal itu sudah disiapkan penangkalan-penangkalannya,” kata Ma’ruf.

Menurutnya, pemerintah tidak mau kecolongan lagi. “Kita sekarang ini tidak boleh apa ya, terlalu euforia. Sebab kalau tidak, itu bisa akan naik seperti di negara-negara lain,” pesannya.

 

Hal senada dikatakan Jubir Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito. Menurut dia, saat ini, tren kasus pasien positif Corona harian mengalami penurunan. Namun, dirinya tetap meminta masyarakat waspada dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. “Tetap jaga protokol kesehatan,” ujarnya.

Menurutnya, kedisiplinan masyarakat mematuhi protokol kesehatan memberikan kontribusi penting terhadap upaya penanganan Corona oleh pemerintah pusat dan daerah. Begitu juga dengan peranan posko pengendalian Corona di tingkat desa atau kelurahan.

Karena itu, dia meminta, peran posko tingkat desa/kelurahan serta RT dan RW ini dapat terus dijaga. “Saya minta pemda, kemudian Satgas Covid-19 di daerah, bergotong-royong menjaga dan meningkatkan efektivitas posko supaya lebih maksimal mencegah penularan Covid-19,” tegas Wiku.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra mengakui, terjadi penurunan kasus harian, meski masih fluktuatif. Malah, menurutnya, penurunan ini tidak mencerminkan apa-apa, mengingat positivity rate-nya masih tinggi, di kisaran 15 persen. Sedangkan standar World Health Organization (WHO) hanya 5 persen.

“Yang wajar itu positivity rate-nya turun. Kalau memang turun dalam dua minggu secara berturut-turut, itu baru sebuah kabar baik. Kalau masih begini, itu riskan,” papar Hermawan saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Ia mengatakan, keterisian rumah sakit memang sudah berkurang. Tapi tidak dengan ruang ICU yang cenderung penuh. Karenanya, ia menganggap, bersyukur atas penurunan sah-sah saja, tetapi tidak boleh euforia berlebih.

Dia juga menyayangkan terjadinya pelonggaran kebijakan. Buktinya, mobilitas tinggi, restoran dan acara-acara yang menyebabkan orang berkumpul malah banyak. “Makanya saya dukung mudik dilarang. Itu agar upaya setahun ini tidak sia-sia. Makanya mudik ditiadakan,” cetusnya.

Sebelumnya Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta, masyarakat mengubah prilaku yang mengarah pada hidup sehat, dan menerapkan protokol kesehatan. Pasalnya, pandemi selalu bertahan lama. Tak akan selesai dalam waktu singkat, apalagi cuma setahun.

“Jarang sekali, atau saya nggak pernah lihat ada pandemi selesai dalam waktu satu tahun. Pandemi ini akan berkurang menjadi epidemi, tapi tetap ada virusnya, tetap ada bakteri,” pungkasnya.

Berdasarkan data pemerintah, hingga kemarin sore, tercatat kasus positif Corona di Indonesia mencapai 1.505.775 orang. Jumlah tersebut didapatkan setelah ada penambahan sebanyak 4.682 kasus baru dalam 24 jam terakhir.

Kemudian, pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh bertambah 5.877 orang, sehingga jumlahnya menjadi 1.342.695 orang. Sementara itu, ada penambahan 173 kasus kematian akibat Covid-19. Maka pasien Covid-19 meninggal dunia menjadi 40.754 orang. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories