Kangen Bakso Bang Ono

Kamis kemarin, tiba-tiba ingat Almarhum Sugiono atau biasa disapa Bang Ono. Ingatan itu berawal dari anak saya yang lagi susah makan, tapi sangat suka bakso. Dan, bakso yang dijual Bang Ono dulu adalah favoritnya.

Beberapa bulan sebelum meninggal, Bang Ono memang berjualan Bakso. Namanya Bakso Ali. Bakso yang tinggal dimasak lalu disajikan.

Saya masih ingat pertama kali almarhum menawarkan via WhatsApp. Saya langsung pesan dua kantong bakso premium. 

Tak lama, Bang Ono mengontak saya. “Jadi nggak Na? Mahal ini ongkirnya?”. Memang jarak rumah saya dan Bang Ono lumayan jauh, saya di Sunter, Jakarta Utara dan Bang Ono di Pamulang, Tangerang Selatan. Jadi biaya ongkirnya lebih mahal dari harga dua kantong bakso.

Saya jawab. “Jadi bang”. Bakso pun dikirim. Alhamdulilah, ternyata anak saya menyukainya.

Bakso Bang Ono juga banyak dimintai teman-teman kerja. Buktinya banyak yang memesan baksonya. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.

Dengan meninggalnya Bang Ono, anak saya kehilangannya bakso kesukaannya. Saya pun harus mencari bakso lain.

Gara-garo bakso, saya juga jadi kangen dengan Bang Ono. Dia adalah redaktur, teman cerita, guru dan orang yang memberikan saya rasa percaya diri dalam berkarir sebagai wartawan.

Kadang sejak beliau meninggal, saya sering buka chat pribadi saya dengan Bang Ono, saya langsung berdo’a dan minta maaf jika ada urusan kerjaan yang membuat Bang Ono kesal. [Nana Maulana/Wartawan Rakyat Merdeka]

]]> Kamis kemarin, tiba-tiba ingat Almarhum Sugiono atau biasa disapa Bang Ono. Ingatan itu berawal dari anak saya yang lagi susah makan, tapi sangat suka bakso. Dan, bakso yang dijual Bang Ono dulu adalah favoritnya.

Beberapa bulan sebelum meninggal, Bang Ono memang berjualan Bakso. Namanya Bakso Ali. Bakso yang tinggal dimasak lalu disajikan.

Saya masih ingat pertama kali almarhum menawarkan via WhatsApp. Saya langsung pesan dua kantong bakso premium. 

Tak lama, Bang Ono mengontak saya. “Jadi nggak Na? Mahal ini ongkirnya?”. Memang jarak rumah saya dan Bang Ono lumayan jauh, saya di Sunter, Jakarta Utara dan Bang Ono di Pamulang, Tangerang Selatan. Jadi biaya ongkirnya lebih mahal dari harga dua kantong bakso.

Saya jawab. “Jadi bang”. Bakso pun dikirim. Alhamdulilah, ternyata anak saya menyukainya.

Bakso Bang Ono juga banyak dimintai teman-teman kerja. Buktinya banyak yang memesan baksonya. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.

Dengan meninggalnya Bang Ono, anak saya kehilangannya bakso kesukaannya. Saya pun harus mencari bakso lain.

Gara-garo bakso, saya juga jadi kangen dengan Bang Ono. Dia adalah redaktur, teman cerita, guru dan orang yang memberikan saya rasa percaya diri dalam berkarir sebagai wartawan.

Kadang sejak beliau meninggal, saya sering buka chat pribadi saya dengan Bang Ono, saya langsung berdo’a dan minta maaf jika ada urusan kerjaan yang membuat Bang Ono kesal. [Nana Maulana/Wartawan Rakyat Merdeka]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories