Kasus Corona Di India Menkes: Bukan Membuat Khawatir, Tapi Waspada .

Ledakan kasus Covid-19 di India harus membuat masyarakat lebih sadar bahwa pandemi ini belum berakhir. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin bersyukur kasus di Indonesia tidak separah Negeri Bollywood.

Kendati begitu, Budi Gunadi mengingatkan, potensi ledakan kasus di Indonesia sangat memungkinkan. Kalau, masyarakat lengah.

Menurutnya, kebijakan peme rintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala Mikro ditambah disiplin menerapkan protokol kesehatan (Prokes), dan dikombinasikan vaksinasi, telah menahan laju penularan Covid-19. Kasus harian Covid-19 turun cukup signifikan dibandingkan tahun lalu.

“Kita alhamdulillah bersyukur dengan PPKM Mikro dibarengi program vaksinasi, Covid-19 di kita sudah mengalami penurunan kasus penularan,” kata Budi Gunadi dalam konferensi pers virtual, kemarin.

Meski begitu, mantan Direktur Utama PT Inalum (Persero) ini meminta masyarakat waspada. Penurunan kasus bukan berarti penularan akan berhenti. Jika protokol kesehatan kendor, maka ledakan kasus akan mengintai.

Diingatkan dia, kondisi Indonesia sekarang sama seperti yang dialami India saat September lalu. Saat itu, angka kasus Corona di India juga turun cukup drastis setelah negara itu menggenjot vaksinasi. Tapi, karena masyarakat India kendor menerapkan protokol kesehatan, penularan naik lagi.

Kondisi ini diperparah dengan adanya mutasi virus Corona yang lebih cepat menular. India pun kelimpungan.

Negara itu bahkan mencatat rekor penambahan kasus Covid19 harian tertinggi di dunia pada Selasa (20/4), dengan 259.170 kasus, diikuti fasilitas kesehatan rumah sakit yang mulai kolaps.

“Nah, belajar dari pengalaman India itu gimana kita harus selalu ingat dan waspada. Kita harus hati-hati,” imbau Budi.

Dia juga mengingatkan, meski tidak banyak tapi kasus penularan di Indonesia sudah mulai menunjukkan adanya kenaikan. Sejak liburan Paskah dua minggu lalu, ada kenaikan kasus harian sekitar 2,67 persen. Kasus harian yang biasanya rata-rata 5.000, kini tembus 6.243.

“Ini tugas kita bersama agar jangan mengulangi seperti yang terjadi di India. Lebih baik kita waspada sejak awal,” pinta Budi Gunadi.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Satgas Penanganan Covid-19 juga menunjukkan, terjadi kenaikan jumlah pasien Covid-19 di berbagai rumah sakit pemerintah di daerah.

Budi tidak menyebut angka kenaikan. Namun diungkapkannya, daerah yang mengalami kenaikan banyak ada di Pulau Sumatera.

Bed Occupancy Rate (BOR) beberapa rumah sakit juga mengalami kenaikan, tetapi tidak signifikan.

“Ini bukan untuk membuat khawatir, tetapi seperti arahan Bapak Presiden, ingat dan was pada. Jangan sampai protokol kesehatan kendor untuk menghindari lonjakan khusus seperti di India,” imbaunya lagi.

Budi Gunadi mengatakan, Pemerintah Indonesia juga tengah bersiap mengantisipasi masuknya varian baru Covid-19 dari sejumlah negara. Di antaranya B.1.1.7 dari Inggris, B.1.351 dari Afrika Selatan, P.1 dari Brazil serta varian mutasi ganda B.1.617 di India yang diperkirakan lebih berbahaya dan cepat menular.

“Ini pelajaran bagi kita semua agar selalu berhati-hati mengamati laju penularan Covid-19,” ucap Budi Gunadi. [JAR]

]]> .
Ledakan kasus Covid-19 di India harus membuat masyarakat lebih sadar bahwa pandemi ini belum berakhir. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin bersyukur kasus di Indonesia tidak separah Negeri Bollywood.

Kendati begitu, Budi Gunadi mengingatkan, potensi ledakan kasus di Indonesia sangat memungkinkan. Kalau, masyarakat lengah.

Menurutnya, kebijakan peme rintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala Mikro ditambah disiplin menerapkan protokol kesehatan (Prokes), dan dikombinasikan vaksinasi, telah menahan laju penularan Covid-19. Kasus harian Covid-19 turun cukup signifikan dibandingkan tahun lalu.

“Kita alhamdulillah bersyukur dengan PPKM Mikro dibarengi program vaksinasi, Covid-19 di kita sudah mengalami penurunan kasus penularan,” kata Budi Gunadi dalam konferensi pers virtual, kemarin.

Meski begitu, mantan Direktur Utama PT Inalum (Persero) ini meminta masyarakat waspada. Penurunan kasus bukan berarti penularan akan berhenti. Jika protokol kesehatan kendor, maka ledakan kasus akan mengintai.

Diingatkan dia, kondisi Indonesia sekarang sama seperti yang dialami India saat September lalu. Saat itu, angka kasus Corona di India juga turun cukup drastis setelah negara itu menggenjot vaksinasi. Tapi, karena masyarakat India kendor menerapkan protokol kesehatan, penularan naik lagi.

Kondisi ini diperparah dengan adanya mutasi virus Corona yang lebih cepat menular. India pun kelimpungan.

Negara itu bahkan mencatat rekor penambahan kasus Covid19 harian tertinggi di dunia pada Selasa (20/4), dengan 259.170 kasus, diikuti fasilitas kesehatan rumah sakit yang mulai kolaps.

“Nah, belajar dari pengalaman India itu gimana kita harus selalu ingat dan waspada. Kita harus hati-hati,” imbau Budi.

Dia juga mengingatkan, meski tidak banyak tapi kasus penularan di Indonesia sudah mulai menunjukkan adanya kenaikan. Sejak liburan Paskah dua minggu lalu, ada kenaikan kasus harian sekitar 2,67 persen. Kasus harian yang biasanya rata-rata 5.000, kini tembus 6.243.

“Ini tugas kita bersama agar jangan mengulangi seperti yang terjadi di India. Lebih baik kita waspada sejak awal,” pinta Budi Gunadi.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Satgas Penanganan Covid-19 juga menunjukkan, terjadi kenaikan jumlah pasien Covid-19 di berbagai rumah sakit pemerintah di daerah.

Budi tidak menyebut angka kenaikan. Namun diungkapkannya, daerah yang mengalami kenaikan banyak ada di Pulau Sumatera.

Bed Occupancy Rate (BOR) beberapa rumah sakit juga mengalami kenaikan, tetapi tidak signifikan.

“Ini bukan untuk membuat khawatir, tetapi seperti arahan Bapak Presiden, ingat dan was pada. Jangan sampai protokol kesehatan kendor untuk menghindari lonjakan khusus seperti di India,” imbaunya lagi.

Budi Gunadi mengatakan, Pemerintah Indonesia juga tengah bersiap mengantisipasi masuknya varian baru Covid-19 dari sejumlah negara. Di antaranya B.1.1.7 dari Inggris, B.1.351 dari Afrika Selatan, P.1 dari Brazil serta varian mutasi ganda B.1.617 di India yang diperkirakan lebih berbahaya dan cepat menular.

“Ini pelajaran bagi kita semua agar selalu berhati-hati mengamati laju penularan Covid-19,” ucap Budi Gunadi. [JAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories